Penjahit Hati

Penjahit Hati
Episode 69


__ADS_3

Keduanya menoleh ke arah orang yang memanggil


Kevin. Kevin menelan salivanya melihat siapa orang itu. Sementara Delina jadi


gugup melihat orang itu. Ia mengeratkan pegangan tangannya pada Kevin.


Amira tampak berdiri di ruang tengah sambil


berkacak pinggang. Jelas ia terlihat sangat kesal, pagi itu ketika ia ingin


Delina memperbaiki kebayanya lagi, ia tidak menemukan Delina dimanapun. Lebih


kesalnya lagi saat tahu Kevin membawa Delina pergi tanpa berpamitan padanya.


“Malam, Ny.”


“Kalian darimana? Hmm? Kenapa gak pamit pergi?”


“Aku pergi keluar kota ada meeting, mah. Delina aku


ajak, soalnya... soalnya.”Kevin bingung mengatakan jawabannya. Yang benar saja


kalo harus mengatakan yang sebenarnya pada Amira.


“Ina, kamu gak buatin cemilan tadi sore. Hukumannya


besok bawakan cemilan ke kantorku jam 11 siang.”Alvin muncul tiba-tiba


mengagetkan mereka berdua.


Delina menunduk merasa tidak enak sudah


meninggalkan kewajibannya hanya untuk pergi dengan Kevin.


“Yah, Delina juga istriku. Aku yang mengajaknya


pergi, jangan hukum dia.”pinta Kevin.


Delina memegang lengan Kevin, menggeleng, “Gak


pa-pa, hubby. Aku yang salah gak ijin dulu.”


“Tuch, Ina gak keberatan. Lain kali kalo mau pergi,


ijin dulu!”hardik Alvin.


“Baik, tuan besar.”


“Kevin, ikut ayah.”pinta Alvin pada Kevin.


“Delina, ikut aku.”pinta Amira pada Delina.


Keduanya berpencar saling menatap satu sama lain


mengikuti kedua orang tua itu. Alvin menanyai Kevin macam-macam mengenai hasil


meetingnya tadi dengan client mereka. Kevin menepuk jidatnya, ia lupa


memberitahu Keanu langkah yang harus dijalankan mereka setelah meeting itu.


“Bentar, yah. Sambil chat Keanu ya. Kevin lupa


ngasih tau dia tadi kerjaan besok.”


“Kenapa bisa lupa? Sebenarnya kamu ngapain ngajak


Ina pergi? Dia bisa apa disana?”


”Memuaskan anakmu ini, ayah. Jangan bilang ayah


lupa kami sudah menikah.”ucap Kevin tanpa sadar. Ia sedang mengetik chat untuk


dikirim kepada Keanu.


Alvin terdiam mendengar jawaban terus terang Kevin.


“Kalian melakukan itu?”


“Hah?! Melakukan apa?”tanya Kevin balik. “Eh,


maksudku. Ehem... Yah, jangan tanya dulu. Aku lagi ngetik nich.”saut Kevin


menghentikan Alvin yang ingin bertanya lagi.

__ADS_1


Alvin geleng-geleng kepala melihat kelakuan Kevin. Kalau


memang benar mereka sudah melakukan itu, artinya perjanjian keduanya bisa saja


sudah dibatalkan. Delina akan jadi istri Kevin selamanya. Alvin masih belum


bisa menerima Delina sebagai menantunya. Ia hanya menyukai masakan Delina dan


kopi buatannya.


Untuk bisa jadi menantu yang diinginkan Alvin,


Delina harus memiliki penampilan yang lebih modern dari yang sekarang ini.


Alvin mengingat penampilan Delina tadi, seolah melewatkan sesuatu yang penting,


Alvin beranjak dari ruang kerjanya keluar. Ia meninggalkan Kevin yang masih


sibuk mengetik, memberi instruksi untuk Keanu.


“Sudah selesai. Ayah tadi bilang apa?”Kevin


celingukan mencari Alvin yang menghilang entah kemana. “Ayah?” Kevin melongok


ke bawah meja kerja Alvin dengan kurang ajar. Dipikirnya Alvin jatuh.


Kevin keluar dari ruang kerja Alvin, ia mencari ke


kamar orang tuanya tapi tetap tidak menemukan Alvin. “Ayah! Ayah, dimana sich?”


Kevin mendengar ribut-ribut dari kamar jahit Delina. Ia melihat pintu terbuka


dan lampunya menyala.


Kevin mendekat kesana, ia melihat Alvin sedang


menatap Delina yang berputar di depannya. “Ayah? Ngapain disini?”


“Kamu beli dimana baju Ina ini?”tanya Alvin.


Delina dan Kevin saling pandang, “Keanu yang beli


tadi. Kenapa, yah?”


modern. Carikan baju model terbaru. Sayang, gimana menurutmu?”tanya Alvin pada


Amira.


“Ya. Keanu seleranya kan bagus. Suruh dia


menemanimu belanja, Delina.”


“Gak boleh! Delina istri Kevin, Kevin yang nemenin


belanja.”


“Seleramu selalu pakaian seksi. Ina gak akan mau


pake. Ajak Keanu sekalian.”


“Sebenarnya ayah maunya apa sich? Kenapa Delina


disuruh belanja sama Keanu?!”kesal Kevin.


“Dua minggu lagi ulang tahun nenek Indri. Kamu gak


baca chat grup?” Kevin menggeleng, ia sudah lama gak buka chat grup karena


dianggapnya mengganggu. “Nenek Indri mau semua keluarga berkumpul di rumahnya.


Sepertinya ada yang membocorkan soal Ina. Jadi Ina harus ikut. Kamu ngerti


maksud ayah, Kevin?”tanya Alvin.


Kevin mengangguk, mereka harus merubah Delina agar


nenek Indri mau menerimanya sebagai menantu Alvin. Delina yang kebingungan


dengan apa yang terjadi, hanya bisa menatap mereka bertiga bergantian.


“Itu artinya, ayah sudah terima Delina jadi mantu


ayah?”tanya Kevin penuh harap.

__ADS_1


“Ya. Ayah dan ibu sudah terima Delina jadi menantu


kami.”jawab Alvin sambil tersenyum. “Dan kalian bisa meneruskan apa yang kalian


lakukan tadi. Semoga kita segera menerima kabar baik darimu, Ina.”ucap Alvin


lagi.


“Yess!!”teriak Kevin girang.


“Kabar baik? Maksud, tuan besar?”tanya Delina gak


ngerti.


“Masih manggil tuan besar, anak ini.”Alvin mengacak


rambut Delina yang masih tertutup kerudung. “Panggil ayah, Ina.”


Delina menggeleng, ia belum merasa nyaman. Alvin


merangkul Amira, dan mengatakan seiring berjalannya waktu, Delina harus


memanggilnya begitu juga. Kedua orang tua itu keluar dari kamar Delina.


Kevin menatap Delina sambil mengigit bibir


bawahnya. “Apa, hubby?”


“Kamu denger gak tadi ayah bilang apa? Kita disuruh


lanjut lagi yang tadi.”


“Hubby cerita apa sich? Yang tadi apa?”Delina


menelan salivanya kasar, ia melihat kearah pintu yang masih terbuka lebar. Entah


kenapa Delina ingin jauh-jauh dari Kevin saat ini. “Hubby, aku lapar. Hubby


lapar kan? Kita makan dulu ya. Aku masakin.”


“Okey, makan yang banyak. Nanti malam kita


lanjutkan lagi.”


Merinding bulu kuduk Delina mendengar bisikan mesum


Kevin. Ia segera keluar dari kamar itu, masuk ke dapur. Delina membuka kulkas,


ia melihat bahan untuk membuat sup dan memutuskan membuat sup ayam saja.


Harum sup menyeruak memenuhi dapur. Delina


menuangkan sup ayam ke dua mangkuk yang berbeda. Ia menghidangkannya di depan


Kevin, “Makan dulu, hubby.”


Kevin tersenyum pada Delina, ia menarik tangan


Delina hingga wajah mereka berdekatan. Cup. Dikecupnya lembut bibir Delina,


rona merah muncul di pipi Delina. “Makasih, sayang.”


Keduanya sedang menikmati makan malam berdua saja,


ketika pintu depan terbuka. Ali masuk sambil membopong Agnes. Delina menoleh


menatap Ali dan Agnes.


“Loh, nona Agnes kenapa?”


“Loh, kakak belum tidur?”Ali malah balik bertanya.


“Kenapa kamu jadi balik nanya? Delina nanya Agnes


kenapa tuch?”


“Dia...”


*****


Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel


saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.

__ADS_1


__ADS_2