Penjahit Hati

Penjahit Hati
PH - Kehangatan keluarga


__ADS_3

PH - Kehangatan keluarga


“Saya tidak merasa seperti itu, tuan.”ucap Delina


sendu.


“Ya, mungkin kamu belum mengenal Kevin sebelumnya.


Kelakuan dia diluar sana, aku tahu semuanya. Apa kau mau tahu ceritanya?”tanya


Keanu.


“Mungkin lain kali, tuan. Saya akan membangunkan


tuan muda dulu.”


“Jangan panggil dia seperti itu. Biar bagaimanapun


Kevin sudah jadi suamimu sekarang.”kata Keanu.


“Saya tidak terbiasa, tuan.”kata Delina hampir


beranjak dari dapur.


Keanu geleng-geleng kepala melihat Delina yang


sudah menaiki tangga menuju kamar Kevin. Sri mendekati Keanu,


“Tuan, menurut tuan, apa mereka akan terus bersama?”tanya


Sri.


“Entahlah. Kalau Kevin berhasil membuat Delina


jatuh cinta, mereka bisa bersama selamanya. Tapi kalau tidak... Kenapa mbak Sri


kepo?”Keanu menggantung ucapannya sambil menaikkan bahunya.


“Saya hanya merasa senang kalau Delina terus


tinggal disini. Dia sangat baik dan juga tulus. Lagipula kalau tidak ada


Delina, tuan besar akan marah-marah karena kopi buatan saya tidak seenak kopi


buatan Delina.”jelas Sri.


“Ya mbak Sri benar. Maaf ya, mbak.”melas Keanu.


“Saya rapopo, tuan. Hihihi...”canda Sri.


Keanu menghabiskan kopi di depannya dan kembali


bengong. Gagal sudah mencari tahu tentang malam pertama Kevin dengan Delina.


Delina membangunkan Kevin yang masih betah tidur.


“Tuan muda, bangun. Sudah jam 6.”kata Delina masih


sabar.


“Hmm.”gumam Kevin sambil membuka sebelah matanya.


Kevin melihat Delina berdiri di depannya, memakai


pakaian kebesarannya seperti biasa. Wajah cantiknya tetap terlihat bersinar


meskipun ada kantung mata yang menghitam dibawah matanya sekarang.


“Lima menit lagi.”tawar Kevin sambil menarik tangan


Delina dan memeluknya dengan erat.


Delina hampir mencubit lengan Kevin yang melingkar


di pinggangnya, ketika pria itu tiba-tiba bangun dan melepaskannya hingga


terjatuh di pinggir tempat tidur.


“Aduch!! Tuan muda kenapa sich?”sengit Delina


sambil memegangi pinggangnya yang sakit.


“Maaf, maaf. Aku gak sengaja. Ampun, Delina.”melas


Kevin.


Ia menarik lengan Delina agar bangun dan


mendudukkannya di pinggir tempat tidur. Sekali lagi ia meminta maaf sambil


berlutut di depan Delina.


“Maaf, Delina. Aku gak bermaksud memelukmu. Itu


refleks, jangan marah ya. Ya?”kejar Kevin.


“Saya akan marah kalau tuan muda tidak mandi


sekarang. Aduch, pinggangku.”rintih Delina lagi.

__ADS_1


Kevin mengambil kotak obat dari laci nakas, ia


memberikan minyak urut pada Delina. Delina melotot padanya saat Kevin berkata


akan membantu Delina mengusapkan minyak itu ke pinggangnya yang sakit.


“Baik, aku cuma menawarkan saja. Jangan marah ya.


Aku mandi sekarang. Kau yakin tidak mau dibantu?”tanya Kevin lagi mencoba


bersikap baik.


“Cepat mandi!”bentak Delina.


Kevin masuk ke kamar mandi, Delina bangkit


perlahan, ia merapikan tempat tidur sambil meringis memegangi pinggangnya. Ia


juga menyiapkan pakaian untuk Kevin dan meletakkannya di atas tempat tidur.


Delina menutup pintu walk in closet, ia ingin


mengurut pinggangnya dengan minyak yang diberikan Kevin tadi. Kevin sudah


selesai mandi, ia melihat pakaiannya sudah siap diatas tempat tidur. Tapi


dimana Delina?


Sambil bersenandung, Kevin memakai pakaian


kerjanya. Ia merapikan penampilan dan rambutnya di depan cermin meja rias. Seperti


kehilangan sesuatu, Kevin celingukan mencari jam tangannya.


“Delina lupa mengambil jam tanganku. Dompet, HP.


Aku harus ambil sendiri.”gumam Kevin.


Kevin membuka pintu walk in closet dan ternganga


melihat punggung mulus Delina terlihat jelas di depan matanya.


“Aarrgghh!! Keluar!”jerit Delina yang melihat Kevin


masuk tiba-tiba.


“Maaf, aku cuma mau ambil jam tangan. Kau perlu


bantuan?”tanya Kevin sambil menarik laci jam tangannya dan mengambil satu.


“Tidak! Cepat keluar!”usir Delina dengan wajah


Kevin menurut dan menutup pintu menutup kembali.


Senyum mengembang menghiasi wajah Kevin sepagi itu. Berbeda dengan wajah Delina


yang merona merah. Mereka menuju meja makan, Alvin, Amira, Giselle, Agnes dan Keanu


menoleh melihat kedatangan mereka.


“Maaf, ayah. Kami terlambat turun.”kata Kevin


dengan senyum manisnya.


Alvin melirik Delina yang meringis sambil mengusap


pinggangnya.


“Ehem! Ina, tolong buatkan saya kopi.”perintah


Alvin.


“Baik, tuan besar.”


“Delina, panggil ayah dong. Kamu...”Kevin tidak


melanjutkan ucapannya ketika melihat Delina melotot lagi padanya.


“Delina, aku juga mau kopi.”pinta Amira.


“Baik, Ny.Amira.”


“Aku juga, Delina.”kata Kevin.


Delina tidak menjawab Kevin, ia beranjak ke dapur


begitu saja. Kevin menggaruk kepalanya,


“Apa aku sudah keterlaluan ya?”tanya Kevin pada


dirinya sendiri.


“Hayo, habis ngapain kamu tadi? Kenapa Delina


megangin pinggangnya gitu?”tanya Keanu kepo.


“Kepo.”balas Kevin.


Delina membawakan kopi bersama dengan Sri yang

__ADS_1


membawa sarapan untuk mereka semua. Seperti biasa Alvin tersenyum senang


setelah meminum kopi buatan Delina. Amira meminta Delina duduk di samping Kevin


dan sarapan bersama mereka, tapi Delina mengatakan kalau ia akan sarapan nanti


saja.


“Ina, ada cemilan apa nanti?”tanya Alvin.


Giselle menoleh menatap kakaknya itu, sangat jarang


Alvin mau bicara saat makan. Ia tidak suka melihat Alvin akrab dengan Delina.


Bahkan ada panggilan khusus untuk Delina dari Alvin.


“Tuan besar mau dimsum udang?”tanya Delina.


“Dimsum udang. Itu makanan kesukaan Giselle dan


Agnes. Apa kau bisa membuat dimsum ayam juga?”tanya Alvin balik.


“Bisa, tuan besar. Dimsum udang dan ayam ya. Saya


buatkan untuk siang atau sore, tuan besar?”tanya Delina lagi.


“Untuk sore ya. Terima kasih, Ina.”


“Baik, tuan besar.”kata Delina.


Pagi itu suasana sarapan sedikit berbeda dari


biasanya. Amira tampak ngobrol tentang kebayanya dengan Delina. Alvin sesekali nimbrung


menanyakan cemilan apalagi yang bisa dibuat Delina. Kevin dan Keanu sibuk


berdebat karena Keanu masih kepo dengan malam pertama Kevin. Tentu saja dengan


suara yang sangat kecil.


Giselle dan Agnes hanya menatap mereka tanpa


berkata apa-apa. Sri memperhatikan suasana pagi itu, ia melihat kehangatan


keluarga tuan besar Alvin dan Amira. Sejak kedatangan Delina dalam kehidupan


mereka, Sri bisa merasakan keluarga itu kembali hangat.


Sopir dan penjaga yang kebingungan karena tuan


besar mereka belum juga keluar dari rumah, mencoba mengintip apa yang terjadi


di dalam rumah. Nyatanya, gara-gara asyik ngobrol, mereka semua terlambat


berangkat ke kantor.


Alvin berjalan cepat disusul Amira, mereka


berciuman di depan pintu sebelum masuk ke mobil masing-masing.


“Tuan besar, jasnya.”panggil Sri yang berlari


membawa jas Alvin.


Delina mengantar Kevin dan Keanu sampai ke mobil


Kevin. Delina melihat di sudut bibir Kevin masih tertinggal saus.


“Tuan muda, disitu ada saus.”tunjuk Delina ke sudut


bibir Kevin.


“Mana?”tanya Kevin sambil mengusap bagian bibir


yang salah.


Delina mengusap sudut bibir Kevin dengan cepat,


Kevin tersenyum pada Delina.


“Makasi, istriku. Apa penampilanku sudah rapi?”tanya


Kevin.


Delina memperhatikan penampilan Kevin sebentar dan


mengangguk.


“Aku berangkat kerja dulu ya.”pamit Kevin.


Delina mengulurkan tangannya meraih tangan Kevin


dan mencium tangan pria yang sudah menjadi suaminya itu. Kevin sangat terkejut


sekaligus senang menerima perlakuan Delina.


*****


Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di

__ADS_1


novel saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.


__ADS_2