My First Love ( Kenanganku Terungkap Kembali)

My First Love ( Kenanganku Terungkap Kembali)
BAB 113 | Hadiah Perpisahan


__ADS_3

**** Flash Back satu tahun lalu ****


(Bab 112) ketika Arka mengantarkan Mira pulang dari taman bermain


“ Bagaimana aku bisa percaya ucapanmu?” ucap Mira kala itu yang sedang berada di dalam mobil Arka.


“Setidaknya tidak untuk hari ini. Kamu akan melihat perbedaannya ketika aku tulus ingin membantumu atau saat aku memiliki niat terselubung”, balas Arka.


“ Sampai kapan?”, tanya Mira dengan kemarahannya yang sudah tak tahan lagi menghadapi keras kepala Arka saat itu.


“Sampai hatiku mengatakan untuk berhenti” jawab Arka segera


Arka merasa sesuatu mengalir keluar dari hidungnya, lagi lagi darah kembali mengalir. Ini sudah yang ke sekian kalinya Arka mimisan, meski ia merasakan bahwa tubuhnya tidak dalam keadaan baik baik saja namun Arka tak pernah memeriksakan dirinya. Keadaan inilah yang pada akhirnya membuatnya memilih untuk segera memeriksakan diri. Disebuah rumah sakit yang cukup ramai, Arka berjalan dengan tubuhnya yang terasa berat. Dengan wajahnya yang pucat ia masuk ke ruangan dokter tanpa kedua orang tuanya.


“Dimana kedua orang tuamu? Bukankah saya mengatakan untuk membawa orang tua?”, ucap dokter yang melihat bahwa Arka datang seorang diri masuk ke ruangannya. Arka hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, ia merasa tubuhnya sedang tidak baik karena itu ia tak berani untuk mengatakannya pada kedua orang tuanya.

__ADS_1


“Kedua orang tua saya sedang ada rapat. Katakan saja yang sejujurnya dokter, saya sudah dewasa jadi saya bisa mewakili diri sendiri”, jawab Arka santai menanggapi pertanyaan dari dokter dan tak menanggapinya dengan serius. Dengan percaya dirinya Arka merasa bahwa tubuhnya hanya terlalu lelah dan kurang istirahat saja namun perlahan kepercayaan dirinya luntur, senyumannya mulai hilang dari wajah Arka ketika ia mendengar dokter menjelaskan kondisinya saat ini.


“Kamu mengidap penyakit kanker darah”, ucap dokter itu yang dengan segera melunturkan kepercayaan diri dan senyuman Arka. Bak suara petir di siang bolong, Arka terkejut dan tak menyangka bahwa hal seburuk itu tengah terjadi pada dirinya, seperti waktu disekitarnya telah berhenti untuk sementara, Arka hampir saja tak bisa merasakan detak jantungya. Ucapan dokter yang memvonisnya dengan salah satu penyakit paling mematikan merupakan sebuah kengerian baginya. Arka keluar dari ruangan dokter dengan masih dalam keadaan tak percaya bahwa dirinya mengidap penyakit kanker darah.


Hari hari yang dilewati Arka sungguh sangat menyakitkan dan berat. Ia ditinggalkan oleh kekasih yang sangat ia cintai, ia harus berjuang melawan penyakitnya sendiri tanpa ada satupun orang yang tahu. Seorang remaja yang berusia tujuh belas tahun yang seharusnya menikmati masa mudanya dengan kebahagiaan di sekitarnya namun Arka harus menjalani masa remajanya dengan sakit dan kesendirian. Kesal, amarah, sedih, kekecewaan semuanya membaur menjadi satu dalam hati Arka.


“ Jadi, aku akan segera mati? Hah! Benar benar hidup yang sangat singkat”, ucapnya ketika bercermin dikamarnya, lagi lagi darah mengalir keluar dari hidungnya, entah sudah yang keberapa kali hari ini ia mimisan,


“Kalau aku terus berdarah aku akan mati dengan kehilangan banyak darah, bukan karena kanker darah”, ucapnya dengan mencoba menghibur dirinya sendiri sambil membersihkan darah yang keluar dari hidungnya.


“Ahh!! Darah ini.. Mengapa tak berhenti!!”, seru Arka ketika ia berada di toilet sekolah seorang diri, sudah banyak tisu yang ia habiskan untuk membersihkan darah yang terus saja mengalir dari hidungnya. Sampai tiba tiba ia merasakan bahwa kepalanya sangat sakit, seperti ingin pecah rasanya. Rasa sakit yang tak tertahankan membuatnya jatuh tersungkur ke lantai sambil terus memegangi kepalanya dan menahan rasa sakitnya.


“Tidak.. Jangan sekarang. Aku membutuhkan lebih banyak waktu lagi. Ku mohon, biarkan aku ada disisinya lebih lama lagi, kumohon!!”, pintanya dengan melawan kesakitan di kepalanya. Siapapu tak bisa memprediksi kapan tepatnya Arka akan mati, tidak juga dokter. Arka hanya bisa hidup dengan berharap ia tidak mati hari ini dari hari ke hari, hanya itu yang bisa ia lakukan sampai hari ini.


**** Flash Back Off ****

__ADS_1


Hari dimana saat saat terakhir baginya melihat seluruh teman teman dan gadis yang sangat ia cintai. Arka mengatakan yang sebenarnya, wajahnya yang pucat membuat Mira semakin khawatir. Mira bahkan tak berhenti menangis ketika mengetahui yang sebenarnya dari Arka, ia tak menyadari bahwa selama ini Arka telah berjuang sendirian tanpa siapapun di sisinya sebagai teman untuk menguatkannya dari hari ke hari.


“Mengapa tak mengatakannya padaku? Disaat kamu sudah sekarat seperti ini mengapa baru menceritakannya? Mengapa kamu membawa beban ini sendirian?”. Teriak Mira sambil menangis tersedu sedu menatap Arka, Mira masih tak percaya bahwa pria yang berada dihadapannya, pria yang pernah ia cintai dan ia anggap sahabat sampai hari ini mengalami hal yang sangat buruk dihidupnya.


“Kalau aku menceritakannya padamu apa yang akan kamu lakukan? Kamu akan kembali padaku dan mencintaiku?”, jawab Arka segera sambil menghapus air mata yang membajiri wajah Mira.


“Jangan konyol Mira, aku tak ingin kamu mencintaiku atas dasar kasihan. Lagi pula aku hanya ingin memberikan perpisahan yang terbaik untukmu agar kenanganmu tentangku bukanlah keburukan namun sebuah kebahagiaan” tambah Arka melanjutkan ucapanya sambil terus tersenyum dan menghapus air mata Mira.


Mira tak kuasa menahan air mata dan kesedihannya, ia memeluk Arka erat erat sambil menangis, kenangan indah bersama Arka seketika muncul di benaknya, tentang bagaimana perlakuan manis Arka padanya, bagaimana ia berusaha membuatnya tertawa dan lain sebagainya, baginay tak ada kenangan pahir yang Arka berikan padanya, ialah yang memberikan kenangan pahit pada Arka dengan mencintai pria lain dan mengakhiri hubungannya dengan Arka.


“Aku adalah gadis yang sangat kejam, jika waktu bisa ku putar maka aku takkan meninggalkannya dan tetap bersamanya sampai akhir hidupnya. Masa bodoh dengan perasaanku sendiri”, gumamnya dalam hati menyesali tiap tindakan buruknya pada Arka.


“Mari kita membuat kenangan indah bersama, untukmu dan untukku. Setidaknya hanya ini yang bisa ku berikan”, ucap Mira dengan melepaskan pelukannya


“Sebagai hadiah perpisahan”, ucap Arka menambahi kata kata Mira sambil memegang kedua tangan Mira dan senyum pucatnya.

__ADS_1


__ADS_2