
Belum dianggap menantu
“Ada apa?!”bentak Kevin.
Delina yang ingin keluar dari kamar mandi,
dihalangi Kevin. “Ada Ali, masuk sana.” Delina terpaksa menunggu dari balik
pintu.
“Ali, kamu ngapain Agnes?”
“Aku cuma mau nanya, dia mau gak jadi pacarku.”
“Bohong! Dia mau nyium aku, Kevin! Dia
juga...”Agnes bergidik geli mengingat tadi Ali mencium lehernya. Wajah Agnes
memerah, membuat Ali panas dingin melihatnya.
“Kak, berikan dia padaku.”pinta Ali seperti meminta
barang pada Kevin.
“Kevin, jangan... Aku gak mau.”
Kevin melepaskan tangan Agnes dari pinggangnya. Ia
memegang kedua lengan Agnes dan menyodorkannya pada Ali. Agnes meronta hebat,
ia menendang Ali dan mengenai bagian sensitifnya.
“Addoww!!”Ali meringkuk menahan sakit.
“Rasakan. Hmmppp..!!”Agnes keluar dari kamar Kevin
dan turun ke lantai bawah.
Kevin berjongkok di samping Ali yang melungker
kesakitan. “Makanya jangan iseng. Keluar sana. Delina mau pakai baju.”
Kevin dengan kejam menendang Ali keluar padahal
pria itu masih mengaduh kesakitan. “Kak! Aduch, ngilu banget.” Ali berjalan
tertatih-tatih menuju kamarnya.
Delina keluar dari kamar mandi dan menanyakan
keadaan Ali, “Biarkan saja dia. Aku mau mandi.”
Delina cepat-cepat berpakaian dan keluar kamar
lebih dulu. Ia membantu mbak Sri menyiapkan makan malam.
“Delina, duduk sini.”pinta Kevin ketika makan malam
hampir dimulai.
Delina menggeleng, ia masih belum merasa nyaman
bergabung makan malam dengan keluarga Kevin, “Duduk, Delina. Suapi aku makan.”
Delina terpaksa menuruti perintah Kevin, ia
menyuapi Kevin yang terus tersenyum senang. Alvin dan Amira saling pandang
tersenyum tipis satu sama lain.
Usai makan malam, Delina yang merasa khawatir
dengan keadaan Ali, membujuk Kevin untuk membawakan makan malam ke kamarnya.
“Kenapa aku?”protes Kevin.
“Ya, sudah kalau hubby tidak mau, aku aja. Eh, tapi
kalau Ali lagi ngobatin yang sakit tadi gimana ya...”Delina sengaja menggantung
kalimatnya membuat Kevin menyambar nampan berisi makan malam Ali dan membawanya
ke lantai atas.
“Hihi.”Delina terkikik geli.
Amira dan Alvin yang masih duduk di meja makan jadi
kepo, bertanya ada masalah apa sampai Ali bisa sakit. Delina menceritakan apa
yang terjadi di kamar Kevin tadi sambil melirik Agnes yang pura-pura tidak ada
disana.
__ADS_1
“Ya, ampun Agnes. Kasian Ali ditendang gitu. Ntar
kalo telornya pecah gimana?”kata Amira sambil tertawa.
“Habisnya dia nyebelin, tante. Mesum.”sungut Agnes
sebal.
Amira menanyakan lagi tentang kebayanya dan Delina
mengatakan kalau ia sempat menyelesaikan dua kebaya lagi untuk Amira. Amira
yang kegirangan, meminta Delina membawakan kebaya itu ke kamarnya.
Delina hampir beranjak dari duduknya ketika Kevin
dan Ali tampak turun dari lantai 2. Agnes melihat gelagat Ali yang ingin duduk
di sampingnya. Ia ingin menghindar tapi Ali lebih cepat.
“Ali, kamu udah baikan? Kata Ina ada kecelakaan
tadi.”tanya Alvin.
“Oh, udah baikan kok, yah. Justru Ali mau tanya,
kakinya Agnes sakit gak?”
Tangan Ali dengan kurang ajar meraba paha Agnes
yang duduk di sebelahnya. Agnes langsung bangun dari duduknya dengan wajah
merona. “Delina, temenin ke kamar.”pinta Agnes.
“Kamu kan bisa sendiri. Kayak anak kecil aja!”ketus
Kevin yang tidak ingin Delina dibawa Agnes.
“Sebentar hubby. Aku anter nona Agnes ke kamarnya
dulu ya.”
Sepeninggal kedua wanita itu, Alvin bicara dengan
keluarganya. “Kevin, bagaimana hubunganmu dengan Ina? Sudah ada kemajuan?”
“Cuma sebatas ciuman aja, yah. Delina itu susah
banget ditaklukin. Harus sabar.”
mau hidup selamanya sama dia.”
“Iya, yah. Kevin belum pernah punya tujuan dalam
hidup. Sekarang setelah ada Delina, kebahagiaan dia akan jadi satu-satunya
tujuan hidup Kevin.”
”Akhirnya bocah ini bisa serius dalam hidupnya.
Tapi Delina masih jauh dari standar menantu di rumah ini. Saat ini dia lebih
cocok jadi istri Kevin. Sepertinya aku harus sampaikan ini lebih cepat.”
“Dengar, Kevin. Pernikahan kalian ini belum
diketahui keluarga besar kita terutama nenek. Ayah sudah cukup menekan tante
Giselle untuk tidak membocorkan pernikahan ini pada siapapun. Tapi ulang tahun
nenek sebentar lagi. Kamu maunya gimana?”
“Bukannya masih dua bulan lagi, yank?”ingat Amira. “Oh,
aku harus siapin kado yang istimewa.”
“Kevin mau bawa Delina kesana, yah. Boleh kan?”
“Kevin, kamu harus pikirkan lagi masalah ini dengan
baik. Ayah tahu kamu cinta sama Ina, tapi untuk saat sekarang dia belum bisa
dianggap menantu di rumah ini. Ayah harap kamu mengerti, Kevin.”
“Saya mengerti, tuan besar.” Semua orang di meja
makan menoleh menatap Delina yang sudah kembali ke lantai bawah. “Saya permisi
ke kamar, tuan besar.”
“Tunggu, Delina!”pinta Kevin sambil menarik tangan
Delina.
__ADS_1
Delina menepis tangan Kevin, ia terus berjalan
masuk ke kamarnya tanpa menoleh lagi. Kevin mengepalkan tangannya, ia beranjak
ke kamarnya juga tanpa berkata apa-apa lagi.
Malam itu, keduanya tampak berbaring di kamar
masing-masing. Keduanya sama-sama tidak bisa tidur memikirkan satu sama lain. Kevin
sadar kalau Delina dibawa kehadapan neneknya sekarang, hidup Delina tidak akan
tenang. Nenek Kevin akan membuat mereka berpisah bagaimanapun caranya hanya
gara-gara Delina berasal dari kalangan miskin.
Sedangkan Delina berpikir cepat atau lambat memang
akan jadi seperti ini. Kalau ia meminta Kevin menceraikannya sekarang, Kevin
pasti menolak mentah-mentah. Delina jadi pusing harus bagaimana. Disatu sisi ia
ingin tetap tinggal di rumah itu karena pekerjaannya sebagai penjahit Ny.Amira
sudah bisa memenuhi kebutuhan hidupnya. Tapi disisi lain, ia menanggung beban
menjadi istrinya Kevin.
Merasa semakin pusing dan tidak bisa tidur, Delina
beranjak ke luar dari kamarnya. Ia membuat teh hangat dan membawanya ke halaman
samping rumah itu. Saat ia sampai di gazebo, Delina melihat Kevin sudah duduk
disana. “Hubby? Ngapain disini?”
“Aku tidak bisa tidur. Kamu juga? Duduk sini.”
Delina duduk di samping Kevin, keduanya menatap langit
malam berbintang diatas mereka.
“Delina, tolong jangan dengarkan kata-kata ayah.
Kau istriku, aku bisa menghadapi dunia asal bersamamu.”
“Hubby, sejak awal pernikahan ini sudah tidak ada
yang merestuinya. Aku sendiri tidak tau kenapa tuan besar dan Ny. Amira tidak
melarang kita menikah ulang. Tapi kalau keluarga besar hubby tidak setuju, apa
hubby tidak kasian melihat orang tua hubby menderita juga.”
“Apa aku salah kalau aku jatuh cinta dengan wanita
baik sepertimu, Delina? Masa laluku, aku banyak berbuat dosa, Delina.”Kevin
menggenggam tangan Delina dan duduk menghadap padanya. “Aku suka minum, main
perempuan, pekerjaanku tidak ada yang beres. Usiaku sudah hampir 29 tapi aku
belum pernah membeli apapun dengan uang hasil kerja kerasku sendiri. Dan aku
ketemu kamu, aku tidak lantas jatuh cinta sama kamu. Perlu proses sampai aku
akhirnya yakin kalau perasaanku ini cinta.”
Delina sedikit terharu mendengar kata-kata Kevin
yang terdengar tulus padanya.
“Seumur hidupku, aku melihat ayah tersenyum bangga
saat aku bisa menyelesaikan pekerjaanku dengan baik. Aku belum pernah melihat
ayahku tersenyum seperti itu, Delina. Kami juga jarang sekali mengobrol bersama
sambil menikmati cemilan dan kopi. Kehadiranmu disini membuat keluargaku terasa
utuh lagi. Aku juga berubah jadi lebih baik. Tolong jangan minta berpisah, Delina.
Aku akan hancur kalau kau pergi. Kamu lihat sendiri kan beberapa hari lalu aku
sudah seperti orang gila cuma memikirkan kamu akan minta cerai.”
“Hubby, apa kau sungguh-sungguh? Bukan omong
kosong, kan?”
*****
Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel
__ADS_1
saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.