
“Dengar, Delina. Ibu bukannya nggak mau, tapi kalau
ayah sudah bilang gitu, terima saja ya.”saut Amira.
“Hubbyy....”panggil Delina menoleh menatap Kevin dengan
mata berkaca-kaca lagi.
“Yah, lakukan saja dech. Aku terancam nggak boleh
tidur di kamar nich. Aku juga udah lama nggak mengunjungi anakku tuch, disitu.”tunjuk
Kevin ke perut Delina. Delina langsung menyendok besar nasi dan memasukkannya
ke mulut Kevin. Ia malu pada pengacara Juni yang mendengar kata-kata Kevin.
Alvin memberi kode pada pengacara Juni untuk
mendekat, pengacara itu mengangguk lalu menyiapkan dokumen yang diminta Alvin.
Begitu dokumen itu disodorkan ke hadapan Delina, wanita itu menandatanganinya
tanpa membaca lagi.
“Akhirnya aku bebas! Hubby, ayo pulang. Aku mau
mandi trus tidur.”kata Delina. Ia mencium tangan kedua mertuanya, mengucapkan
salam pada pengacara Juni dan stafnya, lalu menarik tangan Kevin yang bahkan
belum selesai makan, keluar dari kamar itu.
Sepeninggal Delina dan Kevin, Amira menarik dokumen
yang barusan di tanda tangani Delina.
“Yank, ini kan cuma surat kuasa, bukan surat
pengalihan saham dan aset.”kata Amira setelah melihat isi dokumen itu.
“Habisnya dia merengek terus seperti Dodo kalau
minta sesuatu. Setidaknya untuk sementara ini dia bisa diem dulu. Oh, bulan
maduku.”keluh Alvin.
“Sudah punya cucu hampir tiga, masih aja mau bulan
madu. Nggak malu sama umur?”tanya Amira sambil melirik pengacara Juni yang
menahan senyumnya. “Kenapa juga kamu nggak ambil lagi saham itu dari Delina?”
Amira menatap suaminya heran, ia pernah bertanya
kenapa Alvin melakukan semua itu. Memindahkan asetnya atas nama Delina, bahkan
menyatakan ia bangkrut. Tapi Alvin tidak pernah mau menjawabnya.
“Aku hanya melakukan pembersihan. Kamu tahu, kalau
kita lagi diatas dan punya banyak uang, semua orang memuji memuja kita seperti
dewa. Tapi saat kita tidak punya apa-apa, tiba-tiba saja mereka menghilang dari
sisi kita. Kau kenal kan teman-temanku?”tanya Alvin.
Amira mengingat beberapa teman Alvin yang paling
dekat dengannya. Mereka selalu menghubungi Alvin hampir setiap hari, tapi saat
Alvin bangkrut, hanya satu orang yang masih setia menghubunginya.
“Maksudmu, pak Henry?”tanya Amira memastikan
ingatannya.
“Tepat sekali. Kelima temanku menghilang dan hanya
Henry yang tetap mau membantuku. Pengacara Juni juga.”kata Alvin menganggukkan kepalanya
kearah pria itu.
“Saya sudah menganggap tuan besar sebagai kerabat
__ADS_1
dekat dan bukan client.”saut pengacara itu.
Mereka semua keluar dari kamar itu dan kembali
pulang ke mansion. Pengacara Juni segera mengurus pemindahan jabatan direktur
kepada Alvin yang membuat geger perusahaan itu. Bahkan kembalinya Alvin seperti
magnet yang menarik orang-orang bermuka dua untuk kembali mendekati pria paruh
baya itu.
Giselle adalah orang pertama yang menelpon Alvin. Ia
menanyakan apa Alvin sudah kembali kaya raya seperti sebelumnya, “Aku cuma jadi
direktur lagi, Giselle. Bukan pemegang saham terbesar.”saut Alvin.
“Ach, jadi kau akan tinggal dimana, kak?”tanya
Giselle.
“Untuk saat ini aku akan tinggal bersama Delina.”kata
Alvin.
Giselle terdiam, ia juga tahu kalau mansion yang
ditempati Delina sudah beralih menjadi atas nama Delina. Itu artinya Alvin
benar-benar tidak punya apa-apa saat ini dan hanya bergantung pada Delina.
“Kak, aku punya sedikit tabungan....”Alvin menunggu
kata-kata Giselle selanjutnya. “Aku juga masih ada hadiah dari kakak. Kita jual
saja ya. Kakak bisa mulai bisnis lagi.”Giselle tidak bisa menahan tangisannya.
Biar bagaimanapun rakusnya dirinya dengan harta, kebangkrutan Alvin memberikan
pukulan yang sangat telak dalam hidup Giselle.
Selama beberapa bulan ini, ia tahu kalau Delina
yang memberikan uang itu tapi uang hasil bekerja menjadi model tidak sebesar
itu. Giselle mulai bisa menerima kehadiran Delina sebagai bagian dari keluarga
mereka.
“Giselle, kamu cukup menjaga dirimu dan keluargamu
ya. Aku baik-baik saja. Delina sudah menjagaku dan Amira selama beberapa bulan
ini. Kami akan baik-baik saja. Besok malam aku akan datang ke rumahmu.”kata
Alvin menahan haru karena adik angkatnya mengkhawatirkan dirinya.
“Aku akan masakkan makanan kesukaanmu, kak. Oh, aku
harus belanja. Sampai jumpa besok, kak.”kata Giselle bersemangat.
Alvin menutup telponnya, mereka sudah sampai di
perusahaan Alvin dan beberapa karyawan bersiap menyambutnya. Setelah
berbasa-basi menerima sambutan para karyawannya, Alvin naik ke kantornya di
lantai paling atas. Tasya dan Nana sudah bersiap menyambut Alvin kembali.
*****
Keesokan harinya di rumah Agnes, Giselle tampak
sibuk memasak makanan kesukaan Alvin. Agnes yang gelisah sejak semalam, mencoba
bicara pada mamanya. Ia belum memberi tahu Giselle kalau Alvin akan datang
bersama Ali.
Agnes duduk di dekat Giselle yang sedang memotong
bahan masakan. Ia ingin membuat dimsum udang, setidaknya berusaha membuat
__ADS_1
makanan kesukaan Alvin dan dirinya itu. “Ach, jelek sekali potongan mama. Dulu
Delina membuatnya gimana ya?”tanya Giselle pada dirinya sendiri.
Agnes mendapat kesempatan membantu mamanya sambil
bicara, ia mengambil pisau dan memotong udang seperti yang dilakukan Delina dulu.
Agnes juga yang melipat dimsum seperti yang pernah diajarkan Delina padanya.
“Malah kamu yang ngerjain semuanya.”keluh Giselle.
Agnes tersenyum dan meminta mamanya yang mengukus
dimsum itu. Giselle menyiapkan makanan lainnya, ia sengaja menyiapkannya
sendiri karena ingin menunjukkan pada Alvin kalau ia sudah bisa masak.
Kebangkrutan Alvin membuat Giselle berubah, ia
berhenti bergaul dengan teman-teman kayanya dan lebih banyak menghabiskan
waktunya di rumah. Sementara ayah Agnes membantu Agnes mengurus jadwalnya
menjadi model sekalian menjadi sopir putrinya itu.
“Apa aku harus membersihkan ruang tamu lagi?
Kakakku akan datang, dia tidak suka melihat debu. Agnes, kamu lihat kukusannya
dulu ya. Mama mau ke depan, bersih-bersih lagi.”kata Giselle.
“Mah....”panggil Agnes. Wanita itu menarik nafas
panjang, Agnes memberanikan dirinya untuk bicara dengan Giselle. Setidaknya
Agnes akan tahu reaksi mamanya sekarang. “Mah, duduk sini dulu bentar.”
“Kenapa, Nes? Mama sibuk nich. Masih banyak yang
harus mama kerjain.”saut Giselle tapi mendekati putrinya juga. Agnes memeluk
pinggang Giselle, menempelkan pipinya ke perut mamanya.
“Mah, aku mau nikah.”bisik Agnes tapi masih bisa
didengar Giselle.
“Kamu hamil?!”jerit Giselle shock, hampir jatuh
dari berdirinya. Agnes cepat-cepat menyuruh mamanya duduk di kursi. “Agnes,
mama kan udah bilang jadi model harus hati-hati. Kamu nggak harus maksain diri
nyari kerja kayak gitu. Mama takut bakalan begini, Agnes. Siapa dia? Siapa
laki-laki itu?”tanya Giselle tanpa menunggu jawaban Agnes.
Agnes tersenyum geli melihat mamanya panik,
telinganya terasa panas saat Giselle menjewer telinga Agnes. “Malah ketawa.
Mama serius, Agnes. Apa jangan-jangan laki-laki itu udah nikah? Punya anak? Kamu
jadi pelakor?!”jerit Giselle semakin membuat Agnes ketawa ngakak.
“Haduuh, gimana ini? Kamu hamil dan sekarang jadi
gila. Mama yang bersalah, sayang.”keluh Giselle membekap wajah Agnes yang masih
ketawa ngakak.
“Siapa yang hamil?!”pekik Tristan yang mendengar
kata-kata Giselle.
“Agnes, mas. Masa aku.”saut Giselle lemes.
*****
Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel
saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.
__ADS_1