
Keesokan harinya, Delina tampak sibuk menyiapkan
cemilan dimsum di dapur. Beberapa pelayan membantunya membungkus dimsum, ada
juga yang meletakkan di atas kukusan. Di acara ulang tahun nenek Indri kali
ini, Delina diminta membuat cemilan dimsum oleh nenek Indri. Ia tampak senang
melihat anak dan cucunya makan dimsum buatan Delina dengan lahap.
Sesekali nenek Indri cuma mencomot dimsum untuk ia
makan sendiri. Delina mengusap peluh di keningnya, ia mencuci tangannya di
wastafel sebelum beranjak ke meja makan. Ditangannya ada sepiring dimsum yang
sengaja ia siapkan untuk Agnes dan Giselle. Keduanya sedang duduk di halaman
samping dengan cemilan lain di hadapan mereka.
Delina tahu kalau Giselle terus mengintip dimsum
buatannya. Ia berjalan kesana dan berpura-pura kebingungan mencari Kevin.
“Loh, hubby kok nggak ada ya. Perasaan suaranya
tadi disini.”kata Delina pada dirinya sendiri.
Ia meletakkan dimsum di atas meja, celingukan
sekali lagi dan pergi dari sana dengan cepat. Agnes langsung mengambil dimsum
itu dan memasukkannya ke mulutnya.
“Agnes!”seru Giselle memperingatkan Agnes.
“Sssttt... Mama jangan ribut. Kalo mau cepetan
makan. Kita bisa alasan tadi Kevin yang makan.”kata Agnes cepat sambil
mengunyah dimsum di mulutnya.
Giselle masih ragu-ragu untuk memakan dimsum hangat
di depannya, tapi ia ingin sekali memakannya. Akhirnya Giselle menghabiskan
dimsum di piring itu, ia berebut dengan Agnes yang makan dengan cepat.
Delina tersenyum melihat piring dimsum di depan Giselle
dan Agnes sudah kosong. Ia membawa dua cangkir kopi untuk mereka lalu
meletakkannya di atas meja. Tanpa mengatakan apa-apa, Delina mengambil piring
kosong dari atas meja lalu membawanya ke dapur.
“Kenapa kamu sibuk sekali melayani tante Giselle
dan Agnes, Delina?”tanya Kevin.
“Biar bagaimanapun mereka juga saudaramu, hubby.
Tidak seharusnya kalian bertengkar karena aku.”kata Delina lembut.
Kevin memeluk Delina dari belakang, “Kau tahu,
sikapmu ini yang membuatku jatuh cinta padamu.”
“Gombal. Pasti ada maunya.”saut Delina yang merasa
risih. Pasalnya Kevin memeluknya saat mereka masih ada di dapur. Tentu saja ada
pelayan yang sedang bekerja disana.
“Hubby, lepasin. Malu diliat pelayan.”bisik Delina.
Kevin tidak mau melepaskan pelukannya, ia malah
menarik Delina menuju kamar mereka. Delina tidak ingin meninggalkan pesta ulang
tahun nenek Indri, tapi Kevin memintanya ganti baju dulu untuk menghadiri
puncak acara.
Delina terpana melihat gaun panjang yang disiapkan
__ADS_1
Kevin untuknya. Kevin membantu melepas dress panjang yang dikenakan Delina. Ia
memakaikan gaun itu ke tubuh Delina lalu membantu menyempurnakan penampilan
Delina.
Semua orang sudah berkumpul di tempat pesta ulang
tahun nenek. Nenek Indri tampak memakai syal buatan Delina. Alvin dan Amira
menoleh saat Kevin dan Delina bergabung dengan mereka. Delina tersenyum pada
semua orang yang melihatnya.
“Perhatian! Nenek mau mengumumkan sesuatu. Kevin,
Delina, kesini.”pinta nenek Indri. Kevin menggandeng tangan Delina mendekati
nenek Indri. “Kalian mungkin belum tahu siapa wanita yang bersama Kevin ini.
Nenek mau kenalkan Delina, dia istri Kevin.”
Gemuruh pertanyaan mulai terdengar di sana sini.
Nenek Indri meminta mereka diam dulu. “Mereka memang merahasiakan pernikahan
ini untuk sementara. Tapi resepsi akan segera dilakukan dalam waktu sebulan
ini. Nenek harap kalian bisa menerima Delina sebagai bagian dari keluarga kita
juga.”
Delina tersenyum pada Kevin yang sudah tersenyum
padanya. Tantangan terbesar, terberat menaklukkan hati nenek Indri sudah mereka
lewati. Delina sudah sepenuhnya diterima dalam keluarga besar Alvin.
Setelah pesta ulang tahun nenek Indri usai, Kevin
dan Delina kembali pulang ke rumah besar Alvin. Kevin tidak berhenti mengatakan
hal-hal manis untuk Delina. Ia ingin mereka pergi honeymoon agar Delina bisa cepat
Sampai di rumah besar Alvin, Keanu sudah ada disana.
Ia tidak sedirian tapi bersama dengan seorang wanita hamil. Mereka berempat
saling pandang, sampai wanita itu memperkenalkan dirinya.
“Selamat sore, perkenalkan nama saya Clara.”ucap
Clara sopan.
“Kau! Ngapain kamu kesini?!”bentak Kevin mulai
emosi.
Delina menatap bingung reaksi Kevin yang ia rasa
berlebihan. Ia menahan tubuh Kevin yang hampir maju mendekati Clara.
“Hubby, siapa dia?”tanya Delina sabar.
“Dia...”Kevin kehilangan keberaniannya mengungkapkan
kebenaran.
“Nyonya, saya sedang mengandung anak tuan muda
Kevin.”saut Clara cepat tanpa sempat dicegah Kevin.
Ekspresi wajah Delina mengeras, ia mengepalkan
tangannya menahan nyeri di hatinya mendengar pengakuan Clara. Delina menatap
Kevin, mencari penyangkalan dari mulut Kevin tapi sepertinya apa yang dikatakan
Clara memang benar adanya.
Delina menarik nafas panjang, ia mencoba berpikir
tenang. Dilihat dari besarnya ukuran perut Clara, sepertinya kehamilannya sudah
hampir waktunya melahirkan.
__ADS_1
“Berapa usia kandunganmu?”tanya Delina berusaha
tegar.
“Seharusnya lahir minggu ini, nyonya.”kata Clara.
Delina menarik nafas panjang sekali lagi, ia duduk
di sofa ruang tamu. Sementara Kevin masih berdiri di tempat semula. Kevin menghampiri
Delina, menarik tangan istrinya itu untuk mengikutinya ke ruang kerja. Kevin
menutup pintu ruang kerja, lalu menatap Delina yang berdiri membelakanginya.
Grep! Kevin memeluk Delina dengan erat. Keduanya
menangis tanpa suara menghadapi masalah yang sedang menerpa kehidupan rumah
tangga mereka. Delina mengusap air matanya, ia harus mendengarkan penjelasan
Kevin dulu sebelum mengambil keputusan. Itu janjinya dulu pada Kevin.
“Hubby, apa kalian berhubungan setelah pernikahan
kita?”tanya Delina menahan suaranya tetap terdengar biasa saja.
“Aku sungguh nggak sengaja, Delina. Kamu ingat, aku
sempat keluar kota waktu itu. Saat itu aku kira dia itu kamu. Kita baru saja
menikah dan aku sangat menginginkanmu. Aku juga mabuk malam itu, Delina. Kau
bisa tanya asistenku di sana.”kata Kevin dengan suara tercekat.
Delina menarik nafas panjang lagi. Ia berusaha
mempercayai Kevin, sejak mereka menikah, Kevin tidak pernah pergi ke klub lagi.
Undangan pesta juga ia tolak kalau tidak pergi bersama Delina. Kevin lebih
banyak menunjukkan rasa cintanya hanya untuk Delina. Mereka juga hampir 24 jam
selalu bersama.
“Delina, tolong jangan tinggalkan aku.”pinta Kevin
memelas.
“Aku tidak akan meninggalkanmu, hubby. Tapi aku
juga tidak bisa mengabaikan anak dalam kandungan wanita itu. Bagaimanapun anak
itu ada karena kalian berdua berhubungan. Kamu juga harus memikirkan bagaimana
nasib ibunya. Apa dia wanita baik-baik?”tanya Delina tenang.
“Dia hanya wanita pendamping minum di klub.”kata
Kevin.
“Hubby...”panggil Delina membalik tubuhnya. Ia
mengusap wajah Kevin yang basah oleh air matanya. “Hubby, tolong selesaikan
masalah kalian berdua dulu ya. Aku...” Delina tersenyum pada Kevin. “Aku akan
pergi dari sini.”
“Tidak!! Kamu nggak boleh pergi!!”bentak Kevin
emosi.
Ia mendorong tubuh Delina ke atas sofa, diangkatnya
dress panjang Delina sampai pakaian dalamnya terlihat. Kevin menarik pakaian
dalam Delina dengan kasar.
“Hubby!! Kevin!! Hiks... Hiks...”jerit Delina.
*****
Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel
saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.
__ADS_1