
PH - Mengajari Delina
Delina meletakkan kopi dan cemilan Kevin di atas meja. Ia memunguti pakaian kerja Kevin yang selalu berantakan di lantai kamarnya. Kevin menunggu Delina mengambilkan pakaiannya, ia duduk di sofa,
membuka tas berisi ponsel barunya.
Delina mendekat sambil membawakan baju santai untuk Kevin dan ponsel lamanya yang sengaja Kevin masukkan ke saku celana panjangnya.
“Tuan muda, silakan pakai baju dulu.”kata Delina.
Delina beranjak ke kamar mandi, ia mengeringkan wastafel dan membersihkan kamar mandi Kevin. Ketika ia sudah selesai dengan pekerjaannya, Kevin meminta Delina duduk di sampingnya.
“Nich.”kata Kevin sambil memberikan ponselnya.
“Ini, apa, tuan muda?”tanya Delina bingung.
“Itu ponsel pintar.”
“Trus kenapa tuan muda memberikannya pada saya?”tanya Delina sambil membolak-balik ponsel yang sepertinya basah itu. Ia mengambil tisu dan mengeringkan ponsel di tangannya.
“Itu buat kamu aja. Aku uda beli HP baru. Lagian gak tau HP itu bisa nyala apa nggak. Tadi kecebur di wastafel.”jelas Kevin.
“Oh, tuan muda gak nyoba hidupkan dulu?”tanya Delina
“Coba aja. Tekan tombol powernya.”
“Dimana, tuan muda?”tanya Delina lagi.
Kevin menunjukkan tombol power dan Delina menekannya. Ia menunggu sebentar dan layar ponsel itu mulai menyala.
“Bisa nyala, tuan muda.”kata Delina senang.
“Masa? Coba diemkan dulu.”
Kevin tersenyum melihat Delina sangat senang. Ia memakan cemilannya dan minum kopi buatan Delina. Tubuhnya merasa sangat nyaman dan lebih rileks. Delina masih berkutat dengan ponsel lama Kevin. Ia menekan icon kamera lagi dan mencoba mengambil gambar.
Delina kembali tenggelam dengan kamera ponsel itu sampai tidak menyadari kalau Kevin terus menatap Delina.
“Kenapa kau suka sekali mengambil foto?”
“Saya mau pelajari cara mengambil foto yang bagus, tuan muda. Saya mau memasarkan kebaya saya secara online. Tapi gak tau caranya.”
“Aku akan mengajarimu, tapi ada syaratnya?”
Delina menoleh menatap Kevin, ia baru sadar kalau Kevin sudah menatapnya juga.
“Kalau gak iklas, lebih baik gak usah, tuan muda.”kata Delina sambil mengambil foto cangkir kopi yang hampir kosong.
__ADS_1
“Syaratku gak aneh-aneh kok. Cuma temani aku jalan-jalan tiap hari minggu.”
“Minggu kan saya libur, tuan muda.”
“Trus kamu mau kemana kalau libur?”tanya Kevin, ia menghabiskan cemilannya sampai piringnya bersih lagi.
“Saya mau bersihin rumah saya. Selama saya tinggal disini, belum pernah pulang ke rumah.”
“Aku antar ke rumahmu. Selesai bersihin rumah, temenin aku jalan-jalan.”pinta Kevin lagi.
“Itu aja syaratnya kan, tuan muda.”
“Aku kan udah janji gak macem-macem lagi.”
Delina mengangguk setuju. Kevin menghabiskan dua jam berikutnya untuk membantu Delina mendapatkan akun untuk sosial medianya.
“Apa kau punya logo?”tanya Kevin.
“Logo untuk apa, tuan muda?”tanya Delina balik.
“Logo untuk dipasang di sosial mediamu. Kamu pakai ini untuk jualan kebaya kan?”
“Saya belum punya, tuan muda.”kata Delina polos.
Kevin membantu Delina mendesain sebuah logo untuk ia pasang sementara di foto profilnya.
“Apa kau sudah punya foto kebayanya?”tanya Kevin lagi.
“Sepertinya ini akan lama sekali. Kau harus mulai posting. Aku akan re-post setiap postinganmu tapi kau harus tag sosial mediaku.”
“Itu apalagi, tuan muda?”tanya Delina polos.
Kevin garuk-garuk kepala melihat kenyataan kalau Delina buta sama sekali dengan sosial media. Ia harus sabar mengajari gadis ini atau dirinya akan kehilangan kesempatan mendekati Delina. Untuk pertama kalinya
dalam hidup Kevin mau bersabar untuk seseorang yang baru dikenalnya.
Seseorang yang perlahan menawan hatinya sampai rasanya Kevin akan gila kalau sehari saja tidak berdekatan dengannya. Tapi Kevin tidak bisa terburu-buru memaksakan dirinya pada Delina. Ia ingin Delina
jatuh cinta padanya seperti Kevin jatuh cinta pada Delina.
Untuk saat ini Kevin akan mencoba mengajari Delina, memenuhi semua keinginan dan tujuan hidup Delina. Memberikan kebahagiaan pada gadis manis ini sampai hatinya tersentuh dan jadi mencintai Kevin juga.
Delina memperlihatkan hasil foto selfie-nya pada Kevin. Senyum bahagia mengembang di bibirnya, Kevin tertegun melihat pesona Delina. Sesekali kerudungnya terjatuh, sepertinya ia memakai kerudung yang
lebih ringan.
Wanginya membuat Kevin sesekali memejamkan matanya, menghirup dalam-dalam wangi tubuh Delina. Membayangkan Delina berada diatas ranjangnya, dengan senyuman manisnya dan terkadang malu-malu, membuat darah Kevin berdesir.
__ADS_1
Lagi, Kevin ingin mendekati Delina, bukan sebagai teman atau majikan, tapi seorang pria yang berhasrat pada wanita yang ia cintai. Kevin menggeser duduknya merapat kepada Delina. Gadis itu menanyakan
sesuatu tentang aplikasi untuk mengedit foto.
Delina tidak menyadari pandangan Kevin padanya, ia memperhatikan setiap petunjuk yang diberikan Kevin sampai dirinya mengerti dan mulai mengedit fotonya sendiri. Ketika dirinya berhasil membuat seperti apa
yang ia inginkan, Delina terpekik girang.
Delina menoleh menatap Kevin yang sudah menatapnya juga. Keduanya sangat dekat sampai Delina bisa merasakan hembusan nafas berat Kevin di bibirnya. Delina cepat-cepat mengalihkan pandangannya,
“Tuan muda, sepertinya sudah terlambat untuk makan malam. Tuan muda mau turun atau saya bawakan makanan kesini?”tanya Delina sambil meletakkan ponsel yang dipegangnya diatas meja.
Kevin minta dibawakan makanan ke kamarnya. Ia memberi alasan terlalu capek pada Delina untuk disampaikan pada Alvin. Delina turun dari lantai 2 membawa bekas cangkir kopi dan piring cemilan Kevin. Ia
membungkuk saat melihat Alvin dan Amira duduk di meja makan.
“Dimana Kevin?”tanya Amira.
“Tuan muda sedang beristirahat, Ny. Tuan muda terlalu capek untuk turun makan malam. Saya akan bawakan makanan tuan muda ke kamarnya.”jelas Delina.
“Seharusnya dia bisa turun biarpun cuma sebentar. Ya sudah, Ina. Bawakan makanan ke kamarnya.”kata Alvin.
“Baik, tuan besar.”
Delina menyiapkan makan malam untuk Kevin. Ia membawa nampan berisi piring dan gelas air minum dengan hati-hati. Kevin masih menunggunya di sofa saat Delina masuk lagi ke dalam kamarnya.
“Duduk. Temani aku makan.”kata Kevin.
Kevin sengaja memesan porsi makanan besar pada Delina, jadi Delina bisa ikut makan bersamanya. Tapi Delina menolak keinginan Kevin. Ia mengatakan tidak sopan jika Delina makan dalam piring yang sama
dengan Kevin. Akhirnya Kevin membagi dua makanannya.
Delina terpaksa ikut makan juga, dihadapan Kevin yang pemaksa. Pria itu mengancamnya kalau dia tidak menghabiskan makan di piring itu, Delina tidak boleh keluar dari kamarnya.
“Apalagi yang kau belum tahu dari ponsel itu?”tanya Kevin sambil menunggu Delina selesai makan.
“Saya rasa sudah semua, tuan muda. Saya akan menabung untuk membeli HP canggih seperti ini.”
“Aku sudah bilang HP ini untukmu. Aku tidak memakainya lagi.”kata Kevin
“Tapi, tuan muda...”
“Gak ada tapi. Aku gak mau liat kamu pakai HP jadul lagi. Pelayan pribadiku tidak boleh memakai barang-barang kampungan!”tegas Kevin galak.
Delina terpaksa menerima pemberian majikannya itu. Ia berterima kasih pada Kevin atas bantuannya dan juga HP pemberiannya itu. Setidaknya Delina bisa mulai memposting sketsanya dulu, sampai dirinya punya
kesempatan membuka toko kebaya nantinya.
__ADS_1
*****
Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.