Penjahit Hati

Penjahit Hati
Episode 95


__ADS_3

“Aku Emilia Raditya, tante.”kata Emilia belum mau


melepaskan Delina.


Deg! Deg! Deg! Jantung Delina berdebar kencang. Ia


menelan salivanya dengan susah payah. Itu artinya gadis kecil ini adalah anak


Kevin dan Clara. Ia memang tidak pernah tahu seperti apa putri Kevin tapi ia


tahu nama bayi itu.


“Berapa umurmu, Emilia?”tanya Delina sambil melepas


pelukan gadis kecil itu pelan-pelan.


“Umurku lima tahun, tante. Tante cantik, namanya


siapa?”tanya Emilia.


“Tante Delina, sayang. Kamu mau coba kebaya itu?”tanya


Delina berusaha menguasai dirinya.


Ini sudah lima tahun, sungguh tidak adil kalau


Delina membenci gadis kecil itu. Bayi yang ia bela dulu agar ibunya bisa


mendapat keadilan. Entah apa Kevin jadi menikah atau tidak dengan Clara. Alvin


tidak pernah membahas apapun tentang Clara dan Kevin setelah kelahiran Emilia.


Sesekali Alvin berkunjung ke mansion ketika ia


merasa penat atau perlu teman curhat. Delina akan selalu siap sedia


menghidangkan cemilan dan kopi yang membuat Alvin kembali bersemangat. Alvin


juga bercerita tentang perkembangan Emilia. Apa saja yang sudah bisa ia lakukan


seolah Alvin adalah ayahnya.


“Iya, tante. Boleh?”tanya Emilia.


“Iya, boleh. Ayo, tante bantu.”kata Delina ramah.


Delina membantu Emilia berganti pakaian dengan


kebaya yang sangat pas di tubuhnya. Amira yang meminta Delina menjahit kebaya


dengan ukuran Emilia. Delina tersenyum manis melihat Emilia tertawa senang. Ia


berjalan dan berputar seperti model papan atas.


“Pas sekali, tante. Aku suka. Berapa harganya?”tanya


Emilia.


“Kalau Emilia suka, ambil aja. Tapi harus dijaga


baik-baik ya.”kata Delina mencubit hidung Emilia.


Emilia mengangguk senang. Entah hilang kemana sikap


jutek yang tidak bersahabatnya tadi. Sama seperti ayahnya, kejutekan dan


kekasarannya hilang dihadapan Delina.


“Emilia, dimana ibumu?”tanya Delina. “Kamu kesini


sama siapa?”


“Ibu sudah nggak ada, tante. Aku kesini dijemput


nenek Amira.”kata Emilia cuek. Ia masih sibuk melihat-lihat kebaya lainnya.


Tiba-tiba pintu toko terbuka, Amira masuk kesana


dan berlari menghampiri Emilia.


“Haduh, Emi! Nenek panik liat kamu nggak ada di


ruang kerja. Kamu kenapa bisa ada disini?”kata Amira sambil memegangi dadanya


yang terasa sesak karena berlari mencari Emilia.


“Nenek! Liat kebaya ini pas banget. Bagus kan, nek.


Tante Delina yang ngasi.”kata Emilia ceria.


Amira menatap Delina yang tersenyum padanya, “Delina,


kamu disini. Tumben, ada apa?”


Delina mengatakan kalau salah satu customernya mau


ketemu disini. Emilia merangsek mendekati Delina, ia ingin mencoba kebaya

__ADS_1


lainnya lagi. Sikap ramah dan manja Emilia pada Delina membuat Amira senang


sekaligus bingung.


“Persis seperti Kevin. Kalau sudah ketemu Delina,


pasti jadi anak kucing.”gumam Amira.


Amira bergabung dengan Delina dan Emilia,


memilihkan kebaya yang bagus dan memakaikannya pada Emilia yang sangat senang.


Sementara itu di waktu yang sama, di kantor Alvin.


Alvin menggendong seorang bocah laki-laki masuk ke


kantornya. Ia baru saja menjemput cucunya itu dari sekolahnya. Bocah laki-laki


itu bernama Armando Raditya, anak laki-laki yang dilahirkan Delina. Sekarang


putra Kevin itu sudah berumur empat tahun.


Semua karyawan yang berpapasan dengan Alvin,


langsung jatuh cinta melihat bocah tampan itu. Mereka ingin menggigit pipinya


yang gembul dan chubby.


“Kakek, dimana toiletnya?”tanya Armando ketika mereka


sampai di depan lift.


“Ada di lantai atas. Apa Dodo sudah kebelet?”tanya


Alvin.


Armando mengangguk. Alvin ingin membawa Armando ke


toilet di lobby, tapi ia keburu melihat Keanu.


“Keanu! Sini cepat! Tolong antarkan Dodo ke toilet.”perintah


Alvin.


Keanu mengkerutkan keningnya menatap Kevin junior


di dalam diri bocah laki-laki itu. Ia akhirnya menggendong Armando ke toilet


sementara Alvin masih berdiri di depan lift.


“Namamu Dodo?”tanya Keanu.


sambil membuka celananya.


Ia menyelesaikan urusannya di toilet tanpa bantuan


Keanu. Tapi ia kesulitan menyiram toiletnya. Keanu menolong Armando dan


membantunya mencuci tangannya.


“Aku om Keanu. Kamu anaknya Kevin?”tanya Keanu


kepo.


“Iya, om.”saut Armando yang mengetahui nama ayahnya


memang Kevin.


“Siapa nama ibumu?”tanya Keanu lagi.


“Delina Raditya, om.”


Jdeeerrrr!!!! Keanu serasa mendengar petir di siang


bolong. Ia sangat terkejut sampai terpana sesaat. Armando menarik celana Keanu


minta digendong lagi. Keanu membawa Armando kembali mendekati Alvin. Mereka


naik ke lantai paling atas bersama-sama.


“Pak Alvin, ini beneran anaknya Kevin?”tanya Keanu


masih belum percaya.


“Om, aku nggak bohong. Anak kecil kan jujur, om.”kata


Armando nggak suka kata-kata di konfirmasi ulang.


“Idih, sifatnya persis Kevin. Mukanya juga Kevin banget


waktu kecil.”kata Keanu kaget.


“Ya, dia anaknya Delina sama Kevin.”saut Alvin.


Armando minta diturunkan dari gendongan Keanu. Ia asyik


menyebutkan angka yang muncul di setiap lantai yang mereka naiki. Keanu terkagum-kagum

__ADS_1


melihat kepintaran Armando. Mereka sampai di lantai ruang kerja Alvin.


Alvin menggandeng tangan Armando membawa cucunya


itu ke ruangannya. Nana dan Tasya saling pandang bertanya siapa bocah kecil


yang dibawa Alvin. Keanu yang menyusul Alvin, lolos dari hadangan kedua wanita


itu.


Sampai di dalam, Keanu melihat Armando sedang


memegang ponsel Alvin. Sambungan v-call sudah terhubung dengan Delina.


“Arman, sudah sampai kantor kakek? Jangan nakal ya.


Ibu masih kerja.”kata Delina dari seberang sana.


“Iya, ibu. Arman nggak nakal. Ibu sudah makan?”tanya


Armando.


“Nanti saja ibu makannya. Arman makan apa tadi?”tanya


Delina lagi.


“Arman makan soto sama kakek, bu.”saut Armando.


Ceklek! Pintu ruang kerja Alvin tiba-tiba terbuka.


Kevin masuk kesana sambil memegang ponselnya di telinganya. Kebetulan sambungan


v-call antara Armando dan Delina juga terputus karena jaringan. Semua orang menatap


Kevin yang duduk di sofa. Setelah lima tahun berlalu, pesona Kevin tidak luntur


sedikitpun. Ia semakin terlihat tampan dan gagah dengan sorot mata tajam dan


tanpa senyuman di bibirnya.


Brak! Kevin memukul meja dengan kesal, ia membentak


lawan bicaranya di telpon sebelum menutupnya. “Heh! Gak guna! Percuma bayar


mereka mahal.”


“Kevin, kamu kesal sama siapa?” Kevin hampir


menjawab Alvin ketika matanya bertatapan dengan Armando.


“Pah, siapa bocah ini?”tanya Kevin.


“Hai, ayah.”sapa Armando.


“Ayah? Siapa? Aku?”tanya Kevin linglung. Ia


menunjuk wajahnya sendiri lalu menegakkan tubuhnya dari sofa.


“Kenapa kamu manggil aku ayah! Aku bukan ayahmu!”bentak


Kevin.


“Ibu bilang ayah akan mengatakan itu kalau kita


ketemu. Ibu benar, ayah menyeramkan dan galak tapi sangat tampan.”kata Armando


tanpa takut.


“Hahahahahahahaha...”Alvin tidak bisa menahan


tawanya mendengar jawaban Armando. Ia memegangi perutnya yang sakit karena


tertawa tiba-tiba. “Itu baru namanya jawaban telak. Delina benar-benar mendidik


Dodo dengan baik.”kata Alvin mengusap sudut matanya yang berair.


“Yah, ini prank ya!”ketus Kevin.


“Kurang kerjaan ayah ng-prank kamu. Dia anakmu.


Anakmu sama Delina. Kevin, perkenalkan ini Armando Raditya, umurnya empat


tahun. Dia berbeda delapan bulan dari Emilia.”saut Alvin.


Kevin menjatuhkan dirinya di sofa, kepalanya


tiba-tiba pusing dan kakinya terasa seperti agar-agar.


*****


Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel


saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.


Visual Emilia


__ADS_1


Visual Armando



__ADS_2