
“Kau sudah membujuknya?”
Ali mengatakan kalau ia sudah berusaha melakukan
segala cara untuk membujuk Kevin tapi sia-sia.
“Semalam aku menginap diapartment-nya dan kak Kevin
baru tidur jam 2 pagi. Dia bangun jam 5, bersiap ke kantor lagi. Dia juga
terlihat sangat sedih, ayah.”
Alvin melirik Delina yang masih terpaku di
tempatnya padahal air di ketel sudah mendidih sejak tadi.
“Ina, ketelnya bunyi.”
Delina tersentak, ia mengambil ketel itu dengan
terburu-buru dan tidak sengaja menyentuh bagian yang panas.
“Aduch!”Delina mengibaskan tangannya yang mulai
memerah. Ali dengan cepat menarik tangan Delina ke bawah kucuran air dan
memberinya salep luka bakar.
“Ali, aku akan buatkan makanan untuk Kevin. Bisa kau
tolong antar kesana?”
“Kakak ipar, kau tahu itu tidak berhasil. Kak Kevin
menunggumu, kak. Sekali ini saja, demi kesehatannya. Aku dokter, kak. Aku tahu
sampai dimana batas tubuhnya. Kalau sampai nanti malam, dia tidak istirahat
dengan baik. Besok aku harus membawanya ke rumah sakit, kak.”
Delina terhenyak, ia sampai memegangi meja dapur
untuk menahan tubuhnya. Alvin melihat Delina berjalan dengan lunglai menuju
__ADS_1
kamar Kevin. Ia menoleh pada Ali yang kembali duduk di sampingnya dengan kopi
ditangannya.
“Apa kau yakin bisa berhasil? Memangnya kondisi
Kevin separah itu?”
“Sedikit berlebihan sich, yah. Tapi kalau ini tidak
berhasil juga, apa yang aku katakan tadi akan jadi kenyataan. Kenapa harus aku
yang menyelesaikan masalah mereka?”
“Apa yang terjadi sebenarnya?”
Ali mengatakan kalau Kevin mencium Delina di kincir
ria dan Delina ngambek gara-gara itu. Kevin tidak berani pulang karena takut
Delina akan minta cerai kalau melihatnya lagi. Alvin tertawa terbahak-bahak
mendengar cerita Ali. Ia geleng-geleng kepala dengan masalah yang dihadapi Kevin
“Ayah sich seneng aja lihat Kevin kerja keras. Tapi
kalau tiap hari kayak gitu, kasian juga ya karyawan ayah. Mereka mulai stress
dan ngedumel setiap melihat Kevin datang.”
Delina kembali lagi ke dapur. Ia membuka kulkas dan
mengeluarkan beberapa bahan makanan. Delina membuat makanan bergizi untuk Kevin
dengan banyak daging dan sayuran. Alvin sampai menelan liurnya mencium wangi
masakan Delina.
“Sri, sini.”panggil Alvin.
Alvin meminta Sri untuk membantu Delina memasak dan
melebihkan masakan untuknya karena Alvin ingin mencicipi masakan Delina.
__ADS_1
Setelah masakan Delina jadi, Delina memasukkannya ke rantang.
“Ali, bisa gak kamu antar aku ke apartment hubby?”tanya
Delina hati-hati.
“Bisa banget, kakak ipar. Ayo.”
“Tuan besar, saya pergi dulu.”pamit Delina.
Alvin mengangguk dan menatap kepergian Delina
dengan senyum mengembang. Sri segera menyiapkan menu makanan lagi untuk
pelengkap makan malam keluarga mereka. Sementara Alvin menunggu Amira pulang.
Ali membawa Delina ke apartment Kevin dan
meninggalkannya disana dengan alasan ia harus ke rumah sakit karena panggilan darurat.
Delina melihat apartment itu dalam keadaan bersih dan rapi. Setelah
menghidangkan makanan diatas piring, Delina menunggu Kevin pulang.
Kevin sedang dalam perjalan pulang, barusan ia
diusir dari kantornya sendiri oleh body guard ayahnya. Alasan mereka akan ada
penyemprotan hama malam itu juga. Kevin mau kesal tapi tidak bisa ketika melihat beberapa orang berpakaian
kerja lengkap siap menyemprot ruangannya.
Delina menoleh saat pintu apartment Kevin terbuka
dan Kevin masuk kesana. Ia meletakkan tasnya di atas meja dan menjatuhkan
tubuhnya di sofa. Tangannya menarik dasi di lehernya dengan mata terpejam.
*****
Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel
saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.
__ADS_1