Penjahit Hati

Penjahit Hati
PH - Secangkir kopi lagi


__ADS_3

PH - Secangkir kopi lagi


“Oh, baiklah. Ikut aku.” Ajak Ny. Amira.


Delina mengikuti Ny. Amira masuk ke kamarnya,


seperti biasa Delina membantu setiap pelanggannya untuk mencoba kebaya yang


dijahitnya. Ny. Amira mematutkan dirinya di depan cermin, kebaya berwarna biru


itu melekat dengan pas di tubuhnya.


“Sangat pas. Tidak akan mengkerut kan?” tanya Ny.


Amira pada Delina.


“Sebaiknya jangan dicuci dengan air sabun. Dry


clean saja, Ny.” usul Delina.


“Mana satunya lagi?” tanya Ny. Amira.


Delina membantu Ny. Amira melepas kebaya yang baru


saja di cobanya dan memakaikan kebaya satunya lagi berikut juga dengan rok


batiknya. Ny. Amira mematut dirinya di depan cermin, ia tersenyum puas dengan


hasilnya. Kebaya lama kesayangannya sudah bisa ia pakai lagi.


“Ok. Berapa yang harus kubayar?” tanya Ny. Amira


setelah Delina membantu melepaskan kebaya itu lagi.


“Ny. sudah membayar Dp-nya sebesar 500rb, pekerjaan


saya totalnya 850rb. Sisanya 350rb, Ny.” kata Delina setelah melihat buku


catatannya.


Ny. Amira mengambil tas dan mengeluarkan dompetnya,


ia memberikan 5 lembar uang 100rban pada Delina.


“Ini terlalu banyak, Ny. hanya 350rb.” Kata Delina


sambil mengembalikan 150rb pada Ny. Amira.


“Sisanya pake DP kebaya berikutnya. Aku ada acara


dua minggu lagi. Sebentar kuambil dulu kainnya.” Kata Ny. Amira sambil berjalan


menuju lemarinya.


“Saya tunggu di luar ya, Ny.” kata Delina sambil


keluar dari kamar Ny. Amira.


Buk! Delina meringis saat hidungnya menabrak


sesuatu, ia bahkan baru keluar dari kamar Ny. Amira. Sambil meringis ia


mengintip siapa yang baru saja ia tabrak.


“Tuan muda Kevin! Maaf, saya tidak melihat, tuan.”


Kata Delina sambil menjauh dari Kevin. Entah kenapa ia merasa harus menjaga


jarak dengan pria ini.



“Ngapain kamu di kamar ibuku?!” ketus Kevin.


“Saya...” Delina bahkan belum menyelesaikan


kalimatnya saat Kevin mulai memerintah dirinya lagi.


“Buatkan aku kopi dan cemilan. Aku mau roti bakar


dengan selai coklat. Cepat!” ketus Kevin di depan wajah Delina.


“...” Delina kehilangan kata-katanya menghadapi


Kevin yang galak.


“Apa perintahku kurang jelas?!” ketus Kevin lagi.



Delina hanya bisa mengangguk pasrah, apa orang kaya


selalu begini, bahkan tidak mendengarkan dirinya bicara dulu. Delina hanya


ingin mengatakan kalau dia penjahit kebaya Ny. Amira dan bukan pelayan untuk

__ADS_1


Kevin.


Dengan langkah cepat, Delina masuk lagi ke dapur.


Ia bertemu dengan Sri disana,


“Delina, ada apa lagi?” tanya Sri heran.


Delina : “Mbak, tuan muda minta dibuatkan kopi


lagi. Apa tuan muda itu selalu seperti ini? Minum kopi setiap 1 jam.” Ujar


Delina sambil mengisi teko air dan meletakkannya diatas kompor.


“Itu aneh.


Tuan muda jarang minta dibuatkan kopi, kecuali kalau dia sedang stress.” Jelas


Sri sambil mengeluarkan cangkir kopi dari tempatnya.


Sri memperhatikan racikan kopi yang dibuatkan


Delina, sama saja dengan racikan kopi biasanya. Tapi bukan kebiasaan Kevin


sampai minta dibuatkan kopi dua kali. Diam-diam Sri mulai memperhatikan sosok


Delina.


”Wanita ini sebenarnya cantik sekali kalau tidak


memakai kerudungnya. Pakaiannya juga seharusnya lebih modis lagi. Sangat sopan


dan juga ramah. Aroma tubuhnya juga sangat enak, memberikan kenyamanan saat


dekat dengannya. Tapi siapa dia sebenarnya?” batin Sri bingung.


“Mbak, apa ada roti tawar dan selai coklat?” tanya


Delina.


“Ada. Kamu lapar?” tanya Sri sambil mengeluarkan


roti tawar dan selai coklat.


“Oh, tidak. Tuan muda minta juga cemilan roti bakar


dengan selai coklat.” Jelas Delina sambil membuka plastik pembungkus roti


tawar.


“Tuan muda minta roti bakar?” tanya Sri meyakinkan


Tuan muda Kevin minta dibuatkan roti bakar dengan


selai coklat, ia sudah berhenti makan roti bakar setelah lulus SMA. Ketika Sri


membuatkannya lagi untuk cemilan Kevin, Kevin mengatakan dengan sangat galak


kalau dia bukan bocah yang harus makan roti bakar selai coklat lagi.


“Iya, mbak Sri. Tuan muda minta dibuatkan cemilan


itu.” Kata Delina sambil mengangkat teko air yang sudah berbunyi tanda air


didalamnya sudah mendidih.


“Aku bantu panggang rotinya ya.” Kata Sri sambil


memasukkan dua potong roti ke dalam mesin pemanggang roti.


Delina mengangguk. Ia sedang menuangkan air panas


ke dalam cangkir kopi Kevin. Sri memperhatikan tangan Delina yang memerah.


“Kenapa tanganmu?” tanya Sri lagi.


“Ini kena air panas tadi, mbak. Waktu saya


menyiapkan air mandi untuk tuan muda. Sudah mendingan kok, mbak. Rotinya sudah


selesai?” tanya Delina sambil memperhatikan cara kerja pemanggang roti.


“Sedikit lagi. Oleskan obat luka bakar ini dulu.”


Kata Sri sambil menyerahkan salep pada Delina.


“Makasih, mb Sri.” Ujar Delina sambil mengobati


luka bakar di tangannya.


Ia meletakkan salep itu di atas meja dapur dan


mencuci jemari tangannya yang terkena salep tadi.


Sri memberikan piring berisi roti bakar pada Delina

__ADS_1


yang langsung mengoleskan selai coklat merata ke seluruh permukaan roti bakar.


Bau wangi kopi dan roti bakar coklat yang baru dipanggang, mengundang perhatian


Ny. Amira yang tidak menemukan Delina di ruang tamu.


“Sedang apa kau di dapur, Delina?” tanya Ny. Amira.


“Saya...” lagi-lagi ucapan Delina dipotong Kevin


yang datang dengan tidak sabar.


“Hei, dimana kopiku?!” tanya Kevin dingin.


Hidungnya menghirup aroma wangi kopi dan roti bakar yang membuat perutnya


berbunyi.


Kruyuk! Ny. Amira menoleh menatap Kevin yang juga


menatapnya.


“Aku lapar, bu.” Kata Kevin menjawab tatapan mata


ibunya.


“Kalau lapar makan nasi, kenapa kau minta kopi pada


Delina?” tanya Ny. Amira mulai kesal dengan kelakuan putra semata wayangnya.


“Itu tugasnya. Cepat bawa ke meja makan.” Perintah


Kevin sambil berjalan ke meja makan.


“Tunggu dulu, Kevin!” cegah Ny. Amira yang mau tak


mau mengejar Kevin juga ke meja makan.


“Apa maksudmu itu tugas Delina?” cecar Ny. Amira.


Delina menyusul mereka dan menghidangkan roti bakar


dan kopi di depan Kevin. Kevin tidak menjawab pertanyaan ibunya, malah asyik


memakan rotinya dengan tangan. Dalam sekejap dua potong roti itu amblas ke


dalam perut Kevin.


“Hei, buatkan lagi! Cepat!” perintah Kevin lagi


sambil menyodorkan piring yang sudah kosong pada Delina.


“Tunggu, Delina. Kevin, jawab pertanyaan ibu.” Kata


Ny. Amyra sambil mencegat Delina yang ingin kembali ke dapur lagi.


“Ibu ini bagaimana? Katanya mau mencarikan aku


pelayan pribadi. Aku sedang memberinya perintah sejak tadi. Biarkan dia


melakukan tugasnya.” Kata Kevin cuek.


“Kau tidak sopan sekali! Delina, taruh nampan itu


dan ikut ke ruang tamu denganku.” Ajak Ny. Amira sambil menarik tangan Delina.


Kevin yang masih ingin makan roti bakar, mengejar


ibunya yang menarik Delina. Ia menangkap tangan Delina dan menahannya. Terjadi


tarik menarik antara ibu dan anak dengan Delina sebagai talinya.


“Lepaskan, Kevin! Mau apalagi kau?” teriak Ny.


Amira.


“Ibu yang lepas, dia harus membuat roti lagi. Aku


masih lapar.” Kata Kevin.


Delina yang diperebutkan, hanya terima nasib


ditarik ke kanan dan ke kiri. Kevin lebih kuat menarik Delina sampai tubuh


Delina meluncur dan menubruk tubuh Kevin. Bruk! Keduanya terjatuh ke lantai


dengan keras. Kerudung yang menutupi kepala Delina bergeser dan menutupi kepala


Kevin juga.


“Aduuch...” rintih Delina yang menabrak bagian dada


Kevin yang keras, lebih keras dari batu.


*****

__ADS_1


Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel


saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.


__ADS_2