Penjahit Hati

Penjahit Hati
Episode 84


__ADS_3

“Udah 6 kali loh. 4 kali lagi aku dapet 10


ronde.”kata Kevin senang.


Delina buru-buru menutup mulut Kevin dengan


tangannya. Mereka terbaring diatas ranjang dengan Delina diatas tubuh Kevin.


“Mmmmpp....” Merasa Kevin ingin mengatakan sesuatu, Delina melepaskan bekapan


tangannya. “Kamu mau diatas, yank? Sekali-sekali boleh coba.”kata Kevin genit.


Delina langsung mundur sampai ia jatuh dari atas ranjang.


“Aduch!”pekik Delina kesakitan. Pantatnya membentur


lantai cukup keras. Kevin segera membantu Delina bangun.


“Yah, belum juga mulai udah megangin pinggang


aja.”ujar Kevin cengengesan.


“Gak lucu, hubby. Aku masih marah nich.”


Kevin memeluk Delina erat, menjatuhkan dirinya


diatas ranjang lagi. “Yank, aku udah berhenti bermain dengan wanita sejak nikah


sama kamu. Percaya sama aku.”


“Beneran? Kalau bohong, apa hukumannya?”tanya


Delina.


“Kamu boleh ngelakuin apapun yang kamu mau sama aku.


Eh, tapi denger dulu penjelasanku ya.”pinta Kevin.


Delina berpikir kalau itu hukuman yang cukup adil


untuknya dan juga untuk Kevin. Keduanya terdiam masih dalam posisi berpelukan,


Delina menatap Kevin yang masih senyum-senyum menatapnya.


“Apa kau mencintaiku, hubby?”tanya Delina.


“Iya, sayangku. Aku cinta kamu, aku cinta kamu, aku


cinta kamu, Delina.”Kevin mengatakannya sambil mencium pipi Delina.


Delina yang kegelian, tidak bisa menahan tawanya. Kevin


terus menggelitiki Delina sampai istrinya itu kelelahan. “Udah, hubby. Ampun.”


Kevin menatap Delina, ia mendekat mencium bibir Delina.


Keduanya asyik berciuman sampai suara alarm di ponsel Delina, mengagetkannya.


“Tunggu, hubby. Aku harus ke dapur.”kata Delina


mendorong-dorong Kevin.


“Ntar aja. Nanggung. Main sekali ya.”rayu Kevin.


“Keburu ayah pulang, hubby. Aku harus masak


cemilan. Nanti malem aja. Kalo gak lepasin, aku tidur di kamar jahit


nich.”ancam Delina.


Kevin terpaksa melepaskan Delina sekarang. Delina


segera keluar dari kamar, ia tertegun ketika sampai di lantai bawah. Riana baru


saja datang. Ia tampak bicara akrab dengan mbak Sri.


“Mbak Sri, ada siapa?” panggil Delina.


“Delina, ini non Riana. Sudah lama gak kesini. Non


Riana ini sahabat kecilnya tuan muda Kevin dan tuan muda Ali loh.”cerocos Sri.


“Oh, kamu yang namanya Delina.”kata Riana sambil


mengamati Delina dari atas sampai bawah.


Delina jadi risih diliatin seperti itu. “Silakan


duduk dulu. Hubby masih di kamar.”kata Delina mencoba untuk sopan.


“Kamu udah dateng. Duduk sana. Delina, jadi masak


cemilan?”Kevin muncul di belakang Delina, memeluk pinggang istrinya itu.


“Jadi kok. Temenmu dateng tuch.”kata Delina sambil

__ADS_1


menunjuk Riana dengan dagunya.


Delina berjalan ke dapur dengan lesu. Ia gak mood


masak sebenarnya tapi demi ayah mertua, Delina tidak akan mengecewakan Alvin. Tanpa


mempedulikan apapun lagi, Delina asyik memasak cemilan dimsum. Ia menyiapkannya


dengan sungguh-sungguh dan tak lama harum dimsum mulai menggelitik hidung Riana


dan Kevin.


“Wah, harum banget. Dia masak apa?”tanya Riana.


“Dimsum udang sama ayam. Ayah mau ngemil itu.”kata


Kevin.


“Sejak kapan om Alvin ngemil? Seingatku dulu om


Alvin gak pernah makan diluar sarapan, makan siang sama makan malam dech.”kata


Riana lagi.


“Sejak Delina datang kesini. Aku ke dapur dulu.


Kamu mau ikut?”tanya Kevin.


Riana ikut ke dapur, ia memperhatikan Delina yang


baru selesai meletakkan dimsum gelombang kedua. Delina hanya perlu menunggu


sampai dimsum itu matang. Ia kembali menatap Riana yang sudah berdiri di di


dekatnya.


“Kalian ada hubungan apa?”tanya Delina dengan


berani.


“Cuma teman dari kecil, Delina. Kita belum kenalan.


Hai, aku Riana.”kata Riana sambil mengulurkan tangannya pada Delina.


“Riana biasa mesra-mesraan gitu ya sama hubby? Sama


Ali juga.”tanya Delina lagi.


“Nggak juga sich. Tapi kan kami baru ketemu lagi.


Riana manis.


Delina tidak menjawab, ia menghidangkan dimsum di


piring kecil untuk tiga orang. Sebentar lagi Alvin pasti datang. Delina juga


menyiapkan cangkir kopi.


“Riana mau kopi?”tanya Delina.


“Ya, mau.”saut Riana.


Kevin dan Riana pindah duduk di meja bar. Ali yang


baru datang, bergabung dengan mereka.


“Riana, kamu harus bantu aku menjelaskan sama


Agnes. Dia cuma salah paham tadi. Kakak ipar, dimana Agnes?”tanya Ali.


“Dia masih keluar ada pemotretan katanya.”saut


Delina sambil menghidangkan dimsum di hadapan ketiga orang itu.


“Ach, kapan dia balik? Kamu gak boleh pergi sebelum


semuanya clear.”ancam Ali.


“Hei, kamu ada hubungan apa sama Agnes?”tanya Kevin


kepo.


“Kak, aku kan sudah bilang aku jatuh cinta sama Agnes.


Aku mau jadian sama dia. Tapi nich manusia, bikin Agnes salah paham.”


“Kamu yang mau aja aku godain kayak gitu. Dasar


playboy.”saut Riana cuek. “Lagian aku gak tertarik sama kalian, duo playboy


tengik. Kita udah kenal dari kecil. Aku tau semua kejelekan kalian, apa perlu


aku buka lapak ke istrimu, Vin? Beraninya kamu nikah gak ngundang aku!”sengit Riana


sambil menunjuk-nunjuk jidat Kevin.

__ADS_1


Delina tersenyum tipis, melihat Riana cemberut. “Gimana


aku mau ngundang kamu? Kamu dimana? Sama siapa? Lagi ngapain? Aku aja gak tau.


Nomor telponmu ganti ya?”tanya Kevin.


“Nggak, lah. Aku sibuk S3 sama ngelola rumah sakit


papa. Gak punya waktu pegang HP.”saut Riana.


“Buang aja HP-mu tuch. Mahal-mahal tapi gak dipake.”usul


Kevin.


Riana tidak menyahut, ia sudah memasukkan dimsum


udang ke mulutnya. Senyum manis terbit dari bibirnya ketika rasa dimsum itu


meresap di lidahnya.


“Enak banget! Kopi ini juga mantep banget harumnya.


Delina, kamu emang the best!”puji Riana girang.


Delina tersenyum menerima pujian Riana. Ia sudah


seperti seorang ibu yang senang melihat anak-anaknya makan dengan lahap. Riana baru


minta tambah pada Delina ketika Alvin yang baru datang, langsung duduk di meja


bar juga. Ia menatap Riana dengan kening mengkerut, “Kamu siapa?”tanya Alvin.


“Om Alvin!”seru Riana. “Om lupa sama aku? Aku


Riana, om.”kata Riana sambil berdiri di samping Alvin.


“Riana? Riana yang dulu pake kacamata? Kok jadi


gini?”saut Alvin.


“Aah, om Alvin nich. Masa iya aku culun terus.


Gimana, om? Udah cantik kan?”kata Riana genit manja.’


“Woi, itu ayahku! Jangan digodain. Cari om-om yang


lain sana.”ketus Kevin.


“Kamu masi suka sama pria tua, Na?”tanya Ali.


“Bukan pria tua, pria yang sudah matang dan mapan.


Bacotmu.”kata Riana menoyor kepala Ali.


“Sadarlah wahai wanita stress. Pria matang dan


mapan itu kalo gak duda, ya suami orang. Jangan sampe kamu jadi pelakor.”kata


Kevin.


“Dih, amit-amit jadi pelakor. Mending sama duda


kaya. Cariin dong, Vin. Kamu kan tau seleraku.”


“Ngapain aku kenal duda kaya. Kalo wanita cantik


dan kaya banyak kenalanku.”saut Kevin yang lupa kalau Delina ada di dekatnya.


“Wanita cantik dan kaya ya, hubby.”kata Delina memicingkan


matanya pada Kevin.


“Mampus!”desis Riana. “Jewer aja, Delina. Biar gak


playboy lagi. Dah punya istri masih aja suka nglirik cewek lain.”ujar Riana


memanasi Delina.


Kevin langsung minta ampun pada Delina dan mohon


tidak dibiarkan tidur sendirian malam ini. Mereka tertawa bersama melihat Kevin


yang menciut di depan Delina.


Agnes yang baru datang menoleh menatap mereka


berlima. Ia ingin bergabung tapi melihat tangan Riana yang merangkul leher Ali,


Agnes memilih naik ke lantai atas.


“Agnes!”panggil Ali berusaha mengejar Agnes.


*****


Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel

__ADS_1


saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.


__ADS_2