
“Sayang, kapan dia akan lahir?”tanya Kevin mengelus
perut besar Delina.
“Bulan depan, hubby.”jawab Delina.
Keduanya sudah selesai bertangis-tangisan dan
sedang berbaring diatas tempat tidur saling berpelukan. Kevin merasakan gerakan
bayinya, ia tersenyum girang. Wajahnya yang kini ditumbuhi kumis tipis dan
jambang itu bergerak mendekati perut Delina.
“Yank, dia gerak-gerak. Apa dulu Armando juga
begini?”tanya Kevin pada Delina yang kembali tertidur pulas.
Kevin tersenyum lebar, ia mengecup perut Delina.
Tok, tok, tok. Riana melongok dari pintu yang tidak terkunci. “Apa kalian sudah
selesai ngobrolnya? Makan siangnya sudah siap.”
“Ssstt.... Delina lagi tidur. Riana, sini sebentar.
Bisa tolong cek Delina. Sepertinya dia kelelahan.”bisik Kevin.
Riana mengangguk, ia keluar lagi mengambil
stetoskop dan tensimeter. Pelan-pelan Kevin menggeser tangan Delina agar Riana
bisa mengecek tensinya.
“Ach, kenapa begini?”kata Riana setelah mengecek
kondisi Delina. Kevin menatap Riana, menanyakan apa yang terjadi dengan Delina.
Riana mengatakan kalau tekanan darah Delina tidak senormal biasanya. “Sepertinya
Delina kelelahan, Vin. Beban yang ia bawa selama beberapa bulan ini seperti
menumpuk, mengganggu keseimbangan tubuhnya.”
Riana berpikir sejenak, ia harus bicara dengan
dokter kandungan Delina dan juga Ali. Kevin membiarkan Riana pergi meninggalkan
dirinya dan Delina berdua saja.
“Sayang...”panggil Kevin mencoba membangunkan Delina.
Delina menggeliat sebentar, berbalik membelakangi
Kevin lalu melanjutkan tidurnya. Kevin bangkit dari sisi Delina, ia keluar
kamar untuk mengambil makan siang untuk mereka berdua. Kevin juga menambahkan
segelas susu dan jus segar. Tak lupa potongan buah segar untuk pencuci mulut.
Ketika Kevin kembali ke kamar, ia melihat Delina
hampir turun dari tempat tidur.
“Sayang, kamu sudah bangun.”kata Kevin.
“Hubby, kemana tadi?”tanya Delina menangis seperti
anak kecil.
Kevin meletakkan nampan di atas meja sofa. Ia
mendekati Delina, lalu berlutut di depannya. “Sayang, aku mengambil makanan
untuk kita. Maafkan aku, Delina. Aku yang bersalah.”kata Kevin cemas.
Dipeluknya tubuh Delina untuk menenangkan istrinya itu. Tak terasa air mata
Kevin juga ikut mengalir membasahi pipinya.
Kevin tidak bisa membayangkan bagaimana Delina
melewati beberapa bulan ini dalam kondisi mengandung, mengurus dua anak balita
dan juga perusahaan Alvin. Ia menatap
wajah Delina yang basah air mata. Kevin mengusap air mata Delina, “Sayang,
__ADS_1
semuanya akan kembali seperti dulu. Aku janji.”
“Kamu saja harus sembunyi, hubby. Ayah dan ibu
juga. Bagaimana semuanya kembali seperti semula?”tanya Delina tiba-tiba bad
mood.
Delina mengusir Kevin keluar dari kamar itu dan
saat Kevin memaksa tetap tinggal, Delina bangkit berdiri. Kevin menenangkan Delina,
ia mengalah lalu keluar dari kamar itu tepat saat Alvin kembali kesana.
“Ada apa, Vin? Kenapa kamu diluar kamar?”tanya
Alvin heran.
“Delina mengusirku, yah. Ayah tolong bujuk dia.
Delina ngambek tuch. Dia sudah lelah mengurus semuanya sendiri, yah.”pinta
Kevin mendorong ayahnya masuk ke dalam kamar.
Alvin berdiri di depan pintu kamar, ia ingin keluar
lagi tapi memilih menemui Delina. “Ina....”panggil Alvin.
“Ayah mau pergi lagi?”tanya Delina dengan mata
berkaca-kaca dan bibir bawah maju mirip anak kucing kesasar.
Pandangan imut yang langsung menusuk hati Alvin itu
membuat mertua Delina langsung menggeleng cepat. Ia mengeluarkan ponselnya
menelpon pengacara Juni agar secepatnya datang ke rumah Riana sambil membawa
dokumen pemindahan jabatan dan aset.
Alvin juga menelpon Amira agar datang ke rumah
Riana untuk membujuk Delina. Sambil menunggu, Alvin menyodorkan sesendok nasi
dan lauk pada Delina, “Makan dulu, Ina. Pengacara ayah akan segera datang.
Sambil nunggu, kamu makan dulu ya.”
ditekuk tetap cemberut meskipun Alvin tersenyum manis di depannya. Kevin yang
mengintip dari balik pintu, bernafas lega melihat Delina mau makan. Delina
sempat melirik Kevin yang tersenyum manis berharap akan diundang masuk, tapi
Delina malah meminta Alvin menutup pintu kamar itu.
Pengacara Juni yang tiba dengan cepat, menatap
bingung sosok Kevin yang jongkok di depan pintu kamar mirip anak hilang. Saat
Kevin mendongak, pengacara Juni menepuk kedua lengannya.
“Tuan muda! Akhirnya kau pulang! Kau kemana saja?!”seru
pengacara Juni yang terdengar oleh Alvin.
Alvin membuka pintu kamar itu, tampak Delina sedang
duduk bersandar di sofa dengan perut buncitnya. Ia kekenyangan setelah
menghabiskan makanan yang dibawa Kevin.
“Ina lihat, pengacara Juni sudah datang.”kata
Alvin.
Delina segera mengulurkan tangannya minta pulpen
untuk tanda tangan. Ia ingin segera pulang ke mansion. Pengacara Juni datang
bersama stafnya yang membawa printer dan laptop. Ia membacakan dengan cepat
surat pengalihan jabatan direktur dan juga pengalihan saham Delina kembali
kepada Alvin.
Belum selesai pengacara itu bicara, Alvin mengangkat
__ADS_1
tangannya. “Ayah ingin kamu tetap jadi pemegang saham terbesar, Ina. Ayah akan
mengambil alih jabatan direktur lagi dan Kevin akan jadi wakil ayah. Ayah
janji, semua urusan perusahaan akan ayah tangani bersama Kevin. Kamu bisa fokus
mengurus dirimu dan anak-anak.”
“Yah, dia juga harus mengurusku.”sambung Kevin yang
masih dihukum berdiri di depan pintu.
Delina menahan senyumnya melihat ekspresi memelas
Kevin. Ia masih kesal karena suaminya itu menghilang tanpa mengabarinya. “Yank,
sampai kapan aku harus berdiri disini? Kakiku sakit, yank.”rengek Kevin yang
sangat manja pada Delina.
“Siapa suruh sembunyi tapi nggak ngasih tau aku.”saut
Delina membuang muka.
“Inikan rencana ayah! Ayah....”panggil Kevin, tapi
Alvin sedang bicara dengan pengacara Juni.
Kevin melengos duduk di lantai di depan pintu kamar
itu. Badan besarnya menutupi pintu keluar dari siapapun termasuk pelayan yang
datang membawakan minuman untuk mereka semua.
Gruk! Suara perut Kevin membuat Delina menoleh.
Pria itu tampak tidak peduli kalau dirinya belum makan siang. Delina
membisikkan sesuatu pada pelayan yang langsung mengangguk.
“Ina, ini surat pengalihan jabatan direktur, tanda
tangan dulu. Untuk aset ayah dan juga saham nggak usah dialihkan ya. Nantinya semua
itu akan jadi milik kamu dan juga Dodo.”kata Alvin.
“Tapi Emilia gimana, yah? Anak ini juga. Ibu juga
apa tidak keberatan?”kata Delina sambil mengelus perutnya.
“Kita akan memutuskannya setelah anak-anak kalian
semua siap bekerja. Tapi untuk saat ini ayah hanya setuju kepemilikan aset dan
saham atas nama kamu dan Dodo.”lanjut Alvin.
Delina terpaksa menandatangani surat pengalihan
jabatan itu. Padahal ia ingin semuanya kembali ke tangan Alvin. Sudah lama
sekali ia ingin duduk tenang sambil menggambar sketsa kebaya yang banyak.
Setelah selesai tanda tangan, pelayan datang
membawa makanan lagi. Alvin hampir bertanya apa Delina mau makan lagi ketika
menantunya itu memanggil Kevin.
“Hubby, makan dulu.”panggil Delina.
“Iya.”saut Kevin seperti anak anjing yang sedang
menggoyangkan ekornya.
Alvin tidak bisa menahan tawanya melihat hal itu.
Ia geleng-geleng kepala dengan tingkah menantu dan putranya ketika Delina
menyuapi Kevin makan. Amira yang baru datang langsung di kejar Delina untuk
membujuk Alvin mengambil kembali semua aset dan sahamnya.
*****
Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel
saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.
__ADS_1
Visual Riana