Penjahit Hati

Penjahit Hati
Episode 101


__ADS_3

Sandiwara


Setiap hari Clara menonton berita yang menampilkan


kehebatan Kevin di dunia bisnis. Semua kekayaannya, asetnya yang diperlihatkan


Kevin membuat Clara mulai tamak. Dan mulai menyusun rencana untuk mengambil


hati pria itu lewat putri mereka. Meskipun diantara mereka sudah ada


perjanjian, tapi Clara berharap Kevin bisa jatuh cinta padanya.


Clara sengaja mengirim adik sepupunya, Rita untuk


jadi pengasuh Emilia. Selama bertahun-tahun Rita membangun kedekatan dengan


gadis kecil itu sampai Emilia percaya padanya. Bahkan mengikuti setiap kata-katanya.


Ketamakan Clara sampai harus mengorbankan putrinya


sendiri sampai sakit seperti ini untuk menghancurkan hubungan Delina dengan


orang tua Kevin. Clara ingin orang tua Kevin menganggap Delina tidak suka


dengan Emilia dan ingin menyingkirkannya.


Ali keluar dari ruang ICU, kondisi Emilia sudah


membaik. Ia perlu dirawat beberapa hari sebelum diperbolehkan pulang.


“Hubby, aku akan tetap disini menemani Emi.”kata


Delina.


“Ada Rita yang nemenin dia. Body guard ayah juga


sudah datang. Kita pulang saja ya. Ali juga akan berjaga malam ini. Besok kita


kesini lagi.”ajak Kevin memaksa Delina pulang bersamanya.


“Tapi hubby...”cegah Delina.


“Delina, kita harus selesaikan masalah ini dulu di


rumah. Ibu pasti tidak akan menerima kondisi Emi seperti ini. Kamu ngerti,


Delina.”kata Kevin membuat Delina mengangguk sedih.


Rita tersenyum licik, rencana mereka sepertinya


akan berhasil. Tinggal memanas-manasi Emilia sedikit lagi. Kevin dan Delina


kembali ke mobil Kevin setelah berpesan pada Rita untuk menjaga Emilia.


“Hubby, maaf aku sangat teledor. Aku tidak akan mengulangi


kesalahan ini lagi.”tutur Delina sedih. Air matanya sudah jatuh membasahi


pipinya.


Kevin yang sejak masuk ke dalam mobil, hanya fokus


pada ponselnya, tidak melihat Delina menangis. Ia menelpon seseorang tampak


bicara sangat serius.


“Tetap awasi mereka dengan ketat. Ingat, jangan


sampai mereka curiga.”tutup Kevin sambil meletakkan ponselnya di samping


kemudi.


Kevin melirik ke samping, ia melihat Delina


mengusap air matanya dengan kerudungnya. Tangan Kevin mengepal geram. Ia


menghidupkan mesin mobil langsung melajukan mobilnya menembus jalan raya menuju


rumah besar Alvin.


Selama dalam perjalanan, Delina terus terisak.


Kevin hanya diam, tidak berusaha menenangkan Delina. Sesekali mata Kevin


melirik spion tengah mobil, ia ingin sekali menghentikan mobilnya dan memeluk

__ADS_1


Delina. Tapi seseorang mengikuti mereka dari rumah sakit.


Sampai di rumah besar, Kevin menarik Delina keluar


dari mobil. Delina mengusap air matanya, takut dilihat Armando. Nyatanya bocah


kecil itu sudah tidur duluan. Ia lelah bermain dengan Alvin sepanjang kepergian


Delina dan Kevin ke rumah sakit.


Kevin membawa Delina masuk ke ruang kerja. Alvin


dan Amira sudah ada di dalam sana. Setelah pintu tertutup sempurna, Kevin


langsung menarik Delina ke dalam pelukannya. Diciuminya wajah Delina sampai


wanita itu kebingungan dengan sikap Kevin.


“Hu...hubby... mmm... hubby!!”pekik Delina saat


melihat Alvin dan Amira ada disana. “Malu, ada ayah sama ibu. Hubby ngapain


sich?”


Kevin langsung berlutut di kaki Delina, “Hubby,


bangun.” Delina tidak bisa bergerak saat Kevin memeluk pahanya.


“Vin, lepasin Ina dulu. Dia bingung tuch.”kata


Alvin.


“Nggak, yah. Ntar dia minta pisah lagi. Nggak mau!”kata


Kevin ngeyel.


“Hubby mau kita pisah?”tanya Delina sedih. Air


matanya hampir jatuh lagi, tapi Kevin dengan cepat berdiri menghentikan


tangisan Delina.


“Nggak, sayang. Bukan gitu maksudku. Jangan nangis


Alvin tiba-tiba mual.


“Cepetan duduk!”ketus Alvin mulai tidak sabaran.


Delina didudukkan Kevin di sofa, ia merangsek


memeluk istrinya itu sampai tubuh Delina tenggelam di pelukan Kevin. Delina


masih terus bertanya apa yang sebenarnya terjadi, tapi Kevin tetap tidak mau


bicara.


“Ina, ayah takut ini akan sedikit mengejutkanmu.


Tapi Emi sakit karena Clara.”jelas Alvin.


Mata Delina membulat sempurna. Tapi Clara adalah


ibu kandung Emi. Bagaimana bisa seorang ibu tega menyakiti putrinya sendiri?


Alvin mengatakan kalau ia selalu curiga pada Clara.


Hanya dua tipe sifat manusia dalam kasus Clara, pertama Clara memang baik hati


dan yang kedua, ia sangat licik. Selama lima tahun ini Alvin melihat tidak ada


pergerakan yang berarti dilakukan Clara.


Ia hanya menjalani hidupnya dengan nyaman tanpa


perlu bekerja keras seperti sebelumnya. Itulah salah satu alasannya Clara


mempertahankan kehamilannya. Ia ingin memeras keluarga Alvin lewat Emilia.


Delina menutup mulutnya yang keceplosan mengerang.


Bukan hanya memeluk Delina, tangan Kevin mulai tidak bisa diam menyentuh bagian


tubuh Delina. Alvin berdehem menatap tajam pada Kevin. Delina memukul tangan


Kevin, ia tidak bisa konsentrasi mendengar penjelasan ayah mertuanya.

__ADS_1


Amira geleng-geleng kepala melihat tingkah Kevin,


ia melanjutkan penjelasan Alvin. Waktu Rita datang ke rumah besar sebagai baby


sitter Emilia, sebenarnya Amira sudah curiga. Ia mengirim orang untuk


menyelidiki latar belakang Rita. Mereka tidak menemukan keanehan atau kaitan


apapun dengan Clara waktu itu.


Tapi orang yang menyelidiki hal itu menemukan kalau


Rita pernah melakukan operasi wajah dan merubah namanya dari Rianti menjadi Rita.


Temuan itu baru mereka dapatkan setelah setahun Rita bekerja di rumah besar.


“Clara hanya kebetulan memiliki sepupu yang merubah


wajahnya karena kecelakaan. Ia memanfaatkan hal itu untuk menyusupkan Rita ke


rumah ini.”ujar Amira.


“Ibu nggak memberhentikan dia setelah tahu semua


ini?”tanya Delina.


Amira menggeleng, karena Alvin mengatakan kalau


memang Rita dikirim oleh Clara, mereka harus tetap pura-pura nggak tahu. Lebih


baik mengetahui siapa pengkhianatnya daripada Clara menyusupkan orang lain lagi


yang mereka tidak tahu.


Delina manggut-manggut mendengar kedua orang tua di


depannya bergantian bercerita. Tahun-tahun berikutnya, Rita tidak melakukan hal


yang membahayakan Emilia. Ia terlihat tulus menyayangi gadis kecil itu.


Kadang-kadang Rita keluar dari rumah besar saat libur. Tapi ia tidak pernah


sekalipun bertemu dengan Clara. Sepertinya mereka hanya berkomunikasi lewat


ponsel.


“Waktu tadi kamu buat es krim kacang, ibu sudah


memperhatikan gelagat Rita. Ibu memang nggak liat kapan dia naruh es krim


buatanmu ke gelas Emi, tapi ibu yakin kalau itu perbuatan Rita. Siapa lagi yang


ada di dapur selain kamu sama dia. Ibu percaya, kamu sangat tulus, Delina.”kata


Amira sambil tersenyum pada Delina.


Delina merasa terharu mendengar kata-kata Amira. Ia


kembali mewek dalam pelukan Kevin. Sungguh keluarga Kevin sangat baik padanya.


Sejak Delina mengenal mereka kemudian menjadi istri Kevin, dirinya dilimpahi


kasih sayang seperti putri sendiri di rumah besar itu. Sebuah kepercayaan yang


sampai sekarang tetap dijaga dengan baik oleh Delina.


“Mulai sekarang ayah mau kita bersandiwara. Ayah


dan ibu akan bersikap dingin sama kamu, Ina. Kita buat seolah-olah kami percaya


kalau kamu yang mencelakai Emi. Nggak usah berlebihan, biarkan mengalir. Kamu


ingat kan waktu pertama kamu tinggal di rumah ini. Sikap ayah, sikap ibu, sikap


Kevin. Seperti itulah yang akan kita lakukan.”


Delina mengangguk, saat ini ia hanya perlu


mengikuti permainan ayah mertuanya saja.


*****


Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel


saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.

__ADS_1


__ADS_2