Penjahit Hati

Penjahit Hati
Episode 82


__ADS_3

“Ada apa, Delina? Nona Agnes kenapa?”tanya Sri


sambil bisik-bisik.


“Sepertinya patah hati, mb. Saya mau buat makan


siang dulu ya. Siapa tau bisa menghiburnya.”


Sri mengangguk-angguk, saatnya Delina beraksi


membuat makan siang untuk Alvin dan Kevin. Ia hanya punya waktu satu jam


menyiapkan semuanya. Untung saja tadi Delina sudah memberitahu Sri kalau ia


ingin memasak opor ayam. Sri sudah menyiapkan panci presto untuk merebus ayam


agar cepat matang dan empuk.


30 menit kemudian, wangi opor ayam memenuhi dapur.


Agnes tergerak mencium wangi masakan Delina ketika wanita itu menuangkan opor


ke dalam termos untuk menjaga makanan tetap panas.


“Delina, masak apa?”tanya Agnes.


“Masak opor. Aku mau ke kantor ayah. Kamu mau ikut


aku?”tanya Delina.


“Aku minta dikit ya. Aku dirumah aja. Nanti sore


juga ada pemotretan. Kamu jadi bikin dimsum?”tanya Agnes sambil mengambil


piring.


“Jadi, habis selesai makan siang di kantor ayah,


aku langsung pulang. Tenang aja, nanti aku pisahin dimsum buatmu.”


“Makasi ya, Delina.”kata Agnes sambil beranjak


memeluk Delina. “Aku sedih banget.”bisik Agnes.


“Iya, aku ngerti. Nanti ngomong baik-baik ya. Siapa


tau cuma salah paham.”


Agnes menggeleng, ia tidak mau peduli lagi dengan


Ali. Masih banyak pria baik yang akan ia temui nanti dan siapa tahu dirinya


akan jatuh cinta lagi.


Delina berpamitan pada Agnes dan Sri, ia segera


berangkat ke kantor Alvin sambil membawa makan siang untuk Alvin dan Kevin. Setibanya


disana, Amira juga baru sampai di kantor Alvin. Amira melihat Delina berjalan


di depannya sambil membawa termos makanan. Amira sengaja memperlambat jalannya,


ia ingin melihat sikap Delina pada resepsionis.


“Selamat siang, mb. Boleh saya ketemu ayah, eh


maksud saya tuan besar Alvin.”kata Delina sopan.


“Sudah ada janji, bu?”tanya resepsionis itu.


“Sudah, tapi janji makan siang.”ucap Delina polos.


Resepsionis itu mengecek di komputernya, tidak ada


janji makan siang dengan Alvin. Ya tentu saja, bagaimana mungkin Alvin


memberitahu kalau menantunya akan datang membawa makan siang. Hal-hal seperti


itu tidak perlu buat janji segala. Amira menepuk keningnya.


“Tidak ada janji makan siang, bu. Silakan kembali.”


“Oh, saya telpon hubby saja.”kata Delina sambil

__ADS_1


mengeluarkan ponselnya.


Amira yang sudah tidak sabaran, keluar dari tempat


ia berdiri tadi. “Delina, kamu baru datang?”tanya Amira. “Ayo, ikut.”


Amira menarik tangan Delina ke depan lift khusus


direktur. Resepsionis sampai hampir jatuh saking terkejutnya melihat Delina


digandeng Amira pergi begitu saja. Jiwa kepo langsung memenuhi lobby kantor


Alvin.


“Sudah selesai belanjanya, Delina?”tanya Amira


ketika mereka sudah sampai di dalam lift.


“Sudah, bu.”saut Delina.


“Delina, kamu bisa buat kerudung kan? Bisa buat


syal juga gak?”tanya Amira.


“Bisa juga, bu. Ibu mau saya buatkan syal?”tanya


Delina.


“Ini syal untuk menutupi pundak, Delina. Kamu paham


gak maksud ibu?”


Delina berpikir sejenak, ia melepas kain tipis yang


menutup kepalanya dan menyampirkannya di bahunya. “Seperti ini, bu?”


“Ya, seperti itu. Bisa kan? Buatkan beberapa yang


cantik. Itu hadiah untuk nenek Indri.”


“Iya, bu. Nanti Delina buatkan.”


Mereka sampai di lantai ruang kerja Alvin. Nana ada


kerja Alvin agar mereka berdua bisa masuk ke dalam sana.


“Ach, Ina. Akhirnya makan siangku datang.”kata


Alvin senang. Asistennya masih berdiri di sebelah Alvin, menunjukkan sesuatu


yang sepertinya sangat penting.


Amira menyuruh Delina mengambil piring dan sendok


di lemari dibawah mesin pemanas air. Dan juga air putih untuk mereka. “Dimana


Kevin?”tanya Amira.


“Dia masih meeting. Ntar juga datang. Kamu keluar


dulu. Aku mau makan siang dulu ya. Panggil Kevin kalau dia sudah selesai.”kata


Alvin pada asistennya.


“Baik, tuan besar.”


Delina menghidangkan opor ayam diatas meja lengkap


dengan bawang goreng dan sambalnya. Harum opor ayam memenuhi ruangan Alvin,


membangkitkan nafsu makan kedua orang tua yang sudah duduk di depan Delina.


“Enak sekali wanginya. Apa ini, Ina?”tanya Alvin.


“Ini opor ayam, yah. Silakan dimakan.”kata Delina.


Alvin yang sudah lapar, langsung memakan makanan di


piringnya. Amira yang melihat Delina belum menuangkan nasi ke piringnya,


bertanya padanya.


“Kenapa kamu belum makan, Delina?”

__ADS_1


“Saya nunggu hubby, bu.”saut Delina.


Alvin dan Amira menyelesaikan makanannya dengan


cepat, tapi Kevin tidak kunjung datang juga. Melihat Delina yang masih


menunggu, Amira menyarankannya untuk makan duluan. Tapi Delina menggeleng, ia


melirik ponselnya. Delina mengirimkan chat pada Kevin menanyakan apa dia sudah


makan atau belum.


Tring! Jawaban langsung masuk ke ponsel Delina. “Aku


sudah makan, yank. Kamu makan dulu ya.” Delina terlihat kecewa membaca balasan


dari Kevin. Ia membereskan termos dan piring kotor sebelum berpamitan pada


Alvin dan Amira.


“Bu, hubby bilang kalau sudah makan. Saya pulang


dulu ya. Sekalian mau nyiapin cemilan untuk nanti sore.”kata Delina.


Delina keluar dari ruang kerja Alvin, ia tersenyum


pada Nana dan Tasya yang masih tidak suka pada Delina. Nana tersenyum balik


pada Delina, sedangkan Tasya pura-pura sibuk kerja. Sebelum pulang, Delina


ingin melihat ruang kerja Kevin sekali lagi. Ia berbelok menuju ruang kerja


suaminya itu.


Perlahan Delina membuka pintu ruangan itu, ia


tertegun melihat Kevin sedang bersama seorang wanita. Mereka suap-suapan


makanan. Trak! Termos yang dibawa Delina tidak sengaja membentur pintu. Kevin


menoleh dengan cepat, ia terkejut melihat Delina berdiri di depan pintu.


“Ach, maaf. Aku tidak sengaja. Permisi.”kata Delina


sambil berbalik keluar dari ruang kerja Kevin. Ia berjalan cepat melewati Tasya


dan Nana, menekan tombol lift yang langsung terbuka. Dengan perasaan yang tidak


karuan, Delina turun menggunakan lift itu. Dadanya bergemuruh kencang, ia


merasakan tubuhnya gemetar. Bayangan Kevin bersama wanita itu kembali melintas


di kepala Delina.


Wanita itu sangat cantik, pakaiannya minim


menunjukkan lekuk tubuhnya dengan ketat. Delina melihat penampilannya di


dinding lift. Ia sudah terlihat lebih modern dengan pakaian yang diberikan


Kevin. Tapi tetap tidak bisa secantik wanita yang tadi.


Saat pintu lift terbuka, Delina buru-buru keluar


dari sana. Ia bahkan menyenggol Keanu, tapi tidak meminta maaf dengan baik.


Delina ingin cepat-cepat pulang saja. Ia ingin menenangkan dirinya dulu sebelum


Kevin mencarinya nanti.


Untung saja sopir yang mengantar Delina tadi duduk


di tempat menunggu. Ia segera bangkit dari duduknya, ketika melihat Delina


keluar dari lobby kantor. Delina membuka pintu dan masuk sendiri ke dalamnya.


“Pak, ayo jalan. Kita pulang ya.”kata Delina sambil


menunduk.


*****


Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel

__ADS_1


saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.


__ADS_2