
Delina tersenyum penuh arti, ia memakai pakaiannya
lagi.
“Sayang, ayo kita dinner.”ajak Kevin.
“Dinner?”tanya Delina bingung.
Malam itu sepulang dari kantor, Kevin meminta
Delina berdandan dan memakai pakaian yang bagus. Ia sudah memesan tempat di
sebuah restaurant mewah. Tentu saja, Kevin ingin mengajari Delina tentang table
manner. Setidaknya Delina paham sedikit cara makan yang elegan.
Mereka sampai di restaurant tepat waktu. Pelayan
mengantar mereka ke sebuah meja untuk dua orang. Kevin memesan menu makanan
dengan cepat untuk mereka berdua. Kevin tidak henti-hentinya menatap wajah
Delina yang manis meski hanya dipulas make up natural.
“Haduh, aku pengen cepet-cepet pulang nich.”keluh Kevin.
“Kenapa, hubby? Makanannya belum datang loh.”kata
Delina sambil melihat sekeliling restaurant.
“Aku mau makan kamu, sayang.”bisik Kevin
menggenggam tangan Delina, menautkan jemarinya ke jemari Delina.
“Aku bukan makanan, hubby. Itu sepertinya makanannya
datang.”
Kevin hanya tersenyum mendengar kata-kata polos
Delina. Pelayan menghidangkan sup sebagai makanan pembuka. Delina melihat
sendok yang diambil Kevin, ia mengambil sendok yang sama. Ia mencicipi sup itu,
sepertinya kurang garam.
“Hubby, supnya
kurang garam ya? Atau rasanya memang begini?”tanya Delina.
“Coba tambahin
garam dikit. Punyaku juga kurang garam.”pinta Kevin.
Delina
menambahkan sedikit garam pada supnya dan mencicipinya lagi. Setelah merasa
pas, baru ia menambahkan porsi garam yang sama pada sup Kevin. Pelayan
mengambil sup yang belum dihabiskan Delina dan menggantinya dengan steak.
“Pelayan disini
tidak sopan ya. Makanan belum habis, piringnya sudah diambil.”kata Delina
serius.
Kevin tersenyum
geli, “Sayang, memang gitu kalo makan di restaurant seperti ini. Ada makanan
pembuka, makanan utama, dan penutup.”
Delina
mendengarkan penjelasan Kevin tentang kegunaan semua peralatan makan yang
terletak di depannya dan juga gelas yang berderet di meja. Kevin juga memberi
contoh cara memotong steak yang benar. Ia memotong steak di piringnya dengan
cepat, sementara Delina baru berhasil memotong sedikit bagian steak.
Kevin bangkit
dari kursinya, ia menggenggam tangan Delina, menuntunnya memotong bagian steak
yang lebih besar. “Sayang... Delina.”panggil Kevin membuat Delina menoleh
menatapnya. Cup. Kevin mencuri ciuman di bibir Delina.
“Hubby!”pekik
Delina kaget.
Beberapa
pengunjung restaurant menoleh pada mereka. Kevin mencium kening Delina sebelum
__ADS_1
kembali ke kursinya sendiri. “Sudah tau kan cara motongnya, sini bawa piringmu.”kata
Kevin menyodorkan piringnya sendiri.
Mereka bertukar
piring steak. Delina menikmati daging steak lembut yang masuk ke mulutnya. “Enak
sekali ya. Aku baru pertama makan steak seenak ini, hubby.”kata Delina.
Baru saja Kevin
ingin berucap, seseorang merangkulnya mesra. “Kevin sayang. Kamu disini juga.
Aku kangen.”kata seorang wanita di samping Kevin.
Delina
menggigit bibir bawahnya, ia kesal melihat seorang wanita memeluk Kevin seperti
itu. Kevin melepaskan rangkulan wanita itu. “Maaf ya. Aku lagi makan.”
“Ini siapa,
Vin? Pacar barumu?”tanya wanita itu meremehkan penampilan Delina.
“Dia...”belum
selesai Kevin bicara, ada seorang wanita cantik lagi yang datang
menghampirinya. “Kevin sayang. Aku kangen.”kata wanita kedua sambil memeluk
Kevin.
Delina sudah
meletakkan garpu dan pisaunya diatas meja. Ia mengambil gelas berisi wine dan
langsung menegaknya sampai habis. Kevin melongo melihat Delina meletakkan gelas
wine di meja dengan tenangnya.
“Sayang, kamu
gak pa-pa?”tanya Kevin. Kening Kevin berkerut, melihat wajah Delina mulai
memerah. “Wife?”tanya Kevin memanggil Delina.
“What! Wife?”seru
kedua wanita itu bersamaan. Kevin melepaskan pelukan kedua wanita itu, ia
mendekati Delina yang mulai cegukan. Kevin menyentuh pundak Delina,
pegang-pegang. Hik. Dasar buaya! Hik.”seru Delina yang mabuk.
“Oh, kamu
cemburu ya. Hehe... Sampe salah minum gini. Pelayan!”panggil Kevin.
“Tu... tunggu,
Kevin. Dia istri kamu? Seriusan?”tanya salah satu wanita yang Kevin tidak tahu
siapa namanya.
“Iya, dia
istriku yang paling cantik. Menjauh sana.”usir Kevin.
Kevin
mengeluarkan black card-nya untuk membayar makanan mereka yang belum selesai
dimakan. Ia harus membawa Delina yang mabuk pulang sekarang juga. Dibopongnya
tubuh Delina, pelayan membawakan black card dan tas Delina mengikuti Kevin
keluar dari restaurant.
“Ugh, panas...”desis
Delina menarik kerudungnya lepas saat Kevin mendudukkannya di kursi penumpang.
Kevin menyetel AC
mobil dalam suhu terdingin. Ia mulai mengendarai mobilnya menuju rumah.
“Hubby...
Kevin...panas.”panggil Delina menarik-narik bajunya sendiri.
“Sabar, sayang.
Sebentar lagi sampai rumah.”saut Kevin.
Delina sudah
merangkak menempel pada Kevin, tangannya membuka kancing kemeja suaminya itu.
__ADS_1
Kevin mulai kehilangan konsentrasinya menyetir. Tangan Delina sudah meraba ke
seluruh tubuh Kevin. Tangan Kevin otomatis meraba area sensitif Delina tapi ia
menarik tangannya dengan cepat ketika merasakan ada bendungan di bawah sana.
“Haduh, aku
lupa kamu lagi halangan. Bentar ya, sayang.”
Kevin
mengarahkan AC mobil ke Delina yang mulai tenang, ia mengendarai mobil sampai
ke rumah besar dengan sedikit ngebut. Tin! Pintu gerbang mulai terbuka. Kevin
memarkir mobil di tempat biasanya. Ketika mesin mobil sudah dimatikan, Delina
kembali merasa kepanasan.
Kevin membuka
pintu penumpang, ia membopong Delina turun dari mobil. Delina memeluk tubuh
Kevin dengan erat, “Panas...”
“Hmm. Bentar
lagi sampai kamar, sayang.”bisik Kevin.
Kevin sudah
tegang setengah mati karena ulah Delina, tapi ia tidak bisa berbuat macam-macam
pada istrinya itu sampai minggu depan. Saat Kevin sampai di ruang tengah, ia
berpapasan dengan Ali.
“Kakak ipar
kenapa, kak?”tanya Ali.
“Dia gak
sengaja minum wine. Sekarang mabuk. Kamu punya obat penghilang mabuk yang
bagus?”tanya Kevin.
“Ada, kak.
Bentar aku ambilin. Hoaaahheemm...”kata Ali sambil menguap lebar.
“Kamu kenapa?”tanya
Kevin kepo melihat kantung mata Ali menghitam dibawah matanya.
“Udah dua hari
ini aku gak tidur, kak. Nggak bisa tidur, padahal ngantuk banget.”
”Hehe,
berhasil juga kutukanku. Salah sendiri gangguin pengantin baru.” Kevin
mencibir pada Ali.
“Ya, udah.
Cepetan bawa obatnya ke kamar ya. Habis tuch, tidur dah sana.”
Kevin naik ke
tangga disusul Ali yang langsung masuk ke kamarnya. Ia mengambil obat mabuk
dari tas dokternya, lalu memberikannya pada Kevin.
“Campur ini ke
minuman kakak ipar. Suruh minum sampai habis, dia akan lebih baik besok pagi. Aku
tidur dulu ya, kak.”
Kevin
mengibaskan tangannya mengusir Ali tanpa mengatakan apa-apa. Pria itu masuk ke
kamarnya lagi, melepas jaket dan kemejanya, lalu menjatuhkan tubuhnya diatas
ranjangnya. Ali menggeliat sebentar sebelum mulai memejamkan matanya.
Agnes membuka
pintu kamarnya, ia mendengar suara Ali dan ingin sekali bertemu pria itu. Sejak
tadi pagi ia mencari pria itu tapi harus kecewa karena Ali sudah berangkat ke
rumah sakit. Ia menunggu sampai malam baru bisa mendengar suara Ali lagi.
*****
__ADS_1
Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel
saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.