Penjahit Hati

Penjahit Hati
Episode 77


__ADS_3

Delina tersenyum penuh arti, ia memakai pakaiannya


lagi.


“Sayang, ayo kita dinner.”ajak Kevin.


“Dinner?”tanya Delina bingung.


Malam itu sepulang dari kantor, Kevin meminta


Delina berdandan dan memakai pakaian yang bagus. Ia sudah memesan tempat di


sebuah restaurant mewah. Tentu saja, Kevin ingin mengajari Delina tentang table


manner. Setidaknya Delina paham sedikit cara makan yang elegan.


Mereka sampai di restaurant tepat waktu. Pelayan


mengantar mereka ke sebuah meja untuk dua orang. Kevin memesan menu makanan


dengan cepat untuk mereka berdua. Kevin tidak henti-hentinya menatap wajah


Delina yang manis meski hanya dipulas make up natural.


“Haduh, aku pengen cepet-cepet pulang nich.”keluh Kevin.


“Kenapa, hubby? Makanannya belum datang loh.”kata


Delina sambil melihat sekeliling restaurant.


“Aku mau makan kamu, sayang.”bisik Kevin


menggenggam tangan Delina, menautkan jemarinya ke jemari Delina.


“Aku bukan makanan, hubby. Itu sepertinya makanannya


datang.”


Kevin hanya tersenyum mendengar kata-kata polos


Delina. Pelayan menghidangkan sup sebagai makanan pembuka. Delina melihat


sendok yang diambil Kevin, ia mengambil sendok yang sama. Ia mencicipi sup itu,


sepertinya kurang garam.


“Hubby, supnya


kurang garam ya? Atau rasanya memang begini?”tanya Delina.


“Coba tambahin


garam dikit. Punyaku juga kurang garam.”pinta Kevin.


Delina


menambahkan sedikit garam pada supnya dan mencicipinya lagi. Setelah merasa


pas, baru ia menambahkan porsi garam yang sama pada sup Kevin. Pelayan


mengambil sup yang belum dihabiskan Delina dan menggantinya dengan steak.


“Pelayan disini


tidak sopan ya. Makanan belum habis, piringnya sudah diambil.”kata Delina


serius.


Kevin tersenyum


geli, “Sayang, memang gitu kalo makan di restaurant seperti ini. Ada makanan


pembuka, makanan utama, dan penutup.”


Delina


mendengarkan penjelasan Kevin tentang kegunaan semua peralatan makan yang


terletak di depannya dan juga gelas yang berderet di meja. Kevin juga memberi


contoh cara memotong steak yang benar. Ia memotong steak di piringnya dengan


cepat, sementara Delina baru berhasil memotong sedikit bagian steak.


Kevin bangkit


dari kursinya, ia menggenggam tangan Delina, menuntunnya memotong bagian steak


yang lebih besar. “Sayang... Delina.”panggil Kevin membuat Delina menoleh


menatapnya. Cup. Kevin mencuri ciuman di bibir Delina.


“Hubby!”pekik


Delina kaget.


Beberapa


pengunjung restaurant menoleh pada mereka. Kevin mencium kening Delina sebelum

__ADS_1


kembali ke kursinya sendiri. “Sudah tau kan cara motongnya, sini bawa piringmu.”kata


Kevin menyodorkan piringnya sendiri.


Mereka bertukar


piring steak. Delina menikmati daging steak lembut yang masuk ke mulutnya. “Enak


sekali ya. Aku baru pertama makan steak seenak ini, hubby.”kata Delina.


Baru saja Kevin


ingin berucap, seseorang merangkulnya mesra. “Kevin sayang. Kamu disini juga.


Aku kangen.”kata seorang wanita di samping Kevin.


Delina


menggigit bibir bawahnya, ia kesal melihat seorang wanita memeluk Kevin seperti


itu. Kevin melepaskan rangkulan wanita itu. “Maaf ya. Aku lagi makan.”


“Ini siapa,


Vin? Pacar barumu?”tanya wanita itu meremehkan penampilan Delina.


“Dia...”belum


selesai Kevin bicara, ada seorang wanita cantik lagi yang datang


menghampirinya. “Kevin sayang. Aku kangen.”kata wanita kedua sambil memeluk


Kevin.


Delina sudah


meletakkan garpu dan pisaunya diatas meja. Ia mengambil gelas berisi wine dan


langsung menegaknya sampai habis. Kevin melongo melihat Delina meletakkan gelas


wine di meja dengan tenangnya.


“Sayang, kamu


gak pa-pa?”tanya Kevin. Kening Kevin berkerut, melihat wajah Delina mulai


memerah. “Wife?”tanya Kevin memanggil Delina.


“What! Wife?”seru


kedua wanita itu bersamaan. Kevin melepaskan pelukan kedua wanita itu, ia


mendekati Delina yang mulai cegukan. Kevin menyentuh pundak Delina,


pegang-pegang. Hik. Dasar buaya! Hik.”seru Delina yang mabuk.


“Oh, kamu


cemburu ya. Hehe... Sampe salah minum gini. Pelayan!”panggil Kevin.


“Tu... tunggu,


Kevin. Dia istri kamu? Seriusan?”tanya salah satu wanita yang Kevin tidak tahu


siapa namanya.


“Iya, dia


istriku yang paling cantik. Menjauh sana.”usir Kevin.


Kevin


mengeluarkan black card-nya untuk membayar makanan mereka yang belum selesai


dimakan. Ia harus membawa Delina yang mabuk pulang sekarang juga. Dibopongnya


tubuh Delina, pelayan membawakan black card dan tas Delina mengikuti Kevin


keluar dari restaurant.


“Ugh, panas...”desis


Delina menarik kerudungnya lepas saat Kevin mendudukkannya di kursi penumpang.


Kevin menyetel AC


mobil dalam suhu terdingin. Ia mulai mengendarai mobilnya menuju rumah.


“Hubby...


Kevin...panas.”panggil Delina menarik-narik bajunya sendiri.


“Sabar, sayang.


Sebentar lagi sampai rumah.”saut Kevin.


Delina sudah


merangkak menempel pada Kevin, tangannya membuka kancing kemeja suaminya itu.

__ADS_1


Kevin mulai kehilangan konsentrasinya menyetir. Tangan Delina sudah meraba ke


seluruh tubuh Kevin. Tangan Kevin otomatis meraba area sensitif Delina tapi ia


menarik tangannya dengan cepat ketika merasakan ada bendungan di bawah sana.


“Haduh, aku


lupa kamu lagi halangan. Bentar ya, sayang.”


Kevin


mengarahkan AC mobil ke Delina yang mulai tenang, ia mengendarai mobil sampai


ke rumah besar dengan sedikit ngebut. Tin! Pintu gerbang mulai terbuka. Kevin


memarkir mobil di tempat biasanya. Ketika mesin mobil sudah dimatikan, Delina


kembali merasa kepanasan.


Kevin membuka


pintu penumpang, ia membopong Delina turun dari mobil. Delina memeluk tubuh


Kevin dengan erat, “Panas...”


“Hmm. Bentar


lagi sampai kamar, sayang.”bisik Kevin.


Kevin sudah


tegang setengah mati karena ulah Delina, tapi ia tidak bisa berbuat macam-macam


pada istrinya itu sampai minggu depan. Saat Kevin sampai di ruang tengah, ia


berpapasan dengan Ali.


“Kakak ipar


kenapa, kak?”tanya Ali.


“Dia gak


sengaja minum wine. Sekarang mabuk. Kamu punya obat penghilang mabuk yang


bagus?”tanya Kevin.


“Ada, kak.


Bentar aku ambilin. Hoaaahheemm...”kata Ali sambil menguap lebar.


“Kamu kenapa?”tanya


Kevin kepo melihat kantung mata Ali menghitam dibawah matanya.


“Udah dua hari


ini aku gak tidur, kak. Nggak bisa tidur, padahal ngantuk banget.”


”Hehe,


berhasil juga kutukanku. Salah sendiri gangguin pengantin baru.” Kevin


mencibir pada Ali.


“Ya, udah.


Cepetan bawa obatnya ke kamar ya. Habis tuch, tidur dah sana.”


Kevin naik ke


tangga disusul Ali yang langsung masuk ke kamarnya. Ia mengambil obat mabuk


dari tas dokternya, lalu memberikannya pada Kevin.


“Campur ini ke


minuman kakak ipar. Suruh minum sampai habis, dia akan lebih baik besok pagi. Aku


tidur dulu ya, kak.”


Kevin


mengibaskan tangannya mengusir Ali tanpa mengatakan apa-apa. Pria itu masuk ke


kamarnya lagi, melepas jaket dan kemejanya, lalu menjatuhkan tubuhnya diatas


ranjangnya. Ali menggeliat sebentar sebelum mulai memejamkan matanya.


Agnes membuka


pintu kamarnya, ia mendengar suara Ali dan ingin sekali bertemu pria itu. Sejak


tadi pagi ia mencari pria itu tapi harus kecewa karena Ali sudah berangkat ke


rumah sakit. Ia menunggu sampai malam baru bisa mendengar suara Ali lagi.


*****

__ADS_1


Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel


saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.


__ADS_2