
“Makasi, Delina. Aku pengen banget makan ini.”kata
Agnes sambil memakan dimsumnya dibalik lemari penyimpanan di dapur.
“Iya, sama-sama. Ini minumnya. Aku ke meja makan
lagi ya. Sstt...”ucap Delina mengedipkan matanya pada Agnes.
Nenek Indri memergoki Agnes dan Delina bersama di
dapur. Ia ingin mencicipi dimsum juga tapi dimsumnya keburu habis. Delina
menunduk canggung di depan nenek Indri. Masih ada satu dimsum lagi di piring
Agnes, wanita itu menyodorkannya pada nenek Indri.
“Nenek, aaa...”kata Agnes menyuapi nenek Indri.
Nenek Indri membuka mulutnya, mengunyah dimsum lembut yang masuk ke mulutnya.
Ia mengangguk-angguk sambil berjalan keluar dari dapur tanpa mengatakan
apa-apa. Delina dan Agnes cuma bisa saling pandang sambil tersenyum tipis.
Ketika malam menjelang sebelum makan siang, Kevin
mengajak Delina ke kamar mereka. Delina duduk di atas tempat tidur, ia merasakan
tubuhnya sedikit pegal. Sejak pagi ketegangan melanda Delina yang harus
berhadapan dengan nenek Indri dan keluarga besar Alvin.
Mereka semua memang tidak menekan Delina karena ada
Alvin disana yang tidak melepaskan pengawasannya dari menantunya itu. Tapi
Delina belum tentu diterima jadi menantu nenek Indri. Ia masih harus berjuang
sedikit lagi untuk bisa dianggap layak di mata nenek Indri.
Kevin yang melihat Delina memijat bahunya sendiri,
beranjak mendekati istrinya itu. “Sayang, mau mandi berendam gak?”tanya Kevin.
Delina langsung menoleh pada suaminya itu. “Cuma
mandi kan?”tanya Delina dengan mata jernihnya menatap Kevin. Ia mencoba membaca
apa yang sedang Kevin pikirkan saat ini.
“Yah, masa cuma mandi, yank. Ngapain dikit gitu.”rayu
Kevin menaik-turunkan alisnya.
Delina menggeleng, “Nanti di denger orang diluar,
hubby.”
“Makanya jangan berisik.”sambar Kevin langsung mencium
bibir pink Delina. Ia menarik tangan Delina untuk bangkit tanpa melepas ciuman
mereka. Kevin menanggalkan satu persatu pakaian Delina tanpa memberinya
kesempatan bicara. Delina melenguh saat Kevin mulai memancing hasratnya. Mereka
hampir mencapai puncak permainan, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamar itu.
“Aarrggghh!!! Sapa sich! Nggak tau orang lagi
sibuk.”ujar Kevin ngamuk-ngamuk.
Delina menahan senyumnya, ia menarik selimut
menutupi tubuhnya dan meminta Kevin membuka pintu. Kevin memakai kemejanya lagi
dan boxer. Ia membuka pintu, menatap tajam pelayan yang terpana melihat
penampilannya.
“Ada apa?!”tanya Kevin ketus.
__ADS_1
“Maaf, tuan muda. Nyonya besar tua memanggil nona
muda Delina ke kamarnya sekarang.”kata pelayan itu.
Delina langsung keluar dari balik selimut. Pelayan
melihat Delina tidak berpakaian lengkap, menunduk menahan senyumnya. Kevin
menutup sedikit pintu kamar itu, “Kenapa nenek mencari Delina?”
“Saya kurang tahu, tuan muda. Permisi.”ujar pelayan
itu sambil menutup mulutnya berjalan menjauh.
Delina langsung memakai pakaiannya lagi setelah
Kevin menutup pintu. Kevin yang masih tegang-tegangnya menghalangi Delina yang
ingin keluar kamar.
“Nanggung, bentaran turunnya.”kata Kevin menahan
tubuh Delina.
“Hubby! Ntar nenek marah!”teriak Delina saat Kevin
menariknya kembali keatas tempat tidur.
Delina mengerang saat Kevin menyatukan tubuh mereka
lagi. Ia melakukannya dengan cepat kali ini. Setelah puas, Kevin membantu
membersihkan tubuh Delina dan menemaninya turun.
Kevin mengetuk pintu kamar nenek Indri. Mereka
menunggu sebentar sebelum nenek Indri menyuruh mereka masuk. Alvin dan Amira
sudah ada di dalam sana, Giselle dan Agnes juga ada. Delina dan Kevin duduk di
sofa dengan wajah memerah. Amira dan Alvin tidak perlu bertanya lagi apa yang
membuat mereka berdua terlihat begitu segar.
kalian mengadakan resepsi?”tanya nenek Indri membuat Giselle keselek. Ia tadi hampir
yakin kalau nenek Indri akan memerintahkan Kevin menceraikan Delina secepatnya.
“Uhuk! Uhuk! Bu...”panggil Giselle. Nenek Indri
mengangkat tangannya menyuruh Giselle diam dulu.
Kevin menatap Delina sambil tersenyum, “Dalam
sebulan ini, nek. Kevin sudah siapkan semuanya. Tapi belum tanya Delina mau
konsep seperti apa.”
Delina menatap Kevin juga, ia tersenyum malu
mengingat percintaan mereka tadi. Nenek Indri mengeluarkan sebuah map dihadapan
mereka semua. Ia membuka map itu, isinya tentu saja perjanjian antara Delina
dengan Kevin dulu saat mereka baru menikah.
Disitu tertulis jelas kalau Delina tidak akan
menggunakan atau meminta uang Kevin diluar tanggung jawab Kevin sebagai suami.
Terlampir juga tagihan kartu kredit dan juga buku bank milik Delina yang
saldonya mencapai ratusan juta rupiah. Delina belum mengetahui saldo
tabungannya karena Kevin mentransfer uang itu diam-diam.
Delina melotot kaget melihat print out buku
tabungannya. Ia menoleh pada Kevin dan menyodorkan buku itu.
“Hubby, apa ini kerjaanmu?”tanya Delina dingin. Dia
__ADS_1
sudah cukup kena masalah tidak dianggap cucu menantu oleh nenek Indri. Sekarang
Kevin memberinya masalah baru. “Saldo tabungan milik saya cuma ekornya saja,
nyonya besar.”kata Delina ketika nenek Indri menatapnya curiga.
“Bu, sudahlah. Aku yang minta Kevin mengirimkan
uang itu. Delina mau buka usaha toko kebaya, bu. Dia memerlukan uang itu untuk
modal usaha.”kata Alvin.
Delina menatap tidak percaya pada Alvin dan Amira
yang sudah tersenyum menatapnya. Impiannya akan segera terwujud dengan bantuan
dari mertua dan suaminya. Tapi Delina merasa nenek Indri tidak suka dengan
keputusan Alvin itu. Nenek Indri tetap diam menatap wajah semua orang dan
berakhir menatapnya tajam.
Kali nenek Indri menyodorkan map lain pada Delina.
Ia membuka dan membacanya. Isinya surat perjanjian hutang piutang. Kevin yang
melihat isi map itu hampir protes pada nenek Indri tapi Delina membuatnya tetap
diam. Di dalam perjanjian itu tertulis kalau jaminan hutang adalah rumah milik
Delina dan pinjaman itu tanpa bunga dengan jangka waktu pengembalian selama
lima tahun.
Delina langsung mengambil pulpen yang tersedia dan
menandatanganinya tanpa ragu. “Sertifikat rumah saya ada di walk in closet
kamar hubby, nyonya besar. Nanti saya titipkan ke ayah.”kata Delina menyerahkan
kembali map berisi perjanjian hutang piutang itu. Tinggal tanda tangan Alvin,
Kevin dan Amira saja yang belum tercantum disana.
Nenek Indri meminta Delina keluar dulu. “Sekalian
buatkan nenek jus buah naga ya.”
“Baik, nyonya besar.”kata Delina sopan sebelum
keluar dari kamar itu.
Sepeninggal Delina, nenek Indri mengeluh, padahal
ia sudah mencoba menyuruh Delina memanggilnya nenek, tapi Delina nggah ngeh.
Alvin, Amira, dan Kevin saling pandang sambil
tersenyum. “Dia perlu waktu, nek. Dulu manggil ayah sama ibu juga gitu, lama
baru biasa.”saut Kevin.
Giselle meremas tangannya dengan kesal. Sekarang
nenek Indri bahkan sudah mulai menerima Delina jadi cucu menantunya.
“Tapi nenek belum percaya dia sepenuhnya ya. Kita
liat usahanya beberapa tahun ini. Kevin ini kesempatan pertama dan terakhir
untuk dia. Kalau dia tidak berhasil, kamu harus menikah dengan wanita pilihan
nenek.”ancam nenek Indri.
”Akan kubuat Delina segera hamil, kita lihat saja
apa nenek bisa memisahkan kami nanti.” batin Kevin. Ia tersenyum tipis pada
nenek Indri.
*****
__ADS_1
Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel
saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.