
Rencana jahat
“Yah! Tolong Emi!”jerit Armando memanggil Kevin.
Kevin menoleh melihat Emilia timbul tenggelam di
dalam air. Delina dan Amira ikutan panik di pinggir kolam renang. Kevin segera
mengangkat tubuh bocah itu yang terlihat pucat. Ia memeluk leher Kevin
erat-erat sampai Kevin merasa tercekik. Kevin membawa Emilia ke pinggir kolam.
Ia ingin membaringkan Emilia di pinggir kolam, tapi
gadis kecil itu tidak mau melepaskannya. Emilia memegangi Kevin dengan erat
seperti ada lem di badannya.
“Emi, tenang nak. Sudah aman sekarang. Lepasin ayah
ya.”bujuk Kevin.
“Nggak mau! Nanti ayah pergi lagi.”ketus Emi.
Kevin terhenyak, kedua anaknya menanggapi
kepergiannya dengan cara yang berbeda. Armando tampak lebih tegar sedangkan
Emilia terlihat ketakutan melebihi rasa takut tenggelam barusan. Kevin naik ke
permukaan. Ia duduk di pinggir kolam dengan Emilia masih ada di pelukannya.
“Ayah nggak akan pergi lagi. Lepasin ayah, Emi.”bujuk
Kevin lagi.
Emilia menggeleng. Armando berenang kembali, ia
ikut naik ke permukaan duduk di samping Kevin.
“Emi, lepasin ayah. Atau kuceburin nich.”ancam
Armando. Emilia menoleh menatap Armando yang beranjak duduk di paha Kevin.
“Kenapa kamu manggil ayahku ayah juga? Kamu kan
anaknya tante cantik.”sengit Emilia.
Kevin menatap bergantian kedua anaknya yang mulai
berdebat kalau Kevin adalah ayah mereka.
“Emi, Arman. Maafin ayah ya. Ayah yang salah. Ayah
pergi ninggalin kalian berdua lama sekali.”kata Kevin dengan mata berkaca-kaca.
“Sudah, yah. Ibu bilang ayah jadi cengeng sekarang.
Arman aja udah nggak cengeng kayak ayah.”kata Armando menepuk-nepuk pundak
Kevin.
“Ayah kenapa pergi? Nggak sayang sama Emi ya? Dia
beneran anak ayah juga?”tanya Emilia murung.
“Iya, Emi. Arman juga anak ayah. Adik kamu. Ayah
sayang sama kalian, tapi ayah... sibuk kerja.”saut Kevin nggak tau lagi harus
bicara apa.
Kedua bocah kecil itu kembali saling pandang.
Keduanya menepuk-nepuk pundak Kevin yang sudah menangis seperti Emilia tadi.
“Ayah, malu ach. Berhenti nangis, nanti aku kasi
permen.”kata Emilia.
“Ayah bukan anak kecil lagi. Malah dikasi permen.
Ambilin minum sana.”kata Armando.
“Kamu yang ambil.”tunjuk Emilia.
Keduanya saling tunjuk sampai Kevin berhenti
menangis dan malah kebingungan mengatasi pertengkaran kedua anaknya. Amira
__ADS_1
meminta pengasuh Emilia untuk mengganti pakaian bocah itu. Delina juga membantu
Armando memakai pakaiannya lagi. Sedangkan Kevin masih betah dengan celana
renangnya.
“Yank, aku nggak dibantuin ganti baju juga?”tanya
Kevin sok imut.
“Ayah ganti baju sendiri dech. Udah besar juga.”saut
Armando.
Delina tersenyum mendengar kata-kata Armando. “Tuch,
ayah kan udah besar. Bisa ganti baju sendiri.”
Kevin menggendong Armando lalu menciumi perut bocah
tampan itu. Ia juga merangkul Delina. Mereka tertawa bersama dan pemandangan
itu tidak lepas dari mata gadis kecil yang sudah berganti pakaian.
Pengasuh Emilia, Rita berjongkok di samping gadis
kecil itu. “Lihat mereka sangat bahagia bisa bersama, nona. Mereka tidak
memerlukan nona. Kalau mereka berdua tinggal disini, nona akan diusir dari
sini.”bisik Rita mempengaruhi Emilia.
Rita tersenyum licik ketika melihat Emilia
mengepalkan tangan kecilnya. “Maksud bibi tante cantik dan anak kecil itu? Aku
akan usir mereka.”
“Jangan, nona. Nona akan dimarahi kalau bersikap
kasar. Pisahkan saja mereka, nona.”bujuk Rita.
Rita membisikkan sesuatu ke telinga Emilia. Gadis
kecil itu tersenyum sinis menatap mereka bertiga.
*****
dibuat Delina. Wanita itu juga menyiapkan dessert es krim dari kacang tanah.
Khusus untuk Emilia yang punya alergi dengan kacang, Delina menyiapkan es krim
coklat. Ia meminta Rita membawakan es krim untuk Emilia.
Tanpa setahu Delina, Rita memasukkan sesendok kecil
es krim kacang buatannya ke dalam es krim coklat milik Emilia. Sambil memasang
senyum manis di bibirnya, Rita membawakan esk krim coklat untuk Emilia. Saat
gadis itu memakan sesendok besar es krim, ia langsung menjatuhkan sendoknya
karena terbatuk-batuk.
“Gimana bisa? Emi kena reaksi alergi. Delina, itu
es krim kacang?”tanya Amira panik mencoba memberi minum Emi tapi tidak
berhasil.
“Nggak, mah. Itu es krim coklat di kulkas. Tadi
udah aku pisahin. Rita yang bawain buat Emi.”kata Delina jujur.
“Saya cuma bawain es krimnya, nyonya besar. Nyonya
muda yang nunjukin gelas yang mana.”kata Rita pura-pura ikut panik.
“Kita bahas nanti. Kevin, cepat bawa Emi ke rumah
sakit. Delina, kamu telpon Ali. Biar Dodo disini sama ayah.”perintah Alvin.
Rita mengekor di belakang Kevin yang sudah
mengangkat Emilia. Sementara Delina menyusul sambil menelpon Ali. Delina terus
menoleh ke belakang mencemaskan Emilia yang mulai sesak nafas. Gadis itu
terbaring dalam pelukan Rita. Kevin melarikan mobilnya dengan kecepatan tinggi
__ADS_1
sampai ke rumah sakit tempat Ali bertugas.
Emilia segera dirawat di UGD. Ali yang sudah
menunggu mereka, memberikan pertolongan pada gadis kecil itu. Kevin dan Rita
mengurus administrasi dan kamar untuk Emilia. Delina menatap dengan cemas pada
bilik perawatan Emilia. Dalam sekejap, tubuh Emilia dipenuhi selang dan juga
infus.
Perut gadis kecil itu harus dipompa untuk
mengeluarkan isi lambungnya. Obat anti alergi juga disuntikkan melalui infus.
Emilia sudah tidak sadarkan diri saat ia dipindahkan ke ruang ICU. Delina terus
mengikuti sampai ke depan pintu ruang ICU.
“Kakak ipar, seberapa banyak dia makan kacang?”tanya
Ali pada Delina.
“Aku nggak tau, Ali. Tadi dia makan sesendok es
krim coklat. Aku nggak tau ada kacang di dalamnya. Ali, tolong selamatkan Emi.”ujar
Delina cepat.
Ali mengangguk, ia masuk ke ruang ICU menyusul
dokter yang lain. Delina berdiri di depan pintu ruang ICU, tangannya menangkup
di depannya dadanya berharap Emilia akan selamat. Kevin segera kembali setelah
urusan kamar selesai. Rita berlari kecil di belakangnya tidak bisa mengimbangi
langkah lebar kaki Kevin yang panjang.
“Gimana Emi?”tanya Kevin.
Delina menunjuk ruang ICU dengan ekspresi wajah
cemas. Kevin memeluk wanita yang sangat ia cintai itu.
“Dia akan baik-baik saja, sayang.”ucap Kevin.
“Ini salahku, hubby. Harusnya aku tidak membuat es
krim itu. Ini salahku.”lirih Delina sedih.
Rita mengepalkan tangannya melihat pemandangan
mesra di depannya. Ia diam-diam mengambil foto Kevin dan Delina lalu
mengirimkannya pada seseorang.
Jauh di pinggir kota, seorang wanita menoleh
mendengar suara notif chat masuk. Clara mengepalkan tangannya melihat foto
mesra Kevin dan Delina.
“Yang aku mau mereka berpisah. Kenapa malah tambah
mesra? Kerjamu gimana?”tulis Clara denga cepat.
“Aku sedang berusaha menanamkan kebencian pada Emi.
Bersabarlah, kak.”balas Rita.
“Lakukan dengan cepat. Biar bagaimanapun aku punya
hak jadi istri Kevin.”ketik Clara lagi.
Clara melemparkan ponselnya ke atas meja. Ia
menatap sekeliling rumah tempat ia tinggal selama lima tahun ini. Rumah yang
bagi Delina sangat mewah tapi bagi Clara lebih mirip gudang. Setelah
melahirkan, dirinya malah harus berakhir di rumah kecil itu dan cuma bisa
menikmati uang bulanan yang sangat sedikit menurutnya.
*****
Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel
__ADS_1
saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.