Penjahit Hati

Penjahit Hati
PH - Permintaan Delina


__ADS_3

PH - Permintaan Delina


Sementara itu di dalam ruang kerja Alvin, Delina


dan Amira sudah duduk di sofa menunggu Alvin untuk bicara. Alvin menatap Delina


yang duduk tanpa ekspresi.


“Ina, apa kau benar-benar ingin bercerai dengan


Kevin dan pergi dari sini?”tanya Alvin.


“Iya, tuan besar.”jawab Delina lantang tanpa ragu.


Alvin ganti menatap wajah Amira yang tampak kecewa.


Ia tahu kalau Amira sangat menyukai kebaya buatan Delina. Istrinya itu terus


membicarakan pujian orang-orang yang melihat penampilannya dengan kebaya model


terbaru yang unik dan eksklusif sampai banyak yang bertanya dimana ia menjahit


kebaya itu.


Alvin sangat mencintai Amira sampai ia selalu


menjaga perasaan wanita yang sudah mendampinginya selama 30 tahun pernikahan


mereka. Sekarang melihat wajah kecewa Amira membuat Alvin menjalankan rencana


yang sudah ia pikirkan dengan cepat tadi.


“Delina, ini serius. Saya tidak bisa membiarkan


kamu keluar dari rumah ini.”kata Alvin tegas.


“Tapi tuan besar, saya...”kata Delina.


“Saya tidak bisa melihat istri saya kecewa karena


kamu pergi. Istri saya sangat menyukai kebaya buatanmu dan sepertinya ia akan


marah pada saya kalau saya mengijinkan kamu pergi.”jelas Alvin sambil tersenyum


pada Amira.


“Ny.Amira, maafkan saya.”kata Delina sambil


menunduk.


“Delina, tetaplah tinggal disini. Kevin juga sangat


membutuhkanmu.”bujuk Amira.


“Tuan muda akan menemukan pelayan yang lebih baik


dari saya, Ny. Saya hanya ingin hidup tenang sambil terus menjahit.”kata


Delina.


“Bagaimana kalau kita buat perjanjian? Katakan apa


yang kau inginkan agar kau mau tetap tinggal disini dan menjahit untuk istriku.”kata


Alvin.


“Saya mau seluruh harta tuan besar dan Ny. atas


nama saya.”kata Delina cepat.


Delina tidak bersungguh-sungguh dengan ucapannya,


ia mengatakan itu agar Alvin dan Amira mengusirnya dari rumah mereka.


“Kalau tuan besar tidak bisa memberikannya, saya


pamit sekarang.”kata Delina lagi.


Alvin menatap Amira yang mengangguk dan bicara


setelah mengatur nafasnya.


“Apa hanya itu yang kau mau? Tapi kamu harus


menikah kembali dengan Kevin, menjadi istri Kevin, dan tetap menjahit untuk


istriku. Kau juga harus membuatkan kami kopi dan memasak untuk kami bertiga. Bagaimana?”tanya


Alvin sambil menatap tajam pada Delina.


Ujung-ujungnya pasti karena uang. Tapi tidak bisa


Alvin pungkiri kalau sosok Delina telah membuat putranya berubah menjadi lebih

__ADS_1


baik. Kinerjanya di perusahaan terus meningkat dan ia menjadi lebih serius


mengurus perusahaan. Alvin juga merasakan keluarganya jadi lebih hangat setelah


kedatangan Delina.


Sangat jarang melihat Kevin dan Alvin duduk bersama


sambil berebut cemilan buatan Delina dan menikmati kopi buatannya yang


menyegarkan pikiran. Belum lagi Amira yang lebih ceria dan semakin bersemangat


melayaninya. Alvin akan menukar seluruh hartanya untuk kebahagiaan itu.


Delina terlihat ragu sekarang. Ia tidak menyangka


kalau Alvin malah bernegosiasi dengannya. Wajah Delina memucat dengan keringat


dingin membasahi telapak tangannya. Kalau ia menjawab iya, dirinya akan tetap


terjebak selamanya dengan Kevin. Kalau ia menjawab tidak, Alvin tetap tidak


akan melepaskannya.


“Bagaimana, Ina? Apa kau setuju?”tanya Alvin tidak


sabaran.


“Baik, tuan besar. Saya setuju.”kata Delina dengan


bibir gemetar.


Saat itu Delina berharap dirinya akan dihina dan


langsung diusir saja dari rumah itu. Amira terus memperhatikan ekspresi Delina


yang gelisah. Bukankah seharusnya sangat senang karena bisa kaya mendadak. Tapi


ia jadi lebih tertekan dari sebelumnya.


“Bagus. Pengacara Juni, anda sudah dengar semuanya?


Silakan menyiapkan dokumennya dan saya tunggu secepatnya di rumah.”perintah


Alvin pada seseorang di telpon.


“Baik, tuan Alvin. Saya akan tiba setengah jam


lagi.”jawab pengacara Juni.


“Ina, tunggu di kamarmu. Kamu bisa membersihkan


diri dulu dan istirahat disana.”kata Alvin.


Delina hanya mengangguk tanpa bicara apapun. Ia


keluar dari ruang kerja Alvin, melewati Giselle dan Agnes yang masih duduk di


ruang tengah. Melewati Kevin dan Keanu di meja bar sebelum masuk ke kamarnya.


Kevin yang ingin mengejarnya hanya mendapat bantingan pintu di depan wajahnya.


Amira mendekati Alvin dan duduk di pangkuannya. Ia


terus menatap Alvin yang juga menatapnya.


“Sayang, kau tidak seharusnya melakukan itu. Aku akan


melepaskan Delina. Kita batalkan saja ya.”kata Amira.


“Sayang, apa kau bahagia? Sejak kedatangan Ina ke


rumah ini, kau jadi lebih bergairah padaku.”kata Alvin sambil mengusap tengkuk


Amira.


“Apa sangat keliatan? Aku sangat menyukai kebaya


buatannya. Dia juga memperbaiki kebaya lama kesayanganku.”kata Amira.


“Aku sangat mencintaimu, sayang. Harta ini tidak


sebanding dengan kebahagiaanmu. Aku bisa mendapatkan yang lebih dari ini. Rumah


ini, mobil, villa, aku janji akan mendapatkannya kembali secepatnya.”kata Alvin


dengan tangan mulai menjelajahi area favoritnya.


“Sayang, aku juga sangat mencintaimu. Aku rasa


bukan karena aku saja, kan?”tebak Amira sambil menikmati sentuhan Alvin di


tubuhnya.

__ADS_1


“Aku akui aku sangat suka minum kopi buatannya.


Cemilan yang Ina buat juga sangat enak. Terlebih Kevin, dia sudah banyak


berubah. Dari laporan anak buahku yang mengikuti Kevin, anak itu masih suka ke


klub langganannya, tapi dia sudah berhenti main perempuan. Anak itu juga hanya


minum sedikit. Kevin jadi lebih bertanggung jawab pada pekerjaannya. Banyak hal


positif yang kudengar dari Kevin sekarang.”jelas Alvin yang mulai menciumi


tubuh Amira.


Keduanya terlibat situasi panas di atas sofa itu


tanpa mempedulikan pintunya sudah dikunci atau belum.


Pengacara Juni masuk ke dalam rumah dengan


terburu-buru. Giselle dan Agnes yang melihatnya, spontan berdiri tapi pengacara


itu melewatinya begitu saja. Keanu dan Kevin yang melihat kedatangan pengacara,


jadi bertanya-tanya. Mereka mendekati pengacara itu dengan cepat.


“Pengacara Juni, sedang apa disini?”tanya Kevin


kepo.


“Saya dipanggil tuan Alvin, tuan Kevin. Dimana tuan


Alvin?”tanya pengacara itu.


“Ada di ruang kerja ayah. Tunggu sebentar.”kata


Kevin sambil mendekati pintu ruang kerja Alvin dan mengetuk sebentar, sebelum


membuka pintu.


“Yah, pengacara Juni...”kata Kevin sambil menutup


pintu kembali setelah melihat apa yang sedang dilakukan ayah dan ibunya di


dalam sana.


“Maaf tunggu sebentar ya. Ayah! Pengacara Juni


datang!”teriak Kevin dari depan pintu.


Mereka bertiga menunggu dengan kikuk di luar ruang


kerja Alvin. Saat pintu dibuka, Alvin menyuruh Kevin memanggil Delina. Kevin


semangat sekali berjalan cepat menuju kamar Delina dan mengetuk pintu.


“Delina, kamu dipanggil ayah. Cepat keluar!”teriak


Kevin.


Pintu kamar Delina terbuka, ia menutupi wajahnya


dengan kerudung yang dipakainya sehingga Kevin tidak melihat mata sembabnya.


Ketika ia masuk ke kamarnya tadi, Delina langsung mengemasi barang-barangnya


dan menunggu sambil menangis.


Mereka berjalan mendekat ke ruang kerja Alvin,


Alvin meminta semua orang di depan pintu untuk masuk ke dalam. Giselle dan


Agnes juga kepo, tapi mereka harus sabar menunggu.


“Tuan Alvin, ini dokumen pengalihan harta dan juga


perjanjian dengan nona Delina.”kata pengacara Juni.


“Pengalihan harta apa?”tanya Kevin tidak mengerti.


Kevin menatap Delina, Alvin, Amira, dan pengacara


Juni bergantian. Delina tetap diam tak bergeming. Ia membiarkan saat pengacara


Juni memberikan dokumen itu pada Kevin untuk dibaca. Dalam dokumen itu


disebutkan bahwa semua harta kekayaan Alvin akan dialihkan pada Delina jika


Delina bersedia menerima persyaratan yang diajukan Alvin padanya.


*****


Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel

__ADS_1


saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.


__ADS_2