
Delina minta Kevin bercerita tentang kehidupannya
sebelum bertemu Delina. Kevin meyakinkan Delina dulu apa ia akan marah padanya
atau tidak karena masa lalu Kevin bisa dibilang sedikit nakal. Delina
menggeleng, siap mendengarkan daripada Kevin memaksa melakukan itu.
Kevin mulai bercerita bagaimana kenakalannya dulu.
Ia sering mengabaikan pekerjaan dan mencuri waktu untuk keluyuran di luar
bersama wanita teman kencannya. Tak terhitung lagi berapa banyak uang yang
sudah dihabiskan Kevin sampai ayahnya selalu mengamuk melihat tagihan kartu
kreditnya membengkak.
Kevin selalu membelikan barang-barang mewah untuk
teman kencannya yang tentu saja harganya tidak murah, “Hubby boros sekali.
Lagian kenapa juga harus barang-barang mewah seperti itu. Toh sama saja bakalan
rusak. Dibuang dech, buang-buang uang.”cerocos Delina.
Kevin tersenyum, ia menempelkan keningnya ke kening
Delina. Kevin sadar kalau istrinya ini dari keluarga tidak mampu. Bahkan untuk hidup
saja, ia harus berjuang siang dan malam menjahit kebaya. “Trus, hubby dapet apa
kalo uda beliin mereka barang-barang itu?” Delina menyebut mereka dengan santai
meskipun hatinya nyeri mendengar masa lalu Kevin dengan banyak wanita.
“Ya, itu...”Kevin terdiam memilih kata yang tepat,
ia menimbang harus jujur atau mengelak saja. Delina yang tidak sabaran,
menoel-noel perut Kevin.
“Aah...”desah Kevin di telinga Delina. “Sayang,
kamu mau tahu apa yang kudapatkan?”
Delina mengangguk ragu, ia melihat tatapan mata
Kevin kembali seperti tadi saat mencumbunya. Kevin mengarahkan tangan Delina
lebih kebawah, ia meminta Delina mengikuti petunjuknya. Tangan Delina sedikit
gemetar tapi ia memberanikan dirinya. Kevin pernah memaksanya melakukan itu
dulu, tapi kali ini Delina bisa melihat dengan jelas apa yang terjadi
sebenarnya.
Kevin belingsatan merasakan nikmat di pusat
kegagahannya, Delina benar-benar melakukan apa yang ditunjukkan Kevin tadi
dengan baik. Meskipun dengan wajah merona dan bingung disaat bersamaan, ekspresi
wajah Delina tampak seksi di mata Kevin.
Delina sempat menghentikan tangannya saat Kevin
mencium bibirnya, tapi Kevin memintanya melanjutkan apa yang sedang ia lakukan.
Tak lama Kevin mengerang, kedua tangannya menyentuh dada Delina, membuat Delina
mengerang juga.
Kevin terbaring, memejamkan matanya, Delina baru
saja membantunya melepaskan hasratnya tanpa penyatuan. “Tanganku basah, hubby.”
“Makasih, sayang. Itu calon anak kita.”kata Kevin
melihat wajah bingung Delina. “Kalau itu masuk kesini, akan jadi anak kita
kelak.”
__ADS_1
“Gimana cara masukinnya?”tanya Delina polos.
Seringai mesum muncul di wajah Kevin, ia hampir
mengukung Delina tapi ketukan di pintu kamar hotel, membuatnya menoleh. Kevin
mengambil bathrobe yang tadi dipakai Delina, menutupi tubuh polosnya. Ia
membuka pintu sedikit, wajah Keanu yang kepo muncul dari depan pintu.
“Hai, bos. Sibuk?”Keanu mendongak ingin melihat apa
yang sudah terjadi di dalam sana.
“Ngapain lo kesini? Ganggu!”bentak Kevin ketus.
“Eh, lo nyuruh gue beli bikini sama baju ganti. Ya,
udah kalo gak mau.”tungkas Keanu hampir berbalik.
“Mana?”pinta Kevin dengan wajah juteknya.
“Kasi tau dulu uda gol berapa kali?”
“Belum gol.”saut Kevin dengan wajah nelangsa. “Pake
tangan aja, itupun baru sekali.”
“Buahahahahahaha... selama ini, udah sampe malem
juga. Harusnya Delina udah gak bisa jalan. Lo banyak berubah ya. Udah tobat,
lo?”
“Sialan berani ngatain gue. Gue sumpahin jom...”
“Eits, gak boleh nyumpahin gue gitu atau gue
sumpahin balik lo gak bisa gituan sama Delina.”potong Keanu cepat.
“Lo...!”hardik Kevin makin kesal.
“Lo duluan yang mulai. Gue akan nikahin cewek
pertama yang ketemu gue habis ini. Biar gak jomblo lagi.”
ini.”
Kevin mengambil paper bag di tangan Keanu dengan
cepat, ia hampir menutup pintu kamar tapi Keanu sudah memberi tahunya kalau
mereka harus segera kembali sebelum malam semakin larut.
Kevin berbalik menatap Delina yang berada di bawah
selimut, wanita itu mengerubungi dirinya dengan selimut sampai hanya terlihat
matanya saja.
“Kamu ngapain sich?”
“Aku takut tuan Keanu masuk kesini. Aku kan belum
pake baju, hubby.”
“Gak akan kubiarkan dia masuk. Akan kuhajar dia
kalau berani melihatmu, atau menyentuhmu. Kau millikku, Delina.”
Keanu meletakkan paper bag diatas ranjang, ia
mengeluarkan isinya. Delina melihat dress panjang berwarna hijau yang sangat
indah di matanya. Ia melepaskan selimutnya, meraih dress itu. “Bagus sekali,
hubby.”
Delina fokus memperhatikan detail dress di
tangannya, ia melupakan tubuh polosnya sedang di scan Kevin. “Coba pake
ini.”Kevin menyodorkan satu set bikini pada Delina.
__ADS_1
“Apa ini, hubby? Baju dalem? Tapi bentuknya aneh
banget. Gimana cara pakenya?”
Kevin membantu Delina memakai bikini itu. Ia
menelan salivanya kasar melihat kemolekan tubuh mulus Delina, Kevin berusaha
menahan hasratnya. Setelah selesai memakaikan bikini pada Delina, hasratnya
benar-benar tidak bisa dibendung lagi. Kevin memagut bibir Delina sedikit
kasar. Ia menyesap rasa manis dari bibir Delina, keningnya mengkerut merasakan ada
darah di bibir Delina.
“Hubby, sakit. Pelan-pelan dong.”
Kevin menjauhkan kepalanya, melihat bibir Delina
jontor dengan sedikit darah di permukaannya. Kevin menggeram kesal. Ia hanya
ingin melalui malam pertama dengan Delina setelah mengetahui perasaan istrinya
itu padanya, tapi banyak banget cobaannya.
Akhirnya Kevin memakaikan dress panjang yang
tergeletak di atas ranjang pada Delina. Dirapikannya rambut Delina, lalu
memasangkan kerudung panjang yang senada. “Delina, aku boleh kan melakukannya?
Meminta hakku sebagai suamimu.”
“Iya, hubby.”
“Bisakan perjanjian itu kita batalkan? Aku mau
bersamamu selamanya.”
“Selamanya?”
Kevin mengangguk, ia tersenyum senang melihat Delina
juga mengangguk. Sungguh ia belum ingin pulang sekarang, tapi mereka harus
segera kembali.
Setelah keduanya siap, Keanu memberi tahu kalau ia
sudah menunggu di lobby dan mengancam akan meninggalkan Kevin dan Delina kalau
tidak segera turun. Mereka segera menemui Keanu di bawah.
Pukul 20.30, mereka sampai di rumah besar. “Delina,
bangun sayang. Kita sudah sampai.” Kevin membangunkan Delina yang ketiduran
tadi. Delina membuka matanya melihat keluar jendela, mereka memang sudah
sampai. Kevin menuntun Delina turun, Keanu dan sopir langsung berlalu karena
hari sudah malam.
Sampai di dalam rumah, Kevin dan Delina melihat
sekeliling rumah yang sepi. Seharusnya Alvin dan Amira masih ada di meja makan
sekarang. “Kita ke kamar aja ya. Kamu pasti capek.”ajak Kevin. Delina
mengangguk, ia memang sudah lelah duduk di dalam mobil terlalu lama. Meskipun
sempat tertidur, tubuhnya tetap lelah.
“Kevin...! Delina...!”
Keduanya menoleh ke arah orang yang memanggil
Kevin. Kevin menelan salivanya melihat siapa orang itu. Sementara Delina jadi
gugup melihat orang itu. Ia mengeratkan pegangan tangannya pada Kevin.
*****
__ADS_1
Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel
saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.