Penjahit Hati

Penjahit Hati
Episode 54


__ADS_3

“Apa kau sudah mandi, Delina?”


“Iya, hubby. Mana bajuku?”


Kevin menelan salivanya melihat tubuh Delina yang


minim penutup. Ia masih ingin melihat ekspresi wajah Delina yang merona merah. “Hubby?”


Kevin tersadar, ia menyodorkan tas yang diberikan


Ali tadi pada Delina. “Mbak Sri yang nitip karena kamu nginep sini.”


Delina menerima tas itu dan membuka isinya. Ada


pakaian Delina disana. “Hubby gak mandi? Aku mau pakai baju dulu.”


Kevin melangkah gontai masuk ke kamar mandi. Ia


masih ingin menatap Delina tapi memilih menuruti kata-kata istrinya itu. Selesai


Delina berpakaian, Kevin juga selesai mandi. Pakaian Kevin sudah siap diatas


tempat tidur. Ia memakainya sambil menatap Delina yang sedang menyisir rambut


panjangnya.


Sinar matahari pagi menyinari kamar Kevin, Delina


yang duduk di depan meja rias tampak bersinar berlatar belakang sinar matahari


keemasan. “Hubby, kenapa bengong? Ayo, sarapan dulu.”


Delina hampir berjalan keluar dari kamar, tapi


Kevin menghalangi jalannya. “Hubby, minggir.”


“Delina, boleh minta cium lagi?”


“Hubby mulai banyak permintaan ya. Ali udah nunggu


diluar. Nanti malem aja. Sekarang ini dulu.”Delina mendekat pada Kevin dan


mencium pipinya hingga membuat Kevin merona.


*”Hihi, lucu dech mukanya Kevin ampe merah gitu.”


Mereka keluar dari kamar dan melihat sarapan sudah


terhidang di piring. Ali menatap wajah keduanya yang terlihat merona. “Pagi,


kak, kakak ipar. Sarapan sudah siap.” Delina hanya mengangguk pada Ali, ia


berjalan ke tempat jemuran pakaiannya dan melipat baju itu dengan rapi.


Mereka sarapan dalam diam yang sangat canggung. Entah


apa yang ada dipikiran Kevin saat ia ingin mengambil roti lagi, tangannya malah


menarik tangan Delina. “Hubby? Kenapa?”


“Ach, maaf. Aku salfok, ambilin roti lagi.”


Ali senyum-senyum melihat pasangan pengantin baru


di depannya. “Kakak ipar habis ini mau pulang atau ke kantor kakak?”


“Ngapain aku ke kantor hubby?”


“Daripada diem dirumah aja, kan. Sesekali keluar


gitu. Ntar jamuran loh, kakak ipar.”


“Aku dirumah kan sibuk jahit kebaya Ny.Amira, Ali.


Sama buatin cemilan buat tuan besar. Gak diem aja.”


“Ikut ke kantorku ya. Siapa tahu kamu dapet


inspirasi buat sketsa kebaya.”bujuk Kevin.


Delina tetap menolak karena tidak ingin orang di


kantor Kevin mengenalnya sebagai istri Kevin. Belum lagi apa nanti kata Alvin kalau


melihatnya ada disana. Akhirnya Delina pulang bersama Ali, sementara Kevin

__ADS_1


lanjut ke kantornya.


Sore hari seperti biasa, Delina sedang membuatkan cemilan


untuk Alvin dan Kevin. Tiba-tiba ia mendengar jeritan Agnes yang berlari


menuruni tangga. Ali tampak mengejarnya dari belakang.


“Kau! Jangan mengejarku! Pergi sana!”Agnes masuk ke


dapur, bersembunyi di belakang Delina yang tangannya masih belepotan adonan


tepung. “Delina, usir dia!”teriak Agnes saat melihat Ali mengikutinya masuk ke


dapur.


“Nona, ada apa ini? Ali, jangan dekat-dekat.”


“Dia, laki-laki mesum! Tadi dia hampir menciumku,


Delina. Usir dia!”


Delina menatap Ali yang menyeringai mesum melihat


Agnes yang gemetar di belakang tubuh Delina. “Aku kan cuma nanya, boleh cium


gak? Tinggal jawab aja, malah aku dikatai mesum.”


Ali masih menatap tubuh Agnes yang saat itu memakai


tank top dan celana mini.


”Galak, cantik, dan seksi banget. Aku benar-benar


ingin menciumnya.”


Delina melihat arah pandangan mata Ali dan


menyuruhnya keluar dari dapur. “Ali, keluar sana. Jangan melihat Agnes seperti


itu.” Delina terpaksa menghentikan pekerjaannya, ia mencuci tangannya dan


menuntun Agnes kembali ke kamarnya.


“Nona, sudah aman. Mungkin Ali melihat pakaian nona


“Aku memang begini kalau di dalam kamar, tapi gak


nyangka dia masuk gitu aja tadi. Aku lupa kunci pintu.”


“Ya, sudah. Saya balik ke dapur lagi ya, nona.”


“Delina, tunggu. Aku mau mandi dulu, kamu bisa


nungguin gak? Aku takut dia masuk lagi.”


“Nona, kunci saja pintu kamarnya. Nanti saya kesini


lagi habis masak cemilan ya.”


Agnes hanya mengangguk, Delina keluar dari kamar


Agnes dan mereka sempat melihat Ali berdiri tak jauh dari sana. “Tuch, kan. Dia


kesini lagi.” Agnes menutup pintu kamarnya dan langsung menguncinya.


Delina menyuruh Ali ikut dengannya ke dapur. “Ali,


kamu gak boleh seperti itu. Anak gadis gak boleh dipegang-pegang sembarangan.”


“Aku suka dia, kakak ipar. Lagian aku gak


pegang-pegang, ia aja yang parno.”


Delina kembali melanjutkan membuat cemilan berupa


pizza itu. Bahan isiannya ia pakai lain daripada yang lain. Ada yang isi pare,


daging, sosis, wortel, paprika dan juga keju. Ali jadi penasaran dengan rasa


pizza buatan Delina.


Ketika sudah hampir matang, Alvin pulang dari


kantor bersama Kevin. Alvin melirik Kevin yang kembali seperti biasanya.

__ADS_1


*”Sepertinya masalah mereka sudah selesai.”*


“Ina, mana cemilanku? Kopi juga. Hari ini


benar-benar sangat melelahkan.”


“Sebentar, tuan besar. Ini kopinya.”


Oven berbunyi tanda pizza sudah matang. Delina


menghidangkan pizza itu di depan Alvin. “Tuan besar, yang ini ada parenya. Kalau


tuan tidak suka pare, bisa ambil yang bagian lainnya.”


“Parenya pait gak?”tanya Kevin.


“Nggak, hubby. Berani coba?”


Kevin yang gengsi ditantang Delina, menerima


tantangan itu dan langsung menggigit pizza pare. Alvin dan Ali menatap ekspresi


Kevin yang sedikit berkerut dan langsung berubah menjadi ekspresi lega. “Wah,


enak. Gak terasa pahit.”


Mereka bertiga berebut pizza pare dan menghabiskan


semuanya. Amira yang baru datang cuma kebagian remah-remahnya saja. Delina


tidak membuat lagi karena makan malam yang sedang dimasak, sudah hampir siap.


Delina menyiapkan air mandi untuk Kevin. Ia sudah


mandi lebih dulu, tinggal memakai pakaiannya saja. “Delina! Kamu sudah selesai?”


Delina membuka pintu kamar mandi mendengar teriakan


Kevin. “Kamu... keramas.” Kevin menelan salivanya melihat leher Delina yang


basah. “Delina, boleh aku cium?” Melihat Delina mengangguk, Kevin mendekat


perlahan, menutup pintu kamar mandi di belakangnya dan meraih pinggang Delina.


Bibir ranum Delina selalu berwarna pink alami,


seperti candu bagi Kevin. Delina berpegangan pada bahu Kevin saat tubuhnya


tiba-tiba terangkat ke wastafel.


“Kevin!”Delina terkejut sendiri mendengar dirinya


memanggil nama Kevin.


“Katakan lagi. Panggil namaku. Cepat!”


Kevin hampir gila mendengar suara lembut Delina


memanggil namanya. Ia tidak bisa menguasai dirinya lagi. Delina merasakan


ciuman Kevin kali ini berbeda. Ciuman yang panas dan menuntut. Kevin tidak memberikan


jeda untuk Delina bisa mengambil nafas.


Sebuah ketukan tidak sabaran terdengar dari pintu


kamar Kevin. Tapi Kevin tidak menghiraukannya, ia masih terhanyut mencium


istrinya. Saat ketukan itu berubah jadi gedoran keras di pintu kamar mandi dan


terdengar teriakan Agnes, Delina mendorong Kevin untuk melepas ciuman mereka.


“Itu nona Agnes. Hubby, tolong turunkan aku.”


*”Shit! Ganggu banget sich!”*


Kevin membuka pintu dan Agnes langsung menghambur


ke pelukannya. “Kevin, tolong aku.”


“Ada apa?!”


*****


“Ada author yang ngejar-ngejar minta vote dan like.”

__ADS_1


Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel


saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.


__ADS_2