
“Udah 6 kali loh. 4 kali lagi aku dapet 10
ronde.”kata Kevin senang.
Delina buru-buru menutup mulut Kevin dengan
tangannya. Mereka terbaring diatas ranjang dengan Delina diatas tubuh Kevin.
“Mmmmpp....” Merasa Kevin ingin mengatakan sesuatu, Delina melepaskan bekapan
tangannya. “Kamu mau diatas, yank? Sekali-sekali boleh coba.”kata Kevin genit.
Delina langsung mundur sampai ia jatuh dari atas ranjang.
“Aduch!”pekik Delina kesakitan. Pantatnya membentur
lantai cukup keras. Kevin segera membantu Delina bangun.
“Yah, belum juga mulai udah megangin pinggang
aja.”ujar Kevin cengengesan.
“Gak lucu, hubby. Aku masih marah nich.”
Kevin memeluk Delina erat, menjatuhkan dirinya
diatas ranjang lagi. “Yank, aku udah berhenti bermain dengan wanita sejak nikah
sama kamu. Percaya sama aku.”
“Beneran? Kalau bohong, apa hukumannya?”tanya
Delina.
“Kamu boleh ngelakuin apapun yang kamu mau sama aku.
Eh, tapi denger dulu penjelasanku ya.”pinta Kevin.
Delina berpikir kalau itu hukuman yang cukup adil
untuknya dan juga untuk Kevin. Keduanya terdiam masih dalam posisi berpelukan,
Delina menatap Kevin yang masih senyum-senyum menatapnya.
“Apa kau mencintaiku, hubby?”tanya Delina.
“Iya, sayangku. Aku cinta kamu, aku cinta kamu, aku
cinta kamu, Delina.”Kevin mengatakannya sambil mencium pipi Delina.
Delina yang kegelian, tidak bisa menahan tawanya. Kevin
terus menggelitiki Delina sampai istrinya itu kelelahan. “Udah, hubby. Ampun.”
Kevin menatap Delina, ia mendekat mencium bibir Delina.
Keduanya asyik berciuman sampai suara alarm di ponsel Delina, mengagetkannya.
“Tunggu, hubby. Aku harus ke dapur.”kata Delina
mendorong-dorong Kevin.
“Ntar aja. Nanggung. Main sekali ya.”rayu Kevin.
“Keburu ayah pulang, hubby. Aku harus masak
cemilan. Nanti malem aja. Kalo gak lepasin, aku tidur di kamar jahit
nich.”ancam Delina.
Kevin terpaksa melepaskan Delina sekarang. Delina
segera keluar dari kamar, ia tertegun ketika sampai di lantai bawah. Riana baru
saja datang. Ia tampak bicara akrab dengan mbak Sri.
“Mbak Sri, ada siapa?” panggil Delina.
“Delina, ini non Riana. Sudah lama gak kesini. Non
Riana ini sahabat kecilnya tuan muda Kevin dan tuan muda Ali loh.”cerocos Sri.
“Oh, kamu yang namanya Delina.”kata Riana sambil
mengamati Delina dari atas sampai bawah.
Delina jadi risih diliatin seperti itu. “Silakan
duduk dulu. Hubby masih di kamar.”kata Delina mencoba untuk sopan.
“Kamu udah dateng. Duduk sana. Delina, jadi masak
cemilan?”Kevin muncul di belakang Delina, memeluk pinggang istrinya itu.
“Jadi kok. Temenmu dateng tuch.”kata Delina sambil
__ADS_1
menunjuk Riana dengan dagunya.
Delina berjalan ke dapur dengan lesu. Ia gak mood
masak sebenarnya tapi demi ayah mertua, Delina tidak akan mengecewakan Alvin. Tanpa
mempedulikan apapun lagi, Delina asyik memasak cemilan dimsum. Ia menyiapkannya
dengan sungguh-sungguh dan tak lama harum dimsum mulai menggelitik hidung Riana
dan Kevin.
“Wah, harum banget. Dia masak apa?”tanya Riana.
“Dimsum udang sama ayam. Ayah mau ngemil itu.”kata
Kevin.
“Sejak kapan om Alvin ngemil? Seingatku dulu om
Alvin gak pernah makan diluar sarapan, makan siang sama makan malam dech.”kata
Riana lagi.
“Sejak Delina datang kesini. Aku ke dapur dulu.
Kamu mau ikut?”tanya Kevin.
Riana ikut ke dapur, ia memperhatikan Delina yang
baru selesai meletakkan dimsum gelombang kedua. Delina hanya perlu menunggu
sampai dimsum itu matang. Ia kembali menatap Riana yang sudah berdiri di di
dekatnya.
“Kalian ada hubungan apa?”tanya Delina dengan
berani.
“Cuma teman dari kecil, Delina. Kita belum kenalan.
Hai, aku Riana.”kata Riana sambil mengulurkan tangannya pada Delina.
“Riana biasa mesra-mesraan gitu ya sama hubby? Sama
Ali juga.”tanya Delina lagi.
“Nggak juga sich. Tapi kan kami baru ketemu lagi.
Riana manis.
Delina tidak menjawab, ia menghidangkan dimsum di
piring kecil untuk tiga orang. Sebentar lagi Alvin pasti datang. Delina juga
menyiapkan cangkir kopi.
“Riana mau kopi?”tanya Delina.
“Ya, mau.”saut Riana.
Kevin dan Riana pindah duduk di meja bar. Ali yang
baru datang, bergabung dengan mereka.
“Riana, kamu harus bantu aku menjelaskan sama
Agnes. Dia cuma salah paham tadi. Kakak ipar, dimana Agnes?”tanya Ali.
“Dia masih keluar ada pemotretan katanya.”saut
Delina sambil menghidangkan dimsum di hadapan ketiga orang itu.
“Ach, kapan dia balik? Kamu gak boleh pergi sebelum
semuanya clear.”ancam Ali.
“Hei, kamu ada hubungan apa sama Agnes?”tanya Kevin
kepo.
“Kak, aku kan sudah bilang aku jatuh cinta sama Agnes.
Aku mau jadian sama dia. Tapi nich manusia, bikin Agnes salah paham.”
“Kamu yang mau aja aku godain kayak gitu. Dasar
playboy.”saut Riana cuek. “Lagian aku gak tertarik sama kalian, duo playboy
tengik. Kita udah kenal dari kecil. Aku tau semua kejelekan kalian, apa perlu
aku buka lapak ke istrimu, Vin? Beraninya kamu nikah gak ngundang aku!”sengit Riana
sambil menunjuk-nunjuk jidat Kevin.
__ADS_1
Delina tersenyum tipis, melihat Riana cemberut. “Gimana
aku mau ngundang kamu? Kamu dimana? Sama siapa? Lagi ngapain? Aku aja gak tau.
Nomor telponmu ganti ya?”tanya Kevin.
“Nggak, lah. Aku sibuk S3 sama ngelola rumah sakit
papa. Gak punya waktu pegang HP.”saut Riana.
“Buang aja HP-mu tuch. Mahal-mahal tapi gak dipake.”usul
Kevin.
Riana tidak menyahut, ia sudah memasukkan dimsum
udang ke mulutnya. Senyum manis terbit dari bibirnya ketika rasa dimsum itu
meresap di lidahnya.
“Enak banget! Kopi ini juga mantep banget harumnya.
Delina, kamu emang the best!”puji Riana girang.
Delina tersenyum menerima pujian Riana. Ia sudah
seperti seorang ibu yang senang melihat anak-anaknya makan dengan lahap. Riana baru
minta tambah pada Delina ketika Alvin yang baru datang, langsung duduk di meja
bar juga. Ia menatap Riana dengan kening mengkerut, “Kamu siapa?”tanya Alvin.
“Om Alvin!”seru Riana. “Om lupa sama aku? Aku
Riana, om.”kata Riana sambil berdiri di samping Alvin.
“Riana? Riana yang dulu pake kacamata? Kok jadi
gini?”saut Alvin.
“Aah, om Alvin nich. Masa iya aku culun terus.
Gimana, om? Udah cantik kan?”kata Riana genit manja.’
“Woi, itu ayahku! Jangan digodain. Cari om-om yang
lain sana.”ketus Kevin.
“Kamu masi suka sama pria tua, Na?”tanya Ali.
“Bukan pria tua, pria yang sudah matang dan mapan.
Bacotmu.”kata Riana menoyor kepala Ali.
“Sadarlah wahai wanita stress. Pria matang dan
mapan itu kalo gak duda, ya suami orang. Jangan sampe kamu jadi pelakor.”kata
Kevin.
“Dih, amit-amit jadi pelakor. Mending sama duda
kaya. Cariin dong, Vin. Kamu kan tau seleraku.”
“Ngapain aku kenal duda kaya. Kalo wanita cantik
dan kaya banyak kenalanku.”saut Kevin yang lupa kalau Delina ada di dekatnya.
“Wanita cantik dan kaya ya, hubby.”kata Delina memicingkan
matanya pada Kevin.
“Mampus!”desis Riana. “Jewer aja, Delina. Biar gak
playboy lagi. Dah punya istri masih aja suka nglirik cewek lain.”ujar Riana
memanasi Delina.
Kevin langsung minta ampun pada Delina dan mohon
tidak dibiarkan tidur sendirian malam ini. Mereka tertawa bersama melihat Kevin
yang menciut di depan Delina.
Agnes yang baru datang menoleh menatap mereka
berlima. Ia ingin bergabung tapi melihat tangan Riana yang merangkul leher Ali,
Agnes memilih naik ke lantai atas.
“Agnes!”panggil Ali berusaha mengejar Agnes.
*****
Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel
__ADS_1
saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.