Penjahit Hati

Penjahit Hati
Episode 90


__ADS_3

“Makasi, Delina. Aku pengen banget makan ini.”kata


Agnes sambil memakan dimsumnya dibalik lemari penyimpanan di dapur.


“Iya, sama-sama. Ini minumnya. Aku ke meja makan


lagi ya. Sstt...”ucap Delina mengedipkan matanya pada Agnes.


Nenek Indri memergoki Agnes dan Delina bersama di


dapur. Ia ingin mencicipi dimsum juga tapi dimsumnya keburu habis. Delina


menunduk canggung di depan nenek Indri. Masih ada satu dimsum lagi di piring


Agnes, wanita itu menyodorkannya pada nenek Indri.


“Nenek, aaa...”kata Agnes menyuapi nenek Indri.


Nenek Indri membuka mulutnya, mengunyah dimsum lembut yang masuk ke mulutnya.


Ia mengangguk-angguk sambil berjalan keluar dari dapur tanpa mengatakan


apa-apa. Delina dan Agnes cuma bisa saling pandang sambil tersenyum tipis.


Ketika malam menjelang sebelum makan siang, Kevin


mengajak Delina ke kamar mereka. Delina duduk di atas tempat tidur, ia merasakan


tubuhnya sedikit pegal. Sejak pagi ketegangan melanda Delina yang harus


berhadapan dengan nenek Indri dan keluarga besar Alvin.


Mereka semua memang tidak menekan Delina karena ada


Alvin disana yang tidak melepaskan pengawasannya dari menantunya itu. Tapi


Delina belum tentu diterima jadi menantu nenek Indri. Ia masih harus berjuang


sedikit lagi untuk bisa dianggap layak di mata nenek Indri.


Kevin yang melihat Delina memijat bahunya sendiri,


beranjak mendekati istrinya itu. “Sayang, mau mandi berendam gak?”tanya Kevin.


Delina langsung menoleh pada suaminya itu. “Cuma


mandi kan?”tanya Delina dengan mata jernihnya menatap Kevin. Ia mencoba membaca


apa yang sedang Kevin pikirkan saat ini.


“Yah, masa cuma mandi, yank. Ngapain dikit gitu.”rayu


Kevin menaik-turunkan alisnya.


Delina menggeleng, “Nanti di denger orang diluar,


hubby.”


“Makanya jangan berisik.”sambar Kevin langsung mencium


bibir pink Delina. Ia menarik tangan Delina untuk bangkit tanpa melepas ciuman


mereka. Kevin menanggalkan satu persatu pakaian Delina tanpa memberinya


kesempatan bicara. Delina melenguh saat Kevin mulai memancing hasratnya. Mereka


hampir mencapai puncak permainan, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamar itu.


“Aarrggghh!!! Sapa sich! Nggak tau orang lagi


sibuk.”ujar Kevin ngamuk-ngamuk.


Delina menahan senyumnya, ia menarik selimut


menutupi tubuhnya dan meminta Kevin membuka pintu. Kevin memakai kemejanya lagi


dan boxer. Ia membuka pintu, menatap tajam pelayan yang terpana melihat


penampilannya.


“Ada apa?!”tanya Kevin ketus.

__ADS_1


“Maaf, tuan muda. Nyonya besar tua memanggil nona


muda Delina ke kamarnya sekarang.”kata pelayan itu.


Delina langsung keluar dari balik selimut. Pelayan


melihat Delina tidak berpakaian lengkap, menunduk menahan senyumnya. Kevin


menutup sedikit pintu kamar itu, “Kenapa nenek mencari Delina?”


“Saya kurang tahu, tuan muda. Permisi.”ujar pelayan


itu sambil menutup mulutnya berjalan menjauh.


Delina langsung memakai pakaiannya lagi setelah


Kevin menutup pintu. Kevin yang masih tegang-tegangnya menghalangi Delina yang


ingin keluar kamar.


“Nanggung, bentaran turunnya.”kata Kevin menahan


tubuh Delina.


“Hubby! Ntar nenek marah!”teriak Delina saat Kevin


menariknya kembali keatas tempat tidur.


Delina mengerang saat Kevin menyatukan tubuh mereka


lagi. Ia melakukannya dengan cepat kali ini. Setelah puas, Kevin membantu


membersihkan tubuh Delina dan menemaninya turun.


Kevin mengetuk pintu kamar nenek Indri. Mereka


menunggu sebentar sebelum nenek Indri menyuruh mereka masuk. Alvin dan Amira


sudah ada di dalam sana, Giselle dan Agnes juga ada. Delina dan Kevin duduk di


sofa dengan wajah memerah. Amira dan Alvin tidak perlu bertanya lagi apa yang


membuat mereka berdua terlihat begitu segar.


kalian mengadakan resepsi?”tanya nenek Indri membuat Giselle keselek. Ia tadi hampir


yakin kalau nenek Indri akan memerintahkan Kevin menceraikan Delina secepatnya.


“Uhuk! Uhuk! Bu...”panggil Giselle. Nenek Indri


mengangkat tangannya menyuruh Giselle diam dulu.


Kevin menatap Delina sambil tersenyum, “Dalam


sebulan ini, nek. Kevin sudah siapkan semuanya. Tapi belum tanya Delina mau


konsep seperti apa.”


Delina menatap Kevin juga, ia tersenyum malu


mengingat percintaan mereka tadi. Nenek Indri mengeluarkan sebuah map dihadapan


mereka semua. Ia membuka map itu, isinya tentu saja perjanjian antara Delina


dengan Kevin dulu saat mereka baru menikah.


Disitu tertulis jelas kalau Delina tidak akan


menggunakan atau meminta uang Kevin diluar tanggung jawab Kevin sebagai suami.


Terlampir juga tagihan kartu kredit dan juga buku bank milik Delina yang


saldonya mencapai ratusan juta rupiah. Delina belum mengetahui saldo


tabungannya karena Kevin mentransfer uang itu diam-diam.


Delina melotot kaget melihat print out buku


tabungannya. Ia menoleh pada Kevin dan menyodorkan buku itu.


“Hubby, apa ini kerjaanmu?”tanya Delina dingin. Dia

__ADS_1


sudah cukup kena masalah tidak dianggap cucu menantu oleh nenek Indri. Sekarang


Kevin memberinya masalah baru. “Saldo tabungan milik saya cuma ekornya saja,


nyonya besar.”kata Delina ketika nenek Indri menatapnya curiga.


“Bu, sudahlah. Aku yang minta Kevin mengirimkan


uang itu. Delina mau buka usaha toko kebaya, bu. Dia memerlukan uang itu untuk


modal usaha.”kata Alvin.


Delina menatap tidak percaya pada Alvin dan Amira


yang sudah tersenyum menatapnya. Impiannya akan segera terwujud dengan bantuan


dari mertua dan suaminya. Tapi Delina merasa nenek Indri tidak suka dengan


keputusan Alvin itu. Nenek Indri tetap diam menatap wajah semua orang dan


berakhir menatapnya tajam.


Kali nenek Indri menyodorkan map lain pada Delina.


Ia membuka dan membacanya. Isinya surat perjanjian hutang piutang. Kevin yang


melihat isi map itu hampir protes pada nenek Indri tapi Delina membuatnya tetap


diam. Di dalam perjanjian itu tertulis kalau jaminan hutang adalah rumah milik


Delina dan pinjaman itu tanpa bunga dengan jangka waktu pengembalian selama


lima tahun.


Delina langsung mengambil pulpen yang tersedia dan


menandatanganinya tanpa ragu. “Sertifikat rumah saya ada di walk in closet


kamar hubby, nyonya besar. Nanti saya titipkan ke ayah.”kata Delina menyerahkan


kembali map berisi perjanjian hutang piutang itu. Tinggal tanda tangan Alvin,


Kevin dan Amira saja yang belum tercantum disana.


Nenek Indri meminta Delina keluar dulu. “Sekalian


buatkan nenek jus buah naga ya.”


“Baik, nyonya besar.”kata Delina sopan sebelum


keluar dari kamar itu.


Sepeninggal Delina, nenek Indri mengeluh, padahal


ia sudah mencoba menyuruh Delina memanggilnya nenek, tapi Delina nggah ngeh.


Alvin, Amira, dan Kevin saling pandang sambil


tersenyum. “Dia perlu waktu, nek. Dulu manggil ayah sama ibu juga gitu, lama


baru biasa.”saut Kevin.


Giselle meremas tangannya dengan kesal. Sekarang


nenek Indri bahkan sudah mulai menerima Delina jadi cucu menantunya.


“Tapi nenek belum percaya dia sepenuhnya ya. Kita


liat usahanya beberapa tahun ini. Kevin ini kesempatan pertama dan terakhir


untuk dia. Kalau dia tidak berhasil, kamu harus menikah dengan wanita pilihan


nenek.”ancam nenek Indri.


”Akan kubuat Delina segera hamil, kita lihat saja


apa nenek bisa memisahkan kami nanti.” batin Kevin. Ia tersenyum tipis pada


nenek Indri.


*****

__ADS_1


Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel


saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.


__ADS_2