Penjahit Hati

Penjahit Hati
PH - Dikurung


__ADS_3

PH - Dikurung


Untung saja Alvin keluar dari kamar dan


menyelamatkan Keanu dari Giselle. Mereka berangkat kerja bersama-sama. Toh


Kevin baru kembali besok, Alvin tidak ingin menelponnya agar tidak mengganggu


konsentrasinya menyelesaikan proyek.


Amira memanggil Sri agar ikut masuk ke kamar


Delina. Amira melihat buku sketsa Delina dan menemukan banyak sketsa baru


untuknya. Amira mengambil salah satu gambar itu dan melipatnya. Sri mengambil


sisa kebaya yang sudah diselesaikan Delina dan membawanya ke kamar Amira


seperti instruksi Amira.


“Dengar Sri, tolong awasi Giselle dan Agnes. Aku


tidak mau mereka menyakiti Delina sampai parah. Kevin akan kembali besok dan


kita bukan keluarga kejam yang bisa dengan mudah menganiaya seorang pelayan.


Kamu mengerti maksudku?”perintah Amira sambil meraba tumpukan kebaya di


karpetnya.


“Baik, Ny.besar. Mungkin saya akan dilarang


memberikan makanan dan minuman untuk Delina, Ny.”jelas Sri.


“Itu masih lebih baik daripada Delina dipukuli


Giselle. Lakukan dengan hati-hati jangan sampai Delina terluka terutama di


bagian tangannya. Aku akan mencoba kebaya-kebaya ini. Kamu bisa keluar.”


“Baik, Ny.besar.”kata Sri patuh.


Amira teringat kejadian tadi pagi saat ia menerima


sebuah amplop coklat yang berisi foto-foto Kevin dan Delina. Ada juga sepucuk


surat yang mengatakan kalau keduanya sudah melangsungkan pernikahan di KUA


tanpa ada orang yang tahu. Ia langsung menggeledah kamar Kevin bersama Sri tapi


tidak menemukan buku nikah mereka.


Sepertinya Kevin menyimpan bukti-bukti itu di


apartmentnya atau ditempat lain. Giselle yang kepo, mencari tahu apa yang


terjadi dan mulai mengompori Amira. Tapi Amira yakin dengan penilaiannya dan


sepanjang penglihatannya, Kevin yang mulai tertarik pada Delina.


Kalau sampai pernikahan ini dilakukan atas dasar


suka sama suka, kenapa sampai sekarang Kevin tidak mengatakan apa-apa? Seharusnya


Kevin membawa Delina padanya dan menunjukkan surat nikah mereka.


Apalagi ekspresi Delina tadi yang jelas-jelas


sangat kebingungan. Ia bahkan tidak bisa mengatakan apa-apa dengan benar. Hanya


Kevin kunci masalah ini sekarang dan ia harus bersabar sampai Kevin datang


besok.


*****


Delina mengangkat kepalanya saat pintu gudang perlahan


terbuka, Agnes masuk kesana dengan cepat dan menghampiri Delina. Sudah 12 jam


dia terkurung disana tanpa makanan dan air, tubuhnya memasang signal waspada

__ADS_1


pada sosok Agnes yang berjalan mendekatinya seperti maling.


“Minum...” katanya sambil menyodorkan sebotol air,


Delina membuang muka.


“Cepat! Minum saja masih berpikir...” cerca Agnes


ketika Delina masih tidak mau minum.



Agnes memaksa Delina minum air dalam botol itu


hingga tersisa setengahnya. Delina sampai terengah-engah karena memaksakan air


masuk ke tenggorokannya yang sudah mulai mengering. Agnes menepuk-nepuk


punggung Delina saat wanita itu mulai terbatuk-batuk.


“Bersabar sebentar lagi kau akan bebas. Kevin


sedang dalam perjalanan pulang. Mungkin besok dia akan sampai.” Jelas Agnes


sambil mengusap-usap punggung Delina, meredakan batuknya.


Delina bingung dengan apa yang sedang terjadi,


wanita disampingnya ini jelas-jelas sama jahatnya dengan ibunya, tapi sekarang


ia datang memberinya air. Apa didalam air itu ada racunnya? Delina mulai


menyesali telah meminum air itu.


“Apa kau beneran gak tahu tentang pernikahan kalian?”tanya


Agnes


Delina hanya bisa menggeleng lemah. Dia saja masih


bingung kapan berfoto seperti itu. Satu-satunya orang yang bisa menjelaskannya


hanya Kevin dan dia belum kembali.


setumpuk kain usang di sudut ruangan. Wanita itu berjalan kesana dan melihat


ada beberapa pakaian bekas. Ia mengambil salah satu bungkusan disana dan


melihat ada pakaian yang mungkin cukup untuk Delina pakai sebagai selimut.


“Dengar, kalau ada yang tiba-tiba datang, aku harus


melakukan sesuatu sama kamu. Kamu bisa pakai kain-kain ini jadi selimut nanti.


Gudang ini sangat dingin saat malam. Ambil disini ya.”tunjuk Agnes.


Agnes mendekat lagi, ia berjongkok di samping


Delina yang masih saja menatapnya tanpa bicara apa-apa. Diusapnya wajah Delina


yang memar karena tamparan Giselle dan dirinya, Agnes menempelkan botol air


minum dingin itu ke bagian yang memar membuat Delina meringis.


“Sakit? Maaf, aku gak bisa bawakan obat. Mamaku


akan tahu. Ada lagi yang sakit?” tanya Agnes sambil memegang tangan Delina yang


langsung menarik tangannya.


Agnes menarik nafas panjang, tentu saja Delina


masih ketakutan padanya. Agnes menarik botol minum dari wajah Delina, ia


berdiri mendekati pintu gudang. Wajah cantik Agnes berubah tegang, mereka


mendengar langkah kaki seseorang di depan gudang memanggil-manggil nama Agnes


dengan suara cemprengnya,


“Berakting kedinginan dan kesakitan. Jangan katakan

__ADS_1


apapun. Cepat!”perintah Agnes


Delina tidak sempat berpikir saat Agnes menyiram


wajah dan tubuhnya dengan sisa air dalam botol. Byur! Delina gelagapan saat air


masuk ke hidungnya, tetesan air membasahi lantai gudang.


Uhuk! Uhuk! Delina jelas terbatuk lagi dengan air


di hidungnya. Agnes melempar botol air ke dekat Delina, hampir mengenai kepala


Delina. Saat itu Giselle masuk ke dalam gudang yang terbuka.


“Agnes, sedang apa kau disini?” tanya Giselle.


“Aku hanya mengerjainya lagi, ma. Lihat, ma.


Bajunya basah dia akan kedinginan. Hahahaha...” tawa Agnes dengan wajah


jahatnya.


Delina mengatur nafasnya, apa maksud Agnes setelah


memberinya minum air yang sangat ia butuhkan, sekarang malah menyiramnya. Apa


yang tadi itu cuma akting? Tapi buat apa? Ditengah kebingungannya, Delina hanya


meringkuk, menggigil kedinginan. Sungguh ia hanya ingin keluar dari gudang itu


secepatnya.


“Bagus sekali, kau rasakan itu.”tunjuk Giselle


tanpa belas kasihan.


Delina memejamkan matanya merasakan hawa dingin di


bajunya mulai berpindah ke kulit tubuhnya. Gudang itu sangat dingin dan juga


lembab. Sedikit genangan air saja bisa menambah hawa dingin di dalam gudang.


“Ayo, mah. Aku ada janji dengan salon. Mamah mau


ikut?”ajak Agnes setelah sebelumnya menarik-narik kerudung yang masih menutup


kepala Delina hingga terlepas. Kerudung basah itu teronggok di samping Delina.


Agnes sengaja melakukannya agar rambut Delina tidak semakin basah.


“Ikut dong. Mama mau creambath. Kunci pintunya


lagi.”ucap Giselle sambil berjalan keluar gudang, puas melihat putrinya


menyiksa Delina.


Agnes menutup pintu gudang sebelum melirik Delina


dengan senyum mengejek. Brak! Pintu gudang tertutup kembali dan terkunci dari


luar. Delina bangkit menuju tumpukan kain usang yang ditunjukkan Agnes tadi.


Ia memilih salah satu kain yang cukup tebal dan ada


handuk juga untuk mengeringkan baju dan wajahnya yang basah. Delina


melakukannya sambil mengingat kepingan kejadian saat Agnes masuk ke dalam


gudang.


“Apa yang terjadi barusan? Apa nona Agnes punya kepribadian


ganda? Sebentar baik, sebentar jahat.”tanya Delina pada dirinya sendiri.


Gruk! Delina memegangi perutnya yang berbunyi


karena lapar. Ia duduk kembali ke tempat semula sedikit bersandar. Sebaiknya ia


tidur saja untuk mengumpulkan energinya.


*****

__ADS_1


Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel


saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.


__ADS_2