Penjahit Hati

Penjahit Hati
Episode 110


__ADS_3

“Sayang, kapan dia akan lahir?”tanya Kevin mengelus


perut besar Delina.


“Bulan depan, hubby.”jawab Delina.


Keduanya sudah selesai bertangis-tangisan dan


sedang berbaring diatas tempat tidur saling berpelukan. Kevin merasakan gerakan


bayinya, ia tersenyum girang. Wajahnya yang kini ditumbuhi kumis tipis dan


jambang itu bergerak mendekati perut Delina.


“Yank, dia gerak-gerak. Apa dulu Armando juga


begini?”tanya Kevin pada Delina yang kembali tertidur pulas.


Kevin tersenyum lebar, ia mengecup perut Delina.


Tok, tok, tok. Riana melongok dari pintu yang tidak terkunci. “Apa kalian sudah


selesai ngobrolnya? Makan siangnya sudah siap.”


“Ssstt.... Delina lagi tidur. Riana, sini sebentar.


Bisa tolong cek Delina. Sepertinya dia kelelahan.”bisik Kevin.


Riana mengangguk, ia keluar lagi mengambil


stetoskop dan tensimeter. Pelan-pelan Kevin menggeser tangan Delina agar Riana


bisa mengecek tensinya.


“Ach, kenapa begini?”kata Riana setelah mengecek


kondisi Delina. Kevin menatap Riana, menanyakan apa yang terjadi dengan Delina.


Riana mengatakan kalau tekanan darah Delina tidak senormal biasanya. “Sepertinya


Delina kelelahan, Vin. Beban yang ia bawa selama beberapa bulan ini seperti


menumpuk, mengganggu keseimbangan tubuhnya.”


Riana berpikir sejenak, ia harus bicara dengan


dokter kandungan Delina dan juga Ali. Kevin membiarkan Riana pergi meninggalkan


dirinya dan Delina berdua saja.


“Sayang...”panggil Kevin mencoba membangunkan Delina.


Delina menggeliat sebentar, berbalik membelakangi


Kevin lalu melanjutkan tidurnya. Kevin bangkit dari sisi Delina, ia keluar


kamar untuk mengambil makan siang untuk mereka berdua. Kevin juga menambahkan


segelas susu dan jus segar. Tak lupa potongan buah segar untuk pencuci mulut.


Ketika Kevin kembali ke kamar, ia melihat Delina


hampir turun dari tempat tidur.


“Sayang, kamu sudah bangun.”kata Kevin.


“Hubby, kemana tadi?”tanya Delina menangis seperti


anak kecil.


Kevin meletakkan nampan di atas meja sofa. Ia


mendekati Delina, lalu berlutut di depannya. “Sayang, aku mengambil makanan


untuk kita. Maafkan aku, Delina. Aku yang bersalah.”kata Kevin cemas.


Dipeluknya tubuh Delina untuk menenangkan istrinya itu. Tak terasa air mata


Kevin juga ikut mengalir membasahi pipinya.


Kevin tidak bisa membayangkan bagaimana Delina


melewati beberapa bulan ini dalam kondisi mengandung, mengurus dua anak balita


dan juga perusahaan Alvin. Ia  menatap


wajah Delina yang basah air mata. Kevin mengusap air mata Delina, “Sayang,

__ADS_1


semuanya akan kembali seperti dulu. Aku janji.”


“Kamu saja harus sembunyi, hubby. Ayah dan ibu


juga. Bagaimana semuanya kembali seperti semula?”tanya Delina tiba-tiba bad


mood.


Delina mengusir Kevin keluar dari kamar itu dan


saat Kevin memaksa tetap tinggal, Delina bangkit berdiri. Kevin menenangkan Delina,


ia mengalah lalu keluar dari kamar itu tepat saat Alvin kembali kesana.


“Ada apa, Vin? Kenapa kamu diluar kamar?”tanya


Alvin heran.


“Delina mengusirku, yah. Ayah tolong bujuk dia.


Delina ngambek tuch. Dia sudah lelah mengurus semuanya sendiri, yah.”pinta


Kevin mendorong ayahnya masuk ke dalam kamar.


Alvin berdiri di depan pintu kamar, ia ingin keluar


lagi tapi memilih menemui Delina. “Ina....”panggil Alvin.


“Ayah mau pergi lagi?”tanya Delina dengan mata


berkaca-kaca dan bibir bawah maju mirip anak kucing kesasar.


Pandangan imut yang langsung menusuk hati Alvin itu


membuat mertua Delina langsung menggeleng cepat. Ia mengeluarkan ponselnya


menelpon pengacara Juni agar secepatnya datang ke rumah Riana sambil membawa


dokumen pemindahan jabatan dan aset.


Alvin juga menelpon Amira agar datang ke rumah


Riana untuk membujuk Delina. Sambil menunggu, Alvin menyodorkan sesendok nasi


dan lauk pada Delina, “Makan dulu, Ina. Pengacara ayah akan segera datang.


Sambil nunggu, kamu makan dulu ya.”


ditekuk tetap cemberut meskipun Alvin tersenyum manis di depannya. Kevin yang


mengintip dari balik pintu, bernafas lega melihat Delina mau makan. Delina


sempat melirik Kevin yang tersenyum manis berharap akan diundang masuk, tapi


Delina malah meminta Alvin menutup pintu kamar itu.


Pengacara Juni yang tiba dengan cepat, menatap


bingung sosok Kevin yang jongkok di depan pintu kamar mirip anak hilang. Saat


Kevin mendongak, pengacara Juni menepuk kedua lengannya.


“Tuan muda! Akhirnya kau pulang! Kau kemana saja?!”seru


pengacara Juni yang terdengar oleh Alvin.


Alvin membuka pintu kamar itu, tampak Delina sedang


duduk bersandar di sofa dengan perut buncitnya. Ia kekenyangan setelah


menghabiskan makanan yang dibawa Kevin.


“Ina lihat, pengacara Juni sudah datang.”kata


Alvin.


Delina segera mengulurkan tangannya minta pulpen


untuk tanda tangan. Ia ingin segera pulang ke mansion. Pengacara Juni datang


bersama stafnya yang membawa printer dan laptop. Ia membacakan dengan cepat


surat pengalihan jabatan direktur dan juga pengalihan saham Delina kembali


kepada Alvin.


Belum selesai pengacara itu bicara, Alvin mengangkat

__ADS_1


tangannya. “Ayah ingin kamu tetap jadi pemegang saham terbesar, Ina. Ayah akan


mengambil alih jabatan direktur lagi dan Kevin akan jadi wakil ayah. Ayah


janji, semua urusan perusahaan akan ayah tangani bersama Kevin. Kamu bisa fokus


mengurus dirimu dan anak-anak.”


“Yah, dia juga harus mengurusku.”sambung Kevin yang


masih dihukum berdiri di depan pintu.


Delina menahan senyumnya melihat ekspresi memelas


Kevin. Ia masih kesal karena suaminya itu menghilang tanpa mengabarinya. “Yank,


sampai kapan aku harus berdiri disini? Kakiku sakit, yank.”rengek Kevin yang


sangat manja pada Delina.


“Siapa suruh sembunyi tapi nggak ngasih tau aku.”saut


Delina membuang muka.


“Inikan rencana ayah! Ayah....”panggil Kevin, tapi


Alvin sedang bicara dengan pengacara Juni.


Kevin melengos duduk di lantai di depan pintu kamar


itu. Badan besarnya menutupi pintu keluar dari siapapun termasuk pelayan yang


datang membawakan minuman untuk mereka semua.


Gruk! Suara perut Kevin membuat Delina menoleh.


Pria itu tampak tidak peduli kalau dirinya belum makan siang. Delina


membisikkan sesuatu pada pelayan yang langsung mengangguk.


“Ina, ini surat pengalihan jabatan direktur, tanda


tangan dulu. Untuk aset ayah dan juga saham nggak usah dialihkan ya. Nantinya semua


itu akan jadi milik kamu dan juga Dodo.”kata Alvin.


“Tapi Emilia gimana, yah? Anak ini juga. Ibu juga


apa tidak keberatan?”kata Delina sambil mengelus perutnya.


“Kita akan memutuskannya setelah anak-anak kalian


semua siap bekerja. Tapi untuk saat ini ayah hanya setuju kepemilikan aset dan


saham atas nama kamu dan Dodo.”lanjut Alvin.


Delina terpaksa menandatangani surat pengalihan


jabatan itu. Padahal ia ingin semuanya kembali ke tangan Alvin. Sudah lama


sekali ia ingin duduk tenang sambil menggambar sketsa kebaya yang banyak.


Setelah selesai tanda tangan, pelayan datang


membawa makanan lagi. Alvin hampir bertanya apa Delina mau makan lagi ketika


menantunya itu memanggil Kevin.


“Hubby, makan dulu.”panggil Delina.


“Iya.”saut Kevin seperti anak anjing yang sedang


menggoyangkan ekornya.


Alvin tidak bisa menahan tawanya melihat hal itu.


Ia geleng-geleng kepala dengan tingkah menantu dan putranya ketika Delina


menyuapi Kevin makan. Amira yang baru datang langsung di kejar Delina untuk


membujuk Alvin mengambil kembali semua aset dan sahamnya.


*****


Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel


saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.

__ADS_1


Visual Riana



__ADS_2