
Kevin menatap Armando lagi, ia merasa melihat
dirinya saat kecil dulu. Wajah Armando sama persis seperti yang ia lihat di
album foto masa kecilnya.
“Kamu beneran... anakku? Putraku?”tanya Kevin
terbata-bata.
“Kakek, apa ayah jadi bodoh gara-gara kaget?”tanya
Armando.
“Hahahahahahahaha...”kali ini Keanu ketawa ngakak
sampai guling-guling di lantai.
“Om Keanu juga ikutan lagi. Kakek, apa kita bisa
pergi sekarang?”tanya Armando. “Aku ada janji v-call dengan temanku.”
“Ibumu sudah mengirimkan nomor temanmu, Dodo. Kamu
bisa pakai HP kakek untuk bicara dengan temanmu.”kata Alvin menyerahkan
ponselnya.
Armando memasang headset-nya. Ia duduk di sofa di
samping Kevin yang masih lupa ingatan. Tak lama, Armando sudah tersambung
dengan temannya. Ia asyik bicara tanpa peduli sekitarnya.
Kevin kembali menatap putranya dengan Delina. Sudah
lama sekali ia tidak mendengar nama istrinya itu. Mereka belum bercerai sampai
saat ini. Tidak ada hari tanpa ia merindukan Delina. Rasa rindu yang hampir
membunuhnya setiap hari.
Tiba-tiba Kevin tertawa keras, lalu sedetik
kemudian menangis sedih. Alvin dan Keanu saling pandang mengira Kevin sudah
gila.
“Apa dia sudah minum obatnya?”tanya Alvin. Sejak
berpisah dengan Delina, Kevin harus mengkonsumsi obat tidur untuk membantunya
beristirahat. Ali sudah memberikan dosis yang cukup ringan untuk Kevin agar
tidak membahayakan hidupnya.
“Sudah, tuan besar.”bisik Keanu.
“Aku punya anak laki-laki!”teriak Kevin tiba-tiba
sambil memeluk Armando.
Armando membuka headset-nya, “Yah, bisa permisi
sebentar. Aku lagi sibuk.”kata Armando menunjuk ponsel Alvin.
“Ach, maaf. Salah ayah. Maaf. Nanti ayah belikan
mainan ya. Ayah dimaafin?”tanya Kevin mengkerut seperti anak kucing.
“Iya, ayah. Tidak perlu beli mainan. Jatahku bulan
ini sudah habis untuk belanja.”saut Armando.
“Apa maksudnya itu? Ibumu tidak punya uang?!”tanya
Kevin sedih.
Armando terpaksa menghentikan sambungan v-call
dengan temannya itu. Ia menatap Kevin, “Ayah, kakekku adalah orang paling kaya
di negara ini. Apa ayah pikir ibu tidak punya uang? Ibu bekerja membuat kebaya
untuk banyak orang terkenal. Ibu punya toko dan tabungan yang banyak.”
“Tapi kamu bilang tadi jatah belanjamu sudah
habis.”kata Kevin bingung.
__ADS_1
“Ibu selalu bilang untuk berhemat. Bukan karena ibu
pelit, tapi ibu mau aku banyak menabung dan cuma beli barang yang perlu
saja.”saut Armando lagi.
Kevin terdiam, ia menatap Alvin yang tersenyum
lebar. “Lihat hasil didikan Delina. Dia akan jadi pewaris tunggalku setelah
kamu, Vin.”
*****
Malam itu, Alvin dan Amira duduk bersama diatas
ranjang mereka yang hangat. Amira mengatakan kalau hari ini untuk pertama
kalinya Emilia bertemu dengan Delina. Amira sangat terkejut melihat reaksi
Emilia yang berubah jadi hangat saat bersama Delina. Bahkan Emilia tidak mau
lepas dari Delina.
Alvin juga mengatakan kalau Kevin bertemu Armando
hari ini. Kevin terlihat seperti orang bodoh menghadapi Armando yang cerdas.
Alvin sangat senang karena cucu laki-lakinya sangat bisa diandalkan sejak
kecil.
“Bagaimana dengan Delina dan Kevin? Tidak bisakah
mereka bersama lagi? Rumah ini selalu sepi sejak kepergian mereka.”tanya Amira.
“Entahlah bagaimana harus memulainya.”kata Alvin.
“Apa kita minta bantuan ibu saja?”tanya Amira.
“Gimana caranya?”tanya Alvin.
Amira membeberkan rencananya pada Alvin yang sangat
senang. Ia memeluk Amira dengan erat lalu menghabiskan malam yang dingin dengan
Meskipun sudah tinggal terpisah dari Kevin, Delina
rutin mengunjungi nenek Indri. Di tahun pertama saat kehamilannya, Delina
memang tidak ingin menemui siapapun. Tapi ia selalu menitipkan masakannya untuk
nenek Indri pada Amira kalau sedang berkunjung kesana.
Setelah Armando lahir, Delina secara langsung
datang untuk berkunjung ke rumah nenek Indri sambil membawakan syal dan pakaian
buatannya sendiri. Ia akan memasak untuk nenek Indri dan mengobrol dengannya
selama berjam-jam.
Delina juga selalu membawa pembukuan tokonya dan
menunjukkannya pada nenek Indri. Tidak perlu waktu lima tahun, dalam tiga tahun
pertama saja, Delina sudah berhasil melunasi hutangnya pada Alvin. Meskipun
sebenarnya Alvin tidak mempermasalahkan masalah pengembalian uang itu.
Ketulusan dan kebaikan Delina, membuatnya diterima
sebagai salah satu cucu menantu kesayangan nenek Indri. Tapi nenek Indri juga
sedih ketika mengetahui permasalahan rumah tangga Delina dengan Kevin. Mengetahui
niat Amira dan Alvin untuk menyatukan Delina dan Kevin kembali, nenek Indri
bersedia membantu Amira dan Alvin.
*****
Pagi itu, setelah beberapa hari berlalu, Delina mendapat
kabar kalau nenek Indri sakit dan minta dibuatkan bubur Manado. Delina menelpon
Alvin, ia minta tolong untuk menjemput Armando di sekolahnya.
“Ayah, bisa minta tolong menjemput Armando nanti.
__ADS_1
Ibu barusan nelpon katanya nenek Indri sakit. Delina mau ke rumah nenek
sekarang.”kata Delina.
“Iya, Ina. Ayah akan jaga Dodo. Kamu tolong urus
nenek Indri dulu ya. Kamu kan tahu kalau nenek Indri sakit, rewelnya bukan
main. Nanti ayah nyusul kesana.”kata Alvin.
Delina segera bergegas ke rumah nenek Indri. Ketika
ia sampai disana, Delina melihat mobil Kevin sudah ada disana. Ragu-ragu Delina
ingin masuk, sungguh ia belum bisa bertemu Kevin apalagi kalau dia datang bersama
Clara.
Delina mondar-mandir di depan pintu sambil
menenangkan jantungnya yang berdebar kencang. Ia harus masuk sekarang, cepat
atau lambat Delina pasti akan bertemu dengan mereka. Cuekin saja. Delina
melangkah masuk, ia melihat sekeliling yang tampak sepi.
“Permisi! Nenek?”panggil Delina. Ia melongok ke
arah dapur yang sepi. “Permisi, mbak?”panggil Delina pada pelayan.
Ia berjalan mendekati kamar nenek Indri. Tok, tok,
tok. Diketuknya pintu itu sebelum masuk. “Nek, Delina sudah datang.”kata
Delina. Ia kebingungan karena kamar itu kosong. Bahkan nenek Indri tidak ada di
kamar mandi.
Delina berjalan keluar kamar nenek Indri. Ia
mengambil ponselnya dari dalam tas. “Apa jangan-jangan nenek ada di rumah
sakit. Aku salah datang kesini. Ach, ceroboh sekali. Harusnya aku tanya ibu
dulu tadi.”kata Delina pada dirinya sendiri.
Delina hampir menelpon Amira saat tiba-tiba
seseorang memanggul tubuhnya di bahu. Ponsel dan tas Delina terlempar jatuh
diatas sofa.
“Aaaiihhh...!!!”pekik Delina kaget. “Siapa kamu!!
Lepasin saya!!” Delina memukul-mukul kepala orang yang memanggulnya. Pria itu
memukul pantat Delina dengan kurang ajar.
“Kamu jangan kurang ajar!! Aacchhh, sakit!!”teriak
Delina masih berusaha berontak. Ia menendang, memukul tubuh pria itu yang tetap
kokoh sekeras batu.
Biar bagaimanapun tenaganya jelas kalah dari pria
yang membopongnya itu. Delina melihat dirinya dibawa ke lantai atas, pria itu
berhenti di depan kamar yang dulu pernah dipakai Delina dan Kevin saat menginap
disana.
Pintu terbuka lebar, Delina refleks memegang kusen
pintu agar tidak ditarik masuk. Tapi pria itu lebih kuat menarik tubuh Delina
masuk. Pintu tertutup dan langsung dikunci dengan cepat. Bruk! Delina
dijatuhkan diatas ranjang besar.
“Ach...ka...kamu!!”pekik Delina kaget setelah melihat
siapa yang memanggulnya barusan.
*****
Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel
saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.
__ADS_1