Penjahit Hati

Penjahit Hati
Episode 111


__ADS_3

“Dengar, Delina. Ibu bukannya nggak mau, tapi kalau


ayah sudah bilang gitu, terima saja ya.”saut Amira.


“Hubbyy....”panggil Delina menoleh menatap Kevin dengan


mata berkaca-kaca lagi.


“Yah, lakukan saja dech. Aku terancam nggak boleh


tidur di kamar nich. Aku juga udah lama nggak mengunjungi anakku tuch, disitu.”tunjuk


Kevin ke perut Delina. Delina langsung menyendok besar nasi dan memasukkannya


ke mulut Kevin. Ia malu pada pengacara Juni yang mendengar kata-kata Kevin.


Alvin memberi kode pada pengacara Juni untuk


mendekat, pengacara itu mengangguk lalu menyiapkan dokumen yang diminta Alvin.


Begitu dokumen itu disodorkan ke hadapan Delina, wanita itu menandatanganinya


tanpa membaca lagi.


“Akhirnya aku bebas! Hubby, ayo pulang. Aku mau


mandi trus tidur.”kata Delina. Ia mencium tangan kedua mertuanya, mengucapkan


salam pada pengacara Juni dan stafnya, lalu menarik tangan Kevin yang bahkan


belum selesai makan, keluar dari kamar itu.


Sepeninggal Delina dan Kevin, Amira menarik dokumen


yang barusan di tanda tangani Delina.


“Yank, ini kan cuma surat kuasa, bukan surat


pengalihan saham dan aset.”kata Amira setelah melihat isi dokumen itu.


“Habisnya dia merengek terus seperti Dodo kalau


minta sesuatu. Setidaknya untuk sementara ini dia bisa diem dulu. Oh, bulan


maduku.”keluh Alvin.


“Sudah punya cucu hampir tiga, masih aja mau bulan


madu. Nggak malu sama umur?”tanya Amira sambil melirik pengacara Juni yang


menahan senyumnya. “Kenapa juga kamu nggak ambil lagi saham itu dari Delina?”


Amira menatap suaminya heran, ia pernah bertanya


kenapa Alvin melakukan semua itu. Memindahkan asetnya atas nama Delina, bahkan


menyatakan ia bangkrut. Tapi Alvin tidak pernah mau menjawabnya.


“Aku hanya melakukan pembersihan. Kamu tahu, kalau


kita lagi diatas dan punya banyak uang, semua orang memuji memuja kita seperti


dewa. Tapi saat kita tidak punya apa-apa, tiba-tiba saja mereka menghilang dari


sisi kita. Kau kenal kan teman-temanku?”tanya Alvin.


Amira mengingat beberapa teman Alvin yang paling


dekat dengannya. Mereka selalu menghubungi Alvin hampir setiap hari, tapi saat


Alvin bangkrut, hanya satu orang yang masih setia menghubunginya.


“Maksudmu, pak Henry?”tanya Amira memastikan


ingatannya.


“Tepat sekali. Kelima temanku menghilang dan hanya


Henry yang tetap mau membantuku. Pengacara Juni juga.”kata Alvin menganggukkan kepalanya


kearah pria itu.


“Saya sudah menganggap tuan besar sebagai kerabat

__ADS_1


dekat dan bukan client.”saut pengacara itu.


Mereka semua keluar dari kamar itu dan kembali


pulang ke mansion. Pengacara Juni segera mengurus pemindahan jabatan direktur


kepada Alvin yang membuat geger perusahaan itu. Bahkan kembalinya Alvin seperti


magnet yang menarik orang-orang bermuka dua untuk kembali mendekati pria paruh


baya itu.


Giselle adalah orang pertama yang menelpon Alvin. Ia


menanyakan apa Alvin sudah kembali kaya raya seperti sebelumnya, “Aku cuma jadi


direktur lagi, Giselle. Bukan pemegang saham terbesar.”saut Alvin.


“Ach, jadi kau akan tinggal dimana, kak?”tanya


Giselle.


“Untuk saat ini aku akan tinggal bersama Delina.”kata


Alvin.


Giselle terdiam, ia juga tahu kalau mansion yang


ditempati Delina sudah beralih menjadi atas nama Delina. Itu artinya Alvin


benar-benar tidak punya apa-apa saat ini dan hanya bergantung pada Delina.


“Kak, aku punya sedikit tabungan....”Alvin menunggu


kata-kata Giselle selanjutnya. “Aku juga masih ada hadiah dari kakak. Kita jual


saja ya. Kakak bisa mulai bisnis lagi.”Giselle tidak bisa menahan tangisannya.


Biar bagaimanapun rakusnya dirinya dengan harta, kebangkrutan Alvin memberikan


pukulan yang sangat telak dalam hidup Giselle.


Selama beberapa bulan ini, ia tahu kalau Delina


yang memberikan uang itu tapi uang hasil bekerja menjadi model tidak sebesar


itu. Giselle mulai bisa menerima kehadiran Delina sebagai bagian dari keluarga


mereka.


“Giselle, kamu cukup menjaga dirimu dan keluargamu


ya. Aku baik-baik saja. Delina sudah menjagaku dan Amira selama beberapa bulan


ini. Kami akan baik-baik saja. Besok malam aku akan datang ke rumahmu.”kata


Alvin menahan haru karena adik angkatnya mengkhawatirkan dirinya.


“Aku akan masakkan makanan kesukaanmu, kak. Oh, aku


harus belanja. Sampai jumpa besok, kak.”kata Giselle bersemangat.


Alvin menutup telponnya, mereka sudah sampai di


perusahaan Alvin dan beberapa karyawan bersiap menyambutnya. Setelah


berbasa-basi menerima sambutan para karyawannya, Alvin naik ke kantornya di


lantai paling atas. Tasya dan Nana sudah bersiap menyambut Alvin kembali.


*****


Keesokan harinya di rumah Agnes, Giselle tampak


sibuk memasak makanan kesukaan Alvin. Agnes yang gelisah sejak semalam, mencoba


bicara pada mamanya. Ia belum memberi tahu Giselle kalau Alvin akan datang


bersama Ali.


Agnes duduk di dekat Giselle yang sedang memotong


bahan masakan. Ia ingin membuat dimsum udang, setidaknya berusaha membuat

__ADS_1


makanan kesukaan Alvin dan dirinya itu. “Ach, jelek sekali potongan mama. Dulu


Delina membuatnya gimana ya?”tanya Giselle pada dirinya sendiri.


Agnes mendapat kesempatan membantu mamanya sambil


bicara, ia mengambil pisau dan memotong udang seperti yang dilakukan Delina dulu.


Agnes juga yang melipat dimsum seperti yang pernah diajarkan Delina padanya.


“Malah kamu yang ngerjain semuanya.”keluh Giselle.


Agnes tersenyum dan meminta mamanya yang mengukus


dimsum itu. Giselle menyiapkan makanan lainnya, ia sengaja menyiapkannya


sendiri karena ingin menunjukkan pada Alvin kalau ia sudah bisa masak.


Kebangkrutan Alvin membuat Giselle berubah, ia


berhenti bergaul dengan teman-teman kayanya dan lebih banyak menghabiskan


waktunya di rumah. Sementara ayah Agnes membantu Agnes mengurus jadwalnya


menjadi model sekalian menjadi sopir putrinya itu.


“Apa aku harus membersihkan ruang tamu lagi?


Kakakku akan datang, dia tidak suka melihat debu. Agnes, kamu lihat kukusannya


dulu ya. Mama mau ke depan, bersih-bersih lagi.”kata Giselle.


“Mah....”panggil Agnes. Wanita itu menarik nafas


panjang, Agnes memberanikan dirinya untuk bicara dengan Giselle. Setidaknya


Agnes akan tahu reaksi mamanya sekarang. “Mah, duduk sini dulu bentar.”


“Kenapa, Nes? Mama sibuk nich. Masih banyak yang


harus mama kerjain.”saut Giselle tapi mendekati putrinya juga. Agnes memeluk


pinggang Giselle, menempelkan pipinya ke perut mamanya.


“Mah, aku mau nikah.”bisik Agnes tapi masih bisa


didengar Giselle.


“Kamu hamil?!”jerit Giselle shock, hampir jatuh


dari berdirinya. Agnes cepat-cepat menyuruh mamanya duduk di kursi. “Agnes,


mama kan udah bilang jadi model harus hati-hati. Kamu nggak harus maksain diri


nyari kerja kayak gitu. Mama takut bakalan begini, Agnes. Siapa dia? Siapa


laki-laki itu?”tanya Giselle tanpa menunggu jawaban Agnes.


Agnes tersenyum geli melihat mamanya panik,


telinganya terasa panas saat Giselle menjewer telinga Agnes. “Malah ketawa.


Mama serius, Agnes. Apa jangan-jangan laki-laki itu udah nikah? Punya anak? Kamu


jadi pelakor?!”jerit Giselle semakin membuat Agnes ketawa ngakak.


“Haduuh, gimana ini? Kamu hamil dan sekarang jadi


gila. Mama yang bersalah, sayang.”keluh Giselle membekap wajah Agnes yang masih


ketawa ngakak.


“Siapa yang hamil?!”pekik Tristan yang mendengar


kata-kata Giselle.


“Agnes, mas. Masa aku.”saut Giselle lemes.


*****


Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel


saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.

__ADS_1


__ADS_2