Penjahit Hati

Penjahit Hati
Episode 71


__ADS_3

Ali menarik selimut menutupi tubuh Agnes yang cuma


pakai pakaian dalam. Agnes kembali menendang selimutnya.


Ali menutup tubuh Agnes, kali ini berbaring di


sampingnya menindih selimut Agnes. Ali memeluk Agnes agat tidak bergerak lagi.


Matanya mulai terpejam tapi Agnes tidak membiarkannya tenang. Tubuh Agnes terus


bergerak membuat Ali tidak bisa tidur semalaman.


Keesokan harinya, Agnes terbangun sambil memegangi


kepalanya yang sakit. Ia duduk diatas ranjangnya, memicingkan matanya yang


silau karena matahari.


“Kamu sudah bangun?”


Kepala Agnes berputar cepat ke samping melihat ke


sumber suara. Tangannya refleks menarik selimut menutupi tubuhnya.


“Kamu! Ngapain kamu disini?”pekik Agnes menuding


Ali.


“Aku yang harusnya tanya ngapain kamu mabuk di


club?”


“Apa? Aku mabuk?”tanya Agnes tidak percaya.


Ingatan Agnes berputar tentang kejadian semalam. Ia


datang ke club itu karena undangan ulang tahun teman kampusnya. Agnes termakan


hasutan temannya untuk minum minuman keras. Tangan Agnes terangkat memegang


lehernya yang sempat dicium pria kurang ajar itu.


Agnes merapatkan selimutnya lagi menutupi tubuhnya,


ia melotot melihat tinggal memakai pakaian dalam saja.


“Kamu! Ngapain kamu buka bajuku?!”


“Kau belum jawab pertanyaanku. Ngapain kamu di


club? Hah?! Jawab!”


“Aku... Aku diundang ke ultah temanku.”jawab Agnes


takut-takut. Ia tak suka mendengar teriakan Ali.


“Kenapa kamu gak bilang mau kesana? Kamu tau apa


yang bisa terjadi sama kamu kalau aku gak kesana malam kemarin?!”teriak Ali


emosi.


“Gak ada yang minta bantuanmu!”bentak Agnes kesal.


Ia tahu kalau dirinya hampir celaka, tapi Ali gak perlu berteriak di wajahnya


seperti itu. Dirinya bukan anak kecil lagi.


Ali bangkit dari duduknya, ia menerjang tubuh


Agnes, memitingnya di atas tempat tidur.


“Kamu mau apa?! Lepasin!”


“Kamu liat penampilanmu seperti j****! Lihat


lehermu! Sini!”


Ali menarik tangan Agnes bangkit dari ranjangnya.


Ia membawa Agnes ke dalam kamar mandinya. Di depan cermin, Agnes melihat


lehernya merah-merah.


“Leherku...”


“Ini baru lehermu, kamu akan kehilangan yang lebih


kalau semalam aku gak ada di club itu!”bentak Ali lagi.


Air mata menetes dari kedua mata Agnes. Ia membuka


kran air di wastafel, lalu menggosok lehernya dengan keras. Ali menahan kedua


tangan Agnes, “Berhenti, Agnes! Jangan lakukan itu! Lehermu bisa luka!”


Ali menahan Agnes sampai tidak bisa bergerak sama

__ADS_1


sekali. Ia memeluk Agnes dari belakang. “Agnes, tenang. Aku disini.”


Agnes menangis sebentar di pelukan Ali. Ia cepat


sadar lalu mendorong pria itu kuat-kuat.


“Kamu mesum!”teriak Agnes berusaha menutupi


tubuhnya dengan tangan. “jangan lihat kesini!!”pekik Agnes membalik tubuhnya.


Biar bagaimanapun mereka sedang ada di dalam kamar


mandi dengan keadaan Agnes yang belum berpakaian lengkap. Agnes takut Ali akan


berbuat kurang ajar padanya. Ali tersenyum melihat Agnes mojok di kamar


mandinya dengan tangan sibuk menutupi tubuhnya.


“Keluar!”teriak Agnes.


“Kamu mengusirku?” Agnes tercekat saat Ali


tiba-tiba mendekatinya. “Boleh aku melakukannya?”tanya Ali.


Agnes menatap Ali, apa yang ingin dilakukan pria


itu.


“Aku ingin menghapus tanda yang diberikan pria


brengsek itu dari tubuhmu.”kata Ali semakin mendekati Agnes.


“Gimana caranya?”tanya Agnes penasaran.


Ali semakin mendekati Agnes, mencium leher Agnes


sambil menahan tubuh wanita itu agar tidak bisa lari.


“Ali! Ja...jangan!”Agnes hampir menangis lagi, ia


tidak bisa mendorong Ali yang menekan tubuhnya sampai ke dinding kamar mandi.


Ali menambahkan bekas ciuman lagi di leher Agnes.


“Sudah kuhapus tandanya. Sekarang kamu mandi ya.


Aku keluar dulu.”


Ali menatap wajah Agnes yang merona malu. Glug! Ali


menelan salivanya, ia ingin melakukan yang lebih tapi mengurungkan niatnya.


“Ya?”jawab Agnes linglung.


“Kamu mau makan apa? Nanti aku bilang sama mbak


Sri.” Agnes bengong, otaknya belum bekerja dengan baik karena ciuman Ali pada


lehernya tadi. “Agnes, apa kamu mau dicium lagi?”pancing Ali.


“Ya...” Agnes menjawab tanpa sadar. Tapi ia


mendongak dengan cepat menggeleng. Ali mengedipkan matanya, ia hampir menutup


pintu kamar mandi. “Nanti aku minta mbak Sri bawain makanan kesini. Aku pergi


dulu.”


Saat pintu tertutup, Agnes meluncur turun duduk di


lantai. Wajahnya sangat merah, “Ali...”lirih Agnes tersenyum malu memegang


lehernya.


Di kamar sebelah, Delina merasakan perutnya berat.


Ia membuka matanya, melihat lengan kekar memeluk perutnya. Mata Delina membulat


melihat ke bawah selimutnya.


“Pagi, sayang.”


Delina menoleh ke samping, ia merapatkan


selimutnya. “Hubby...”


“Tidurmu nyenyak? Masih mau tidur lagi?”


Delina menelan salivanya melihat dada bidang Kevin.


Pria itu hanya memakai selimut menutupi bagian pinggangnya ke bawah.


“Hubby, semalam...”Delina tidak menyelesaikan


ucapannya.


“Ya, sayang. Cinta kita sudah menyatu sepenuhnya.

__ADS_1


Kau sudah jadi milikku.”


Delina menyembunyikan wajah merahnya di balik


selimut.


“Kenapa malu, sayang. Sini, peluk aku.”pinta Kevin.


Delina bergeser sedikit, ia sampai mengaduh


kesakitan. “Kenapa, sayang?”tanya Kevin khawatir.


“Perih, hubby.”


Kevin menyingkap selimutnya, ia berjalan masuk ke


kamar mandi menghidupkan air hangat mengisi bathup.


“Kita mandi dulu ya.”ajak Kevin.


Delina belum sempat menolak, Kevin sudah duluan


menyingkap selimutnya, lalu menggendong Delina. Keduany melirik bekas percintaan


mereka di bawah selimut.


“Hubby, sepertinya aku datang bulan. Aku mandi


sendiri ya.”


Kevin tersenyum. “Itu bukan dari sana, sayang. Itu


tanda kau sudah menyerahkan harta berhargamu padaku.


Delina tidak bertanya lagi, ia sibuk menutupi


dadanya.


“Jangan ditutupi, sayang. Aku sudah lihat semuanya.”


Kevin mendudukkan Delina dengan sangat hati-hati di dalam bath up.  Delina meringis merasakan perih. “Sakit sekali


ya? Nanti aku kasi obat ya.”


Delina mencuri lihat kegagahan Kevin yang mulai


terbangun lagi. Ia baru pertama melihatnya dengan jarak yang sangat dekat. “Hubby


itu kenapa?”tunjuk Delina.


“Dia juga luka karena milikmu menjepitnya dengan


kuat, sayang.”


Delina menunduk malu, ia menyiram bahunya dengan


air hangat. Kevin menunduk mencium bibir Delina. “Sayang, sekali lagi ya."pinta


Kevin.


Delina menggeleng, ia beralasan sudah merasa lapar


dan harus menyiapkan cemilan untuk Alvin. Kevin terpaksa menunda hasratnya, ia


juga harus ke kantor karena ada meeting. Kevin membantu Delina mandi dengan


cepat. Tidak lupa ia mengobati luka lecet di bagian bawah tubuh Delina.


“Hubby, itu juga gak diobatin?”tanya Delina


menunjuk kegagahan Kevin.


Kevin tersenyum, “Obatin dong.”


Delina ragu-ragu mengoleskan salep ke kegagahan


Kevin yang langsung berdiri tegak. “Hii...”jerit Delina kaget. “Hubby, pake


sendiri obatnya. Aku malu.”


Kevin ketawa ngakak, ia melepaskan Delina masuk ke


walk in closet. Setelah berpakaian, keduanya hampir turun dari lantai 2 saat


memergoki Ali keluar dari kamar Agnes.


“Pagi, kak. Pagi, kakak ipar.”sapa Ali sambil


cengar-cengir mesum.


“Oh, iya! Aku lupa semalem ngecek nona Agnes. Mana dia,


Ali?”tanya Delina.


*****


Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel

__ADS_1


saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.


__ADS_2