
Ali menarik selimut menutupi tubuh Agnes yang cuma
pakai pakaian dalam. Agnes kembali menendang selimutnya.
Ali menutup tubuh Agnes, kali ini berbaring di
sampingnya menindih selimut Agnes. Ali memeluk Agnes agat tidak bergerak lagi.
Matanya mulai terpejam tapi Agnes tidak membiarkannya tenang. Tubuh Agnes terus
bergerak membuat Ali tidak bisa tidur semalaman.
Keesokan harinya, Agnes terbangun sambil memegangi
kepalanya yang sakit. Ia duduk diatas ranjangnya, memicingkan matanya yang
silau karena matahari.
“Kamu sudah bangun?”
Kepala Agnes berputar cepat ke samping melihat ke
sumber suara. Tangannya refleks menarik selimut menutupi tubuhnya.
“Kamu! Ngapain kamu disini?”pekik Agnes menuding
Ali.
“Aku yang harusnya tanya ngapain kamu mabuk di
club?”
“Apa? Aku mabuk?”tanya Agnes tidak percaya.
Ingatan Agnes berputar tentang kejadian semalam. Ia
datang ke club itu karena undangan ulang tahun teman kampusnya. Agnes termakan
hasutan temannya untuk minum minuman keras. Tangan Agnes terangkat memegang
lehernya yang sempat dicium pria kurang ajar itu.
Agnes merapatkan selimutnya lagi menutupi tubuhnya,
ia melotot melihat tinggal memakai pakaian dalam saja.
“Kamu! Ngapain kamu buka bajuku?!”
“Kau belum jawab pertanyaanku. Ngapain kamu di
club? Hah?! Jawab!”
“Aku... Aku diundang ke ultah temanku.”jawab Agnes
takut-takut. Ia tak suka mendengar teriakan Ali.
“Kenapa kamu gak bilang mau kesana? Kamu tau apa
yang bisa terjadi sama kamu kalau aku gak kesana malam kemarin?!”teriak Ali
emosi.
“Gak ada yang minta bantuanmu!”bentak Agnes kesal.
Ia tahu kalau dirinya hampir celaka, tapi Ali gak perlu berteriak di wajahnya
seperti itu. Dirinya bukan anak kecil lagi.
Ali bangkit dari duduknya, ia menerjang tubuh
Agnes, memitingnya di atas tempat tidur.
“Kamu mau apa?! Lepasin!”
“Kamu liat penampilanmu seperti j****! Lihat
lehermu! Sini!”
Ali menarik tangan Agnes bangkit dari ranjangnya.
Ia membawa Agnes ke dalam kamar mandinya. Di depan cermin, Agnes melihat
lehernya merah-merah.
“Leherku...”
“Ini baru lehermu, kamu akan kehilangan yang lebih
kalau semalam aku gak ada di club itu!”bentak Ali lagi.
Air mata menetes dari kedua mata Agnes. Ia membuka
kran air di wastafel, lalu menggosok lehernya dengan keras. Ali menahan kedua
tangan Agnes, “Berhenti, Agnes! Jangan lakukan itu! Lehermu bisa luka!”
Ali menahan Agnes sampai tidak bisa bergerak sama
__ADS_1
sekali. Ia memeluk Agnes dari belakang. “Agnes, tenang. Aku disini.”
Agnes menangis sebentar di pelukan Ali. Ia cepat
sadar lalu mendorong pria itu kuat-kuat.
“Kamu mesum!”teriak Agnes berusaha menutupi
tubuhnya dengan tangan. “jangan lihat kesini!!”pekik Agnes membalik tubuhnya.
Biar bagaimanapun mereka sedang ada di dalam kamar
mandi dengan keadaan Agnes yang belum berpakaian lengkap. Agnes takut Ali akan
berbuat kurang ajar padanya. Ali tersenyum melihat Agnes mojok di kamar
mandinya dengan tangan sibuk menutupi tubuhnya.
“Keluar!”teriak Agnes.
“Kamu mengusirku?” Agnes tercekat saat Ali
tiba-tiba mendekatinya. “Boleh aku melakukannya?”tanya Ali.
Agnes menatap Ali, apa yang ingin dilakukan pria
itu.
“Aku ingin menghapus tanda yang diberikan pria
brengsek itu dari tubuhmu.”kata Ali semakin mendekati Agnes.
“Gimana caranya?”tanya Agnes penasaran.
Ali semakin mendekati Agnes, mencium leher Agnes
sambil menahan tubuh wanita itu agar tidak bisa lari.
“Ali! Ja...jangan!”Agnes hampir menangis lagi, ia
tidak bisa mendorong Ali yang menekan tubuhnya sampai ke dinding kamar mandi.
Ali menambahkan bekas ciuman lagi di leher Agnes.
“Sudah kuhapus tandanya. Sekarang kamu mandi ya.
Aku keluar dulu.”
Ali menatap wajah Agnes yang merona malu. Glug! Ali
menelan salivanya, ia ingin melakukan yang lebih tapi mengurungkan niatnya.
“Ya?”jawab Agnes linglung.
“Kamu mau makan apa? Nanti aku bilang sama mbak
Sri.” Agnes bengong, otaknya belum bekerja dengan baik karena ciuman Ali pada
lehernya tadi. “Agnes, apa kamu mau dicium lagi?”pancing Ali.
“Ya...” Agnes menjawab tanpa sadar. Tapi ia
mendongak dengan cepat menggeleng. Ali mengedipkan matanya, ia hampir menutup
pintu kamar mandi. “Nanti aku minta mbak Sri bawain makanan kesini. Aku pergi
dulu.”
Saat pintu tertutup, Agnes meluncur turun duduk di
lantai. Wajahnya sangat merah, “Ali...”lirih Agnes tersenyum malu memegang
lehernya.
Di kamar sebelah, Delina merasakan perutnya berat.
Ia membuka matanya, melihat lengan kekar memeluk perutnya. Mata Delina membulat
melihat ke bawah selimutnya.
“Pagi, sayang.”
Delina menoleh ke samping, ia merapatkan
selimutnya. “Hubby...”
“Tidurmu nyenyak? Masih mau tidur lagi?”
Delina menelan salivanya melihat dada bidang Kevin.
Pria itu hanya memakai selimut menutupi bagian pinggangnya ke bawah.
“Hubby, semalam...”Delina tidak menyelesaikan
ucapannya.
“Ya, sayang. Cinta kita sudah menyatu sepenuhnya.
__ADS_1
Kau sudah jadi milikku.”
Delina menyembunyikan wajah merahnya di balik
selimut.
“Kenapa malu, sayang. Sini, peluk aku.”pinta Kevin.
Delina bergeser sedikit, ia sampai mengaduh
kesakitan. “Kenapa, sayang?”tanya Kevin khawatir.
“Perih, hubby.”
Kevin menyingkap selimutnya, ia berjalan masuk ke
kamar mandi menghidupkan air hangat mengisi bathup.
“Kita mandi dulu ya.”ajak Kevin.
Delina belum sempat menolak, Kevin sudah duluan
menyingkap selimutnya, lalu menggendong Delina. Keduany melirik bekas percintaan
mereka di bawah selimut.
“Hubby, sepertinya aku datang bulan. Aku mandi
sendiri ya.”
Kevin tersenyum. “Itu bukan dari sana, sayang. Itu
tanda kau sudah menyerahkan harta berhargamu padaku.
Delina tidak bertanya lagi, ia sibuk menutupi
dadanya.
“Jangan ditutupi, sayang. Aku sudah lihat semuanya.”
Kevin mendudukkan Delina dengan sangat hati-hati di dalam bath up. Delina meringis merasakan perih. “Sakit sekali
ya? Nanti aku kasi obat ya.”
Delina mencuri lihat kegagahan Kevin yang mulai
terbangun lagi. Ia baru pertama melihatnya dengan jarak yang sangat dekat. “Hubby
itu kenapa?”tunjuk Delina.
“Dia juga luka karena milikmu menjepitnya dengan
kuat, sayang.”
Delina menunduk malu, ia menyiram bahunya dengan
air hangat. Kevin menunduk mencium bibir Delina. “Sayang, sekali lagi ya."pinta
Kevin.
Delina menggeleng, ia beralasan sudah merasa lapar
dan harus menyiapkan cemilan untuk Alvin. Kevin terpaksa menunda hasratnya, ia
juga harus ke kantor karena ada meeting. Kevin membantu Delina mandi dengan
cepat. Tidak lupa ia mengobati luka lecet di bagian bawah tubuh Delina.
“Hubby, itu juga gak diobatin?”tanya Delina
menunjuk kegagahan Kevin.
Kevin tersenyum, “Obatin dong.”
Delina ragu-ragu mengoleskan salep ke kegagahan
Kevin yang langsung berdiri tegak. “Hii...”jerit Delina kaget. “Hubby, pake
sendiri obatnya. Aku malu.”
Kevin ketawa ngakak, ia melepaskan Delina masuk ke
walk in closet. Setelah berpakaian, keduanya hampir turun dari lantai 2 saat
memergoki Ali keluar dari kamar Agnes.
“Pagi, kak. Pagi, kakak ipar.”sapa Ali sambil
cengar-cengir mesum.
“Oh, iya! Aku lupa semalem ngecek nona Agnes. Mana dia,
Ali?”tanya Delina.
*****
Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel
__ADS_1
saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.