
Keduanya menoleh ke arah orang yang memanggil
Kevin. Kevin menelan salivanya melihat siapa orang itu. Sementara Delina jadi
gugup melihat orang itu. Ia mengeratkan pegangan tangannya pada Kevin.
Amira tampak berdiri di ruang tengah sambil
berkacak pinggang. Jelas ia terlihat sangat kesal, pagi itu ketika ia ingin
Delina memperbaiki kebayanya lagi, ia tidak menemukan Delina dimanapun. Lebih
kesalnya lagi saat tahu Kevin membawa Delina pergi tanpa berpamitan padanya.
“Malam, Ny.”
“Kalian darimana? Hmm? Kenapa gak pamit pergi?”
“Aku pergi keluar kota ada meeting, mah. Delina aku
ajak, soalnya... soalnya.”Kevin bingung mengatakan jawabannya. Yang benar saja
kalo harus mengatakan yang sebenarnya pada Amira.
“Ina, kamu gak buatin cemilan tadi sore. Hukumannya
besok bawakan cemilan ke kantorku jam 11 siang.”Alvin muncul tiba-tiba
mengagetkan mereka berdua.
Delina menunduk merasa tidak enak sudah
meninggalkan kewajibannya hanya untuk pergi dengan Kevin.
“Yah, Delina juga istriku. Aku yang mengajaknya
pergi, jangan hukum dia.”pinta Kevin.
Delina memegang lengan Kevin, menggeleng, “Gak
pa-pa, hubby. Aku yang salah gak ijin dulu.”
“Tuch, Ina gak keberatan. Lain kali kalo mau pergi,
ijin dulu!”hardik Alvin.
“Baik, tuan besar.”
“Kevin, ikut ayah.”pinta Alvin pada Kevin.
“Delina, ikut aku.”pinta Amira pada Delina.
Keduanya berpencar saling menatap satu sama lain
mengikuti kedua orang tua itu. Alvin menanyai Kevin macam-macam mengenai hasil
meetingnya tadi dengan client mereka. Kevin menepuk jidatnya, ia lupa
memberitahu Keanu langkah yang harus dijalankan mereka setelah meeting itu.
“Bentar, yah. Sambil chat Keanu ya. Kevin lupa
ngasih tau dia tadi kerjaan besok.”
“Kenapa bisa lupa? Sebenarnya kamu ngapain ngajak
Ina pergi? Dia bisa apa disana?”
”Memuaskan anakmu ini, ayah. Jangan bilang ayah
lupa kami sudah menikah.”ucap Kevin tanpa sadar. Ia sedang mengetik chat untuk
dikirim kepada Keanu.
Alvin terdiam mendengar jawaban terus terang Kevin.
“Kalian melakukan itu?”
“Hah?! Melakukan apa?”tanya Kevin balik. “Eh,
maksudku. Ehem... Yah, jangan tanya dulu. Aku lagi ngetik nich.”saut Kevin
menghentikan Alvin yang ingin bertanya lagi.
__ADS_1
Alvin geleng-geleng kepala melihat kelakuan Kevin. Kalau
memang benar mereka sudah melakukan itu, artinya perjanjian keduanya bisa saja
sudah dibatalkan. Delina akan jadi istri Kevin selamanya. Alvin masih belum
bisa menerima Delina sebagai menantunya. Ia hanya menyukai masakan Delina dan
kopi buatannya.
Untuk bisa jadi menantu yang diinginkan Alvin,
Delina harus memiliki penampilan yang lebih modern dari yang sekarang ini.
Alvin mengingat penampilan Delina tadi, seolah melewatkan sesuatu yang penting,
Alvin beranjak dari ruang kerjanya keluar. Ia meninggalkan Kevin yang masih
sibuk mengetik, memberi instruksi untuk Keanu.
“Sudah selesai. Ayah tadi bilang apa?”Kevin
celingukan mencari Alvin yang menghilang entah kemana. “Ayah?” Kevin melongok
ke bawah meja kerja Alvin dengan kurang ajar. Dipikirnya Alvin jatuh.
Kevin keluar dari ruang kerja Alvin, ia mencari ke
kamar orang tuanya tapi tetap tidak menemukan Alvin. “Ayah! Ayah, dimana sich?”
Kevin mendengar ribut-ribut dari kamar jahit Delina. Ia melihat pintu terbuka
dan lampunya menyala.
Kevin mendekat kesana, ia melihat Alvin sedang
menatap Delina yang berputar di depannya. “Ayah? Ngapain disini?”
“Kamu beli dimana baju Ina ini?”tanya Alvin.
Delina dan Kevin saling pandang, “Keanu yang beli
tadi. Kenapa, yah?”
modern. Carikan baju model terbaru. Sayang, gimana menurutmu?”tanya Alvin pada
Amira.
“Ya. Keanu seleranya kan bagus. Suruh dia
menemanimu belanja, Delina.”
“Gak boleh! Delina istri Kevin, Kevin yang nemenin
belanja.”
“Seleramu selalu pakaian seksi. Ina gak akan mau
pake. Ajak Keanu sekalian.”
“Sebenarnya ayah maunya apa sich? Kenapa Delina
disuruh belanja sama Keanu?!”kesal Kevin.
“Dua minggu lagi ulang tahun nenek Indri. Kamu gak
baca chat grup?” Kevin menggeleng, ia sudah lama gak buka chat grup karena
dianggapnya mengganggu. “Nenek Indri mau semua keluarga berkumpul di rumahnya.
Sepertinya ada yang membocorkan soal Ina. Jadi Ina harus ikut. Kamu ngerti
maksud ayah, Kevin?”tanya Alvin.
Kevin mengangguk, mereka harus merubah Delina agar
nenek Indri mau menerimanya sebagai menantu Alvin. Delina yang kebingungan
dengan apa yang terjadi, hanya bisa menatap mereka bertiga bergantian.
“Itu artinya, ayah sudah terima Delina jadi mantu
ayah?”tanya Kevin penuh harap.
__ADS_1
“Ya. Ayah dan ibu sudah terima Delina jadi menantu
kami.”jawab Alvin sambil tersenyum. “Dan kalian bisa meneruskan apa yang kalian
lakukan tadi. Semoga kita segera menerima kabar baik darimu, Ina.”ucap Alvin
lagi.
“Yess!!”teriak Kevin girang.
“Kabar baik? Maksud, tuan besar?”tanya Delina gak
ngerti.
“Masih manggil tuan besar, anak ini.”Alvin mengacak
rambut Delina yang masih tertutup kerudung. “Panggil ayah, Ina.”
Delina menggeleng, ia belum merasa nyaman. Alvin
merangkul Amira, dan mengatakan seiring berjalannya waktu, Delina harus
memanggilnya begitu juga. Kedua orang tua itu keluar dari kamar Delina.
Kevin menatap Delina sambil mengigit bibir
bawahnya. “Apa, hubby?”
“Kamu denger gak tadi ayah bilang apa? Kita disuruh
lanjut lagi yang tadi.”
“Hubby cerita apa sich? Yang tadi apa?”Delina
menelan salivanya kasar, ia melihat kearah pintu yang masih terbuka lebar. Entah
kenapa Delina ingin jauh-jauh dari Kevin saat ini. “Hubby, aku lapar. Hubby
lapar kan? Kita makan dulu ya. Aku masakin.”
“Okey, makan yang banyak. Nanti malam kita
lanjutkan lagi.”
Merinding bulu kuduk Delina mendengar bisikan mesum
Kevin. Ia segera keluar dari kamar itu, masuk ke dapur. Delina membuka kulkas,
ia melihat bahan untuk membuat sup dan memutuskan membuat sup ayam saja.
Harum sup menyeruak memenuhi dapur. Delina
menuangkan sup ayam ke dua mangkuk yang berbeda. Ia menghidangkannya di depan
Kevin, “Makan dulu, hubby.”
Kevin tersenyum pada Delina, ia menarik tangan
Delina hingga wajah mereka berdekatan. Cup. Dikecupnya lembut bibir Delina,
rona merah muncul di pipi Delina. “Makasih, sayang.”
Keduanya sedang menikmati makan malam berdua saja,
ketika pintu depan terbuka. Ali masuk sambil membopong Agnes. Delina menoleh
menatap Ali dan Agnes.
“Loh, nona Agnes kenapa?”
“Loh, kakak belum tidur?”Ali malah balik bertanya.
“Kenapa kamu jadi balik nanya? Delina nanya Agnes
kenapa tuch?”
“Dia...”
*****
Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel
saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.
__ADS_1