
“Ada apa, Delina? Nona Agnes kenapa?”tanya Sri
sambil bisik-bisik.
“Sepertinya patah hati, mb. Saya mau buat makan
siang dulu ya. Siapa tau bisa menghiburnya.”
Sri mengangguk-angguk, saatnya Delina beraksi
membuat makan siang untuk Alvin dan Kevin. Ia hanya punya waktu satu jam
menyiapkan semuanya. Untung saja tadi Delina sudah memberitahu Sri kalau ia
ingin memasak opor ayam. Sri sudah menyiapkan panci presto untuk merebus ayam
agar cepat matang dan empuk.
30 menit kemudian, wangi opor ayam memenuhi dapur.
Agnes tergerak mencium wangi masakan Delina ketika wanita itu menuangkan opor
ke dalam termos untuk menjaga makanan tetap panas.
“Delina, masak apa?”tanya Agnes.
“Masak opor. Aku mau ke kantor ayah. Kamu mau ikut
aku?”tanya Delina.
“Aku minta dikit ya. Aku dirumah aja. Nanti sore
juga ada pemotretan. Kamu jadi bikin dimsum?”tanya Agnes sambil mengambil
piring.
“Jadi, habis selesai makan siang di kantor ayah,
aku langsung pulang. Tenang aja, nanti aku pisahin dimsum buatmu.”
“Makasi ya, Delina.”kata Agnes sambil beranjak
memeluk Delina. “Aku sedih banget.”bisik Agnes.
“Iya, aku ngerti. Nanti ngomong baik-baik ya. Siapa
tau cuma salah paham.”
Agnes menggeleng, ia tidak mau peduli lagi dengan
Ali. Masih banyak pria baik yang akan ia temui nanti dan siapa tahu dirinya
akan jatuh cinta lagi.
Delina berpamitan pada Agnes dan Sri, ia segera
berangkat ke kantor Alvin sambil membawa makan siang untuk Alvin dan Kevin. Setibanya
disana, Amira juga baru sampai di kantor Alvin. Amira melihat Delina berjalan
di depannya sambil membawa termos makanan. Amira sengaja memperlambat jalannya,
ia ingin melihat sikap Delina pada resepsionis.
“Selamat siang, mb. Boleh saya ketemu ayah, eh
maksud saya tuan besar Alvin.”kata Delina sopan.
“Sudah ada janji, bu?”tanya resepsionis itu.
“Sudah, tapi janji makan siang.”ucap Delina polos.
Resepsionis itu mengecek di komputernya, tidak ada
janji makan siang dengan Alvin. Ya tentu saja, bagaimana mungkin Alvin
memberitahu kalau menantunya akan datang membawa makan siang. Hal-hal seperti
itu tidak perlu buat janji segala. Amira menepuk keningnya.
“Tidak ada janji makan siang, bu. Silakan kembali.”
“Oh, saya telpon hubby saja.”kata Delina sambil
__ADS_1
mengeluarkan ponselnya.
Amira yang sudah tidak sabaran, keluar dari tempat
ia berdiri tadi. “Delina, kamu baru datang?”tanya Amira. “Ayo, ikut.”
Amira menarik tangan Delina ke depan lift khusus
direktur. Resepsionis sampai hampir jatuh saking terkejutnya melihat Delina
digandeng Amira pergi begitu saja. Jiwa kepo langsung memenuhi lobby kantor
Alvin.
“Sudah selesai belanjanya, Delina?”tanya Amira
ketika mereka sudah sampai di dalam lift.
“Sudah, bu.”saut Delina.
“Delina, kamu bisa buat kerudung kan? Bisa buat
syal juga gak?”tanya Amira.
“Bisa juga, bu. Ibu mau saya buatkan syal?”tanya
Delina.
“Ini syal untuk menutupi pundak, Delina. Kamu paham
gak maksud ibu?”
Delina berpikir sejenak, ia melepas kain tipis yang
menutup kepalanya dan menyampirkannya di bahunya. “Seperti ini, bu?”
“Ya, seperti itu. Bisa kan? Buatkan beberapa yang
cantik. Itu hadiah untuk nenek Indri.”
“Iya, bu. Nanti Delina buatkan.”
Mereka sampai di lantai ruang kerja Alvin. Nana ada
kerja Alvin agar mereka berdua bisa masuk ke dalam sana.
“Ach, Ina. Akhirnya makan siangku datang.”kata
Alvin senang. Asistennya masih berdiri di sebelah Alvin, menunjukkan sesuatu
yang sepertinya sangat penting.
Amira menyuruh Delina mengambil piring dan sendok
di lemari dibawah mesin pemanas air. Dan juga air putih untuk mereka. “Dimana
Kevin?”tanya Amira.
“Dia masih meeting. Ntar juga datang. Kamu keluar
dulu. Aku mau makan siang dulu ya. Panggil Kevin kalau dia sudah selesai.”kata
Alvin pada asistennya.
“Baik, tuan besar.”
Delina menghidangkan opor ayam diatas meja lengkap
dengan bawang goreng dan sambalnya. Harum opor ayam memenuhi ruangan Alvin,
membangkitkan nafsu makan kedua orang tua yang sudah duduk di depan Delina.
“Enak sekali wanginya. Apa ini, Ina?”tanya Alvin.
“Ini opor ayam, yah. Silakan dimakan.”kata Delina.
Alvin yang sudah lapar, langsung memakan makanan di
piringnya. Amira yang melihat Delina belum menuangkan nasi ke piringnya,
bertanya padanya.
“Kenapa kamu belum makan, Delina?”
__ADS_1
“Saya nunggu hubby, bu.”saut Delina.
Alvin dan Amira menyelesaikan makanannya dengan
cepat, tapi Kevin tidak kunjung datang juga. Melihat Delina yang masih
menunggu, Amira menyarankannya untuk makan duluan. Tapi Delina menggeleng, ia
melirik ponselnya. Delina mengirimkan chat pada Kevin menanyakan apa dia sudah
makan atau belum.
Tring! Jawaban langsung masuk ke ponsel Delina. “Aku
sudah makan, yank. Kamu makan dulu ya.” Delina terlihat kecewa membaca balasan
dari Kevin. Ia membereskan termos dan piring kotor sebelum berpamitan pada
Alvin dan Amira.
“Bu, hubby bilang kalau sudah makan. Saya pulang
dulu ya. Sekalian mau nyiapin cemilan untuk nanti sore.”kata Delina.
Delina keluar dari ruang kerja Alvin, ia tersenyum
pada Nana dan Tasya yang masih tidak suka pada Delina. Nana tersenyum balik
pada Delina, sedangkan Tasya pura-pura sibuk kerja. Sebelum pulang, Delina
ingin melihat ruang kerja Kevin sekali lagi. Ia berbelok menuju ruang kerja
suaminya itu.
Perlahan Delina membuka pintu ruangan itu, ia
tertegun melihat Kevin sedang bersama seorang wanita. Mereka suap-suapan
makanan. Trak! Termos yang dibawa Delina tidak sengaja membentur pintu. Kevin
menoleh dengan cepat, ia terkejut melihat Delina berdiri di depan pintu.
“Ach, maaf. Aku tidak sengaja. Permisi.”kata Delina
sambil berbalik keluar dari ruang kerja Kevin. Ia berjalan cepat melewati Tasya
dan Nana, menekan tombol lift yang langsung terbuka. Dengan perasaan yang tidak
karuan, Delina turun menggunakan lift itu. Dadanya bergemuruh kencang, ia
merasakan tubuhnya gemetar. Bayangan Kevin bersama wanita itu kembali melintas
di kepala Delina.
Wanita itu sangat cantik, pakaiannya minim
menunjukkan lekuk tubuhnya dengan ketat. Delina melihat penampilannya di
dinding lift. Ia sudah terlihat lebih modern dengan pakaian yang diberikan
Kevin. Tapi tetap tidak bisa secantik wanita yang tadi.
Saat pintu lift terbuka, Delina buru-buru keluar
dari sana. Ia bahkan menyenggol Keanu, tapi tidak meminta maaf dengan baik.
Delina ingin cepat-cepat pulang saja. Ia ingin menenangkan dirinya dulu sebelum
Kevin mencarinya nanti.
Untung saja sopir yang mengantar Delina tadi duduk
di tempat menunggu. Ia segera bangkit dari duduknya, ketika melihat Delina
keluar dari lobby kantor. Delina membuka pintu dan masuk sendiri ke dalamnya.
“Pak, ayo jalan. Kita pulang ya.”kata Delina sambil
menunduk.
*****
Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel
__ADS_1
saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.