
“Apa kau sudah mandi, Delina?”
“Iya, hubby. Mana bajuku?”
Kevin menelan salivanya melihat tubuh Delina yang
minim penutup. Ia masih ingin melihat ekspresi wajah Delina yang merona merah. “Hubby?”
Kevin tersadar, ia menyodorkan tas yang diberikan
Ali tadi pada Delina. “Mbak Sri yang nitip karena kamu nginep sini.”
Delina menerima tas itu dan membuka isinya. Ada
pakaian Delina disana. “Hubby gak mandi? Aku mau pakai baju dulu.”
Kevin melangkah gontai masuk ke kamar mandi. Ia
masih ingin menatap Delina tapi memilih menuruti kata-kata istrinya itu. Selesai
Delina berpakaian, Kevin juga selesai mandi. Pakaian Kevin sudah siap diatas
tempat tidur. Ia memakainya sambil menatap Delina yang sedang menyisir rambut
panjangnya.
Sinar matahari pagi menyinari kamar Kevin, Delina
yang duduk di depan meja rias tampak bersinar berlatar belakang sinar matahari
keemasan. “Hubby, kenapa bengong? Ayo, sarapan dulu.”
Delina hampir berjalan keluar dari kamar, tapi
Kevin menghalangi jalannya. “Hubby, minggir.”
“Delina, boleh minta cium lagi?”
“Hubby mulai banyak permintaan ya. Ali udah nunggu
diluar. Nanti malem aja. Sekarang ini dulu.”Delina mendekat pada Kevin dan
mencium pipinya hingga membuat Kevin merona.
*”Hihi, lucu dech mukanya Kevin ampe merah gitu.”
Mereka keluar dari kamar dan melihat sarapan sudah
terhidang di piring. Ali menatap wajah keduanya yang terlihat merona. “Pagi,
kak, kakak ipar. Sarapan sudah siap.” Delina hanya mengangguk pada Ali, ia
berjalan ke tempat jemuran pakaiannya dan melipat baju itu dengan rapi.
Mereka sarapan dalam diam yang sangat canggung. Entah
apa yang ada dipikiran Kevin saat ia ingin mengambil roti lagi, tangannya malah
menarik tangan Delina. “Hubby? Kenapa?”
“Ach, maaf. Aku salfok, ambilin roti lagi.”
Ali senyum-senyum melihat pasangan pengantin baru
di depannya. “Kakak ipar habis ini mau pulang atau ke kantor kakak?”
“Ngapain aku ke kantor hubby?”
“Daripada diem dirumah aja, kan. Sesekali keluar
gitu. Ntar jamuran loh, kakak ipar.”
“Aku dirumah kan sibuk jahit kebaya Ny.Amira, Ali.
Sama buatin cemilan buat tuan besar. Gak diem aja.”
“Ikut ke kantorku ya. Siapa tahu kamu dapet
inspirasi buat sketsa kebaya.”bujuk Kevin.
Delina tetap menolak karena tidak ingin orang di
kantor Kevin mengenalnya sebagai istri Kevin. Belum lagi apa nanti kata Alvin kalau
melihatnya ada disana. Akhirnya Delina pulang bersama Ali, sementara Kevin
__ADS_1
lanjut ke kantornya.
Sore hari seperti biasa, Delina sedang membuatkan cemilan
untuk Alvin dan Kevin. Tiba-tiba ia mendengar jeritan Agnes yang berlari
menuruni tangga. Ali tampak mengejarnya dari belakang.
“Kau! Jangan mengejarku! Pergi sana!”Agnes masuk ke
dapur, bersembunyi di belakang Delina yang tangannya masih belepotan adonan
tepung. “Delina, usir dia!”teriak Agnes saat melihat Ali mengikutinya masuk ke
dapur.
“Nona, ada apa ini? Ali, jangan dekat-dekat.”
“Dia, laki-laki mesum! Tadi dia hampir menciumku,
Delina. Usir dia!”
Delina menatap Ali yang menyeringai mesum melihat
Agnes yang gemetar di belakang tubuh Delina. “Aku kan cuma nanya, boleh cium
gak? Tinggal jawab aja, malah aku dikatai mesum.”
Ali masih menatap tubuh Agnes yang saat itu memakai
tank top dan celana mini.
”Galak, cantik, dan seksi banget. Aku benar-benar
ingin menciumnya.”
Delina melihat arah pandangan mata Ali dan
menyuruhnya keluar dari dapur. “Ali, keluar sana. Jangan melihat Agnes seperti
itu.” Delina terpaksa menghentikan pekerjaannya, ia mencuci tangannya dan
menuntun Agnes kembali ke kamarnya.
“Nona, sudah aman. Mungkin Ali melihat pakaian nona
“Aku memang begini kalau di dalam kamar, tapi gak
nyangka dia masuk gitu aja tadi. Aku lupa kunci pintu.”
“Ya, sudah. Saya balik ke dapur lagi ya, nona.”
“Delina, tunggu. Aku mau mandi dulu, kamu bisa
nungguin gak? Aku takut dia masuk lagi.”
“Nona, kunci saja pintu kamarnya. Nanti saya kesini
lagi habis masak cemilan ya.”
Agnes hanya mengangguk, Delina keluar dari kamar
Agnes dan mereka sempat melihat Ali berdiri tak jauh dari sana. “Tuch, kan. Dia
kesini lagi.” Agnes menutup pintu kamarnya dan langsung menguncinya.
Delina menyuruh Ali ikut dengannya ke dapur. “Ali,
kamu gak boleh seperti itu. Anak gadis gak boleh dipegang-pegang sembarangan.”
“Aku suka dia, kakak ipar. Lagian aku gak
pegang-pegang, ia aja yang parno.”
Delina kembali melanjutkan membuat cemilan berupa
pizza itu. Bahan isiannya ia pakai lain daripada yang lain. Ada yang isi pare,
daging, sosis, wortel, paprika dan juga keju. Ali jadi penasaran dengan rasa
pizza buatan Delina.
Ketika sudah hampir matang, Alvin pulang dari
kantor bersama Kevin. Alvin melirik Kevin yang kembali seperti biasanya.
__ADS_1
*”Sepertinya masalah mereka sudah selesai.”*
“Ina, mana cemilanku? Kopi juga. Hari ini
benar-benar sangat melelahkan.”
“Sebentar, tuan besar. Ini kopinya.”
Oven berbunyi tanda pizza sudah matang. Delina
menghidangkan pizza itu di depan Alvin. “Tuan besar, yang ini ada parenya. Kalau
tuan tidak suka pare, bisa ambil yang bagian lainnya.”
“Parenya pait gak?”tanya Kevin.
“Nggak, hubby. Berani coba?”
Kevin yang gengsi ditantang Delina, menerima
tantangan itu dan langsung menggigit pizza pare. Alvin dan Ali menatap ekspresi
Kevin yang sedikit berkerut dan langsung berubah menjadi ekspresi lega. “Wah,
enak. Gak terasa pahit.”
Mereka bertiga berebut pizza pare dan menghabiskan
semuanya. Amira yang baru datang cuma kebagian remah-remahnya saja. Delina
tidak membuat lagi karena makan malam yang sedang dimasak, sudah hampir siap.
Delina menyiapkan air mandi untuk Kevin. Ia sudah
mandi lebih dulu, tinggal memakai pakaiannya saja. “Delina! Kamu sudah selesai?”
Delina membuka pintu kamar mandi mendengar teriakan
Kevin. “Kamu... keramas.” Kevin menelan salivanya melihat leher Delina yang
basah. “Delina, boleh aku cium?” Melihat Delina mengangguk, Kevin mendekat
perlahan, menutup pintu kamar mandi di belakangnya dan meraih pinggang Delina.
Bibir ranum Delina selalu berwarna pink alami,
seperti candu bagi Kevin. Delina berpegangan pada bahu Kevin saat tubuhnya
tiba-tiba terangkat ke wastafel.
“Kevin!”Delina terkejut sendiri mendengar dirinya
memanggil nama Kevin.
“Katakan lagi. Panggil namaku. Cepat!”
Kevin hampir gila mendengar suara lembut Delina
memanggil namanya. Ia tidak bisa menguasai dirinya lagi. Delina merasakan
ciuman Kevin kali ini berbeda. Ciuman yang panas dan menuntut. Kevin tidak memberikan
jeda untuk Delina bisa mengambil nafas.
Sebuah ketukan tidak sabaran terdengar dari pintu
kamar Kevin. Tapi Kevin tidak menghiraukannya, ia masih terhanyut mencium
istrinya. Saat ketukan itu berubah jadi gedoran keras di pintu kamar mandi dan
terdengar teriakan Agnes, Delina mendorong Kevin untuk melepas ciuman mereka.
“Itu nona Agnes. Hubby, tolong turunkan aku.”
*”Shit! Ganggu banget sich!”*
Kevin membuka pintu dan Agnes langsung menghambur
ke pelukannya. “Kevin, tolong aku.”
“Ada apa?!”
*****
“Ada author yang ngejar-ngejar minta vote dan like.”
__ADS_1
Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel
saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.