
“Kau bisa menyerangnya habis itu. Coba lakukan itu,
siapa tau dia sudah mau tidur denganmu. Itupun kalo kau berani.” balas Agnes
sambil tertawa puas di dalam kamarnya.
Kevin melempar ponselnya ke dekat bantal. Ia
menjambak rambutnya sendiri, tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Jantungnya
berdebar kencang menanti Delina membuka pintu kamar mandi. Kevin kembali
mengambil ponselnya. Dia mengetik chat untuk Agnes,
“Apa Delina setuju tidur denganku? Apa dia bilang
kalau dia mencintaiku?” ketik Kevin.
“Dia tidak mengatakan itu. Aku bilang kalau kau
tidak akan bereaksi apa-apa kalau dia pakai lingeri di depanmu.” Balas Agnes.
“Agnes, kenapa kau lakukan itu? Kau tahu aku tidak
akan kuat.” ketik Kevin.
“Kali ini kau harus kuat atau Delina tidak akan
pernah percaya padaku lagi. Kau ingin mendapatkannya? Aku akan membantumu.”
balas Agnes dengan cepat.
Jempol Kevin membeku di udara, ia mendengar suara
pintu kamar mandi yang terbuka dan Delina keluar dari dalam sana. Kevin
menegakkan kepalanya dan melihat Delina memakai lingeri yang tadi dibawanya
masuk. Dengan rambut sedikit basah yang menutupi sebagian wajah dan pundaknya.
“Hubby, lingeri ini terlalu ketat. Sepertinya aku
salah memilih ukurannya.” kata Delina sambil mengeringkan rambutnya dengan
handuk.
Kevin menjatuhkan ponselnya ke lantai, ia bangkit
berdiri sambil mengambil ponsel itu, lalu menuju pintu keluar dan menguncinya.
Saat berbalik, Kevin mulai melepas kancing kemeja yang dipakainya. Delina
menatap Kevin dengan santai, ia melihat Kevin tidak melakukan apa-apa
melihatnya memakai pakaian seksi.
”Sepertinya benar kata Agnes, tapi kenapa aku
merasa sedikit sakit hati ya. Apa aku tidak menarik ya bagi hubby.”
“Hubby, apa aku coba yang lain dulu ya? Kau mau
mandi?” tanya Delina tanpa menyadari tatapan Kevin padanya sudah berubah.
Delina tidak sadar kalau suaminya itu siap menerkamnya kapan saja seperti
serigala kelaparan.
“Aku akan coba yang ini. Kau mandilah dulu.”kata
Delina sambil mengambil lingeri berwarna hitam.
Kevin menggeram dengan frustasi, ia bisa melihat
dengan jelas paha mulus Delina, leher dan pundak Delina tanpa tertutup apapun.
Kulitnya putih mulus tanpa cela sedikitpun. Lingeri itu juga menunjukkan perut
ramping Delina dengan bokong seksi dan dada yang sama besarnya. Yang paling
membuat Kevin menderita, ia hanya bisa melihatnya saja tanpa bisa menyentuhnya.
“Hubby? Kau baik-baik aja?” tanya Delina sambil
menatap Kevin yang tampak berkeringat.
__ADS_1
”Bagaimana aku akan baik-baik saja kalau
melihatmu... begini! Aku bahkan tidak bisa menemukan kata yang tepat untuk
menggambarkanmu saat ini. Indah. Ya dirimu lebih indah dari pemandangan
terindah di dunia ini.”
Kevin mencium tangan Delina yang menghapus keringat
di pipinya. Delina menarik tangannya dengan cepat, ia menunduk, lalu memakai
handuk untuk menutupi tubuh bagian atasnya.
“Maaf. Aku mandi dulu ya. Cepat pakai baju, nanti
ayah marah kalau kita terlambat makan malam.” bisik Kevin.
“Okey, hubby.” kata Delina sambil mengemasi tas
belanjaan diatas tempat tidur dan memasukkannya ke dalam lemari.
Kevin masuk ke dalam kamar mandi, ia mengguyur
tubuhnya di bawah shower dengan air dingin sampai segala hasrat birahi yang
membuat celananya sesak hilang begitu saja. Entah ia harus memberi Agnes hadiah
atau malah hukuman atas apa yang ia lihat tadi.
“Delina... kapan kau akan jatuh cinta padaku?”
tanya Kevin sambil mematikan kran shower.
Kevin ingin mengambil handuk, tapi ia tidak
menemukannya dimana biasanya tergantung. Ia memutuskan keluar saja dari kamar
mandi tanpa memakai apapun. Deg! Kevin hampir jatuh tersandung kakinya sendiri
saat melihat Delina berdiri di depan lemari. Delina hanya memakai pakaian dalam
saja, ia belum selesai berpakaian dan sedang memasukkan dress panjang ke
kepalanya.
tiba-tiba dingin. Ia melirik ke samping, Kevin berdiri di belakangnya. Tangan
Kevin terulur mengaduk-aduk isi lemarinya. Entah apa yang ia cari, yang jelas
tangannya mengaduk-aduk, tapi mata Kevin melotot melihat tubuh Delina.
“Hubby cari baju yang mana? Lemarinya jadi
berantakan tuch.”kata Delina.
“Handuk.”jawab Kevin dengan suara serak.
“Oh, handuknya di bawah.”
Kevin hampir mati karena jantungnya yang terus
berontak melihat pemandangan tubuh Delina. Sekarang wanita itu dengan mudahnya
membungkukkan tubuhnya di depan Kevin untuk mengambil handuk di lemari paling
bawah.
Dengan posisi seperti itu, bokong Delina tidak
sengaja menyenggol kegagahan Kevin. Seer! Darah Kevin berdesir, kegagahannya
mulai meronta ingin segera ditidurkan. Tangan Kevin mengepal menahan dirinya
untuk tidak menyentuh Delina sekarang.
“Ini handuk, hubby. Bajumu sudah kutaruh diatas
tempat tidur.”kata Delina tanpa membalik tubuhnya.
Kevin mengambil handuk itu, ia melirik baju di atas
tempat tidur. Itu baju kesukaannya dan tiba-tiba ia tidak menyukai baju itu
lagi. Ia ingin Delina memilihkan baju lagi dan memakaikannya pada Kevin.
__ADS_1
“Aku gak mau baju itu. Ambilkan lagi yang
lain.”kata Kevin sambil mengeringkan tubuhnya.
Delina bahkan belum menurunkan dressnya yang masih
tersangkut di lehernya. Ia berjinjit mengambil baju lagi dan menyerahkannya
pada Kevin.
“Pakein dong. Tanganku masih megang handuk nich.
Kamu gak mau kan handuknya jatuh.”goda Kevin.
“Hubby kan bisa pake celana dulu.”kata Delina belum
mau membalik tubuhnya.
“Aku udah kedinginan. Cepetan pakein baju!”teriak
Kevin tidak sabaran.
Delina sudah terbiasa mendengar teriakan Kevin. Ia
tidak tersinggung lagi sekarang. Kalau sudah sifat dasar mau bagaimana
merubahnya. Delina mengalah, ia membalik tubuhnya dan Kevin bisa melihat dua
gundukan di depan dada Delina.
Kevin sedikit membungkuk ketika Delina berusaha
mencapai kepalanya untuk memasukkan baju kaos itu ke kepala Kevin. Ia bisa
melihat ada tahi lalat di antara kedua gundukan itu.
“Hubby, masukkan tanganmu.”pinta Delina.
Kevin masih sibuk dengan khayalannya bagaimana
kalau ia membenamkan wajahnya di gundukan itu.
“Hubby, kamu nglamun?”tanya Delina sambil
mengangkat tangan Kevin dan menuntunnya masuk ke salah satu lubang kaosnya.
“Hah?! Ya, aku lapar.”
“Cepat pakai celanamu, hubby. Kita hampir
terlambat.”kata Delina, ia menurunkan kaos sampai ke perut Kevin.
Kevin terpaksa menjauh dari Delina, mereka segera
ke meja makan setelah selesai berpakaian. Makan malam yang cukup ramai, Alvin
tiba-tiba mengajak keluarganya berbincang di meja makan padahal mereka masih
makan. Kevin sampai tersedak beberapa kali saat menjawab pertanyaan Alvin.
“Pelan-pelan, hubby.”kata Delina sambil menepuk
punggung Kevin.
“Ina, ambilkan sup iga lagi.”pinta Alvin, alih-alih
menyuruh Amira yang mengambilkannya.
Delina mengambil mangkuk Alvin, mengisinya lagi
dengan kuah dan sepotong daging. “Dagingnya banyakin.”pinta Alvin.
“Tuan besar sudah makan banyak daging, nanti
kepalanya sakit lagi.”
Semua orang di meja makan menegang mendengar
kata-kata Delina, tidak ada yang berani memberi nasihat pada Alvin. Mereka
melirik menanti reaksi Alvin.
*****
Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel
__ADS_1
saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.