
PH - Permintaan Delina
Sementara itu di dalam ruang kerja Alvin, Delina
dan Amira sudah duduk di sofa menunggu Alvin untuk bicara. Alvin menatap Delina
yang duduk tanpa ekspresi.
“Ina, apa kau benar-benar ingin bercerai dengan
Kevin dan pergi dari sini?”tanya Alvin.
“Iya, tuan besar.”jawab Delina lantang tanpa ragu.
Alvin ganti menatap wajah Amira yang tampak kecewa.
Ia tahu kalau Amira sangat menyukai kebaya buatan Delina. Istrinya itu terus
membicarakan pujian orang-orang yang melihat penampilannya dengan kebaya model
terbaru yang unik dan eksklusif sampai banyak yang bertanya dimana ia menjahit
kebaya itu.
Alvin sangat mencintai Amira sampai ia selalu
menjaga perasaan wanita yang sudah mendampinginya selama 30 tahun pernikahan
mereka. Sekarang melihat wajah kecewa Amira membuat Alvin menjalankan rencana
yang sudah ia pikirkan dengan cepat tadi.
“Delina, ini serius. Saya tidak bisa membiarkan
kamu keluar dari rumah ini.”kata Alvin tegas.
“Tapi tuan besar, saya...”kata Delina.
“Saya tidak bisa melihat istri saya kecewa karena
kamu pergi. Istri saya sangat menyukai kebaya buatanmu dan sepertinya ia akan
marah pada saya kalau saya mengijinkan kamu pergi.”jelas Alvin sambil tersenyum
pada Amira.
“Ny.Amira, maafkan saya.”kata Delina sambil
menunduk.
“Delina, tetaplah tinggal disini. Kevin juga sangat
membutuhkanmu.”bujuk Amira.
“Tuan muda akan menemukan pelayan yang lebih baik
dari saya, Ny. Saya hanya ingin hidup tenang sambil terus menjahit.”kata
Delina.
“Bagaimana kalau kita buat perjanjian? Katakan apa
yang kau inginkan agar kau mau tetap tinggal disini dan menjahit untuk istriku.”kata
Alvin.
“Saya mau seluruh harta tuan besar dan Ny. atas
nama saya.”kata Delina cepat.
Delina tidak bersungguh-sungguh dengan ucapannya,
ia mengatakan itu agar Alvin dan Amira mengusirnya dari rumah mereka.
“Kalau tuan besar tidak bisa memberikannya, saya
pamit sekarang.”kata Delina lagi.
Alvin menatap Amira yang mengangguk dan bicara
setelah mengatur nafasnya.
“Apa hanya itu yang kau mau? Tapi kamu harus
menikah kembali dengan Kevin, menjadi istri Kevin, dan tetap menjahit untuk
istriku. Kau juga harus membuatkan kami kopi dan memasak untuk kami bertiga. Bagaimana?”tanya
Alvin sambil menatap tajam pada Delina.
Ujung-ujungnya pasti karena uang. Tapi tidak bisa
Alvin pungkiri kalau sosok Delina telah membuat putranya berubah menjadi lebih
__ADS_1
baik. Kinerjanya di perusahaan terus meningkat dan ia menjadi lebih serius
mengurus perusahaan. Alvin juga merasakan keluarganya jadi lebih hangat setelah
kedatangan Delina.
Sangat jarang melihat Kevin dan Alvin duduk bersama
sambil berebut cemilan buatan Delina dan menikmati kopi buatannya yang
menyegarkan pikiran. Belum lagi Amira yang lebih ceria dan semakin bersemangat
melayaninya. Alvin akan menukar seluruh hartanya untuk kebahagiaan itu.
Delina terlihat ragu sekarang. Ia tidak menyangka
kalau Alvin malah bernegosiasi dengannya. Wajah Delina memucat dengan keringat
dingin membasahi telapak tangannya. Kalau ia menjawab iya, dirinya akan tetap
terjebak selamanya dengan Kevin. Kalau ia menjawab tidak, Alvin tetap tidak
akan melepaskannya.
“Bagaimana, Ina? Apa kau setuju?”tanya Alvin tidak
sabaran.
“Baik, tuan besar. Saya setuju.”kata Delina dengan
bibir gemetar.
Saat itu Delina berharap dirinya akan dihina dan
langsung diusir saja dari rumah itu. Amira terus memperhatikan ekspresi Delina
yang gelisah. Bukankah seharusnya sangat senang karena bisa kaya mendadak. Tapi
ia jadi lebih tertekan dari sebelumnya.
“Bagus. Pengacara Juni, anda sudah dengar semuanya?
Silakan menyiapkan dokumennya dan saya tunggu secepatnya di rumah.”perintah
Alvin pada seseorang di telpon.
“Baik, tuan Alvin. Saya akan tiba setengah jam
lagi.”jawab pengacara Juni.
“Ina, tunggu di kamarmu. Kamu bisa membersihkan
diri dulu dan istirahat disana.”kata Alvin.
Delina hanya mengangguk tanpa bicara apapun. Ia
keluar dari ruang kerja Alvin, melewati Giselle dan Agnes yang masih duduk di
ruang tengah. Melewati Kevin dan Keanu di meja bar sebelum masuk ke kamarnya.
Kevin yang ingin mengejarnya hanya mendapat bantingan pintu di depan wajahnya.
Amira mendekati Alvin dan duduk di pangkuannya. Ia
terus menatap Alvin yang juga menatapnya.
“Sayang, kau tidak seharusnya melakukan itu. Aku akan
melepaskan Delina. Kita batalkan saja ya.”kata Amira.
“Sayang, apa kau bahagia? Sejak kedatangan Ina ke
rumah ini, kau jadi lebih bergairah padaku.”kata Alvin sambil mengusap tengkuk
Amira.
“Apa sangat keliatan? Aku sangat menyukai kebaya
buatannya. Dia juga memperbaiki kebaya lama kesayanganku.”kata Amira.
“Aku sangat mencintaimu, sayang. Harta ini tidak
sebanding dengan kebahagiaanmu. Aku bisa mendapatkan yang lebih dari ini. Rumah
ini, mobil, villa, aku janji akan mendapatkannya kembali secepatnya.”kata Alvin
dengan tangan mulai menjelajahi area favoritnya.
“Sayang, aku juga sangat mencintaimu. Aku rasa
bukan karena aku saja, kan?”tebak Amira sambil menikmati sentuhan Alvin di
tubuhnya.
__ADS_1
“Aku akui aku sangat suka minum kopi buatannya.
Cemilan yang Ina buat juga sangat enak. Terlebih Kevin, dia sudah banyak
berubah. Dari laporan anak buahku yang mengikuti Kevin, anak itu masih suka ke
klub langganannya, tapi dia sudah berhenti main perempuan. Anak itu juga hanya
minum sedikit. Kevin jadi lebih bertanggung jawab pada pekerjaannya. Banyak hal
positif yang kudengar dari Kevin sekarang.”jelas Alvin yang mulai menciumi
tubuh Amira.
Keduanya terlibat situasi panas di atas sofa itu
tanpa mempedulikan pintunya sudah dikunci atau belum.
Pengacara Juni masuk ke dalam rumah dengan
terburu-buru. Giselle dan Agnes yang melihatnya, spontan berdiri tapi pengacara
itu melewatinya begitu saja. Keanu dan Kevin yang melihat kedatangan pengacara,
jadi bertanya-tanya. Mereka mendekati pengacara itu dengan cepat.
“Pengacara Juni, sedang apa disini?”tanya Kevin
kepo.
“Saya dipanggil tuan Alvin, tuan Kevin. Dimana tuan
Alvin?”tanya pengacara itu.
“Ada di ruang kerja ayah. Tunggu sebentar.”kata
Kevin sambil mendekati pintu ruang kerja Alvin dan mengetuk sebentar, sebelum
membuka pintu.
“Yah, pengacara Juni...”kata Kevin sambil menutup
pintu kembali setelah melihat apa yang sedang dilakukan ayah dan ibunya di
dalam sana.
“Maaf tunggu sebentar ya. Ayah! Pengacara Juni
datang!”teriak Kevin dari depan pintu.
Mereka bertiga menunggu dengan kikuk di luar ruang
kerja Alvin. Saat pintu dibuka, Alvin menyuruh Kevin memanggil Delina. Kevin
semangat sekali berjalan cepat menuju kamar Delina dan mengetuk pintu.
“Delina, kamu dipanggil ayah. Cepat keluar!”teriak
Kevin.
Pintu kamar Delina terbuka, ia menutupi wajahnya
dengan kerudung yang dipakainya sehingga Kevin tidak melihat mata sembabnya.
Ketika ia masuk ke kamarnya tadi, Delina langsung mengemasi barang-barangnya
dan menunggu sambil menangis.
Mereka berjalan mendekat ke ruang kerja Alvin,
Alvin meminta semua orang di depan pintu untuk masuk ke dalam. Giselle dan
Agnes juga kepo, tapi mereka harus sabar menunggu.
“Tuan Alvin, ini dokumen pengalihan harta dan juga
perjanjian dengan nona Delina.”kata pengacara Juni.
“Pengalihan harta apa?”tanya Kevin tidak mengerti.
Kevin menatap Delina, Alvin, Amira, dan pengacara
Juni bergantian. Delina tetap diam tak bergeming. Ia membiarkan saat pengacara
Juni memberikan dokumen itu pada Kevin untuk dibaca. Dalam dokumen itu
disebutkan bahwa semua harta kekayaan Alvin akan dialihkan pada Delina jika
Delina bersedia menerima persyaratan yang diajukan Alvin padanya.
*****
Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel
__ADS_1
saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.