Penjahit Hati

Penjahit Hati
Episode 100


__ADS_3

Rencana jahat


“Yah! Tolong Emi!”jerit Armando memanggil Kevin.


Kevin menoleh melihat Emilia timbul tenggelam di


dalam air. Delina dan Amira ikutan panik di pinggir kolam renang. Kevin segera


mengangkat tubuh bocah itu yang terlihat pucat. Ia memeluk leher Kevin


erat-erat sampai Kevin merasa tercekik. Kevin membawa Emilia ke pinggir kolam.


Ia ingin membaringkan Emilia di pinggir kolam, tapi


gadis kecil itu tidak mau melepaskannya. Emilia memegangi Kevin dengan erat


seperti ada lem di badannya.


“Emi, tenang nak. Sudah aman sekarang. Lepasin ayah


ya.”bujuk Kevin.


“Nggak mau! Nanti ayah pergi lagi.”ketus Emi.


Kevin terhenyak, kedua anaknya menanggapi


kepergiannya dengan cara yang berbeda. Armando tampak lebih tegar sedangkan


Emilia terlihat ketakutan melebihi rasa takut tenggelam barusan. Kevin naik ke


permukaan. Ia duduk di pinggir kolam dengan Emilia masih ada di pelukannya.


“Ayah nggak akan pergi lagi. Lepasin ayah, Emi.”bujuk


Kevin lagi.


Emilia menggeleng. Armando berenang kembali, ia


ikut naik ke permukaan duduk di samping Kevin.


“Emi, lepasin ayah. Atau kuceburin nich.”ancam


Armando. Emilia menoleh menatap Armando yang beranjak duduk di paha Kevin.


“Kenapa kamu manggil ayahku ayah juga? Kamu kan


anaknya tante cantik.”sengit Emilia.


Kevin menatap bergantian kedua anaknya yang mulai


berdebat kalau Kevin adalah ayah mereka.


“Emi, Arman. Maafin ayah ya. Ayah yang salah. Ayah


pergi ninggalin kalian berdua lama sekali.”kata Kevin dengan mata berkaca-kaca.


“Sudah, yah. Ibu bilang ayah jadi cengeng sekarang.


Arman aja udah nggak cengeng kayak ayah.”kata Armando menepuk-nepuk pundak


Kevin.


“Ayah kenapa pergi? Nggak sayang sama Emi ya? Dia


beneran anak ayah juga?”tanya Emilia murung.


“Iya, Emi. Arman juga anak ayah. Adik kamu. Ayah


sayang sama kalian, tapi ayah... sibuk kerja.”saut Kevin nggak tau lagi harus


bicara apa.


Kedua bocah kecil itu kembali saling pandang.


Keduanya menepuk-nepuk pundak Kevin yang sudah menangis seperti Emilia tadi.


“Ayah, malu ach. Berhenti nangis, nanti aku kasi


permen.”kata Emilia.


“Ayah bukan anak kecil lagi. Malah dikasi permen.


Ambilin minum sana.”kata Armando.


“Kamu yang ambil.”tunjuk Emilia.


Keduanya saling tunjuk sampai Kevin berhenti


menangis dan malah kebingungan mengatasi pertengkaran kedua anaknya. Amira

__ADS_1


meminta pengasuh Emilia untuk mengganti pakaian bocah itu. Delina juga membantu


Armando memakai pakaiannya lagi. Sedangkan Kevin masih betah dengan celana


renangnya.


“Yank, aku nggak dibantuin ganti baju juga?”tanya


Kevin sok imut.


“Ayah ganti baju sendiri dech. Udah besar juga.”saut


Armando.


Delina tersenyum mendengar kata-kata Armando. “Tuch,


ayah kan udah besar. Bisa ganti baju sendiri.”


Kevin menggendong Armando lalu menciumi perut bocah


tampan itu. Ia juga merangkul Delina. Mereka tertawa bersama dan pemandangan


itu tidak lepas dari mata gadis kecil yang sudah berganti pakaian.


Pengasuh Emilia, Rita berjongkok di samping gadis


kecil itu. “Lihat mereka sangat bahagia bisa bersama, nona. Mereka tidak


memerlukan nona. Kalau mereka berdua tinggal disini, nona akan diusir dari


sini.”bisik Rita mempengaruhi Emilia.


Rita tersenyum licik ketika melihat Emilia


mengepalkan tangan kecilnya. “Maksud bibi tante cantik dan anak kecil itu? Aku


akan usir mereka.”


“Jangan, nona. Nona akan dimarahi kalau bersikap


kasar. Pisahkan saja mereka, nona.”bujuk Rita.


Rita membisikkan sesuatu ke telinga Emilia. Gadis


kecil itu tersenyum sinis menatap mereka bertiga.


*****


dibuat Delina. Wanita itu juga menyiapkan dessert es krim dari kacang tanah.


Khusus untuk Emilia yang punya alergi dengan kacang, Delina menyiapkan es krim


coklat. Ia meminta Rita membawakan es krim untuk Emilia.


Tanpa setahu Delina, Rita memasukkan sesendok kecil


es krim kacang buatannya ke dalam es krim coklat milik Emilia. Sambil memasang


senyum manis di bibirnya, Rita membawakan esk krim coklat untuk Emilia. Saat


gadis itu memakan sesendok besar es krim, ia langsung menjatuhkan sendoknya


karena terbatuk-batuk.


“Gimana bisa? Emi kena reaksi alergi. Delina, itu


es krim kacang?”tanya Amira panik mencoba memberi minum Emi tapi tidak


berhasil.


“Nggak, mah. Itu es krim coklat di kulkas. Tadi


udah aku pisahin. Rita yang bawain buat Emi.”kata Delina jujur.


“Saya cuma bawain es krimnya, nyonya besar. Nyonya


muda yang nunjukin gelas yang mana.”kata Rita pura-pura ikut panik.


“Kita bahas nanti. Kevin, cepat bawa Emi ke rumah


sakit. Delina, kamu telpon Ali. Biar Dodo disini sama ayah.”perintah Alvin.


Rita mengekor di belakang Kevin yang sudah


mengangkat Emilia. Sementara Delina menyusul sambil menelpon Ali. Delina terus


menoleh ke belakang mencemaskan Emilia yang mulai sesak nafas. Gadis itu


terbaring dalam pelukan Rita. Kevin melarikan mobilnya dengan kecepatan tinggi

__ADS_1


sampai ke rumah sakit tempat Ali bertugas.


Emilia segera dirawat di UGD. Ali yang sudah


menunggu mereka, memberikan pertolongan pada gadis kecil itu. Kevin dan Rita


mengurus administrasi dan kamar untuk Emilia. Delina menatap dengan cemas pada


bilik perawatan Emilia. Dalam sekejap, tubuh Emilia dipenuhi selang dan juga


infus.


Perut gadis kecil itu harus dipompa untuk


mengeluarkan isi lambungnya. Obat anti alergi juga disuntikkan melalui infus.


Emilia sudah tidak sadarkan diri saat ia dipindahkan ke ruang ICU. Delina terus


mengikuti sampai ke depan pintu ruang ICU.


“Kakak ipar, seberapa banyak dia makan kacang?”tanya


Ali pada Delina.


“Aku nggak tau, Ali. Tadi dia makan sesendok es


krim coklat. Aku nggak tau ada kacang di dalamnya. Ali, tolong selamatkan Emi.”ujar


Delina cepat.


Ali mengangguk, ia masuk ke ruang ICU menyusul


dokter yang lain. Delina berdiri di depan pintu ruang ICU, tangannya menangkup


di depannya dadanya berharap Emilia akan selamat. Kevin segera kembali setelah


urusan kamar selesai. Rita berlari kecil di belakangnya tidak bisa mengimbangi


langkah lebar kaki Kevin yang panjang.


“Gimana Emi?”tanya Kevin.


Delina menunjuk ruang ICU dengan ekspresi wajah


cemas. Kevin memeluk wanita yang sangat ia cintai itu.


“Dia akan baik-baik saja, sayang.”ucap Kevin.


“Ini salahku, hubby. Harusnya aku tidak membuat es


krim itu. Ini salahku.”lirih Delina sedih.


Rita mengepalkan tangannya melihat pemandangan


mesra di depannya. Ia diam-diam mengambil foto Kevin dan Delina lalu


mengirimkannya pada seseorang.


Jauh di pinggir kota, seorang wanita menoleh


mendengar suara notif chat masuk. Clara mengepalkan tangannya melihat foto


mesra Kevin dan Delina.


“Yang aku mau mereka berpisah. Kenapa malah tambah


mesra? Kerjamu gimana?”tulis Clara denga cepat.


“Aku sedang berusaha menanamkan kebencian pada Emi.


Bersabarlah, kak.”balas Rita.


“Lakukan dengan cepat. Biar bagaimanapun aku punya


hak jadi istri Kevin.”ketik Clara lagi.


Clara melemparkan ponselnya ke atas meja. Ia


menatap sekeliling rumah tempat ia tinggal selama lima tahun ini. Rumah yang


bagi Delina sangat mewah tapi bagi Clara lebih mirip gudang. Setelah


melahirkan, dirinya malah harus berakhir di rumah kecil itu dan cuma bisa


menikmati uang bulanan yang sangat sedikit menurutnya.


*****


Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel

__ADS_1


saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.


__ADS_2