
PH - Dokter cinta
Delina sibuk di dapur melayani permintaan Alvin,
Kevin, Ali, dan terakhir Amira juga ikutan. Sri melihat lagi kebahagiaan
keluarga kecil Alvin yang sudah lama menghilang sejak kedua tuan muda itu
tumbuh dewasa. Sri melirik Delina yang tersenyum melihat Ali dikerjai Kevin. Ia
berharap Delina akan secepatnya jatuh cinta pada Kevin dan kehangatan seperti
ini akan terus ia rasakan.
Kevin meminta Delina ikut ke kamar mereka karena ia
ingin mandi. Ali yang masih penasaran dengan Delina, mengikuti mereka ke kamar
Kevin.
“Kamu ngapain ikut kesini?”tanya Kevin yang hampir
menutup pintu.
“Kak, aku masih kangen sama kakak. Kita belum puas
ngobrol. Kau harus dengar ceritaku dulu.”
“Apa kau gak tau malu? Aku mau berduaan dengan
istriku. Pergi mandi sana!”bentak Kevin.
“Aku mau bicara dengan kakak ipar.”
“Mau ngomong apa? Jangan bilang kamu mau nikung
istriku!”teriak Kevin posesif.
“Dih, kayak gak ada perempuan lain aja.”
“Tuan muda, biarkan tuan Ali masuk. Tuan muda
silakan mandi dulu.”kata Delina.
“Kalian tidak boleh dekat-dekat. Awas! Akan kukirim
kau ke Afrika kalau berani macam-macam.”ancam Kevin pada Ali.
“Kak, aku ini dokter pribadimu masa mau dikirim ke
Afrika. Aku mau periksa kakak ipar. Kakak gak lihat kakak ipar pucat gitu.”kata
Ali.
Kevin memperhatikan wajah Delina yang terlihat
lelah. Kantung hitam di bawah matanya semakin menghitam saja. Kevin menunggui
Ali memeriksa Delina yang pasrah saja karena dirinya memang sudah lelah.
Alhasil, tekanan darah Delina memang turun. Ali memberikan obat padanya dan tak
lama, Delina tertidur.
“Sepertinya kakak ipar sedang stress. Sejak kapan
dia begitu?”tanya Ali.
“Mungkin sejak pernikahan kami ketahuan semuanya.
Apa aku sudah menyakitinya? Dia tidak terlihat bahagia.”
“Kak, ajak saja dia jalan-jalan. Besok weekend
kan.”
“Ya, kalau dia mau. Delina tidak mau berdekatan
denganku. Hanya seperlunya saja. Bagaimana dia mau kuajak jalan-jalan?”
“Aku akan membantumu, kak. Serahkan pada dokter
cinta ini.”ucap Ali sambil menepuk dadanya.
“Heh! Dokter cinta apaan. Kau saja belum pernah
pacaran, tidak bisa dipercaya.”ejek Kevin.
“Jangan salah, kak. Mantanku hampir seratus
sekarang.”kata Ali bangga.
“Cuma seratus? Kemana saja kau 7 tahun ini? Tidur
dengan bukumu?”
“Aku juga pria, kak. Ada juga mantanku yang mau
menggantikan bukuku. Hehehe..”seringai mesum Ali.
__ADS_1
Kevin malas menanggapi Ali yang tidak habis
bicaranya. Ia menatap Delina yang masih tertidur lelap. Apapun rencana Ali besok,
Kevin hanya bisa mengikutinya untuk saat ini.
*****
Delina menggeliat bangun. Ia memperhatikan
sekeliling kamar dan tempat ia berbaring. Dengan cepat Delina bangun, ia
memeriksa pakaiannya dan bernafas lega pakaiannya masih lengkap. Hanya
kerudungnya sudah terlipat rapi di samping bantalnya.
Delina bangun dari berbaringnya, ia merenggangkan
tubuhnya dan menoleh saat Kevin masuk membawakan sarapan untuknya.
“Pagi, Delina. Ayo, sarapan dulu.”kata Kevin sambil
meletakkan nampan berisi sarapan diatas ranjangnya.
“Tuan muda, maaf saya bangun kesiangan. Tuan muda
tidak ke kantor hari ini?”
“Delina, panggil aku hubby. Aku mohon.”kata Kevin
sambil menatap Delina dengan pandangan mata memohon.
Delina menghela nafasnya, “Baik, tuan... hubby.”
“Nah, gitu dong. Ayo, cepat makan. Semalam kamu kan
belum makan. Pasti lapar. Habis itu mandi. Ali akan mengajakmu jalan-jalan.”
“Tuan Ali? Apa tidak salah?”kata Delina sambil
menggigit roti bakar hangat.
“Ya. Ali mau berkeliling melihat perubahan di kota
ini. Tapi aku gak bisa nemenin dia. Kamu tolong temani dia ya.”
“Tapi saya juga gak terlalu tahu kota ini, tuan...
hubby.”kata Delina.
“Ali tahu. Dia hanya perlu seseorang menemaninya.
kalau dia nakal, okey.”
“Okey, hubby.”
Delina beranjak mandi setelah sarapannya habis.
Lagi-lagi lupa mengecek handuk. Kevin mengetuk pintu kamar mandi.
“Delina, ini handuknya. Buka pintu.”pinta Kevin.
Delina membuka pintu kamar mandi dan mengulurkan
tangannya. Kevin memberikan handuk sambil tersenyum pada Delina.
“Keluarlah. Aku mau ke toilet. Kebelet.”
Delina melilitkan handuk itu ke tubuhnya, ia
memakai kerudungnya lagi dan berjalan keluar kamar mandi. Kevin menahan dirinya
yang sangat ingin memeluk Delina yang cantik.
Setelah memakai pakaiannya dan membawa tas kecilnya
yang berisi dompet dan ponsel, Delina keluar dari kamar. Ia melihat Ali sudah
menunggu di ruang tengah.
“Pagi, kakak ipar. Sudah siap pergi denganku?”tanya
Ali.
“Kita mau kemana, tuan?”tanya Delina sambil
celingukan mencari Kevin.
Ali memperhatikan penampilan Delina yang memang
kampungan, “Aku mau jalan-jalan, kak. Tapi tolong jangan panggil aku tuan.
Cukup Ali saja ya.”
“Ya, panggil dia Ali kuper. Hahaha.”ejek Kevin yang
muncul dari lantai 2.
“Kak! Aku udah gak kuper lagi. Lihat penampilanku
__ADS_1
sekarang sudah keren kan?”tanya Ali yang diabaikan Kevin.
Delina mengulurkan tangannya pada Kevin yang
memberikan sebuah kartu berwarna hitam padanya.
“Bukan ini, hubby. Salim...”kata Delina sambil
menyerahkan kembali kartu itu pada Kevin.
Kevin menolak kartu itu, ia mengeluarkan segepok
uang tunai untuk Delina juga, “Pakai itu kalau kamu mau belanja, Delina. Sama
ini.”
Delina hampir menolak lagi, tapi Kevin segera
mengulurkan tangannya agar Delina bisa salim tangan. Dan memberi kode pada Ali
untuk membawa Delina keluar.
“Ayo, kita berangkat. Sampai jumpa, kak.”
Ali membawa Delina ke sebuah butik sebagai
permulaan. Pelayan butik itu mengkerutkan keningnya melihat penampilan Delina
yang masuk lebih dulu.
“Mau apa anda kesini? Disini tidak menjual kelas
pakaian seperti yang anda pakai.”ketus pelayan itu.
“Saya hanya menemani tuan Ali saja.”
“Cepat keluar. Nanti pakaian disini kotor.”usir
pelayan itu pada Delina.
Ali yang merasa pelayan itu tidak memperlakukan
Delina dengan baik, jadi malas belanja. Pelayan yang tadi mengusir Delina,
dengan cepat merubah ekspresinya ketika melihat Ali.
“Ada yang bisa saya bantu, tuan?”tanya pelayan pada
Ali.
“Kakak ipar, apa kakak suka baju-baju disini?”tanya
Ali sedikit keras.
Ali mengambil satu dan mendekatkannya pada Delina. ”Tidak
cocok.” Ia melempar baju itu ke atas sofa yang terletak disana. Ali mengambil
lagi baju yang lain dan kembali mengatakan tidak cocok untuk Delina. Terus
begitu sampai Delina menghentikannya.
“Sudah cukup, Ali. Jangan buat keributan.”pinta
Delina.
Manager butik yang melihat keributan itu segera
datang dan meminta maaf pada Ali dan Delina.
“Mohon maafkan kami, tuan dan nyonya. Mohon jangan
membuat toko kami berantakan.”kata manajer itu dengan sopan.
“Aku kesini ingin membeli pakaian untuk nyonya ini.
Tapi pelayan disini malah mengusirnya. Apa pantas butik terkenal seperti ini
memperlakukan tamu dengan tidak hormat hanya gara-gara penampilannya.”handik
Ali kesal.
“Mohon maafkan kami, tuan. Saya yang akan melayani
nyonya ini sendiri. Silakan duduk, tuan dan nyonya.”
Manager butik memerintahkan semua pelayan yang
tidak sibuk, membereskan kekacauan yang dibuat Ali tadi. Manager butik
menanyakan pakaian seperti apa yang diinginkan Delina tapi Delina menggeleng.
“Ali, saya tidak mau membeli baju. Kenapa Ali mengajak
saya kesini?”
*****
Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel
__ADS_1
saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.