
Aku melangkahkan kakiku keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah, untuk sesaat pikiranku tertuju pada Meli karena ia sudah seperti saudara untukku kami selalu bersama bahkan hingga saat ini dan aku tak ingin hal buruk terjadi pada satu satunya sahabat yang sangat ku sayangi. Ketika aku melangkah masuk ke dalam rumah kekhawatiranku seperti hilang karena melihat senyuman yang sangat cantik dari anakku Grace yang menatap ke arahku, matanya seakan menungguku untuk pulang. Aku mengulurkan kedua tanganku dan tersenyum padanya
“Anak mama yang cantik. Grace sayang”, ucapku yang mengambil Grace dari pengasuhku.
“Dia sudah makan dan diberi asi?”, tanyaku
“Sudah bu”, jawabnya sambil tertunduk
“Berapa sisa stok asi di freezer?”, tanyaku sambil menimang Grace
“Sisa lima kantong asi bu”, jawabnya.
Disaat aku sedang berbicara pada pengasuh bayiku, Meli menghubungiku kembali setelah beberapa kali ia tak mengangkat panggilan dariku, ku berikan Grace kembali pada pengasuhku dan ku jawab panggilan dari Meli.
“Apakah kamu sangat sibuk hingga tak dapat menjawab panggilan dariku?”, tanya ku pada Meli
“Maafkan aku. Aku sangat sibuk Rein, saat ini aku sedang bekerja di perusahaan”, jawab Meli
Aku mengerutkan alisku dan ku lihat ponselku untuk memastikan bahwa yang sedang berbicara denganku adalah Meli sahabatku dan bukan orang lain. Aku cukup bingung mendengar bahwa Meli bekerja di perusahaan saat ini.
“Perusahaan? Maksudnya? Bisnismu bersama Dara sudah berakhir?” tanyaku bingung.
“Tidak Rein. Hanya saja aku harus memimpin sebuah perusahaan untuk saat ini”, jawabnya.
Kali ini aku semakin bingung dengan apa yang dikatakan oleh Meli, aku merasa ada hal besar yang baru saja terjadi pada sahabatku ini. Perusahaan apa? Siapa yang meberikannya? Banyak pertanyaan yang memenuhi kepalaku dan aku tak mengerti.
__ADS_1
“ Bagaimana bisa? Kamu menjadi pemimpin perusahaan?”, tanyaku
“Aku akan mengatakannya disaat kita bertemu. Biar ku luangkan waktuku dan ku hubungi setelah jadwalku telah ku tata rapi. Aku sangat sibuk Rein biar ku hubungi kamu nanti”, ucap Meli dan mengakhiri panggilannya setelah memberiku penjelasan.
Dari dalam sebuah apartemen tempat Ken dan Laura tinggal, keributan sedang terjadi didalamnya, Laura duduk dan terdiam sebelum akhirnya ia berangkat ke kantor, suasana rumah tempat mereka tinggal terasa sangat dingin tanpa adanya satupun kata kata terucap dari mereka, bak perang dingin yang mereka lontarkan satu sama lain.
“Aku akan pulang sangat larut, jadi jangan menungguku dan tidurlah Lau”, ucap Ken sambil membenarkan penampilannya.
Laura melihat ke arah Ken dengan tatapan dingin dan segera mengambil tas nya lalu meninggalkan rumah tanpa mengatakan apapun pada Ken. Melihat istrinya yang bersikap dingin padanya, Ken mengambil barang miliknya dan segera menuju ke kantornya.
Berusaha untuk tetap bersikap profesional saat bekerja, Ken mencoba untuk mengesampingkan masalah pribadinya dan fokus untuk bekerja menyelesaikan pekerjaannya meski hal itu cukup sulit mereka lakukan.
“Sulit sekali bagiku untuk berkonsentrasi dalam bekerja”, keluh Ken
Sama hal nya dengan Laura yang tak bisa bekerja dengan baik beberapa hari ini karena masalah di rumah yang tak terselesaikan dengan baik.
“Sampai kapan Ken akan terus begini padaku? Apakah ia tak lagi ingin bertemu dan melihatku? Mengapa ia selalu saja mengabaikanku dan lebih memilih pekerjaannya?”, gumamnya kesal.
Hari inipun berlalu dengan begitu cepatnya, Ken memutuskan untuk meninggalkan pekerjaannya dan pulang lebih awal untuk menyelesaikan masalah ini bersama Laura istrinya. Berusaha ingin memberikan yang terbaik pada Laura dan menjadi apa yang diinginkannya, Ken sampai di rumah terlebih dahulu dan ia menunggu kedatangan istrinya sambil duduk di sofa.
Suara pintu terbuka dan Laura meilhat Ken telah sampai di rumah dan duduk seperti sedang menunggunya pulang namun Laura masih saja bersikap dingin pada Ken.
“Ada apa? Aku pulang lebih awal dai biasanya namun sikapmu masih saja dingin padaku?”, tanya Ken sedikit kesal
“Untuk apa? Tak perlu memikirkanku dan selesaikan apa yang telah menjadi tugasmu. Aku akan baik baik saja disini”, ucapnya lalu berjalan masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
Ken melangkahkan kakinya dan segera menghampiri Laura yang berada di dalam kamar sambil menjadarkan dirinya, ia melihat bahwa istri yang sangat ia cintai sedang menangis. Menyadari bahwa Ken menghampirinya, Laura segera menghapus air matanya dan kembali bersikap dingin.
“Kamu tahu pekerjaanku tak mudah Lau, aku masih baru saja merintis sebuah perusahaan dan itu mengharuskan aku untuk bekerja lebih keras. Ku mohon jangan bersikap seperti ini padaku”, ucap Ken sambil menggenggam kedua tangan Laura
“Aku berusaha mengerti dan memahami hal itu Ken, aku tahu kalau pekerjaan itu sangat berat untukmu, namun perrnahkah kamu menanyakan bagaimana aku? Aku harus dirumah tanpamu, kamu terlalu sibuk dengan pekerjaanmu dan tak memperhatikanku yang sedang hamil. Aku harus menghadapinya seorang diri. Tahukah kamu bahwa itu juga berat untukku?”, ucap Laura mengungkapkan kekesalannya.
“Tak memperhatikanmu? Bagaimana bisa kamu mengatakan hal itu. Setiap kali kamu merasa kesulitan aku berusaha ada untukmu, semua kebutuhanmu aku berusaha memenuhinya”
“Bukan itu saja Ken”, Ucap laura kesal
“Lalu apa lagi yang kamu ingin aku lakukan? Apa yang kamu tuntut dariku Lau? Aku berusaha untuk menjadi suami yang baik, berusaha terus memperhatikan kesehatanmu dan bayi kita. Apa lagi?”, balas Ken berteriak.
Laura melihat ke arah Ken yang berteriak padanya, segera Laura beranjak dari kasur dan kelur dari kamar itu sambil memegangi perutnya yang makin membesar. Langkah Laura terhenti oleh tangan Ken yang menahannya.
“Kamu mau keman?”, tany Ken melihat ke arah istrinya.
“Malam ini tidurlah tanpa aku”, ucap Laura menepiskan genggaman Ken dan meninggalkannyasendiri.
Harapan Ken yang ingin segera mengakhiri perselisihan mereka berdua tak berhasil dan membuat masalah itu makin besar. Dalam dua ruangan yang berbeda, mereka duduk dan menangis, perasaan kesal dan amarah bercampur menjadi satu.
“Apakah aku gagal menjadi seorang suami?”, tanya Ken pada dirinya sendiri
“Aku sangat membutuhkannya, tidakkah ia membutuhkanku sama seperti aku membutuhkannya?”, ucap Laura menahan sesak di dadanya.
Perasaan sedih kesal dan marah bercampur dalam hatinya, Laura menangis hampir setiap hari tanpa diketahui oleh Ken. Seolah Ken selalu berjalan sendiri dan meninggalkan Laura, seperti Ken tak ingin Laura terseret oleh kesusahan yang dialaminya. Ken terus berusaha sendiri dan berjuang sendiri tanpa memikirkan bahwa saat ini ia memiliki Laura yang bukan lagi kekasihnya melainkan adalah istrinya.
__ADS_1