Penjahit Hati

Penjahit Hati
PH - Pujian Ny. Amira


__ADS_3

PH - Pujian Ny. Amira


Seluruh peserta rapat berdiri, menatap bingung


kepergian Ny. Amira yang diikuti Meri. Setelah puluhan tahun bekerja pada


perusahaan itu, deretan manager menggumamkan kalau baru kali ini Ny. Amira


pergi di tengah-tengah meeting dan tidak mengatakan apa-apa lagi.


Ny. Amira berjalan cepat masuk ke ruangannya dan


membuka pintu kamar pribadinya. Delina mendongakkan kepalanya dan mengangguk


pada Ny. Amira.


“Ny....”


“Kebayanya sudah selesai?” tanya Ny. Amira sambil


berdiri di depan kebaya yang masih tergeletak di lantai.


“Saya tinggal menjahitnya, Ny. Apa ini sudah sesuai


dengan keinginan Ny.? Saya melakukan beberapa revisi terhadap gambar


sebelumnya.” Jelas Delina sambil menyerahkan buku sketsanya pada Ny. Amira.


Ny. Amira menatap sketsa dan juga kebaya di lantai.


Hasilnya benar-benar sama persis, modelnya dan juga bagaimana warnanya. Seolah


kebaya dilantai itu muncul dari buku sketsa Delina.


“Meri, bantu aku mencoba kebaya itu.” Kata Ny.


Amira sambil membuka jasnya.


“Ny. masih ada jarum pentulnya. Nanti Ny. ketusuk


jarum.” Cegah Delina.


“Aku ambil resiko itu. Aku harus yakin kebaya ini


akan jadi atau aku tidak akan bisa tidur. Cepat.”


Delina dan Meri membantu Ny. Amira memakai kebaya


itu setelah Meri memakaikan korset lagi. Pelan-pelan Delina memasukkan tangan


Ny. Amira ke dalam lengan kebaya dan juga menunjukkan tempat jarum pentul


berada pada Meri.


Ny. Amira sama sekali tidak merasakan tusukan pada


tubuhnya. Untung saja sebagian besar jarum pentul ada di bagian tubuh kebaya


itu. Setelah berkutat dengan kancing yang belum terpasang semuanya, dan


tambahan jarum pentul untuk menahan bagian depan kebaya, Ny. Amira berjalan ke


depan cermin.


“Aku suka ini... Benar-benar sempurna. Coba lihat


belakangnya.” Kata Ny. Amira sambil menunjuk cermin beroda di sudut ruangan.


Meri menarik cermin itu dan meletakkannya di


samping belakang Ny. Amira.


“Oh, aku terlihat lebih langsing. Cepat foto,


ambilkan Hpku.”


Meri sibuk melayani Ny. Amira yang ingin difoto

__ADS_1


dengan semua arah, sementara Delina terus memperingatkan Ny. Amira dengan


adanya jarum pentul. Delina juga memperhatikan kebaya yang belum selesai itu.


Ia mengingat letak hiasan tambahan kebaya itu agar sesuai dengan sketsanya.


Sesekali Delina menambahkan catatan pada sketsa gambarnya.


Setelah Ny. Amira puas dengan hasil fotonya, Delina


dan Meri kembali membantu Ny. Amira melepaskan kebaya itu agar tidak tertusuk


jarum pentul. Delina melipat kebaya itu dengan hati-hati agar jarum pentulnya


tidak lepas. Ny. Amira mengamati cara kerja Delina yang memperlakukan kain


dengan hati-hati.


“Delina, sungguh hasil yang luar biasa. Aku harap


jadinya juga akan sesempurna tadi.” Puji Ny. Amira.


“Kalau tidak ada perubahan lagi dari desainnya,


lusa akan saya titipkan pada mbak Meri kebaya ini, Ny.” kata Delina.


“Kenapa harus dititip? Datang sendiri kesini. Meri


akan mengaturnya.”


“Baik, Ny. Kalau begitu, saya permisi dulu. Kain


untuk kebaya yang baru, saya tinggal dulu disini. Lusa saya ambil lagi.” Kata


Delina.


Ia memasukkan kebaya yang akan ia jahit ke dalam


paper bag dan meletakkan kain kebaya biru di atas meja. Delina bangkit dari


sofa dan sedikit membungkuk pada Ny. Amira. Meri mengantar Delina ke pintu


“Makasi ya, Del. Kamu udah nolong Ny. Amira.” Kata


Meri dengan tulus.


“Saya yang terima kasih, mbak. Sampai ketemu.”




Delina berjalan melewati lorong dan berbelok ke


kiri. Ia fokus ke lift dan tidak melihat wajah seorang pria yang baru saja


keluar dari lift. Delina baru saja berpapasan dengan Kevin Raditya, putra


tunggal Ny. Amira. Sampai di dalam lift, Delina menekan nomor 1 dan pintu lift


menutup bersamaan dengan Kevin yang menoleh karena mencium aroma wangi di


lorong itu.


*****


Kevin membuka pintu ruangan ibunya. Ny. Amira baru


keluar dari kamar pribadinya.


“Hai, bu.” Sapa Kevin sambil mencium pipi Ny.


Amira.


“Ibu lagi ngapain? Kayaknya lagi seneng banget.”


tanya Kevin lagi.

__ADS_1


“Kevin, dear. Ya, dong, ibu lagi happy banget.


Kebaya buat ultah kantor udah beres berkat malaikat penolong.” Kata Ny. Amira


sambil tersenyum senang.


“Malaikat penolong? Mana ada. Ibu halu ya.”


“Eh, memang ada. Cantik lagi. Cuma sayang...”


“Sayang kenapa?” tanya Kevin heran.


“Bajunya itu loh gak banget. Gak fashionable. Tapi


dia pinter bikin kebaya.”


“Sudah, bu. Malah ngomongin yang lain. Kevin kesini


mau tanya nich.”


Hari ini Kevin berkunjung ke kantor ibunya untuk


menanyakan apa hadiah yang bagus untuk ulang tahun ayahnya. Ny. Amira


mengusulkan sebuah dasi, Kevin bilang itu hadiahnya tahun lalu. Jam tangan,


Kevin bilang ayahnya sudah punya semua jam model terbaru.


Ny. Amira putar otak, ia mengamati Kevin dan


menunjuk ponselnya.


“HP ayah kan retak tuch. Kamu ganti yang baru


sekalian pindahin semua data ke HP yang baru. Pasti ayah seneng.” Usul Ny.


Amira.


“Iya juga ya, bu. Ayah kan paling gak suka ganti


HP. Ya, sudah. Kevin beli dulu. Dah, bu.” Kevin kembali mencium pipi ibunya dan


segera keluar dari sana.


Meri menatap kepergian Kevin dengan kening


mengkerut. Ny. Amira melihat itu dan bertanya,


“Kenapa, Meri?” tanya Ny. Amira.


“Tidak, Ny. Saya hanya merasa aneh. Kenapa tuan


muda datang hanya untuk menanyakan kado untuk tuan besar? Kan bisa lewat


telpon.”


“Itu hanya alasannya saja. Kevin selalu dikurung


dalam kantor sama ayahnya. Harus kerja yang bener. Dia pasti alasan mau ketemu


aku, ada perlu penting. Ayahnya mana bisa nglarang. Paling sekarang jalan-jalan


ke mal sama cewek, gak balik ke kantor lagi.”


“Oh, gitu ya Ny. Tapi nanti gak ketahuan sama tuan


besar ya?”


“Biar saja. Ayahnya cuma marah bentar, habis tuch


baik lagi.”


Meri manggut-manggut.


*****


*Author malah geleng-geleng sedih\, mana votenya kk?*

__ADS_1


Klik profil author, jangan lupa tinggalkan jejak ya


kk. Vote dong biar saya semangat up setiap hari.


__ADS_2