Penjahit Hati

Penjahit Hati
PH - Otot perut


__ADS_3

PH - Otot perut


 “Ini apalagi yang harus kubersihkan?”tanya Delina


pada dirinya sendiri.


Delina akhirnya membersihkan ulang kamar Kevin. Ia


merapikan handuk di kamar mandi dan juga melihat-lihat pakaian di lemari Kevin.


Ia hanya menghafal isi lemari itu tanpa menyentuh barang-barang Kevin.


Ketika Delina sedang membawa alat kebersihan keluar


dari kamar Kevin, ia hampir menabrak orang yang punya kamar. Delina mendongak


melihat wajah tampan Kevin yang sedang cemberut.


“Selamat sore, tuan muda.”sapa Delina sambil


mengambil jarak dari Kevin.


“Sedang apa kamu di kamarku?!”hardik Kevin galak.


“Saya membersihkan kamar tuan muda.”


“Jadi, kau sudah jadi pelayanku sekarang? Heh?!”


“Iya, tuan muda.”jawab Delina sopan.


Kevin masuk ke dalam kamarnya. Wangi Delina


memenuhi kamar itu, membuat tubuh Kevin yang lelah bekerja seharian, perlahan


menjadi rileks.


“Hei, siapkan air mandiku!”teriak Kevin lagi pada


Delina.


“Baik, tuan muda.”kata Delina dengan sabar


Delina melewati Kevin masuk ke kamar mandi. Ia


menghidupkan air di bathup, Kevin melihat Delina menadahkan tangannya di bawah


kucuran air yang mulai memenuhi bathup. Kevin mulai membuka dasi dan kemejanya.


Ia melemparkan pakaian itu sembarangan.


Kevin lanjut melepaskan celana panjangnya,


menyisakan boxer saja menutupi tubuhnya. Delina bangkit dari sisi bathup yang


sudah terisi setengahnya. Ia berbalik dan langsung menunduk melihat Kevin sudah


melepas pakaiannya.


“Ambilkan handuk!”teriak Kevin lagi.


Delina mengambil salah satu handuk di tumpukan


handuk di dalam kamar mandi, ia menggantungnya di dekat bathup tanpa menatap


Kevin.


“Tidak sopan sekali kamu. Aku bicara sama kamu tapi


kamu gak lihat aku!”hardik Kevin sebal.


Ia sangat kesal karena gadis ini bahkan tidak mau


menatap otot perutnya yang sempurna. Wanita lain sampai harus memohon-mohon


pada Kevin hanya untuk melihat perutnya.


”Tuan muda, setidaknya pakailah bajumu dulu. Aku


hanya akan mengotori mata polosku kalau melihatmu sekarang.”jerit Delina dalam


hatinya.


“Mata saya agak sakit, tuan muda. Saya rasa tuan


muda tidak mau tertular kalau saya melihat tuan muda sekarang.”jawab Delina


asal.


“Sakit mata? Matamu bahkan gak merah. Kau berani


bohong?!”teriak Kevin.


Delina memutar otaknya lagi, pria ini masih saja


berdiri di depan pintu kamar mandi. Bagaimana dirinya bisa keluar kalau terus


begini.


“Tuan muda, air mandinya sudah siap. Saya keluar

__ADS_1


dulu.”kata Delina berusaha mengalihkan perhatian Kevin.


“Siapa yang nyuruh kamu keluar?!! Pijat


punggungku!”perintah Kevin sambil melepas boxernya.


“Apa?!”jerit Delina.


Delina semakin membuang muka, ia bahkan membalik


tubuhnya tidak mau melihat tubuh Kevin.


“Kau pelayan pribadiku, kau harus turuti semua


perintahku.”bisik Kevin di belakang Delina.


Dirinya mendekat ketika mencium wangi Delina, ia


hampir menarik kerudung Delina tapi memilih masuk ke dalam bath up.


“Masih tidak menurut?!”bentak Kevin lagi.


Delina menarik nafas, perlahan ia mulai mendekat


dan duduk di belakang Kevin. Setidaknya pintu kamar mandi masih terbuka lebar.


Delina membasahi tangannya dengan air di bathup. Ia mulai memijat pundak Kevin


dengan lembut.


Deg! Deg! Jantung Kevin mulai memompa darah lebih


cepat. Kulit tangan Delina sangat lembut untuk ukuran tangan pekerja


sepertinya. Kevin melihat ekspresi datar Delina lewat cermin di depannya. Ia


terus menunduk, tetap tidak mau melihat tubuh Kevin.


Kerudung Delina tidak sengaja tertimpa tangan Kevin


yang nangkring di pinggir bathup saat Delina beralih memijat lengan kekar pria


itu. Setelah merasa cukup memijat dan tampaknya Kevin sudah tertidur, Delina beranjak


dari belakang Kevin. Tapi ia tertahan kerudungnya sendiri.


“Mau kemana kau?” tanya Kevin sambil menarik


kerudung Delina.


Kerudung Delina terlepas dari rambutnya, Kevin bisa


ingin memegang pipi Delina tapi gak jadi.


“Saya mau buat kopi untuk tuan muda. Tuan mau kopi,


kan?”tanya Delina penuh harap tebakannya benar.


Mendengar kata kopi, Kevin melepaskan kerudung


Delina dari tangannya. Delina berjalan cepat keluar dari kamar mandi dan


menutup pintunya perlahan. Kevin mencium tangannya, wangi Delina menempel di


tangannya.


“Kenapa dia selalu wangi? Apa dia pakai parfum? Pijatannya


enak sekali.”gumam Kevin sambil memejamkan matanya.


Delina melihat pakaian Kevin berserakan di lantai.


Ia memungutinya, merogoh kantongnya dan mengeluarkan isinya diatas meja sofa.


Diletakkannya pakaian kotor Kevin di dalam keranjang dekat lemari.


Ia keluar dari kamar Kevin. Mengembalikan semua


peralatan kebersihan yang dipakainya tadi dan berjalan menuruni tangga,


melangkah menuju dapur. Ia bertemu dengan Sri disana.


“Mbak Sri, saya mau buat kopi untuk tuan muda.”kata


Delina.


“Ya, cangkirnya disini. Apa kau lapar? Ini ada


sedikit makanan.”tawar Sri.


“Apa kita boleh makan saat jam kerja?”


“Sebenarnya tidak boleh karena kita harus selalu


siap dipanggil sewaktu-waktu. Jadi kalau ada kesempatan makan, kau harus makan


dengan cepat, meski hanya sedikit saja.”


Delina manggut-manggut, teko air yang tadi di

__ADS_1


taruhnya di kompor mulai berbunyi. Delina meracik kopi di cangkir dengan cepat,


ia langsung menuangkan air panas ke dalam kopi itu dan mengaduknya.


“Saya bawa kopi ini ke kamar tuan muda dulu ya,


mbak Sri.”kata Delina.


Sri mengangguk, ia memperhatikan Delina sampai


menghilang dibalik pintu dapur. Saat Delina hampir mencapai tangga, seseorang


menghentikannya.


“Tunggu, siapa kamu?!”hardik Alvin galak. Tuan


Besar yang satu ini sama galaknya dengan anaknya. Ia tidak suka orang asing berkeluaran


di dalam rumahnya.


Delina berbalik dan sedikit membungkuk. Ia tidak


tahu siapa pria paruh baya di hadapannya itu.


“Apa yang kau bawa itu?”tanya Alvin ketus.


Sri yang mendengar suara tuan besar-nya, keluar


dari dapur dan menghampiri mereka.


“Tuan Besar, ini Delina, dia pelayan baru untuk


tuan muda dan juga penjahit pribadi Ny. Besar.”jelas Sri singkat. Tidak bertele-tele,


itu juga yang diinginkan Alvin.


Delina membungkuk lagi, hampir membuat kopi di


tangannya tumpah.


“Saya Delina, tuan besar. Saya membawakan kopi


untuk tuan muda.”kata Delina dengan sopan.


“Coba sini. Sejak kapan Kevin minum kopi?”tanya


Alvin lagi. Ia lebih tertarik dengan wangi kopi yang menguar dari dalam cangkir


itu.


Delina berjalan mendekati Alvin dan Alvin langsung


mengambil cangkir kopi itu. Ia meniup sebentar dan menyeruput kopi di dalam


cangkir. Sri dan Delina saling pandang melihat Alvin menghabiskan kopi di


cangkir milik Kevin.


Alvin meletakkan kembali cangkir kopi itu ke tangan


Delina dan menyuruh Sri menyiapkan air mandinya.


“Nanti habis mandi, buatkan aku kopi lagi. Siapa


tadi namamu?”tunjuk Alvin.


“Delina, tuan besar. Baik, akan saya buatkan.”kata


Delina.


“Kenapa namamu panjang sekali? Aku akan memanggilmu


Ina saja.”


”Bahkan ayahnya juga sama suka seenaknya. Namaku Delina,


bukan Ina.”batin Delina mulai kesal.


“Baik, tuan besar.”


Delina menunggu sampai Alvin dan Sri masuk ke dalam


kamar Alvin. Ia mulai terbiasa melihat kalau pelayan sudah biasa melayani


majikan mereka meski harus berduaan di dalam kamar seperti itu.


Delina kembali membuatkan kopi untuk Kevin. Ia


membawanya dengan hati-hati naik ke tangga, tapi baru sampai tangga ke 2,


seseorang menghentikannya lagi. Delina sudah pasrah kalau tuan muda di atas


sana akan marah-marah setelah ini.


*****


Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di


novel saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.

__ADS_1


__ADS_2