
“Hubby, tunggu.”Delina mendekati Kevin yang
berhenti berjalan. “Aku siapkan air mandi dulu ya.”
Kevin membiarkan Delina melakukan apa yang ia
inginkan. Ia sangat merindukan Delina, hingga melihatnya ada di apartment itu,
membuat Kevin sangat senang. Kevin hampir menarik Delina dalam pelukannya, tapi
ia harus menahan dirinya atau Delina akan pergi darinya.
Delina mengisi bathup dengan air hangat dan
menuangkan aromatheraphy. Kevin melepaskan kemejanya, hampir meletakkan kemeja
kotor itu ke keranjang cucian, tapi Delina sudah mengambilnya lebih dulu. Ia
menatap wajah Kevin yang brewokan.
“Hubby, dimana krim cukurnya?”
Kevin celingukan mencari diatas wastafel tapi tidak
menemukannya. “Kayaknya uda habis ya. Aku gak kepikiran beli. Biarin aja.”
Delina keluar dari kamar mandi, ia mengambil tas
yang tadi dibawanya. Ada krim cukur, pisau cukur, samphoo dan sabun yang biasa
dipakai Kevin.
“Kamu bawa isi kamar mandi?”tanya Kevin heran.
“Iya. Airnya udah penuh, hubby. Masuk sana.”
Kevin menatap Delina sambil membuka celananya,
Delina menutup matanya dengan kerudung yang ia pakai. “Aku sudah masuk, kamu
bisa buka mata.” Kevin bersandar dengan nyaman, air hangat, aromatheraphy dan
gelembung sabun sangat sempurna untuk merilekskan tubuhnya yang penat.
Delina mendekati Kevin membawa perlengkapan yang
dibawanya tadi. Ia mengoleskan krim cukur ke dagu dan bawah hidung Kevin.
“Kamu bisa nyukur, Delina?”Kevin agak ngeri melihat
__ADS_1
Delina mengelap pisau cukurnya yang sangat tajam. Salah-salah lehernya bisa
terluka.
“Aku akan pelan-pelan, hubby. Diam ya. Jangan
bergerak.”
Kevin berendam dengan tenang, ia memperhatikan
detail wajah Delina yang sangat dekat dengannya. Aroma wangi tubuh Delina,
membuat Kevin mengantuk.
“Hubby, jangan tidur dulu. Siapa yang bersih-bersih
disini?”tanya Delina mengajak Kevin bicara.
Kevin merasakan dinginnya pisau cukur mengenai
dagunya. Ia mengatakan kalau ada pelayan yang dikirim setiap hari untuk
membersihkan apartmentnya. Kalau makanan, ia biasanya makan di kantor kalau
inget dan kebanyakan lupanya.
“Aku takut kembali ke rumah, Delina. Aku tahu kamu
apa-apa. “Kamu sama siapa kesini?”
“Ali yang nganter tadi. Tapi dia ke rumah sakit ada
panggilan darurat.”
Suasananya sangat sepi di kamar mandi itu, Kevin
tidak tahu lagi mau bicara apa. Ia diam menunggu Delina menyelesaikan mencukur
kumis dan jenggotnya.
“Aku udah gak marah, hubby. Tapi jangan diulangi
ya. Aku baru pertama kali dicium sama suamiku. Harusnya reaksiku gak berlebihan
gitu ya. Selama 5 hari ini, kenapa hubby gak pulang?”
“Aku takut kamu minta cerai kalau ketemu aku. Jadi aku
milih pulang kesini.”
__ADS_1
Delina mengelap wajah Kevin yang sudah bersih
kembali. Ia ingin mengeramasi Kevin sekarang. Pijatan Delina di kepalanya,
membuat Kevin beneran tertidur sekarang.
“Hubby bangun dong. Bilas dulu.”Delina mengguncang
bahu Kevin.
“Aku ngantuk. Lima menit lagi.”
“Sebentar aja, hubby. Bangun, sini aku pegangin.”
Kevin mendengus kesal, ia bangun dari bathup tanpa
peringatan.”Hiii..!!” Delina shock melihat apa yang seharusnya boleh ia lihat
sekarang. Ia cepat-cepat menutup matanya dengan kerudungnya. Kevin menarik
tangan Delina masuk ke bawah shower.
Delina merasakan air hangat membasahi kerudung dan
pakaiannya. “Hubby! Matikan airnya! Lepasin!” Delina meronta meraba mencari
kran air di dinding. “Hii!!” Ia salah memutar kran air dingin. Tubuh Delina
mulai menggigil kedinginan.
“Makanya diem. Tenang, Delina. Jangan memancingku
untuk menciummu lagi.”
Delina berhenti meronta, ia menyilangkan tangannya
di depan dada. Pakaian Delina sudah basah, memperlihatkan samar pakaian
dalamnya. Kevin menelan salivanya melihat tubuh Delina. Biar bagaimanapun, Delina
sudah jadi istrinya. Kevin memendam hasrat ingin memiliki Delina.
“Delina, sekali lagi. Boleh aku menciummu sekali
saja.”pinta Kevin dengan suara serak.
*****
Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel
__ADS_1
saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.