Penjahit Hati

Penjahit Hati
Episode 107


__ADS_3

Brak!! Mobil sport mewah itu terlempar dari atas jembatan


dalam keadaan ringsek parah. Byur! Body mobil perlahan tenggelam. Orang-orang


yang melihat segera berhenti dan turun dari kendaraannya. Mereka merekam


saat-saat mobil Kevin mulai tenggelam sambil menyiarkannya secara langsung


lewat sosial media mereka.


Di rumah Clara, wanita licik itu sedang menonton


acara gosip. Ia sudah berdandan cantik dan memakai lingerie mini yang sangat


seksi untuk menggoda Kevin. Breaking news menarik perhatiannya ketika nama


Kevin Raditya disebutkan sebagai pemilik mobil sport yang terlihat hampir


tenggelam karena kecelakaan tunggal.


“Nggak mungkin!!”teriak Clara histeris.


Ponselnya berdering disaat bersamaan, Rita


menelponnya memberitahu kalau pelayan dan security diusir keluar dari rumah


besar Alvin. Petugas penyita aset datang dan menempelkan pengumuman kalau rumah


itu sudah disita.


Clara menanyakan keberadaan Alvin dan Emilia. Rita


mengatakan kalau Alvin dan Amira membawa Emilia pergi dari pesta Keanu setelah


mendengar penyitaan itu. Perusahaan Alvin juga sudah dijual untuk menutupi


hutang perusahaan.


“Mereka sudah bangkrut, kak! Aku harus


gimana?”tanya Rita bingung. Ia masih berdiri di depan rumah besar Alvin dengan


koper di sampingnya.


Clara meminta Rita untuk datang ke rumahnya dulu.


Setidaknya dirinya masih punya rumah dan juga uang bulanan. Teringat kata-kata


Rita tentang keluarga Alvin yang bangkrut, Clara segera menelpon Alvin.


“Tuan Alvin, apa benar perusahaan tuan sudah


bangkrut?”tanya Clara ketika telpon diangkat.


“Cepat sekali beritanya menyebar. Aku sudah tidak


punya apa-apa sekarang, Clara. Tolong kamu mengerti, aku tidak bisa membayar


uang bulananmu lagi. Sebaiknya kau segera pergi dari rumah itu atau bank akan


menyitanya juga. Rumah itu masih atas namaku.”ujar Alvin.


Pucat pasi wajah Clara mendengar rumah yang ia


tinggali juga akan disita. Ia segera mengemasi barang-barangnya lalu melihat


berita sekali lagi. Kali ini berita kebangkrutan keluarga Raditya dan proses


penjualan perusahaan sudah selesai dilakukan.


Perusahaan Alvin Raditya kini sudah resmi menjadi milik


‘Miracle’ sebagai pemegang saham terbesarnya. Clara menjambak rambutnya,


semuanya terjadi begitu cepat. Kevin kecelakaan, Alvin bangkrut. Ia tidak bisa


menerima kenyataan akan jatuh miskin lagi tanpa seseorang yang menopang


hidupnya.


Ponsel Clara berdering, Alvin menelponnya. Ketika


Clara mengangkatnya, Alvin mengatakan kalau Emilia mungkin bisa ikut dengan


Clara dulu karena tidak ada yang menjaganya. Clara berdebat dengan Alvin, ia

__ADS_1


tidak mau mengasuh Emilia yang artinya akan menambah pengeluarannya. Apalagi


dia tidak bekerja, Clara harus segera mencari pekerjaan atau dirinya akan


kehabisan uang segera.


Clara teringat Julian, mantan bosnya itu pernah


memintanya jadi istri ketika Clara hamil Emilia tapi Clara menolaknya saat itu


karena berpikir Kevin akan mau menikahinya. Clara menelpon Julian dengan cepat,


ia menunggu sebentar tapi telponnya tidak diangkat. Ia menelpon sekali lagi,


kali ini diangkat.


“Julian, apa aku bisa ke tempatmu? Aku...”kata


Clara terpotong.


“Datanglah tapi kali ini sebagai simpananku. Aku


jamin hidupmu senang selama aku senang.”ujar Julian yang sudah tahu kalau Kevin


bangkrut.


“Tak bisakah aku jadi istrimu?”tanya Clara.


“Bujuk aku untuk menikah denganmu. Kalau kau bisa


membuatku puas, aku akan pertimbangkan.”kata Julian dengan senyuman licik.


Clara menarik nafasnya, “Baiklah, aku kesana


sekarang.” Clara meninggalkan rumah itu, meninggalkan Rita juga yang


kebingungan karena rumah Clara terkunci. Ia mencoba menelpon kakak sepupunya


itu tapi tidak diangkat juga.  Dengan


kesal, Rita menghentakkan kakinya lalu pergi dari sana.


*****


Delina sedang berdiri di dekat jendela kantor yang


dulu digunakan Alvin sebagai ruang kerjanya. Ia  menatap deretan gedung tinggi yang terlihat jelas dari tempat berdirinya.


Langit agak mendung hari itu dan sepertinya akan turun hujan deras.


Delina menatap bayangan dirinya yang terlihat dari


pantulan di kaca. Sesekali ia mengelus perutnya yang membuncit. Delina


tersenyum manis, “Nak, sebentar lagi kamu lahir. Tapi ayahmu tidak bisa


menemani kita. Seperti abangmu, ibu masih berharap ayah bisa bersama ibu waktu


kamu lahir nanti.”ucap Delina pada bayi dalam kandungannya.


Delina kembali menatap sejauh pandangannya bisa


menatap jalanan yang penuh mobil berlalu lalang dibawah sana. Ia menarik nafas


panjang, “Hubby, aku merindukanmu.”lirih Delina.


Tok! Tok! Tok! Delina menoleh ke pintu ruang


kerjanya. “Ya, masuk.”ucapnya. Ceklek! Pintu itu terbuka lebar dan sosok yang


sudah ia tunggu masuk ke dalam ruang kerjanya.


“Ayah. Kenapa ketuk pintu segala. Ayah kan bisa


langsung masuk.”kata Delina menyambut kedatangan Alvin. Ayah mertuanya itu merentangkan


tangannya memeluk Delina tapi terhalang perut besarnya.


“Bagaimana kabarmu, Ina?”tanya Alvin.


Delina tersenyum dan mengatakan dirinya baik-baik


saja. Alvin menuntun Delina duduk di sofa besar. Ia menatap sekeliling ruang


kerjanya dulu. Tidak banyak yang berubah. Delina hanya menambahkan foto

__ADS_1


keluarga mereka di salah satu dinding ruang kerja itu.


“Ibu mana, yah? Katanya mau datang juga.”tanya


Delina.


“Ibumu masih sibuk nostalgia dengan asistennya, si


Meri itu. Katanya mau kesini sekalian jemput Dodo dan Emilia nanti.”kata Alvin.


Alvin menatap Delina lagi, ia mengelus wajah lelah


Delina yang selalu tersenyum. “Apa kau lelah? Maafkan ayah ya.”


Delina menggenggam tangan ayah mertuanya, “Ayah


bicara apa? Aku nggak pa-pa, yah.”


...Flash back on...


Alvin teringat enam bulan lalu saat ia mengatur jual


beli perusahaannya dengan perusahaan Delina. Dalam sekejap semua aset dan


perusahaan milik Alvin berpindah tangan menjadi atas nama Delina dibawah ‘Miracle’.


Delina menjadi wanita super kaya, bilioner dalam hitungan jam.


Setelah semua proses selesai termasuk rapat


pemegang saham, Alvin dan Amira pergi dari kota itu. Mereka meninggalkan Delina


sendirian mengasuh Armando dan Emilia. Sedangkan Kevin dinyatakan menghilang


setelah kecelakaan yang dialaminya.


Sampai detik ini, Delina masih belum menyerah untuk


mencarinya. Delina mengerahkan semua orang untuk mencari Kevin. Memberi


pengumuman orang hilang bahkan sampai keluar kota. Tentu saja dengan imbalan


yang tidak sedikit.


Dalam kesedihannya kehilangan Kevin, Delina


menyadari kalau dirinya hamil lagi. Delina tidak merasakan ngidam seperti saat


ia hamil Armando dulu. Untuk membuat pikirannya tidak terlalu berfokus pada


Kevin, Delina mengurus kedua putra dan putri Kevin. Ia mencurahkan perhatian


dan cintanya pada kedua bocah kecil itu sampai akhirnya Emilia luluh pada kasih


sayang Delina dan mau memanggilnya ibu.


Bukan hanya sibuk mengurus dua anak, Delina juga


harus mengurus perusahaan yang ditinggalkan Alvin dan juga perusahaannya


sendiri. Ia mengalami masa-masa sulit selama sebulan pertama, tidak cukup


istirahat dan hampir keguguran. Tapi Armando dan Keanu tidak pernah pergi dari


sisinya.


Keanu selalu siap membantu pekerjaan Delina, bahkan


Wina juga ikut membantu menyediakan makanan untuk mereka berdua. Melihat Wina


juga menyukai anak kecil, Delina meminta Wina menjadi pengasuh untuk Armando


dan Emilia.


...Flash back off...


Alvin mengelus-elus kepala Delina lagi. “Ina, sebentar


lagi kamu bisa beristirahat dari kesibukan di kantor ini.”ucap Alvin.


*****


Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel


saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.

__ADS_1


__ADS_2