Penjahit Hati

Penjahit Hati
Episode 97


__ADS_3

“Ke...Kevin.”panggil Delina tercekat. Ia sangat


terkejut melihat Kevin berdiri menjulang di hadapannya. Delina mengalihkan


pandangannya, ia bergerak cepat ke arah sisi ranjang yang lain. Tapi Kevin


menghalanginya. Pria itu mendekatinya, menarik kerudung yang menutupi rambut


Delina sampai kerudung itu terlepas.


Kevin mencium wangi kerudung Delina. Wangi yang


sama yang pernah membuatnya jatuh cinta dan sekarang ia merasa jatuh cinta


sekali lagi. “Delina...”ucap Kevin dengan suara beratnya yang menggoda.


“Kevin, tolong lepasin aku. Aku mau pulang.”pinta


Delina.


“Delina, suaramu membuatku gila. Harum tubuhmu, aku


merindukannya.”bisik Kevin mesra.


Delina menelan salivanya ketika melihat Kevin


menarik lepas dasi di lehernya. Satu persatu kancing kemeja Kevin mulai


terlepas. Nafas Delina semakin memburu, ia belum siap menerima apapun yang


ingin dilakukan Kevin.


“Kevin, tolong jangan mendekat lagi.”pinta Delina


sambil melempar bantal kearah Kevin.


Kevin tidak mau mendengarkan Delina, sudah lima


tahun ia berpuasa tidak menyentuh wanita manapun. Dan sekarang saatnya bagi dia


untuk melampiaskan semuanya.


“Lima tahun, Delina. Kau menghilang tanpa kabar.


Dan sekarang kamu suruh aku jangan mendekatimu. Apa kau tahu bagaimana aku


tersiksa selama itu?”


Delina melotot kaget melihat Kevin melepas


celananya. Bagian situ masih seperti dulu. Kokoh dan terlihat keras. Wajah Delina


merona melihat Kevin sudah polos didepannya.


“Bagaimana bisa kamu tidak tahu malu begitu! Cepat


pakai celanamu lagi.”pekik Delina sangat malu.


Kevin menarik ujung dress panjang yang dipakai


Delina. Delina melotot galak padanya, “Kevin, jangan tarik! Kevin! Lepasin


aku!”


Kevin membalik tubuh Delina, ia menarik retsleting


dress panjang Delina sampai mentok lalu menarik paksa dress itu hingga


terlepas. Kevin menatap bagian belakang tubuh Delina yang masih tertutup


pakaian dalam. Ia menelan salivanya, hasratnya untuk Delina seperti bom yang


siap meledak sekarang.


Delina merasakan tubuhnya dibalik dengan cepat.


“Ja... jangan, hubby. Clara gimana?”tanya Delina cepat.


“Apa hubungannya sama dia?!”bentak Kevin kesal. Hasratnya


yang menggebu langsung surut mendengar nama itu disebut. Kevin berbaring di


samping Delina, ia memeluk wanita itu dengan erat menggunakan tangan dan


kakinya.


“Hubby, kau mencekikku.”kata Delina merasa sesak.


Kevin melonggarkan pelukannya, ia membalik tubuh


Delina lalu memeluknya dari belakang.


“Apa kamu nggak kangen aku?”tanya Kevin menyusupkan

__ADS_1


wajahnya ke punggung Delina.


“Nggak berani kangen, hubby. Kamu kan punya


Clara.”saut Delina yang merasa geli.


“Dia lagi. Jangan sebut namanya. Kami nggak pernah


menikah, okey.”kata Kevin.


Delina membalik tubuhnya menatap Kevin. “Hubby


nggak nikah lagi?”tanya Delina memastikan.


“Tanya ayah kalau nggak percaya. Diantara kami ada


perjanjian. Hanya Emilia yang diakui keberadaannya. Aku nggak mau menikah


dengan Clara. Toh, malam itu hanyalah sebuah kesalahan. Lagipula aku sudah


punya istri cantik, imut, dan seksi gini yang belum habis kumakan.”jelas Kevin


menatap dada Delina.


“Jadi Emilia tumbuh tanpa tahu siapa ibunya?”tanya


Delina cemas.


“Iya. Dia diasuh baby sitter sejak kecil. Ada ayah


sama ibu juga. Aku nggak pernah mengurusnya. Sejak kamu pergi, aku nggak pulang


ke rumah besar. Yank, buka.”pinta Kevin.


“Kamu mau ngapain? Jangan nakal dech. Masih banyak


yang harus kita bahas.”kata Delina mendorong tubuh Kevin.


“Bisa nggak nanti aja. Ituku udah nggak bisa sabar


menunggu lagi. Cepetan buka.”Kevin tidak sabaran menerjang Delina.


“Ach, hubby... Kevin...”erang Delina.


Kevin semakin bersemangat menelusuri tubuh Delina. Ia


melihat tidak banyak perubahan pada tubuh Delina kecuali dada dan pantatnya


“Yank, kamu hamil tapi nggak bilang sama aku.


Sekarang kamu berhutang ngidam ya.”kata Kevin hampir menyatukan tubuh mereka.


“Ap...apa? Nggak. Jangan buat aku hamil lagi.”pinta


Delina menahan hasratnya.


“Kenapa? Aku ingin melihat perutmu membesar,


semuanya membesar karena hamil.”kata Kevin menyeringai.


Delina tetap menolak untuk hamil dulu. Armando


masih terlalu kecil dan mereka belum akrab dengan Emilia. Biar bagaimanapun


kedua anak itu sudah menderita hidup dalam keluarga yang tidak lengkap.


“Setidaknya tunggu setahun dulu. Hubby, kalau kau


tidak menurut, jangan bicara padaku lagi.”ancam Delina galak.


“Lima tahun bisa merubahmu jadi macan betina


seperti ini ya. Aku suka sekali!”teriak Kevin girang.


Ia semakin tidak mau melepaskan Delina sampai


keduanya mengerang bersamaan. Kevin tidak bisa menahan dirinya, ia menumpahkan


semua hasratnya pada Delina.


Delina mendorong tubuh Kevin yang menimpanya, ia


berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


“Yank, kamu ngapain sich?”tanya Kevin menyusul ke


kamar mandi.


“Aku udah bilang belum mau hamil dulu. Kamu


malah... Kevin!!”Delina terkejut mendapati Kevin menyergapnya lagi. Ia


berpegangan erat pada pegangan shower takut jatuh. Keduanya kembali mengulang

__ADS_1


permainan panas mereka di dalam kamar mandi.


Sementara itu di lantai bawah, nenek Indri dan


Alvin sedang duduk santai sambil minum teh. Armando juga ada disana, sedang


asyik menonton video di ponsel Alvin.


“Dia sangat mirip dengan Kevin ya. Kenapa Delina


nggak bilang kalau hamil waktu itu?”kata nenek Indri menatap Armando.


“Iya, bu. Delina tidak mau Kevin mengetahui


keberadaan Armando. Ia ingin anak itu siap menemui Kevin sendiri tanpa Delina.


Ibu tahu, Delina itu wanita yang baik dan juga tulus. Bahkan saat mengetahui


dirinya hamil, Delina masih memikirkan bagaimana nasib Emilia. Dia memilih


tinggal sendiri daripada kembali pada Kevin.”jelas Alvin.


“Kakek, kenapa ibu lama sekali?”tanya Armando


melepaskan headset-nya.


“Apa yang kau perlukan, Dodo?”tanya Alvin.


“Aku ada tugas membuat prakarya memakai kertas


origami, kek. Dan semua kertas origamiku ada di mansion.”


“Ah, kalau kertas origami, nenek buyut punya. Sebentar


ya.”kata nenek Indri.


Seorang pelayan datang membawakan kertas yang


diminta Armando. Alvin mencoba membantu Armando membuat prakarya yang dimaksud


cucunya itu tapi ia tidak berhasil. Sampai semua pelayan di rumah itu dipanggil


nenek Indri untuk membantu Armando.


Suasana yang ramai di ruang tengah menarik


perhatian Kevin dan Delina yang turun dari lantai atas. Delina mengancam Kevin


kalau mereka tidak turun sekarang, Kevin tidak boleh menyentuhnya selama


sebulan.


“Armando! Kamu sedang apa?”panggil Delina.


“Ibu!!”Armando berlari mendekati Delina. “Ibu


ngapain sama ayah?”tanya Armando melirik Kevin.


“Ibu sama ayah lagi sibuk buat adik untuk Armando.


Kamu mau kan punya adik?”sambar Kevin menggendong Armando.


“Nggak, sayang. Ayah sama ibu tadi bicara gimana


kalau kita tinggal sama-sama.”balas Delina cepat sambil mencubit pinggang


Kevin.


“Ibu sama ayah nggak boleh bohong. Yang benar yang


mana?”tanya Armando mengkerutkan keningnya. Bibirnya juga ikut mengkerut.


Kevin yang gemas melihat putranya, mencium pipi


gembul Armando sampai putranya itu mendorong wajah Kevin menjauh.


“Yah! Jangan cium aku terus. Kakek selalu menciumku,


nenek juga. Sekarang ayah.”protes Armando.


Tapi Kevin tetap menciumi wajah Armando, ia memeluk


putranya itu sambil menangis meminta maaf.


“Maafin ayah, Ar. Ayah bersalah sama kamu.”lirih


Kevin.


*****


Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel


saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.

__ADS_1


__ADS_2