
Tristan hanya garuk-garuk kepala bingung melihat
istrinya mengeluh dan putrinya tertawa dalam pelukan Giselle. Bagaimana bisa putrinya mengatakan hal seserius itu sambil ketawa cekikikan.
Setelah Agnes tenang dan menceritakan apa yang
sebenarnya terjadi, barulah Giselle dan Tristan manggut-manggut mengerti.
“Mama harus terima lamaran itu atau Ali akan
membuatku hamil sebelum menikah. Aku nggak mau, mah. Aku ingin pernikahanku
sempurna, punya anak yang banyak...eh, dua aja cukup.”kata Agnes nggak kalah
cerewet dari sang mama.
“Kamu yakin sama Ali, sayang? Apa dia cukup kaya...
lupakan. Maksud mama dia sudah punya pekerjaan tetap kan? Oh ya, dia kan
dokter. Mas, kamu setuju?”tanya Giselle membuat Tristan dan Agnes memegang lengan Giselle.
“Nggak panas. Giselle, kamu nggak sakit kan?”tanya
Tristan.
Giselle cemberut melihat Agnes dan Tristan tertawa
bersamaan. Biasanya Giselle akan memaksakan pendapatnya pada Tristan dan Agnes.
Apapun itu harus sesuatu dengan rencana besar Nyonya Giselle.
Giselle beranjak dari duduknya menuju dapur lagi, “Mama
mau ngapain lagi?”tanya Agnes.
“Mama mau masak lagi, kurang kalo cuma segitu tadi.
Ali sukanya makan apa?”tanya Giselle tanpa menoleh pada Agnes.
Wanita itu berlari memeluk Giselle dari belakang,
ia sangat senang karena mamanya mau menerima Ali.
“Iya, tapi awas kalau Ali main-main sama kamu....”
Tak! Pisau daging mendarat diatas talenan, membelah timun jadi dua. ”Mama dapet timun darimana? Perasaan nggak ada tadi.”
Agnes nyengir lebar, “Iya, mah. Nggak berani dianya, ada om Alvin juga kan.”kata Agnes. "Makasi ya mah."
*****
Saat waktunya makan malam, Alvin beneran datang
bersama Amira dan Ali. Giselle langsung memeluk kakaknya itu dengan erat sambil nangis bombay.
“Sel, aku habis pulang liburan, bukan habis perang.”kata
Alvin mulai merasa sesak.
__ADS_1
Giliran Giselle memeluk Amira yang merasa sesak
juga. Giselle mengajak mereka berdua masuk tanpa Ali yang hanya berdiri di depan pintu. Ali merasa tidak sopan kalau ia masuk tanpa ijin Giselle.
Alvin dan Amira sudah duduk di ruang tamu, Tristan sudah ada disana menyambut mereka. “Loh, mana Ali?”tanya Tristan bingung.
Giselle menoleh ke belakang, ia kebingungan mencari
Ali yang ia kira berjalan di belakang mereka tadi. “Anak itu kenapa nggak ikut masuk? Ntar aku panggil dulu.”
Giselle melangkah ke pintu lagi, ia melihat Ali berdiri di jalan menuju rumahnya. Kaki pria itu menendang-nendang batu dengan kepala menunduk.
"Ali! Ayo, masuk."ajak Giselle melambaikan tangannya.
Ali mendongak menatap Giselle lalu berjalan menghampirinya dengan senyum mengembang.
"Apa kabar, tante."sapa Ali ramah.
Giselle tidak menjawab pertanyaan Ali, ia menarik tangan Ali ke dalam rumahnya lalu berbisik pada pria itu. "Agnes ada di kamarnya. Kamu tunggu disana dulu ya. Tante mau ngomong dulu sama om Alvin."
Ali melewati ruang tamu, menyapa Tristan, lalu langsung menuju kamar Agnes yang ditunjukkan Giselle. Tristan, Alvin, dan Amira menatap heran Ali yang bebas melenggang.
Giselle segera bergabung dengan mereka, ia menghidangkan minuman dingin untuk kakak dan kakak iparnya. Sementara mereka berempat ngobrol diruang tamu, Ali sudah masuk ke dalam kamar Agnes.
Ali melihat sekeliling kamar Agnes yang baru pertama ia masuki. Wanita itu sepertinya masih ada di kamar mandi.
Ali mendekati tempat tidur Agnes. Ia duduk di pinggir tempat tidur itu, menunggu Agnes
keluar. Tak lama, wanita itu keluar hanya berbalut handuk. Rambutnya masih sedikit basah. Agnes tidak sadar kalau Ali ada di dalam kamarnya. Wanita itu melepas handuknya untuk mengeringkan rambutnya.
“Yank, pake lagi handuknya. Ntar aku khilaf.”kata Ali membuat Agnes terperanjat.
“Ali!! Ngapain kamu disini?”Agnes mengecilkan suaranya takut didengar mamanya. Ali terkekeh
“Mamamu yang nyuruh aku nunggu disini. Mereka mau bicara serius kayaknya.”kata Ali beranjak
mendekati Agnes.
“Mereka bicara apa? Tentang lamaran? Kamu udah bilang sama mamaku?”tanya Agnes bertubi-tubi.
Wanita itu membuka lemarinya lalu menarik pakaian dalamnya dari dalam sana. Grep!
Ali memeluk tubuh Agnes dari belakang. Pria itu meniup tengkuk wanita yang
sangat ia cintai itu sampai tubuh Agnes merinding dibuatnya. Cup. Cup. Cup. Ali
mencium punggung Agnes, sesekali menggelitiki membuat Agnes tertawa kegelian.
“Udah. Geli banget. Serius mamaku yang nyuruh kamu masuk kesini?”tanya Agnes. Tangan Agnes
terulur mengambil syal dari dalam lemarinya. “Tutup matamu, Ali. Aku mau pakai
baju.” Ali pasrah ketika Agnes menutup matanya dengan syal yang diikatkan Agnes
pada kepala Ali.
Meskipun tidak bisa melihat, Ali bisa merasakan gerakan Agnes memakai pakaiannya. “Aku nggak
berani masuk ke rumahmu tadi. Soalnya mamamu cuma ngajak ayah sama ibu masuk ke
__ADS_1
rumah. Aku nunggu di depan, taunya mamamu nyusul aku suruh masuk. Bisik-bisik
nyuruh nunggu di kamarmu. Taunya kamu lagi mandi.”
Ali merasakan tangan Agnes melingkar di lehernya. “Kamu mau ngapain, sayang? Nggak enak ach
nanti mamamu masuk.”kata Ali sok jual mahal.
Agnes berdecih, ia tidak jadi mencium Ali. Tapi saat Agnes melepaskan tangannya dari Ali, pria
itu menarik pinggang Agnes lalu menciumnya. Keduanya sampai terjatuh diatas
tempat tidur Agnes saking panasnya berciuman. Ali tambah bersemangat saat meraba
punggung Agnes yang baru selesai memakai pakaian dalamnya saja.
Ceklek! Pintu kamar terbuka, Giselle masuk ke dalam tanpa melihat apa yang terjadi diatas
tempat tidur. “Agnes, Ali, makan malam sudah siap. Kalian ngapain??!!!”jerit
Giselle kaget.
Giselle melotot melihat Ali dalam keadaan mata tertutup syal berada dibawah Agnes yang cuma pakai pakaian dalam. “Mah, ada kecoak tadi. Aku kaget.”jawab Agnes langsung memberi alasan.
Giselle memutar bola matanya tahu putrinya sedang berbohong. Jelas-jelas mereka kepergok lagi
ciuman tadi. Giselle menepuk jidatnya, ia mengatakan agar mereka segera keluar
untuk makan malam. Pintu kamar tertutup lagi setelah Giselle keluar dari sana.
“Kamu sich.”kata Ali menepuk paha Agnes.
“Kamu duluan yang nakal.”sengit Agnes nggak mau kalah.
Ali menarik lepas penutup matanya, ia memicingkan matanya melihat Agnes yang tampak seksi
diatasnya. “Yank, kamu seksi banget. Aku nggak sabar nunggu malam pertama kita
nich.” Agnes semakin menggoda Ali dengan gerakan tubuhnya. Ia tertawa jahil
melihat wajah Ali memerah.
Ketika Ali ingin mencium Agnes lagi, wanita itu sudah melompat bangun lalu memakai dress.
Mereka harus segera keluar dari kamar itu.
Usai makan malam, dengan Giselle yang terus memberikan makanan pada Ali. Sampai pria itu bersandar di kursi karena sangat kekenyangan. Mereka semua duduk lagi di ruang tamu. Saat itu Ali mengatakan pada Giselle kalau ia ingin menikahi Agnes.
Suasana tegang memenuhi ruang tamu itu ketika mereka menunggu persetujuan Giselle. Alvin hanya mengangguk saat Giselle menatapnya. Giselle menghela nafas panjang sebelum mengangguk setuju. “Kapan
kalian siap menikah?”tanya Giselle.
“Minggu depan, tante. Setelah kontrak Agnes selesai.
Untuk gedung dan catering, sudah saya siapkan yang kira-kira cocok dengan
tante.”kata Ali mantap.
*****
__ADS_1
Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel
saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.