Penjahit Hati

Penjahit Hati
PH - Melayani tuan muda


__ADS_3

PH - Melayani tuan muda


Kevin berjalan ke kamarnya tanpa berkata apa-apa lagi.


Seminggu kemudian,


Delina sudah menyelesaikan semua pekerjaan yang


diberikan Ny. Amira padanya. Ia sedang mengetik SMS untuk dikirimkan ke Meri


dan menanyakan apa ia bisa bertemu Ny. Amira untuk mencoba kebayanya.


Meri yang saat itu sedang sibuk di kantor Ny.


Amira, tidak memperhatikan ponselnya. Cukup lama Delina menunggu balasan dari


Meri. Ia menunggu sambil menyelesaikan pesanan kebaya lainnya.


Saat Meri akhirnya membalas pesannya, Meri malah


mengirimkan sebuah alamat padanya dan minta Delina datang ke alamat itu.


“Apa itu alamat rumah Ny. Amira?” balas Delina.


“Iya.” jawab Meri.


“Jam berapa aku bisa datang, mbak?” tanya Delina


lagi.


“Jam 4 sore.” Balas Meri lagi.


“Ok, mbak.”


Delina melihat jam dindingnya masih menunjukkan


pukul 10 pagi. Ia memutuskan melanjutkan pekerjaannya menyelesaikan jahitan


kebaya yang belum selesai.


*****


Jam 3.30 sore, Delina menghentikan ojek yang ia


tumpangi di depan sebuah rumah yang sesuai dengan alamat yang dikirimkan Meri


padanya. Setelah membayar ojek itu, Delina memberanikan diri mendekati pintu


gerbang rumah yang ia kira sebagai rumah Ny. Amira. Ia melihat penjaga sedang


duduk di pos jaga dan mengucapkan salam.


“Selamat sore, pak. Maaf, boleh nanya, ini benar


rumah Ny. Amira?” tanya Delina pada penjaga.


“Mbak siapa ya?” tanya penjaga itu.


“Maaf, saya Delina, saya penjahit yang diminta Ny.


Amira untuk datang mengantar kebayanya.” Kata Delina sambil memperlihatkan


paper bag yang dibawanya.


“Tunggu sebentar ya, mbak. Tunggu disini jangan


kemana-mana.” Kata penjaga itu sambil mengecek sesuatu lewat telpon di posnya.


Delina mengangguk dan tetap berdiri di luar gerbang


samping pos jaga itu. Tiba-tiba sebuah mobil mewah berhenti di depan rumah.


Suara klakson yang tidak sabaran keluar dari mobil itu saat pintu gerbang mulai


terbuka.


Delina mengacuhkan keberadaan mobil itu, ia tetap


menunggu sambil sesekali memeriksa isi paper bag di tangannya. Seorang pria

__ADS_1


tampan keluar dari mobil mewah yang sudah berhenti di tempat parkir di dalam


rumah itu.


Ia memanggil penjaga yang masih bersiap di pos-nya,


“Pak, sini!” Kevin menurunkan kacamata hitamnya dan


melempar kacamata itu ke dalam mobilnya.


“Siap, tuan muda.” sahut penjaga itu pada Kevin


sambil berlari mendekat.


“Siapa dia?” tunjuk Kevin pada Delina yang bahkan


tidak menatapnya.


“Mbak itu mau ketemu Ny., tuan muda.” Jelas


penjaga.


“Pasti itu pembantu yang disiapkan ibu untukku.


Suruh dia masuk, aku tunggu di ruang tamu.” Ucap Kevin sambil berjalan masuk ke


dalam rumah.


“Baik, tuan muda.”


Penjaga berlari cepat mendekati Delina dan meminta


ikut dengannya. Delina mengikuti penjaga itu tanpa mencurigai apapun yang akan


terjadi padanya. Sampai di dalam ruang tamu, Delina tidak melihat Ny. Amira


dimanapun. Ia hanya melihat seorang pria muda duduk di sofa, menatapnya dingin.


Delina menatap pria itu, matanya yang bulat hitam menatapnya dengan sangat tajam. Kulit wajahnya terlihat sangat halus tanpa rambut yang biasanya menghiasi wajah pria pada umumnya. Hidungnya mancung dengan bibir tipis berwarna merah yang lembab. Alisnya yang tebal terlihat dari balik rambutnya yang menutupi dahinya, melengkapi ketampanan wajah yang dimiliki pria itu.


Tanpa tersenyum saja pria itu terlihat sangat tampan, apalagi kalau ia tersenyum. Delina hanya beberapa kali melihat pria setampan itu. Itupun di televisi yang menayangkan acara fashion show dengan pria tampan sebagai modelnya. Sempat terbersit dalam pikiran Delina mungkin pria di hadapannya itu adalah seorang model.


“Beliau belum datang. Ini tuan muda Kevin. Mbak


bisa bicara dengan tuan muda dulu. Saya permisi.” Jelas penjaga itu sambil


berbalik hendak keluar dari rumah besar itu.


“Tapi...” cegah Delina mencoba mencegah penjaga itu


keluar, tapi suara Kevin membuatnya berhenti bergerak.


“Duduk.” perintah Kevin dingin dan sedikit galak.


Kevin mengamati sosok gadis di hadapannya. Pakaian yang dikenakannya terlihat kampungan dan kebesaran di tubuhnya. Pakaian itu menutup seluruh tubuhnya sampai hanya terlihat sedikit bagian tangan dan sepatu


saja. Kevin merasa pernah melihat pakaian yang lebih mirip seprai itu, tapi ia tidak bisa mengingatnya.


Kerudung yang dipakainya juga terlihat kampungan. Kevin menghela nafas, ibunya bahkan menyediakan pembantu yang tidak berkelas seperti ini untuk melayaninya. Sekali lagi ia mengamati wajah gadis di hadapannya. Matanya berwarna coklat tua dengan alis yang rapi. Hidungnya cukup mancung, terlihat imut. Bibirnya sedikit tebal berwarna pink alami. Rambutnya panjang sampai pinggang sedikit berwarna coklat dan tampak sangat lembut.


“Tuan muda, saya...” kata-kata Delina terhenti bahkan sebelum selesai.


“Ibu belum pulang. Tapi aku akan memberimu beberapa tugas dulu. Sekarang duduk.” Tunjuk Kevin dengan dagunya ke arah sofa.


Delina melirik sofa yang terlihat sangat mahal dan


bersih. Ia merasa pakaian yang dipakainya sedikit kotor setelah naik ojek tadi.


“Saya berdiri saja, tuan muda.” Ujar Delina tetap


diam di tempatnya berdiri.


“Mau kerja disini, kau harus menuruti perintah.


Kalau kau lebih suka berdiri, berdiri saja terus. Aturannya, kau harus menuruti


semua perintahku tanpa kecuali.” Kata Kevin dengan dingin. Ia jelas sekali


mulai kesal melihat penampilan Delina yang membuatnya makin stress.

__ADS_1


Delina hanya diam mendengar kata-kata Kevin.


“Sekarang siapkan air mandi untukku. Kamarku di


lantai dua, pintu kedua setelah tangga. Tinggalkan barang-barangmu disini.


Tidak ada yang akan mencurinya.” Perintah Kevin dengan arogannya.


“Tapi, tuan muda...” kata Delina mencoba


menjelaskan tapi Kevin kembali memotong ucapannya.


“Kau benar-benar menguji kesabaranku ya. Cepat


kerjakan!” ketus Kevin mulai marah. Matanya sudah melotot galak, membuat Delina


sedikit ciut.


”Tuan muda ini kenapa galak sekali, kita bahkan


baru bertemu dan aku tidak diijinkan menjelaskan apapun. Aku ikuti saja dulu,


sambil menunggu Ny. Amira datang.” Batin Delina dengan sabar.


Delina menarik nafas panjang, ia meletakkan tas dan


paperbagnya di atas sofa dan berjalan perlahan ke lantai 2. Hembusan angin


kencang dari jendela yang terbuka, menyibak kerudung yang menutupi kepala


Delina. Kerudung itu terbang dan jatuh di samping Kevin.


Delina berlari dengan cepat menuruni tangga, ia


menghampiri Kevin yang sedang memperhatikan corak di kerudungnya.


“Tuan muda, kerudung saya...” Delina mencoba


mengambil kerudung itu dari tangan Kevin.


“Kerudung jelek begini, dimana kau membelinya?”


ejek Kevin sambil membolak-balik kerundung Delina di tangannya.


“Saya membuatnya sendiri, tuan muda.” Jelas Delina


masih mengulurkan tangannya meminta kerudungnya kembali.


“Kenapa kerudung ini wangi sekali? Apa wangi ini


dari dia?” batin Kevin sambil tetap memegang kerudung itu.


Padahal kerudung itu hanya berjarak beberapa centi


dari hidungnya tapi wanginya tetap tercium. Kevin kembali merasakan pernah


mencium wangi ini entah dimana.


“Tuan muda... kembalikan...” ujar Delina sambil


mengulurkan tangannya ingin mengambil kerudungnya.


“Nich, ambil. Kerudung jelek gini, lebih bagus


dijadikan lap saja. Cepat kerjakan perintahku!” bentak Kevin dengan galak.


Delina memakai kembali kerudungnya, ia bahkan tidak


mengatakan apa-apa lagi. Delina berjalan ke lantai 2 kembali dan masuk ke kamar


yang tadi dikatakan Kevin. Delina menatap dua pintu yang ada di dalam kamar


itu.


*****


Jangan lupa tinggalkan jejak kk. Like, vote, komen.


Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.

__ADS_1


__ADS_2