
Jebakan Agnes
Kevin terdiam sepanjang perjalanan pulang. Hampir
saja ia melupakan perjanjian pra nikah mereka.
*”Perjanjian sialan!*”
Hujan masih turun dengan lebat saat mereka sampai
di rumah lagi. Kevin tidak mau menunggu security membawakan mereka payung dan
menarik Delina masuk ke dalam rumah. Pakaian mereka basah sebagian, “Hii...
dingin.” Delina mengusap lengannya agar lebih hangat.
“Cepetan mandi, ntar masuk angin.”Kevin menuntun
Delina naik ke lantai 2 menuju kamar mereka.
Delina melepaskan kerudungnya dan melepaskan
kancing di belakang pakaiannya. Ia lupa kalau Kevin ada di belakangnya. Tengkuk
putih mulus Delina, menarik perhatian Kevin. Tanpa permisi, Kevin mulai mencium
tengkuk Delina.
“Ach... hubby, apa yang kau lakukan?”
Delina berbalik cepat, ia melangkah mundur menjaga
jarak dari Kevin.
“Apa?”Kevin menatap bingung pada Delina. Untuk
sesaat tadi Kevin tidak bisa menguasai dirinya. “Mandilah duluan. Aku akan
ganti baju di kamar lain.”
Kevin menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia
ingin sekali menyentuh Delina tapi tidak bisa sembarangan. Akhirnya Kevin hanya
bisa terima nasib mengganti bajunya di kamar sebelah.
Beberapa hari berlalu dengan cepat, Delina mulai
bisa menerima Kevin adalah suaminya yang harus ia layani semua kebutuhannya.
Meskipun baru sebatas ciuman, Kevin selalu memintanya dari Delina. Saat
berangkat kerja, pulang kerja, setelah mandi, sebelum makan, sebelum tidur,
dalam sehari Delina harus menerima lebih dari 5 kali ciuman.
Delina sempat protes awalnya, tapi Kevin
mengerahkan seluruh rayuan gombalnya untuk meluluhkan hati Delina lagi. “Dasar
tuan muda pemaksa.”hanya itu yang dikatakan Delina saat Kevin kembali
menciumnya.
Seharian itu setelah Kevin berangkat kerja, Delina
sibuk menyelesaikan kebaya milik Ny. Amira. Ia sudah membuat beberapa sketsa
kebaya lagi dan Ny. Amira ingin secepatnya kebaya barunya jadi. Ketika
mendekati jam pulang kantor, Delina baru keluar dari kamarnya, masuk ke dapur.
“Mbak Sri, apa tuan besar dan Ny. Amira akan pulang
hari ini?”
“Belum, Delina. Mereka pulang besok.”
__ADS_1
Delina mengangguk, tinggal sebulan lagi sebelum
ulang tahun nenek Indri dan orang tua itu memanggil semua anak dan menantunya
untuk datang dan tinggal di rumah besar miliknya. Entah apa maksudnya tapi
menurut Kevin ini diluar kebiasaan neneknya.
Ali yang baru kembali dari rumah sakit, duduk di
meja bar ketika melihat Delina ada di dapur.
“Kakak ipar, ada makanan gak? Aku lapar sekali.”
Delina tersenyum, ia sedang membuatkan cemilan
untuk Kevin sambil menunggunya pulang. “Sebentar ya. Mau kopi juga?”
“Iya, kak. Hari ini rumah sakitnya ramai banget.
Tenagaku serasa sudah habis. Oh ya, kak. Apa kak Kevin sudah pulang?”
“Sepertinya belum. Kenapa?”
“Aku lihat mobilnya di depan, masa kakak gak liat
kak Kevin masuk?”
“Aku tadi di kamar jahit. Hmm... apa dia ada di
kamar ya?”
Delina beranjak dari dapur, toh cemilan masih
dikukus dan belum matang. “Kakak mau kemana?”tanya Ali.
“Mau liat hubby dulu.”
“Aku ikut, kak.”
Mereka berjalan beriringan menuju kamar Kevin di
sana. Seperti orang sedang melakukan sesuatu yang intim. Ali segera membuka
pintu dan menghidupkan lampu.
Deg! Deg! Delina memegang dadanya yang terasa
sakit, ia melihat Agnes dan Kevin diatas ranjang sedang melakukan itu. Kevin
berbaring telanjang dada dengan Agnes duduk diatasnya. Tubuh keduanya tampak
berkeringat. Wajah Agnes juga memerah, sementara Kevin memejamkan matanya.
“Apa yang kalian lakukan?!”teriak Ali geram.
Agnes bangkit dari atas tubuh Kevin, ia menarik
jubah tidurnya menutupi tubuhnya yang tadi hampir polos. “Apalagi, kami tidur
bersama. Lihat, Kevin sangat lelah sampai ketiduran. Satu jam nonstop. Hmm...
apa aku tunggu dia bangun ya dan kami bisa mulai lagi?”
“Kau sangat keterlaluan. Kevin sudah menikah,
bagaimana bisa kau lakukan hal seperti itu dengannya?!”jerit Ali lagi.
“Kenapa? Sejak awal aku sudah jadi milik Kevin.
Kehadiran dia, tidak merubah apapun. Kevin tetap membutuhkan aku. Kami
sama-sama punya hasrat satu sama lain.”kata Agnes dengan tidak tahu malu sambil
menunjuk-nunjuk Delina.
“Jadi selama ini hubungan kalian sudah sejauh
__ADS_1
ini?”lirih Delina mengatakannya. Air matanya sempat jatuh, tapi ia tidak
berteriak seperti Ali.
Agnes sempat terpaku melihat wajah cantik itu
terlihat sedih, “Apa kau kira Kevin bisa menahan dirinya tidak melakukan hal
itu sekian lama? Aku tahu kalian belum melakukannya kan? Berhubungan suami
istri. Kevin tentu saja perlu melakukannya dan ia sangat tidak sabaran. Sudahlah,
aku mau ke kamar. Pinggangku sakit.”
Agnes sengaja menabrak pundak Delina dan menatap
tajam ke arah Ali sebelum keluar dari kamar Kevin. Delina terhuyun sejenak, ia
sampai berpegangan pada tembok di sampingnya.
“Kakak ipar...”panggil Ali.
Delina keluar dari kamar itu, melangkah gontai
menuruni tangga. Ali melirik sebal pada Kevin yang bisa-bisanya tidur setelah
kejadian itu. Ia masuk ke kamar Kevin lagi dan mengguncang tubuh Kevin.
“Kak! Bangun! Kakak, bangun!”
Kevin mengerutkan keningnya, “Apa sich? Ganggu
orang tidur aja.”
“Bisa-bisanya kakak tidur habis bercinta sama
Agnes! Kakak ipar sakit hati melihat perbuatan kalian!”bentak Ali sambil
menarik selimut yang menutupi tubuh Kevin.
Mata Kevin terbelalak mendengar kata-kata Ali, “Apa
maksudmu? Aku gak ngerti.” Tapi saat melihat pakaiannya sudah berantakan dan
bekas ciuman di dadanya, Kevin mulai mempercayai apa yang barusan didengarnya.
“Gak mungkin. Aku gak inget sama sekali. Aku gak
mungkin tidur sama Agnes.”Kevin histeris sendiri. Ia ingat Delina memergokinya
juga.
“Dimana Delina?”tanya Kevin sambil memakai
pakaiannya lagi.
“Entahlah. Tadi turun. Aku gak nyangka kakak gitu.”
“Ali, aku pasti inget kalau sudah melakukan itu. Apa
aku salah minum?”
“Memangnya kakak minum apa?”
“Aku baru dateng tadi gak lihat Delina malah ketemu
Agnes. Ia memberiku air putih, habis aku minum aku ngantuk... Sial! Pasti ada
sesuatu di air itu.”
Kevin berlari keluar kamar, ia menuju kamar Delina
dan menggedornya karena pintu terkunci. “Delina, buka pintunya! Aku bisa
jelaskan.”
*****
__ADS_1
Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel
saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.