Penjahit Hati

Penjahit Hati
Episode 64


__ADS_3

“Kau bisa menyerangnya habis itu. Coba lakukan itu,


siapa tau dia sudah mau tidur denganmu. Itupun kalo kau berani.” balas Agnes


sambil tertawa puas di dalam kamarnya.


Kevin melempar ponselnya ke dekat bantal. Ia


menjambak rambutnya sendiri, tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Jantungnya


berdebar kencang menanti Delina membuka pintu kamar mandi. Kevin kembali


mengambil ponselnya. Dia mengetik chat untuk Agnes,


“Apa Delina setuju tidur denganku? Apa dia bilang


kalau dia mencintaiku?” ketik Kevin.


“Dia tidak mengatakan itu. Aku bilang kalau kau


tidak akan bereaksi apa-apa kalau dia pakai lingeri di depanmu.” Balas Agnes.


“Agnes, kenapa kau lakukan itu? Kau tahu aku tidak


akan kuat.” ketik Kevin.


“Kali ini kau harus kuat atau Delina tidak akan


pernah percaya padaku lagi. Kau ingin mendapatkannya? Aku akan membantumu.”


balas Agnes dengan cepat.


Jempol Kevin membeku di udara, ia mendengar suara


pintu kamar mandi yang terbuka dan Delina keluar dari dalam sana. Kevin


menegakkan kepalanya dan melihat Delina memakai lingeri yang tadi dibawanya


masuk. Dengan rambut sedikit basah yang menutupi sebagian wajah dan pundaknya.


“Hubby, lingeri ini terlalu ketat. Sepertinya aku


salah memilih ukurannya.” kata Delina sambil mengeringkan rambutnya dengan


handuk.


Kevin menjatuhkan ponselnya ke lantai, ia bangkit


berdiri sambil mengambil ponsel itu, lalu menuju pintu keluar dan menguncinya.


Saat berbalik, Kevin mulai melepas kancing kemeja yang dipakainya. Delina


menatap Kevin dengan santai, ia melihat Kevin tidak melakukan apa-apa


melihatnya memakai pakaian seksi.


”Sepertinya benar kata Agnes, tapi kenapa aku


merasa sedikit sakit hati ya. Apa aku tidak menarik ya bagi hubby.”


“Hubby, apa aku coba yang lain dulu ya? Kau mau


mandi?” tanya Delina tanpa menyadari tatapan Kevin padanya sudah berubah.


Delina tidak sadar kalau suaminya itu siap menerkamnya kapan saja seperti


serigala kelaparan.


“Aku akan coba yang ini. Kau mandilah dulu.”kata


Delina sambil mengambil lingeri berwarna hitam.


Kevin menggeram dengan frustasi, ia bisa melihat


dengan jelas paha mulus Delina, leher dan pundak Delina tanpa tertutup apapun.


Kulitnya putih mulus tanpa cela sedikitpun. Lingeri itu juga menunjukkan perut


ramping Delina dengan bokong seksi dan dada yang sama besarnya. Yang paling


membuat Kevin menderita, ia hanya bisa melihatnya saja tanpa bisa menyentuhnya.


“Hubby? Kau baik-baik aja?” tanya Delina sambil


menatap Kevin yang tampak berkeringat.

__ADS_1


”Bagaimana aku akan baik-baik saja kalau


melihatmu... begini! Aku bahkan tidak bisa menemukan kata yang tepat untuk


menggambarkanmu saat ini. Indah. Ya dirimu lebih indah dari pemandangan


terindah di dunia ini.”


Kevin mencium tangan Delina yang menghapus keringat


di pipinya. Delina menarik tangannya dengan cepat, ia menunduk, lalu memakai


handuk untuk menutupi tubuh bagian atasnya.


“Maaf. Aku mandi dulu ya. Cepat pakai baju, nanti


ayah marah kalau kita terlambat makan malam.” bisik Kevin.


“Okey, hubby.” kata Delina sambil mengemasi tas


belanjaan diatas tempat tidur dan memasukkannya ke dalam lemari.


Kevin masuk ke dalam kamar mandi, ia mengguyur


tubuhnya di bawah shower dengan air dingin sampai segala hasrat birahi yang


membuat celananya sesak hilang begitu saja. Entah ia harus memberi Agnes hadiah


atau malah hukuman atas apa yang ia lihat tadi.


“Delina... kapan kau akan jatuh cinta padaku?”


tanya Kevin sambil mematikan kran shower.


Kevin ingin mengambil handuk, tapi ia tidak


menemukannya dimana biasanya tergantung. Ia memutuskan keluar saja dari kamar


mandi tanpa memakai apapun. Deg! Kevin hampir jatuh tersandung kakinya sendiri


saat melihat Delina berdiri di depan lemari. Delina hanya memakai pakaian dalam


saja, ia belum selesai berpakaian dan sedang memasukkan dress panjang ke


kepalanya.


tiba-tiba dingin. Ia melirik ke samping, Kevin berdiri di belakangnya. Tangan


Kevin terulur mengaduk-aduk isi lemarinya. Entah apa yang ia cari, yang jelas


tangannya mengaduk-aduk, tapi mata Kevin melotot melihat tubuh Delina.


“Hubby cari baju yang mana? Lemarinya jadi


berantakan tuch.”kata Delina.


“Handuk.”jawab Kevin dengan suara serak.


“Oh, handuknya di bawah.”


Kevin hampir mati karena jantungnya yang terus


berontak melihat pemandangan tubuh Delina. Sekarang wanita itu dengan mudahnya


membungkukkan tubuhnya di depan Kevin untuk mengambil handuk di lemari paling


bawah.


Dengan posisi seperti itu, bokong Delina tidak


sengaja menyenggol kegagahan Kevin. Seer! Darah Kevin berdesir, kegagahannya


mulai meronta ingin segera ditidurkan. Tangan Kevin mengepal menahan dirinya


untuk tidak menyentuh Delina sekarang.


“Ini handuk, hubby. Bajumu sudah kutaruh diatas


tempat tidur.”kata Delina tanpa membalik tubuhnya.


Kevin mengambil handuk itu, ia melirik baju di atas


tempat tidur. Itu baju kesukaannya dan tiba-tiba ia tidak menyukai baju itu


lagi. Ia ingin Delina memilihkan baju lagi dan memakaikannya pada Kevin.

__ADS_1


“Aku gak mau baju itu. Ambilkan lagi yang


lain.”kata Kevin sambil mengeringkan tubuhnya.


Delina bahkan belum menurunkan dressnya yang masih


tersangkut di lehernya. Ia berjinjit mengambil baju lagi dan menyerahkannya


pada Kevin.


“Pakein dong. Tanganku masih megang handuk nich.


Kamu gak mau kan handuknya jatuh.”goda Kevin.


“Hubby kan bisa pake celana dulu.”kata Delina belum


mau membalik tubuhnya.


“Aku udah kedinginan. Cepetan pakein baju!”teriak


Kevin tidak sabaran.


Delina sudah terbiasa mendengar teriakan Kevin. Ia


tidak tersinggung lagi sekarang. Kalau sudah sifat dasar mau bagaimana


merubahnya. Delina mengalah, ia membalik tubuhnya dan Kevin bisa melihat dua


gundukan di depan dada Delina.


Kevin sedikit membungkuk ketika Delina berusaha


mencapai kepalanya untuk memasukkan baju kaos itu ke kepala Kevin. Ia bisa


melihat ada tahi lalat di antara kedua gundukan itu.


“Hubby, masukkan tanganmu.”pinta Delina.


Kevin masih sibuk dengan khayalannya bagaimana


kalau ia membenamkan wajahnya di gundukan itu.


“Hubby, kamu nglamun?”tanya Delina sambil


mengangkat tangan Kevin dan menuntunnya masuk ke salah satu lubang kaosnya.


“Hah?! Ya, aku lapar.”


“Cepat pakai celanamu, hubby. Kita hampir


terlambat.”kata Delina, ia menurunkan kaos sampai ke perut Kevin.


Kevin terpaksa menjauh dari Delina, mereka segera


ke meja makan setelah selesai berpakaian. Makan malam yang cukup ramai, Alvin


tiba-tiba mengajak keluarganya berbincang di meja makan padahal mereka masih


makan. Kevin sampai tersedak beberapa kali saat menjawab pertanyaan Alvin.


“Pelan-pelan, hubby.”kata Delina sambil menepuk


punggung Kevin.


“Ina, ambilkan sup iga lagi.”pinta Alvin, alih-alih


menyuruh Amira yang mengambilkannya.


Delina mengambil mangkuk Alvin, mengisinya lagi


dengan kuah dan sepotong daging. “Dagingnya banyakin.”pinta Alvin.


“Tuan besar sudah makan banyak daging, nanti


kepalanya sakit lagi.”


Semua orang di meja makan menegang mendengar


kata-kata Delina, tidak ada yang berani memberi nasihat pada Alvin. Mereka


melirik menanti reaksi Alvin.


*****


Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel

__ADS_1


saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.


__ADS_2