Penjahit Hati

Penjahit Hati
PH - Gadis kampungan


__ADS_3

PH - Gadis kampungan


“Aku gak pakai parfum, sayang. Aku dah siap nich.”


Kata Gloria sambil berpose sensual.


Kevin membiarkan Gloria mendekatinya, ia hanya


menatap tubuh wanita itu tanpa menyentuhnya. Gloria berinisiatif lebih dulu


memuaskan Kevin, tapi sekeras apapun ia berusaha, Kevin masih tidak bergeming. Gloria


sudah kegirangan melihat kegagahan Kevin yang sangat kokoh, ia membayangkan


bagaimana rasanya bercinta dengan Kevin sebentar lagi.


Mereka sudah hampir menyatu setelah Gloria memasang


pengaman pada Kevin. Tiba-tiba bau parfum Gloria kembali mengganggu penciuman


Kevin. Ia mengernyit dan mendorong wanita itu ke samping ranjang dengan kasar.


“Kevin! Kasar banget sich!” teriak Gloria.


“Aku sudah bilang kamu bau! Bikin mual!!” ketus


Kevin sambil memakai pakaiannya lagi.


Kevin keluar dari kamar itu, ia berjalan kembali ke


tempat duduk Keanu. Heran melihat bosnya itu cepat sekali kembali, ia menyeringai


pada Kevin,



“Baru sebentar, sudah KO.” ejek Keanu.


“Kau gak bilang dia bau. Aku hampir muntah di dalam


sana!” ketus Kevin mengambil gelas minumannya.


“Hei, dia kusuruh memakai parfum kesukaanmu. Kau


selalu mabuk kepayang kalau ada wanita yang memakai parfum itu. Bau darimana?”


tanya Keanu heran.


“Ganti parfum itu. Aku tidak tahan mencium baunya.”


Perintah Kevin.


Ia meneguk minumannya sampai habis dan menuangkan


lagi minuman dari botol. Hasratnya yang tadi membara jadi hilang gara-gara


parfum sialan itu. Kevin tidak melirik Gloria yang berjalan tergesa-gesa melewati


mereka. Jelas sekali wanita itu marah pada Kevin. Tapi Kevin tidak peduli.


“Sayang sekali wanita cantik pergi begitu


saja.”siul Keanu melambaikan tangan pada Gloria.


“Cantik tapi bau. Memuakkan!”ketus Kevin lagi.


Keanu geleng-geleng kepala melihat Kevin


menghabiskan minuman di gelasnya lagi.


“Kau ini gak capek marah-marah?” tanya Keanu.


“Aku kesal sekali! Aku salah mengira penjahit ibu


sebagai pelayan pribadiku.”terang Kevin.


“Apa maksudmu?”tanya Kevin kepo.


“Iya. Aku kira gadis itu pelayan pribadi yang


dikirim ibu untuk melayaniku, taunya dia cuma penjahit. Sialan! Mana kopi


buatannya enak.”kata Kevin menegak minumannya lagi.


“Apa kau bilang kopi buatannya enak? Kau tidak


pernah mengatakan hal seperti itu.”kata Keanu heran.


“Apa iya?”tanya Kevin.


“Hei, aku lebih tahu kamu daripada dirimu sendiri.


Kata-katamu tadi diluar kebiasaan. Apalagi yang dilakukan gadis itu selain


membuat kopi?”


“Dia membuat roti bakar yang enak, dia juga

__ADS_1


wangi.”kata Kevin lagi.


Keanu senyum-senyum melihat Kevin bercerita tentang


sosok gadis yang baru ditemuinya tadi. Yang membuat Keanu penasaran tentang


penampilan gadis itu yang kata Kevin sangat kampungan. Kevin bukan tipe orang


yang gampang bercerita tentang sesuatu kalau memang baginya itu tidak menarik.


Dan sepertinya gadis yang dibicarakan Kevin sudah menarik perhatian bocah galak


ini.


“Kalau kau mau, kau kan bisa minta ibumu memanggil


gadis itu untuk jadi pelayan pribadimu.”


Kevin berhenti minum, ia menunjuk-nunjuk Keanu yang


mulai cemas kalau-kalau dirinya akan kena pukul malam ini.


“Kau jenius.”tunjuk Kevin pada Keanu.


“Aku memang. Aku selalu memberi solusi untuk masalahmu,


kan.”kata Keanu bangga.


“Kau melayang terlalu tinggi. Itu tugasmu dan aku


membayarmu karena itu!”ketus Kevin menjatuhkan Keanu dengan telak.


Mereka melanjutkan minum-minum sampai sedikit


mabuk. Ya hanya sedikit, kalau tidak Alvin akan membunuh mereka malam itu juga.


Kevin memikirkan kata-kata Keanu untuk menjadikan gadis kampungan itu sebagai


pelayan pribadinya.


*****


Kevin sungguh tidak sabaran, ia mengejar ibunya


ketika mereka bertemu di pagi berikutnya. Untung saja Alvin belum bangun saat


itu, jadi mereka bisa sarapan sambil mengobrol.


“Bu, aku mau penjahit itu yang jadi pelayan


pribadiku.”kata Kevin to the point.


punya pekerjaan sendiri.”tolak Ny. Amira.


“Tapi, bu. Sampai kapan aku harus nunggu. Pokoknya


aku mau gadis itu atau mbak Sri harus jadi pelayan pribadiku!”kata Kevin


ngotot.


“Haih! Kau ini. Ibu gak janji tapi akan ibu coba


bicara sama Delina. Kalau dia gak mau, ibu akan tetap carikan yang lain. Mbak


Sri sudah cukup sibuk melayani ibu dan ayah.”kata Ny. Amira panjang lebar.


“Gadis itu atau mbak Sri. Ibu saja cari pelayan


yang lain. Aku ke kantor dulu.”kata Kevin tidak mau kalah. Kevin beranjak dari kursinya


tanpa menghabiskan sarapannya. Ny. Amira menatap kepergian Kevin sambil


berpikir.


“Ha-ah... aku terlalu memanjakannya. Semoga saja


Delina mau. Tapi ada bagusnya kalau dia tinggal disini, dia bisa fokus membuat


semua kebaya yang aku inginkan.”kata Ny. Amira tersenyum lebar. Ia mengambil


ponselnya dan mengirim chat pada Meri untuk meminta Delina datang ke kantornya


hari ini.


*****


Delina sedang memasak makanan untuk dirinya sendiri


ketika pintu rumahnya diketuk seseorang.



“Ya, siapa?” tanya Delina sambil berjalan mendekati


pintu.


“Ini aku, Meri.”

__ADS_1


“Loh, mbak. Pagi-pagi kenapa kesini? Kebaya Ny.


Amira belum jadi.”


“Aku kesini bukan buat ngambil kebaya. Ny. Amira


memintamu datang ke kantor hari ini. Kau bisa datang?”tanya Meri sambil


menghirup sesuatu yang baunya enak.


“Kenapa mbak gak SMS aja? Repot-repot kesini.


Masuk, mbak. Aku lagi masak.”


“Kamu masak apa? Baunya enak banget.”tanya Meri


sambil mengikuti Delina ke dapur.


“Masak semur tahu. Mbak Meri udah sarapan? Ayo


makan sama aku.”ajak Delina sambil mematikan kompor.


“Boleh. Hehe...aku gak sempat sarapan gara-gara


chat dari Ny.Amira. Aku lagi gak punya pulsa. Kamu juga sich, beli HP yang


baruan dikit kenapa sich. Biar kita bisa saling chat.”


Delina menghidangkan nasi dan semur tahu di hadapan


Meri. Wanita itu menghirup dalam-dalam wangi masakan Delina.


“Kalau mau pedes, ini sambelnya, mbak. Emangnya jam


berapa Ny.Amira minta aku datang?”tanya  Delina.


“Kalau aku lihat jadwalnya sich sekitar jam 10 ada


waktu kosong. Kamu datang jam segitu aja. Masakanmu enak banget, Delina.”puji


Meri setelah memasukkan satu sendok penuh ke dalam mulutnya.


“Ach, biasa aja, mbak. Ntar aku datang jam segitu.


Tapi ada apa ya, mbak?”tanya Delina penasaran.


“Entahlah. Ny.Amira cuma bilang kamu suruh datang.


Gak ngasi alasannya.”


Mereka menghabiskan sarapan itu dan Meri


bersiap-siap berangkat ke kantornya.


“Aku ke kantor ya, Delina. Makasi sarapannya.”pamit


Meri.


“Ya, mbak. Sampai ketemu jam 10 nanti.”kata Delina


sambil mengantar Meri ke pintu depan.


Delina membereskan dapurnya setelah selesai masak


dan juga membersihkan rumah sampai bersih. Ia sesekali melirik jam dinding agar


tidak terlambat ke kantor Ny.Amira.


*****


Jam 09.50, Delina sudah sampai di depan kantor


Ny.Amira. Ia memberitahu pada security kalau Ny.Amira memintanya datang jam 10.


Delina diantar ke lobby dan resepsionis mengantarnya sampai ke lift.


Delina berjalan melewati lorong menuju ruangan


Ny.Amira. Ia berbelok ke kanan dan hampir menabrak seorang wanita yang berjalan


tergesa ke arahnya.


“Minggir!”teriak wanita cantik itu pada Delina.


Delina menyingkir dari jalan Agnes. Wanita di


hadapannya sangat cantik dengan mata bulat besar dan wajah yang sempurna.


Rambut panjangnya dicat coklat kekuningan. Tubuh wanita ini tinggi semampai


dengan pinggang ramping yang tampak ideal. Delina terpesona melihat Agnes.


“Nona Agnes! Nona!”teriak Meri keluar dari ruang


kerja Ny. Amira.


*****

__ADS_1


Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel


saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.


__ADS_2