Penjahit Hati

Penjahit Hati
Episode 96


__ADS_3

Kevin menatap Armando lagi, ia merasa melihat


dirinya saat kecil dulu. Wajah Armando sama persis seperti yang ia lihat di


album foto masa kecilnya.


“Kamu beneran... anakku? Putraku?”tanya Kevin


terbata-bata.


“Kakek, apa ayah jadi bodoh gara-gara kaget?”tanya


Armando.


“Hahahahahahahaha...”kali ini Keanu ketawa ngakak


sampai guling-guling di lantai.


“Om Keanu juga ikutan lagi. Kakek, apa kita bisa


pergi sekarang?”tanya Armando. “Aku ada janji v-call dengan temanku.”


“Ibumu sudah mengirimkan nomor temanmu, Dodo. Kamu


bisa pakai HP kakek untuk bicara dengan temanmu.”kata Alvin menyerahkan


ponselnya.


Armando memasang headset-nya. Ia duduk di sofa di


samping Kevin yang masih lupa ingatan. Tak lama, Armando sudah tersambung


dengan temannya. Ia asyik bicara tanpa peduli sekitarnya.


Kevin kembali menatap putranya dengan Delina. Sudah


lama sekali ia tidak mendengar nama istrinya itu. Mereka belum bercerai sampai


saat ini. Tidak ada hari tanpa ia merindukan Delina. Rasa rindu yang hampir


membunuhnya setiap hari.


Tiba-tiba Kevin tertawa keras, lalu sedetik


kemudian menangis sedih. Alvin dan Keanu saling pandang mengira Kevin sudah


gila.


“Apa dia sudah minum obatnya?”tanya Alvin. Sejak


berpisah dengan Delina, Kevin harus mengkonsumsi obat tidur untuk membantunya


beristirahat. Ali sudah memberikan dosis yang cukup ringan untuk Kevin agar


tidak membahayakan hidupnya.


“Sudah, tuan besar.”bisik Keanu.


“Aku punya anak laki-laki!”teriak Kevin tiba-tiba


sambil memeluk Armando.


Armando membuka headset-nya, “Yah, bisa permisi


sebentar. Aku lagi sibuk.”kata Armando menunjuk ponsel Alvin.


“Ach, maaf. Salah ayah. Maaf. Nanti ayah belikan


mainan ya. Ayah dimaafin?”tanya Kevin mengkerut seperti anak kucing.


“Iya, ayah. Tidak perlu beli mainan. Jatahku bulan


ini sudah habis untuk belanja.”saut Armando.


“Apa maksudnya itu? Ibumu tidak punya uang?!”tanya


Kevin sedih.


Armando terpaksa menghentikan sambungan v-call


dengan temannya itu. Ia menatap Kevin, “Ayah, kakekku adalah orang paling kaya


di negara ini. Apa ayah pikir ibu tidak punya uang? Ibu bekerja membuat kebaya


untuk banyak orang terkenal. Ibu punya toko dan tabungan yang banyak.”


“Tapi kamu bilang tadi jatah belanjamu sudah


habis.”kata Kevin bingung.

__ADS_1


“Ibu selalu bilang untuk berhemat. Bukan karena ibu


pelit, tapi ibu mau aku banyak menabung dan cuma beli barang yang perlu


saja.”saut Armando lagi.


Kevin terdiam, ia menatap Alvin yang tersenyum


lebar. “Lihat hasil didikan Delina. Dia akan jadi pewaris tunggalku setelah


kamu, Vin.”


*****


Malam itu, Alvin dan Amira duduk bersama diatas


ranjang mereka yang hangat. Amira mengatakan kalau hari ini untuk pertama


kalinya Emilia bertemu dengan Delina. Amira sangat terkejut melihat reaksi


Emilia yang berubah jadi hangat saat bersama Delina. Bahkan Emilia tidak mau


lepas dari Delina.


Alvin juga mengatakan kalau Kevin bertemu Armando


hari ini. Kevin terlihat seperti orang bodoh menghadapi Armando yang cerdas.


Alvin sangat senang karena cucu laki-lakinya sangat bisa diandalkan sejak


kecil.


“Bagaimana dengan Delina dan Kevin? Tidak bisakah


mereka bersama lagi? Rumah ini selalu sepi sejak kepergian mereka.”tanya Amira.


“Entahlah bagaimana harus memulainya.”kata Alvin.


“Apa kita minta bantuan ibu saja?”tanya Amira.


“Gimana caranya?”tanya Alvin.


Amira membeberkan rencananya pada Alvin yang sangat


senang. Ia memeluk Amira dengan erat lalu menghabiskan malam yang dingin dengan


Meskipun sudah tinggal terpisah dari Kevin, Delina


rutin mengunjungi nenek Indri. Di tahun pertama saat kehamilannya, Delina


memang tidak ingin menemui siapapun. Tapi ia selalu menitipkan masakannya untuk


nenek Indri pada Amira kalau sedang berkunjung kesana.


Setelah Armando lahir, Delina secara langsung


datang untuk berkunjung ke rumah nenek Indri sambil membawakan syal dan pakaian


buatannya sendiri. Ia akan memasak untuk nenek Indri dan mengobrol dengannya


selama berjam-jam.


Delina juga selalu membawa pembukuan tokonya dan


menunjukkannya pada nenek Indri. Tidak perlu waktu lima tahun, dalam tiga tahun


pertama saja, Delina sudah berhasil melunasi hutangnya pada Alvin. Meskipun


sebenarnya Alvin tidak mempermasalahkan masalah pengembalian uang itu.


Ketulusan dan kebaikan Delina, membuatnya diterima


sebagai salah satu cucu menantu kesayangan nenek Indri. Tapi nenek Indri juga


sedih ketika mengetahui permasalahan rumah tangga Delina dengan Kevin. Mengetahui


niat Amira dan Alvin untuk menyatukan Delina dan Kevin kembali, nenek Indri


bersedia membantu Amira dan Alvin.


*****


Pagi itu, setelah beberapa hari berlalu, Delina mendapat


kabar kalau nenek Indri sakit dan minta dibuatkan bubur Manado. Delina menelpon


Alvin, ia minta tolong untuk menjemput Armando di sekolahnya.


“Ayah, bisa minta tolong menjemput Armando nanti.

__ADS_1


Ibu barusan nelpon katanya nenek Indri sakit. Delina mau ke rumah nenek


sekarang.”kata Delina.


“Iya, Ina. Ayah akan jaga Dodo. Kamu tolong urus


nenek Indri dulu ya. Kamu kan tahu kalau nenek Indri sakit, rewelnya bukan


main. Nanti ayah nyusul kesana.”kata Alvin.


Delina segera bergegas ke rumah nenek Indri. Ketika


ia sampai disana, Delina melihat mobil Kevin sudah ada disana. Ragu-ragu Delina


ingin masuk, sungguh ia belum bisa bertemu Kevin apalagi kalau dia datang bersama


Clara.


Delina mondar-mandir di depan pintu sambil


menenangkan jantungnya yang berdebar kencang. Ia harus masuk sekarang, cepat


atau lambat Delina pasti akan bertemu dengan mereka. Cuekin saja. Delina


melangkah masuk, ia melihat sekeliling yang tampak sepi.


“Permisi! Nenek?”panggil Delina. Ia melongok ke


arah dapur yang sepi. “Permisi, mbak?”panggil Delina pada pelayan.


Ia berjalan mendekati kamar nenek Indri. Tok, tok,


tok. Diketuknya pintu itu sebelum masuk. “Nek, Delina sudah datang.”kata


Delina. Ia kebingungan karena kamar itu kosong. Bahkan nenek Indri tidak ada di


kamar mandi.


Delina berjalan keluar kamar nenek Indri. Ia


mengambil ponselnya dari dalam tas. “Apa jangan-jangan nenek ada di rumah


sakit. Aku salah datang kesini. Ach, ceroboh sekali. Harusnya aku tanya ibu


dulu tadi.”kata Delina pada dirinya sendiri.


Delina hampir menelpon Amira saat tiba-tiba


seseorang memanggul tubuhnya di bahu. Ponsel dan tas Delina terlempar jatuh


diatas sofa.


“Aaaiihhh...!!!”pekik Delina kaget. “Siapa kamu!!


Lepasin saya!!” Delina memukul-mukul kepala orang yang memanggulnya. Pria itu


memukul pantat Delina dengan kurang ajar.


“Kamu jangan kurang ajar!! Aacchhh, sakit!!”teriak


Delina masih berusaha berontak. Ia menendang, memukul tubuh pria itu yang tetap


kokoh sekeras batu.


Biar bagaimanapun tenaganya jelas kalah dari pria


yang membopongnya itu. Delina melihat dirinya dibawa ke lantai atas, pria itu


berhenti di depan kamar yang dulu pernah dipakai Delina dan Kevin saat menginap


disana.


Pintu terbuka lebar, Delina refleks memegang kusen


pintu agar tidak ditarik masuk. Tapi pria itu lebih kuat menarik tubuh Delina


masuk. Pintu tertutup dan langsung dikunci dengan cepat. Bruk! Delina


dijatuhkan diatas ranjang besar.


“Ach...ka...kamu!!”pekik Delina kaget setelah melihat


siapa yang memanggulnya barusan.


*****


Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel


saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.

__ADS_1


__ADS_2