
“Ke...Kevin.”panggil Delina tercekat. Ia sangat
terkejut melihat Kevin berdiri menjulang di hadapannya. Delina mengalihkan
pandangannya, ia bergerak cepat ke arah sisi ranjang yang lain. Tapi Kevin
menghalanginya. Pria itu mendekatinya, menarik kerudung yang menutupi rambut
Delina sampai kerudung itu terlepas.
Kevin mencium wangi kerudung Delina. Wangi yang
sama yang pernah membuatnya jatuh cinta dan sekarang ia merasa jatuh cinta
sekali lagi. “Delina...”ucap Kevin dengan suara beratnya yang menggoda.
“Kevin, tolong lepasin aku. Aku mau pulang.”pinta
Delina.
“Delina, suaramu membuatku gila. Harum tubuhmu, aku
merindukannya.”bisik Kevin mesra.
Delina menelan salivanya ketika melihat Kevin
menarik lepas dasi di lehernya. Satu persatu kancing kemeja Kevin mulai
terlepas. Nafas Delina semakin memburu, ia belum siap menerima apapun yang
ingin dilakukan Kevin.
“Kevin, tolong jangan mendekat lagi.”pinta Delina
sambil melempar bantal kearah Kevin.
Kevin tidak mau mendengarkan Delina, sudah lima
tahun ia berpuasa tidak menyentuh wanita manapun. Dan sekarang saatnya bagi dia
untuk melampiaskan semuanya.
“Lima tahun, Delina. Kau menghilang tanpa kabar.
Dan sekarang kamu suruh aku jangan mendekatimu. Apa kau tahu bagaimana aku
tersiksa selama itu?”
Delina melotot kaget melihat Kevin melepas
celananya. Bagian situ masih seperti dulu. Kokoh dan terlihat keras. Wajah Delina
merona melihat Kevin sudah polos didepannya.
“Bagaimana bisa kamu tidak tahu malu begitu! Cepat
pakai celanamu lagi.”pekik Delina sangat malu.
Kevin menarik ujung dress panjang yang dipakai
Delina. Delina melotot galak padanya, “Kevin, jangan tarik! Kevin! Lepasin
aku!”
Kevin membalik tubuh Delina, ia menarik retsleting
dress panjang Delina sampai mentok lalu menarik paksa dress itu hingga
terlepas. Kevin menatap bagian belakang tubuh Delina yang masih tertutup
pakaian dalam. Ia menelan salivanya, hasratnya untuk Delina seperti bom yang
siap meledak sekarang.
Delina merasakan tubuhnya dibalik dengan cepat.
“Ja... jangan, hubby. Clara gimana?”tanya Delina cepat.
“Apa hubungannya sama dia?!”bentak Kevin kesal. Hasratnya
yang menggebu langsung surut mendengar nama itu disebut. Kevin berbaring di
samping Delina, ia memeluk wanita itu dengan erat menggunakan tangan dan
kakinya.
“Hubby, kau mencekikku.”kata Delina merasa sesak.
Kevin melonggarkan pelukannya, ia membalik tubuh
Delina lalu memeluknya dari belakang.
“Apa kamu nggak kangen aku?”tanya Kevin menyusupkan
__ADS_1
wajahnya ke punggung Delina.
“Nggak berani kangen, hubby. Kamu kan punya
Clara.”saut Delina yang merasa geli.
“Dia lagi. Jangan sebut namanya. Kami nggak pernah
menikah, okey.”kata Kevin.
Delina membalik tubuhnya menatap Kevin. “Hubby
nggak nikah lagi?”tanya Delina memastikan.
“Tanya ayah kalau nggak percaya. Diantara kami ada
perjanjian. Hanya Emilia yang diakui keberadaannya. Aku nggak mau menikah
dengan Clara. Toh, malam itu hanyalah sebuah kesalahan. Lagipula aku sudah
punya istri cantik, imut, dan seksi gini yang belum habis kumakan.”jelas Kevin
menatap dada Delina.
“Jadi Emilia tumbuh tanpa tahu siapa ibunya?”tanya
Delina cemas.
“Iya. Dia diasuh baby sitter sejak kecil. Ada ayah
sama ibu juga. Aku nggak pernah mengurusnya. Sejak kamu pergi, aku nggak pulang
ke rumah besar. Yank, buka.”pinta Kevin.
“Kamu mau ngapain? Jangan nakal dech. Masih banyak
yang harus kita bahas.”kata Delina mendorong tubuh Kevin.
“Bisa nggak nanti aja. Ituku udah nggak bisa sabar
menunggu lagi. Cepetan buka.”Kevin tidak sabaran menerjang Delina.
“Ach, hubby... Kevin...”erang Delina.
Kevin semakin bersemangat menelusuri tubuh Delina. Ia
melihat tidak banyak perubahan pada tubuh Delina kecuali dada dan pantatnya
“Yank, kamu hamil tapi nggak bilang sama aku.
Sekarang kamu berhutang ngidam ya.”kata Kevin hampir menyatukan tubuh mereka.
“Ap...apa? Nggak. Jangan buat aku hamil lagi.”pinta
Delina menahan hasratnya.
“Kenapa? Aku ingin melihat perutmu membesar,
semuanya membesar karena hamil.”kata Kevin menyeringai.
Delina tetap menolak untuk hamil dulu. Armando
masih terlalu kecil dan mereka belum akrab dengan Emilia. Biar bagaimanapun
kedua anak itu sudah menderita hidup dalam keluarga yang tidak lengkap.
“Setidaknya tunggu setahun dulu. Hubby, kalau kau
tidak menurut, jangan bicara padaku lagi.”ancam Delina galak.
“Lima tahun bisa merubahmu jadi macan betina
seperti ini ya. Aku suka sekali!”teriak Kevin girang.
Ia semakin tidak mau melepaskan Delina sampai
keduanya mengerang bersamaan. Kevin tidak bisa menahan dirinya, ia menumpahkan
semua hasratnya pada Delina.
Delina mendorong tubuh Kevin yang menimpanya, ia
berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
“Yank, kamu ngapain sich?”tanya Kevin menyusul ke
kamar mandi.
“Aku udah bilang belum mau hamil dulu. Kamu
malah... Kevin!!”Delina terkejut mendapati Kevin menyergapnya lagi. Ia
berpegangan erat pada pegangan shower takut jatuh. Keduanya kembali mengulang
__ADS_1
permainan panas mereka di dalam kamar mandi.
Sementara itu di lantai bawah, nenek Indri dan
Alvin sedang duduk santai sambil minum teh. Armando juga ada disana, sedang
asyik menonton video di ponsel Alvin.
“Dia sangat mirip dengan Kevin ya. Kenapa Delina
nggak bilang kalau hamil waktu itu?”kata nenek Indri menatap Armando.
“Iya, bu. Delina tidak mau Kevin mengetahui
keberadaan Armando. Ia ingin anak itu siap menemui Kevin sendiri tanpa Delina.
Ibu tahu, Delina itu wanita yang baik dan juga tulus. Bahkan saat mengetahui
dirinya hamil, Delina masih memikirkan bagaimana nasib Emilia. Dia memilih
tinggal sendiri daripada kembali pada Kevin.”jelas Alvin.
“Kakek, kenapa ibu lama sekali?”tanya Armando
melepaskan headset-nya.
“Apa yang kau perlukan, Dodo?”tanya Alvin.
“Aku ada tugas membuat prakarya memakai kertas
origami, kek. Dan semua kertas origamiku ada di mansion.”
“Ah, kalau kertas origami, nenek buyut punya. Sebentar
ya.”kata nenek Indri.
Seorang pelayan datang membawakan kertas yang
diminta Armando. Alvin mencoba membantu Armando membuat prakarya yang dimaksud
cucunya itu tapi ia tidak berhasil. Sampai semua pelayan di rumah itu dipanggil
nenek Indri untuk membantu Armando.
Suasana yang ramai di ruang tengah menarik
perhatian Kevin dan Delina yang turun dari lantai atas. Delina mengancam Kevin
kalau mereka tidak turun sekarang, Kevin tidak boleh menyentuhnya selama
sebulan.
“Armando! Kamu sedang apa?”panggil Delina.
“Ibu!!”Armando berlari mendekati Delina. “Ibu
ngapain sama ayah?”tanya Armando melirik Kevin.
“Ibu sama ayah lagi sibuk buat adik untuk Armando.
Kamu mau kan punya adik?”sambar Kevin menggendong Armando.
“Nggak, sayang. Ayah sama ibu tadi bicara gimana
kalau kita tinggal sama-sama.”balas Delina cepat sambil mencubit pinggang
Kevin.
“Ibu sama ayah nggak boleh bohong. Yang benar yang
mana?”tanya Armando mengkerutkan keningnya. Bibirnya juga ikut mengkerut.
Kevin yang gemas melihat putranya, mencium pipi
gembul Armando sampai putranya itu mendorong wajah Kevin menjauh.
“Yah! Jangan cium aku terus. Kakek selalu menciumku,
nenek juga. Sekarang ayah.”protes Armando.
Tapi Kevin tetap menciumi wajah Armando, ia memeluk
putranya itu sambil menangis meminta maaf.
“Maafin ayah, Ar. Ayah bersalah sama kamu.”lirih
Kevin.
*****
Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel
saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.
__ADS_1