Penjahit Hati

Penjahit Hati
Episode 91


__ADS_3

Keesokan harinya, Delina tampak sibuk menyiapkan


cemilan dimsum di dapur. Beberapa pelayan membantunya membungkus dimsum, ada


juga yang meletakkan di atas kukusan. Di acara ulang tahun nenek Indri kali


ini, Delina diminta membuat cemilan dimsum oleh nenek Indri. Ia tampak senang


melihat anak dan cucunya makan dimsum buatan Delina dengan lahap.


Sesekali nenek Indri cuma mencomot dimsum untuk ia


makan sendiri. Delina mengusap peluh di keningnya, ia mencuci tangannya di


wastafel sebelum beranjak ke meja makan. Ditangannya ada sepiring dimsum yang


sengaja ia siapkan untuk Agnes dan Giselle. Keduanya sedang duduk di halaman


samping dengan cemilan lain di hadapan mereka.


Delina tahu kalau Giselle terus mengintip dimsum


buatannya. Ia berjalan kesana dan berpura-pura kebingungan mencari Kevin.


“Loh, hubby kok nggak ada ya. Perasaan suaranya


tadi disini.”kata Delina pada dirinya sendiri.


Ia meletakkan dimsum di atas meja, celingukan


sekali lagi dan pergi dari sana dengan cepat. Agnes langsung mengambil dimsum


itu dan memasukkannya ke mulutnya.


“Agnes!”seru Giselle memperingatkan Agnes.


“Sssttt... Mama jangan ribut. Kalo mau cepetan


makan. Kita bisa alasan tadi Kevin yang makan.”kata Agnes cepat sambil


mengunyah dimsum di mulutnya.


Giselle masih ragu-ragu untuk memakan dimsum hangat


di depannya, tapi ia ingin sekali memakannya. Akhirnya Giselle menghabiskan


dimsum di piring itu, ia berebut dengan Agnes yang makan dengan cepat.


Delina tersenyum melihat piring dimsum di depan Giselle


dan Agnes sudah kosong. Ia membawa dua cangkir kopi untuk mereka lalu


meletakkannya di atas meja. Tanpa mengatakan apa-apa, Delina mengambil piring


kosong dari atas meja lalu membawanya ke dapur.


“Kenapa kamu sibuk sekali melayani tante Giselle


dan Agnes, Delina?”tanya Kevin.


“Biar bagaimanapun mereka juga saudaramu, hubby.


Tidak seharusnya kalian bertengkar karena aku.”kata Delina lembut.


Kevin memeluk Delina dari belakang, “Kau tahu,


sikapmu ini yang membuatku jatuh cinta padamu.”


“Gombal. Pasti ada maunya.”saut Delina yang merasa


risih. Pasalnya Kevin memeluknya saat mereka masih ada di dapur. Tentu saja ada


pelayan yang sedang bekerja disana.


“Hubby, lepasin. Malu diliat pelayan.”bisik Delina.


Kevin tidak mau melepaskan pelukannya, ia malah


menarik Delina menuju kamar mereka. Delina tidak ingin meninggalkan pesta ulang


tahun nenek Indri, tapi Kevin memintanya ganti baju dulu untuk menghadiri


puncak acara.


Delina terpana melihat gaun panjang yang disiapkan

__ADS_1


Kevin untuknya. Kevin membantu melepas dress panjang yang dikenakan Delina. Ia


memakaikan gaun itu ke tubuh Delina lalu membantu menyempurnakan penampilan


Delina.


Semua orang sudah berkumpul di tempat pesta ulang


tahun nenek. Nenek Indri tampak memakai syal buatan Delina. Alvin dan Amira


menoleh saat Kevin dan Delina bergabung dengan mereka. Delina tersenyum pada


semua orang yang melihatnya.


“Perhatian! Nenek mau mengumumkan sesuatu. Kevin,


Delina, kesini.”pinta nenek Indri. Kevin menggandeng tangan Delina mendekati


nenek Indri. “Kalian mungkin belum tahu siapa wanita yang bersama Kevin ini.


Nenek mau kenalkan Delina, dia istri Kevin.”


Gemuruh pertanyaan mulai terdengar di sana sini.


Nenek Indri meminta mereka diam dulu. “Mereka memang merahasiakan pernikahan


ini untuk sementara. Tapi resepsi akan segera dilakukan dalam waktu sebulan


ini. Nenek harap kalian bisa menerima Delina sebagai bagian dari keluarga kita


juga.”


Delina tersenyum pada Kevin yang sudah tersenyum


padanya. Tantangan terbesar, terberat menaklukkan hati nenek Indri sudah mereka


lewati. Delina sudah sepenuhnya diterima dalam keluarga besar Alvin.


Setelah pesta ulang tahun nenek Indri usai, Kevin


dan Delina kembali pulang ke rumah besar Alvin. Kevin tidak berhenti mengatakan


hal-hal manis untuk Delina. Ia ingin mereka pergi honeymoon agar Delina bisa cepat


Sampai di rumah besar Alvin, Keanu sudah ada disana.


Ia tidak sedirian tapi bersama dengan seorang wanita hamil. Mereka berempat


saling pandang, sampai wanita itu memperkenalkan dirinya.


“Selamat sore, perkenalkan nama saya Clara.”ucap


Clara sopan.


“Kau! Ngapain kamu kesini?!”bentak Kevin mulai


emosi.


Delina menatap bingung reaksi Kevin yang ia rasa


berlebihan. Ia menahan tubuh Kevin yang hampir maju mendekati Clara.


“Hubby, siapa dia?”tanya Delina sabar.


“Dia...”Kevin kehilangan keberaniannya mengungkapkan


kebenaran.


“Nyonya, saya sedang mengandung anak tuan muda


Kevin.”saut Clara cepat tanpa sempat dicegah Kevin.


Ekspresi wajah Delina mengeras, ia mengepalkan


tangannya menahan nyeri di hatinya mendengar pengakuan Clara. Delina menatap


Kevin, mencari penyangkalan dari mulut Kevin tapi sepertinya apa yang dikatakan


Clara memang benar adanya.


Delina menarik nafas panjang, ia mencoba berpikir


tenang. Dilihat dari besarnya ukuran perut Clara, sepertinya kehamilannya sudah


hampir waktunya melahirkan.

__ADS_1


“Berapa usia kandunganmu?”tanya Delina berusaha


tegar.


“Seharusnya lahir minggu ini, nyonya.”kata Clara.


Delina menarik nafas panjang sekali lagi, ia duduk


di sofa ruang tamu. Sementara Kevin masih berdiri di tempat semula. Kevin menghampiri


Delina, menarik tangan istrinya itu untuk mengikutinya ke ruang kerja. Kevin


menutup pintu ruang kerja, lalu menatap Delina yang berdiri membelakanginya.


Grep! Kevin memeluk Delina dengan erat. Keduanya


menangis tanpa suara menghadapi masalah yang sedang menerpa kehidupan rumah


tangga mereka. Delina mengusap air matanya, ia harus mendengarkan penjelasan


Kevin dulu sebelum mengambil keputusan. Itu janjinya dulu pada Kevin.


“Hubby, apa kalian berhubungan setelah pernikahan


kita?”tanya Delina menahan suaranya tetap terdengar biasa saja.


“Aku sungguh nggak sengaja, Delina. Kamu ingat, aku


sempat keluar kota waktu itu. Saat itu aku kira dia itu kamu. Kita baru saja


menikah dan aku sangat menginginkanmu. Aku juga mabuk malam itu, Delina. Kau


bisa tanya asistenku di sana.”kata Kevin dengan suara tercekat.


Delina menarik nafas panjang lagi. Ia berusaha


mempercayai Kevin, sejak mereka menikah, Kevin tidak pernah pergi ke klub lagi.


Undangan pesta juga ia tolak kalau tidak pergi bersama Delina. Kevin lebih


banyak menunjukkan rasa cintanya hanya untuk Delina. Mereka juga hampir 24 jam


selalu bersama.


“Delina, tolong jangan tinggalkan aku.”pinta Kevin


memelas.


“Aku tidak akan meninggalkanmu, hubby. Tapi aku


juga tidak bisa mengabaikan anak dalam kandungan wanita itu. Bagaimanapun anak


itu ada karena kalian berdua berhubungan. Kamu juga harus memikirkan bagaimana


nasib ibunya. Apa dia wanita baik-baik?”tanya Delina tenang.


“Dia hanya wanita pendamping minum di klub.”kata


Kevin.


“Hubby...”panggil Delina membalik tubuhnya. Ia


mengusap wajah Kevin yang basah oleh air matanya. “Hubby, tolong selesaikan


masalah kalian berdua dulu ya. Aku...” Delina tersenyum pada Kevin. “Aku akan


pergi dari sini.”


“Tidak!! Kamu nggak boleh pergi!!”bentak Kevin


emosi.


Ia mendorong tubuh Delina ke atas sofa, diangkatnya


dress panjang Delina sampai pakaian dalamnya terlihat. Kevin menarik pakaian


dalam Delina dengan kasar.


“Hubby!! Kevin!! Hiks... Hiks...”jerit Delina.


*****


Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel


saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.

__ADS_1


__ADS_2