Penjahit Hati

Penjahit Hati
PH - Dokter cinta


__ADS_3

PH - Dokter cinta


Delina sibuk di dapur melayani permintaan Alvin,


Kevin, Ali, dan terakhir Amira juga ikutan. Sri melihat lagi kebahagiaan


keluarga kecil Alvin yang sudah lama menghilang sejak kedua tuan muda itu


tumbuh dewasa. Sri melirik Delina yang tersenyum melihat Ali dikerjai Kevin. Ia


berharap Delina akan secepatnya jatuh cinta pada Kevin dan kehangatan seperti


ini akan terus ia rasakan.


Kevin meminta Delina ikut ke kamar mereka karena ia


ingin mandi. Ali yang masih penasaran dengan Delina, mengikuti mereka ke kamar


Kevin.


“Kamu ngapain ikut kesini?”tanya Kevin yang hampir


menutup pintu.


“Kak, aku masih kangen sama kakak. Kita belum puas


ngobrol. Kau harus dengar ceritaku dulu.”


“Apa kau gak tau malu? Aku mau berduaan dengan


istriku. Pergi mandi sana!”bentak Kevin.


“Aku mau bicara dengan kakak ipar.”


“Mau ngomong apa? Jangan bilang kamu mau nikung


istriku!”teriak Kevin posesif.


“Dih, kayak gak ada perempuan lain aja.”


“Tuan muda, biarkan tuan Ali masuk. Tuan muda


silakan mandi dulu.”kata Delina.


“Kalian tidak boleh dekat-dekat. Awas! Akan kukirim


kau ke Afrika kalau berani macam-macam.”ancam Kevin pada Ali.


“Kak, aku ini dokter pribadimu masa mau dikirim ke


Afrika. Aku mau periksa kakak ipar. Kakak gak lihat kakak ipar pucat gitu.”kata


Ali.


Kevin memperhatikan wajah Delina yang terlihat


lelah. Kantung hitam di bawah matanya semakin menghitam saja. Kevin menunggui


Ali memeriksa Delina yang pasrah saja karena dirinya memang sudah lelah.


Alhasil, tekanan darah Delina memang turun. Ali memberikan obat padanya dan tak


lama, Delina tertidur.


“Sepertinya kakak ipar sedang stress. Sejak kapan


dia begitu?”tanya Ali.


“Mungkin sejak pernikahan kami ketahuan semuanya.


Apa aku sudah menyakitinya? Dia tidak terlihat bahagia.”


“Kak, ajak saja dia jalan-jalan. Besok weekend


kan.”


“Ya, kalau dia mau. Delina tidak mau berdekatan


denganku. Hanya seperlunya saja. Bagaimana dia mau kuajak jalan-jalan?”


“Aku akan membantumu, kak. Serahkan pada dokter


cinta ini.”ucap Ali sambil menepuk dadanya.


“Heh! Dokter cinta apaan. Kau saja belum pernah


pacaran, tidak bisa dipercaya.”ejek Kevin.


“Jangan salah, kak. Mantanku hampir seratus


sekarang.”kata Ali bangga.


“Cuma seratus? Kemana saja kau 7 tahun ini? Tidur


dengan bukumu?”


“Aku juga pria, kak. Ada juga mantanku yang mau


menggantikan bukuku. Hehehe..”seringai mesum Ali.

__ADS_1


Kevin malas menanggapi Ali yang tidak habis


bicaranya. Ia menatap Delina yang masih tertidur lelap. Apapun rencana Ali besok,


Kevin hanya bisa mengikutinya untuk saat ini.


*****


Delina menggeliat bangun. Ia memperhatikan


sekeliling kamar dan tempat ia berbaring. Dengan cepat Delina bangun, ia


memeriksa pakaiannya dan bernafas lega pakaiannya masih lengkap. Hanya


kerudungnya sudah terlipat rapi di samping bantalnya.


Delina bangun dari berbaringnya, ia merenggangkan


tubuhnya dan menoleh saat Kevin masuk membawakan sarapan untuknya.


“Pagi, Delina. Ayo, sarapan dulu.”kata Kevin sambil


meletakkan nampan berisi sarapan diatas ranjangnya.


“Tuan muda, maaf saya bangun kesiangan. Tuan muda


tidak ke kantor hari ini?”


“Delina, panggil aku hubby. Aku mohon.”kata Kevin


sambil menatap Delina dengan pandangan mata memohon.


Delina menghela nafasnya, “Baik, tuan... hubby.”


“Nah, gitu dong. Ayo, cepat makan. Semalam kamu kan


belum makan. Pasti lapar. Habis itu mandi. Ali akan mengajakmu jalan-jalan.”


“Tuan Ali? Apa tidak salah?”kata Delina sambil


menggigit roti bakar hangat.


“Ya. Ali mau berkeliling melihat perubahan di kota


ini. Tapi aku gak bisa nemenin dia. Kamu tolong temani dia ya.”


“Tapi saya juga gak terlalu tahu kota ini, tuan...


hubby.”kata Delina.


“Ali tahu. Dia hanya perlu seseorang menemaninya.


kalau dia nakal, okey.”


“Okey, hubby.”


Delina beranjak mandi setelah sarapannya habis.


Lagi-lagi lupa mengecek handuk. Kevin mengetuk pintu kamar mandi.


“Delina, ini handuknya. Buka pintu.”pinta Kevin.


Delina membuka pintu kamar mandi dan mengulurkan


tangannya. Kevin memberikan handuk sambil tersenyum pada Delina.


“Keluarlah. Aku mau ke toilet. Kebelet.”


Delina melilitkan handuk itu ke tubuhnya, ia


memakai kerudungnya lagi dan berjalan keluar kamar mandi. Kevin menahan dirinya


yang sangat ingin memeluk Delina yang cantik.


Setelah memakai pakaiannya dan membawa tas kecilnya


yang berisi dompet dan ponsel, Delina keluar dari kamar. Ia melihat Ali sudah


menunggu di ruang tengah.


“Pagi, kakak ipar. Sudah siap pergi denganku?”tanya


Ali.


“Kita mau kemana, tuan?”tanya Delina sambil


celingukan mencari Kevin.


Ali memperhatikan penampilan Delina yang memang


kampungan, “Aku mau jalan-jalan, kak. Tapi tolong jangan panggil aku tuan.


Cukup Ali saja ya.”


“Ya, panggil dia Ali kuper. Hahaha.”ejek Kevin yang


muncul dari lantai 2.


“Kak! Aku udah gak kuper lagi. Lihat penampilanku

__ADS_1


sekarang sudah keren kan?”tanya Ali yang diabaikan Kevin.


Delina mengulurkan tangannya pada Kevin yang


memberikan sebuah kartu berwarna hitam padanya.


“Bukan ini, hubby. Salim...”kata Delina sambil


menyerahkan kembali kartu itu pada Kevin.


Kevin menolak kartu itu, ia mengeluarkan segepok


uang tunai untuk Delina juga, “Pakai itu kalau kamu mau belanja, Delina. Sama


ini.”


Delina hampir menolak lagi, tapi Kevin segera


mengulurkan tangannya agar Delina bisa salim tangan. Dan memberi kode pada Ali


untuk membawa Delina keluar.


“Ayo, kita berangkat. Sampai jumpa, kak.”


Ali membawa Delina ke sebuah butik sebagai


permulaan. Pelayan butik itu mengkerutkan keningnya melihat penampilan Delina


yang masuk lebih dulu.


“Mau apa anda kesini? Disini tidak menjual kelas


pakaian seperti yang anda pakai.”ketus pelayan itu.


“Saya hanya menemani tuan Ali saja.”


“Cepat keluar. Nanti pakaian disini kotor.”usir


pelayan itu pada Delina.


Ali yang merasa pelayan itu tidak memperlakukan


Delina dengan baik, jadi malas belanja. Pelayan yang tadi mengusir Delina,


dengan cepat merubah ekspresinya ketika melihat Ali.


“Ada yang bisa saya bantu, tuan?”tanya pelayan pada


Ali.


“Kakak ipar, apa kakak suka baju-baju disini?”tanya


Ali sedikit keras.


Ali mengambil satu dan mendekatkannya pada Delina. ”Tidak


cocok.” Ia melempar baju itu ke atas sofa yang terletak disana. Ali mengambil


lagi baju yang lain dan kembali mengatakan tidak cocok untuk Delina. Terus


begitu sampai Delina menghentikannya.


“Sudah cukup, Ali. Jangan buat keributan.”pinta


Delina.


Manager butik yang melihat keributan itu segera


datang dan meminta maaf pada Ali dan Delina.


“Mohon maafkan kami, tuan dan nyonya. Mohon jangan


membuat toko kami berantakan.”kata manajer itu dengan sopan.


“Aku kesini ingin membeli pakaian untuk nyonya ini.


Tapi pelayan disini malah mengusirnya. Apa pantas butik terkenal seperti ini


memperlakukan tamu dengan tidak hormat hanya gara-gara penampilannya.”handik


Ali kesal.


“Mohon maafkan kami, tuan. Saya yang akan melayani


nyonya ini sendiri. Silakan duduk, tuan dan nyonya.”


Manager butik memerintahkan semua pelayan yang


tidak sibuk, membereskan kekacauan yang dibuat Ali tadi. Manager butik


menanyakan pakaian seperti apa yang diinginkan Delina tapi Delina menggeleng.


“Ali, saya tidak mau membeli baju. Kenapa Ali mengajak


saya kesini?”


*****


Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel

__ADS_1


saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.


__ADS_2