Penjahit Hati

Penjahit Hati
Episode 55


__ADS_3

Belum dianggap menantu


“Ada apa?!”bentak Kevin.


Delina yang ingin keluar dari kamar mandi,


dihalangi Kevin. “Ada Ali, masuk sana.” Delina terpaksa menunggu dari balik


pintu.


“Ali, kamu ngapain Agnes?”


“Aku cuma mau nanya, dia mau gak jadi pacarku.”


“Bohong! Dia mau nyium aku, Kevin! Dia


juga...”Agnes bergidik geli mengingat tadi Ali mencium lehernya. Wajah Agnes


memerah, membuat Ali panas dingin melihatnya.


“Kak, berikan dia padaku.”pinta Ali seperti meminta


barang pada Kevin.


“Kevin, jangan... Aku gak mau.”


Kevin melepaskan tangan Agnes dari pinggangnya. Ia


memegang kedua lengan Agnes dan menyodorkannya pada Ali. Agnes meronta hebat,


ia menendang Ali dan mengenai bagian sensitifnya.


“Addoww!!”Ali meringkuk menahan sakit.


“Rasakan. Hmmppp..!!”Agnes keluar dari kamar Kevin


dan turun ke lantai bawah.


Kevin berjongkok di samping Ali yang melungker


kesakitan. “Makanya jangan iseng. Keluar sana. Delina mau pakai baju.”


Kevin dengan kejam menendang Ali keluar padahal


pria itu masih mengaduh kesakitan. “Kak! Aduch, ngilu banget.” Ali berjalan


tertatih-tatih menuju kamarnya.


Delina keluar dari kamar mandi dan menanyakan


keadaan Ali, “Biarkan saja dia. Aku mau mandi.”


Delina cepat-cepat berpakaian dan keluar kamar


lebih dulu. Ia membantu mbak Sri menyiapkan makan malam.


“Delina, duduk sini.”pinta Kevin ketika makan malam


hampir dimulai.


Delina menggeleng, ia masih belum merasa nyaman


bergabung makan malam dengan keluarga Kevin, “Duduk, Delina. Suapi aku makan.”


Delina terpaksa menuruti perintah Kevin, ia


menyuapi Kevin yang terus tersenyum senang. Alvin dan Amira saling pandang


tersenyum tipis satu sama lain.


Usai makan malam, Delina yang merasa khawatir


dengan keadaan Ali, membujuk Kevin untuk membawakan makan malam ke kamarnya.


“Kenapa aku?”protes Kevin.


“Ya, sudah kalau hubby tidak mau, aku aja. Eh, tapi


kalau Ali lagi ngobatin yang sakit tadi gimana ya...”Delina sengaja menggantung


kalimatnya membuat Kevin menyambar nampan berisi makan malam Ali dan membawanya


ke lantai atas.


“Hihi.”Delina terkikik geli.


Amira dan Alvin yang masih duduk di meja makan jadi


kepo, bertanya ada masalah apa sampai Ali bisa sakit. Delina menceritakan apa


yang terjadi di kamar Kevin tadi sambil melirik Agnes yang pura-pura tidak ada


disana.

__ADS_1


“Ya, ampun Agnes. Kasian Ali ditendang gitu. Ntar


kalo telornya pecah gimana?”kata Amira sambil tertawa.


“Habisnya dia nyebelin, tante. Mesum.”sungut Agnes


sebal.


Amira menanyakan lagi tentang kebayanya dan Delina


mengatakan kalau ia sempat menyelesaikan dua kebaya lagi untuk Amira. Amira


yang kegirangan, meminta Delina membawakan kebaya itu ke kamarnya.


Delina hampir beranjak dari duduknya ketika Kevin


dan Ali tampak turun dari lantai 2. Agnes melihat gelagat Ali yang ingin duduk


di sampingnya. Ia ingin menghindar tapi Ali lebih cepat.


“Ali, kamu udah baikan? Kata Ina ada kecelakaan


tadi.”tanya Alvin.


“Oh, udah baikan kok, yah. Justru Ali mau tanya,


kakinya Agnes sakit gak?”


Tangan Ali dengan kurang ajar meraba paha Agnes


yang duduk di sebelahnya. Agnes langsung bangun dari duduknya dengan wajah


merona. “Delina, temenin ke kamar.”pinta Agnes.


“Kamu kan bisa sendiri. Kayak anak kecil aja!”ketus


Kevin yang tidak ingin Delina dibawa Agnes.


“Sebentar hubby. Aku anter nona Agnes ke kamarnya


dulu ya.”


Sepeninggal kedua wanita itu, Alvin bicara dengan


keluarganya. “Kevin, bagaimana hubunganmu dengan Ina? Sudah ada kemajuan?”


“Cuma sebatas ciuman aja, yah. Delina itu susah


banget ditaklukin. Harus sabar.”


mau hidup selamanya sama dia.”


“Iya, yah. Kevin belum pernah punya tujuan dalam


hidup. Sekarang setelah ada Delina, kebahagiaan dia akan jadi satu-satunya


tujuan hidup Kevin.”


”Akhirnya bocah ini bisa serius dalam hidupnya.


Tapi Delina masih jauh dari standar menantu di rumah ini. Saat ini dia lebih


cocok jadi istri Kevin. Sepertinya aku harus sampaikan ini lebih cepat.”


“Dengar, Kevin. Pernikahan kalian ini belum


diketahui keluarga besar kita terutama nenek. Ayah sudah cukup menekan tante


Giselle untuk tidak membocorkan pernikahan ini pada siapapun. Tapi ulang tahun


nenek sebentar lagi. Kamu maunya gimana?”


“Bukannya masih dua bulan lagi, yank?”ingat Amira. “Oh,


aku harus siapin kado yang istimewa.”


“Kevin mau bawa Delina kesana, yah. Boleh kan?”


“Kevin, kamu harus pikirkan lagi masalah ini dengan


baik. Ayah tahu kamu cinta sama Ina, tapi untuk saat sekarang dia belum bisa


dianggap menantu di rumah ini. Ayah harap kamu mengerti, Kevin.”


“Saya mengerti, tuan besar.” Semua orang di meja


makan menoleh menatap Delina yang sudah kembali ke lantai bawah. “Saya permisi


ke kamar, tuan besar.”


“Tunggu, Delina!”pinta Kevin sambil menarik tangan


Delina.

__ADS_1


Delina menepis tangan Kevin, ia terus berjalan


masuk ke kamarnya tanpa menoleh lagi. Kevin mengepalkan tangannya, ia beranjak


ke kamarnya juga tanpa berkata apa-apa lagi.


Malam itu, keduanya tampak berbaring di kamar


masing-masing. Keduanya sama-sama tidak bisa tidur memikirkan satu sama lain. Kevin


sadar kalau Delina dibawa kehadapan neneknya sekarang, hidup Delina tidak akan


tenang. Nenek Kevin akan membuat mereka berpisah bagaimanapun caranya hanya


gara-gara Delina berasal dari kalangan miskin.


Sedangkan Delina berpikir cepat atau lambat memang


akan jadi seperti ini. Kalau ia meminta Kevin menceraikannya sekarang, Kevin


pasti menolak mentah-mentah. Delina jadi pusing harus bagaimana. Disatu sisi ia


ingin tetap tinggal di rumah itu karena pekerjaannya sebagai penjahit Ny.Amira


sudah bisa memenuhi kebutuhan hidupnya. Tapi disisi lain, ia menanggung beban


menjadi istrinya Kevin.


Merasa semakin pusing dan tidak bisa tidur, Delina


beranjak ke luar dari kamarnya. Ia membuat teh hangat dan membawanya ke halaman


samping rumah itu. Saat ia sampai di gazebo, Delina melihat Kevin sudah duduk


disana. “Hubby? Ngapain disini?”


“Aku tidak bisa tidur. Kamu juga? Duduk sini.”


Delina duduk di samping Kevin, keduanya menatap langit


malam berbintang diatas mereka.


“Delina, tolong jangan dengarkan kata-kata ayah.


Kau istriku, aku bisa menghadapi dunia asal bersamamu.”


“Hubby, sejak awal pernikahan ini sudah tidak ada


yang merestuinya. Aku sendiri tidak tau kenapa tuan besar dan Ny. Amira tidak


melarang kita menikah ulang. Tapi kalau keluarga besar hubby tidak setuju, apa


hubby tidak kasian melihat orang tua hubby menderita juga.”


“Apa aku salah kalau aku jatuh cinta dengan wanita


baik sepertimu, Delina? Masa laluku, aku banyak berbuat dosa, Delina.”Kevin


menggenggam tangan Delina dan duduk menghadap padanya. “Aku suka minum, main


perempuan, pekerjaanku tidak ada yang beres. Usiaku sudah hampir 29 tapi aku


belum pernah membeli apapun dengan uang hasil kerja kerasku sendiri. Dan aku


ketemu kamu, aku tidak lantas jatuh cinta sama kamu. Perlu proses sampai aku


akhirnya yakin kalau perasaanku ini cinta.”


Delina sedikit terharu mendengar kata-kata Kevin


yang terdengar tulus padanya.


“Seumur hidupku, aku melihat ayah tersenyum bangga


saat aku bisa menyelesaikan pekerjaanku dengan baik. Aku belum pernah melihat


ayahku tersenyum seperti itu, Delina. Kami juga jarang sekali mengobrol bersama


sambil menikmati cemilan dan kopi. Kehadiranmu disini membuat keluargaku terasa


utuh lagi. Aku juga berubah jadi lebih baik. Tolong jangan minta berpisah, Delina.


Aku akan hancur kalau kau pergi. Kamu lihat sendiri kan beberapa hari lalu aku


sudah seperti orang gila cuma memikirkan kamu akan minta cerai.”


“Hubby, apa kau sungguh-sungguh? Bukan omong


kosong, kan?”


*****


Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel

__ADS_1


saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.


__ADS_2