Penjahit Hati

Penjahit Hati
PH - Penjahit kebaya


__ADS_3

PH - Penjahit kebaya


Ny. Amira sedang kesal dengan penjahit


langganannya. Ia mengeluh pada asistennya yang baru saja menunjukkan hasil


jahitan dari penjahit.


“Katanya dia bisa mengikuti model yang aku pilih.


Kenapa hasilnya begini?!” bentak Ny. Amira pada asistennya, Meri. Ny. Amira


menyambar kebaya yang sudah jadi itu dan memperhatikan detailnya, sangat kasar


dan juga ada beberapa jahitan yang lepas. Ia menarik jahitan yang lepas itu dan


butiran payet berjatuhan ke lantai kantornya.


“Aarrggg...! Menyebalkan sekali!” Ny. Amira


melempar kebaya itu ke kaki Meri.


“Ny. masih ada waktu 5 hari lagi. Ny. mau coba


penjahit lain?”


“5 hari!! Kamu kira ada penjahit yang bisa selesai


secepat itu?!” teriak Ny. Amira pada Mei.


Meri hanya diam 3 detik dan pada detik keempat


mulai bicara lagi. Meri sudah hafal dengan Ny. Amira yang selalu ingin solusi


cepat dan tepat.


“Saya bisa merekomendasikan penjahit yang cepat dan


hasilnya bagus. Hanya saja model kebayanya tidak bisa jadi serumit ini.”


“Cepat panggil dia kemari, kalau kau salah kali


ini, apa hukumannya?” tanya Ny. Amira sambil mendekatkan wajahnya pada Mei.


“Saya bersedia tidak libur sampai tahun depan.”


“Deal. Panggil dia kemari, cepat! Dan bersihkan


kebaya itu menjijikkan itu. Katakan pada penjahitku untuk mengganti kain yang


sudah ia rusak atau akan kutuntut dia.”


“Baik, Ny.”


Meri menelpon Delina yang sedang menggambar desain


baru untuk kebaya simpel tapi elegan. Ia menggunakan beberapa pensil warna


untuk menyempurnakan tampilan desainnya. Sesekali ia menambahkan warna lagi dan


tersenyum puas dengan hasilnya.



Delina menoleh menatap ponsel jadulnya, ada telpon


dari mbak Meri.


“Halo, mbak.”


“Delina. Ini darurat. Bisa kamu datang ke kantorku


sekarang? Bawa buku sketsamu, tolong aku.”


“Tapi, mbak...”


“Tolong, Delina. Kantorku gak jauh. Kamu bisa naik


ojek kesini. Gedungnya kelihatan dari rumahmu. Aku telpon tukang ojek


langgananku untuk jemput kamu ya.”


“Iya, mbak. Tapi...” Delina menoleh pada ponselnya


yang sudah terputus sambungannya.


Sedikit bingung, Delina mengemasi tasnya yang


lengkap berisi peralatan menjahit mini dan juga meteran. Ia juga membawa buku


sketsanya. Delina merapikan kerudungnya menutupi rambut hitamnya.

__ADS_1


Tin. Seorang tukang ojek berhenti di depan rumah


Delina. Ia segera keluar dari rumah, mengunci rumah itu dan naik ke boncengan


motor setelah memakai helm.


Jarak kantor Meri memang tidak jauh, tapi karena


macet, perjalanan Delina jadi sedikit terhambat. 10 menit kemudian, ponsel


Delina kembali berdering.


“Delina, dimana kamu?” tanya Meri dengan suara


berbisik.


“Aku di jalan, mbak. Ini jalannya macet. Sebentar


lagi aku sampai loby kantor mbak Meri.”


“Cepat sedikit ya. Sampai loby, bilang sama


security untuk mengantarmu ke ruanganku.”


“Iya, mbak.”


Tukang ojek melajukan motornya lebih cepat setelah


mendengar suara Meri tadi. Mereka sampai 10 menit kemudian, Delina berjalan


cepat setelah membayar ojek itu dan dicegat security di depan lobby.


“Selamat siang, bu. Ada keperluan apa?” sapa


security sambil memberi hormat.


“Saya mau bertemu mbak Meri. Bisa?”


“Sudah ada janji sebelumnya?”


“Sudah, pak.” Jawab Delina dengan singkat.


“Tunggu sebentar.”


Security itu tampaknya berkoordinasi dengan orang


di dalam karena tiba-tiba seorang security berlari menghampiri Delina dan


langsung masuk ke lift yang sudah terbuka.


Delina bisa melihat suasana di dalam kantor karena


lift yang tembus pandang. Ia masih bingung untuk apa dirinya dipanggil ke


kantor itu. Ketika pintu lift akhirnya terbuka di lantai 14, security itu


mempersilakan Delina keluar.


“Ibu silakan jalan terus nanti di ujung sana belok


ke kanan. Ibu Meri sudah menunggu ibu disana.”


“Terima kasih, pak.” Ucap Delina sedikit


membungkukkan pada security itu.


Delina mengikuti petunjuk dari security dan sampai


di sebuah ruangan. Delina mengetuk pintu itu, Meri membukakan pintunya.


“Delina. Akhirnya kamu datang. Cepat masuk.”


Delina melihat seorang wanita paruh baya tapi


sangat cantik duduk di belakang meja yang sangat besar. Ia tampak serius bicara


di telpon.


“Kamu duduk dulu disini ya. Mana sini lihat buku


sketsamu.” Pinta Meri.


“Mbak, aku mau ngapain disini?” tanya Delina


bingung.


“Intinya gini, kamu bisa ngerjain model kebaya yang


mana dalam 5 hari? 4 hari maksudku.”


“Terhitung hari ini?” tanya Delina memastikan.

__ADS_1


Tangannya membuka satu persatu lembar buku sketsa sampai ia menemukan model


kebaya terbarunya.


“Iya. Yang mana?”


“Yang ini atau yang halaman 18, mbak.” Kata Delina.


“Gak ada yang lain?” tanya Meri lagi.


“Nggak ada, kak. Modelnya agak rumit, paling gak


perlu 10 hari.”


“Sebentar ya.”


Delina mengangguk dan Meri berjalan cepat


menghampiri wanita yang sudah menatap Delina itu. Delina mengangguk sambil


tersenyum canggung. Cukup lama Meri bicara dengan wanita itu sampai Delina


gabut dan mulai memperhatikan dekorasi di dalam kantor itu.


Ia melihat banyak piala di dalam lemari kaca. Dan


banyak foto wanita itu dengan balutan kebaya aneka warna dan model. Sungguh,


Delina mengagumi kecantikan wanita itu.


Meri berjalan mendekati Delina,


“Ayo, ikut sini.”


Delina bangun dari duduknya dan mengikuti Meri


mendekati meja wanita itu.


“Kamu Delina?” tanya Ny. Amira tanpa senyum


mengembang di bibirnya.


“Iya, bu. Saya Delina.”


“Kamu bisa buatkan saya kebaya dengan model ini?” Ny.


Amira menunjuk sketsa kebaya yang baru diselesaikan Delina tadi.


“Bisa, bu. Tapi ibu perlu untuk kapan?”


“5 hari lagi ada pesta di kantor ini dan kebaya itu


harus sudah jadi. Kau bisa?”


“Bisa, bu. Boleh saya ukur badan ibu?” tanya


Delina.


“Aku suka dia, gak pakai basa-basi. Ayo, ke ruangan


sebelah.” Ajak Ny. Amira.


Delina dan Meri mengikuti Ny. Amira masuk ke


belakang ruang kerjanya. Disana ada ruangan yang sebagian dindingnya berupa


kaca cermin dua arah. Tidak hanya cermin, ada juga meja rias lengkap dengan


peralatan make up, dan juga lemari besar yang memenuhi dinding ruangan itu.


Sebuah tempat tidur besar juga ada di sana.


Ny. Amira mulai membuka jas dan kemeja yang


dipakainya. Meri membantu Ny. Amira memakai korset untuk membentuk tubuh


sebelum memakai kebaya. Delina menunduk mengambil meteran dan buku catatan dari


dalam tasnya.


Setelah Ny. Amira siap, Delina mulai mengukur


detail lekuk tubuh Ny. Amira tanpa ada yang ketinggalan. Delina mencatat


semuanya dengan detail dan menanyakan beberapa hal yang diinginkan Ny. Amira


dari kebaya yang ia inginkan.


Makin penasaran dengan ceritanya? Jangan lupa vote ya


kk, komen juga dong apa yang kurang. Jangan minta crazy up terus. Ntar saya

__ADS_1


stress.


__ADS_2