Penjahit Hati

Penjahit Hati
PH - Menarik perhatian


__ADS_3

PH - Menarik perhatian


Setelah Ny. Amira siap, Delina mulai mengukur


detail lekuk tubuh Ny. Amira tanpa ada yang ketinggalan. Delina mencatat


semuanya dengan detail dan menanyakan beberapa hal yang diinginkan Ny. Amira


dari kebaya yang akan ia jahit.


“Simpel dan elegan. Ingat dua kata itu. Aku gak mau


di gambarnya terlihat simpel dan elegan, tapi hasilnya ribet dan kampungan.


Meri, kasi lihat kebaya yang hancur itu.”


Meri memberikan kebaya yang tadi dilempar Ny.


Amira.


“Apa kau bisa memperbaikinya?” tanya Meri. Bahan


kebaya itu cukup mahal dan sayang sekali kalau Ny. Amira harus membuangnya.


“Bisa saja, mbak. Tapi aku perlu waktu lebih lama.


Bisa aku lihat bagaimana seharusnya modelnya?”


“Sebentar aku ambil dulu ya.” Kata Meri sambil


berjalan cepat keluar ruangan dan mengambil kertas desain diatas meja Ny.


Amira.


“Ini, Delina. Gambarnya bagus, kan? Tapi hasilnya


begini. Penjahit sebelumnya bilang hasilnya akan luar biasa. Tapi hancur gini.”


Jelas Meri sambil menunjukkan gambar di tangannya. Delina mengambil kertas itu


dan mengamati desainnya.


“Apa bisa diselamatkan, kebaya itu?” tanya Ny.


Amira yang mulai tertarik pada Delina.


“Saya bisa melakukan beberapa perubahan, hanya


sedikit. Ibu mau memakai kebaya ini atau saya jahitkan yang baru?”


Ny. Amira menimbang sesuatu menghitung waktu yang


tersisa dan tidak yakin kalau kebaya barunya akan jadi dengan bagus kalau


dijahit dengan terburu-buru.


“Tetap jahitkan yang baru. Meri, ambilkan bahan


kebaya berwarna biru di lemari. Untuk pesta dua minggu lagi.” Perintah Ny.


Amira pada Meri. Pandangannya berpindah pada Delina yang masih menunggu


kata-kata Ny. Amira selanjutnya. Meri membuka lemari di dekat meja rias dan


mengambil kebaya yang dimaksud Ny. Amira, kemudian memberikan kebaya itu pada


Delina.


“Aku mau pakai kebaya itu. Kau boleh melakukan


apapun yang diperlukan, tapi kebaya itu harus sudah siap 5 jam sebelum acara


dimulai. Mengerti?”


“Baik, bu. Saya akan tiba disini tepat waktu.”


Jawab Delina dengan tenang. Di dalam kepalanya sudah terbentuk hasil revisi


kebaya di tangannya.

__ADS_1


“Bagus, berapa aku harus bayar? Meri, ambilkan dompetku.”


Kata Ny. Amira sambil melepas korsetnya.


“Untuk memperbaiki kebaya ini 300rb, lalu untuk


menjahit kebaya baru 400rb. Ibu bisa DP dulu 50%.” Kata Delina sambil menulis


di bukunya mengenai harga dan kapan kebaya itu harus selesai.


Meri datang membawa dompet Ny. Amira, Ny. Amira


mengeluarkan uang 500rb dan memberikannya pada Delina.


“Terima kasih, Ny. Perlu saya buatkan notanya?”


tanya Delina.


“Meri kan sudah kenal kamu. Tidak perlu lah. Tolong


selesaikan saja kebaya itu.”


“Baik, Ny. Boleh saya bongkar kebaya ini disini?


Hanya untuk memastikan langkah saya selanjutnya.” Tanya Delina sambil menunjuk


peralatan menjahitnya.


“Waktumu disini sampai jam 5 sore. Ayo, Meri. Kita


harus meeting kan?” tanya Ny. Amira sambil memakai kembali pakaiannya.


“Baik, Ny. Amira. Delina, aku tinggal dulu ya.”


Pamit Meri pada Delina.


“Iya, mbak.” Delina mengangguk dan kembali


berkonsentrasi pada kebaya di tangannya. Teringat sesuatu, Delina memanggil


Meri yang hampir keluar dari ruangan itu.


Saya pencet nomor berapa nanti?” tanya Delina.


“Iya. Keluar ruangan ini, jalan lurus dikit trus


belok kiri ada lift kan, pencet tanda panah di samping lift dulu, trus masuk


pencet nomor 1. Kamu akan sampai di lobby. Kamu bisa pulang sendiri, kan?”


tanya Meri di depan pintu.


“Iya, bisa mbak. Makasih ya, mbak.”


“Baik-baik disini, jangan sentuh apapun ya. Ny.


Amira gak suka barangnya dipegang-pegang.”


“Iya, mbak. Aku cuma mau bongkar kebaya ini


bentar.”


Sepeninggalan Ny. Amira dan Meri, Delina menggelar


kebaya itu di karpet tebal di bawah tempat tidur. Ia juga melihat gambar sketsa


kebaya yang sangat berbeda hasilnya. Delina memejamkan matanya sebentar, ia


mengambil buku sketsanya dan mulai menggambar model baru berdasarkan kebaya


yang tergelar di karpet.



Sebuah sketsa kebaya setengah jadi sudah selesai di


tangan Delina. Ia beranjak ke atas karpet dan mulai membuka satu persatu benang


yang terjahit disana. Ia melakukannya dengan sangat hati-hati untuk menjaga

__ADS_1


bahan kebaya tetap utuh dan bagus.


Tanpa Delina sadari, CCTV rahasia di kamar itu


terus memantau gerak-geriknya. Ny. Amira sesekali melirik ponselnya yang


menunjukkan apa yang sedang dilakukan Delina di kamar pribadinya. Ia sedang


meeting dengan staf-nya, tapi tetap memperhatikan cara kerja Delina.


Setelah berkutat dengan benang dan payet yang cukup


banyak, Delina akhirnya melihat dasar kebaya itu. Sejak awal itu adalah kebaya


biasa yang ditambahkan dengan payet dan kain-kain tambahan yang membuat kebaya


itu tambah hancur.


Delina mengukur dasar kebaya itu dan memastikan


ukurannya sesuai dengan ukuran tubuh Ny. Amira. Ia memberi tanda ukuran yang


sudah sesuai dan membuka benang untuk ukuran yang masih salah. Meteran


menggantung di leher Delina, sementara kapur khusus untuk kain dan jarum pentul


tampak di sampingnya.


Ny. Amira melihat Delina duduk kembali ke atas sofa


dan mengambil buku sketsanya sambil mengusap keningnya dengan kerudungnya. Ia


memberi tanda pada Meri untuk mendekat,


“Suruh OB kesana, bawakan minum.” Perintah Ny.


Amira.


“Baik, Ny.” jawab Meri sambil menunduk.


Delina menoleh dari buku sketsanya saat OB masuk ke


ruangan itu membawakan minuman untuknya. Ny. Amira melihat Delina berdiri dan


sedikit membungkuk pada OB yang sudah cukup tua itu. Ia juga membukakan pintu


lebih lebar agar OB itu bisa masuk dan melakukan tugasnya.


“Cukup sopan. Tapi apa dia jujur?” gumam Ny. Amira.


Delina melanjutkan menggambar sketsa kebaya dan


ketika selesai, ia mendekat lagi ke kebaya itu dan menarik satu persatu kain


yang tadi dilepaskannya. Sesekali Delina melihat buku sketsanya, ia memasang


kembali satu persatu kain yang berserakan di lantai.


Saat Delina menyingkir dari depan kebaya itu, Ny.


Amira bisa melihat kebayanya sudah berubah menjadi lebih baik dari sebelumnya.


Ny. Amira memberi tanda untuk menghentikan meeting.


“Saya benar-benar minta maaf, saya harus pergi


sekarang. Kalian bisa lanjutkan dan laporkan hasilnya pada Meri. Saya permisi.”


Seluruh peserta rapat berdiri, menatap bingung


kepergian Ny. Amira yang diikuti Meri. Setelah puluhan tahun bekerja pada


perusahaan itu, deretan manager menggumamkan kalau baru kali ini Ny. Amira


pergi di tengah-tengah meeting dan tidak mengatakan apa-apa lagi.


Makin penasaran, lanjut terus scroll ya kk. Jangan


lupa meninggalkan jejak, like, komen, vote... agar saya semangat up setiap hari.

__ADS_1


__ADS_2