
PH - Dikurung
Untung saja Alvin keluar dari kamar dan
menyelamatkan Keanu dari Giselle. Mereka berangkat kerja bersama-sama. Toh
Kevin baru kembali besok, Alvin tidak ingin menelponnya agar tidak mengganggu
konsentrasinya menyelesaikan proyek.
Amira memanggil Sri agar ikut masuk ke kamar
Delina. Amira melihat buku sketsa Delina dan menemukan banyak sketsa baru
untuknya. Amira mengambil salah satu gambar itu dan melipatnya. Sri mengambil
sisa kebaya yang sudah diselesaikan Delina dan membawanya ke kamar Amira
seperti instruksi Amira.
“Dengar Sri, tolong awasi Giselle dan Agnes. Aku
tidak mau mereka menyakiti Delina sampai parah. Kevin akan kembali besok dan
kita bukan keluarga kejam yang bisa dengan mudah menganiaya seorang pelayan.
Kamu mengerti maksudku?”perintah Amira sambil meraba tumpukan kebaya di
karpetnya.
“Baik, Ny.besar. Mungkin saya akan dilarang
memberikan makanan dan minuman untuk Delina, Ny.”jelas Sri.
“Itu masih lebih baik daripada Delina dipukuli
Giselle. Lakukan dengan hati-hati jangan sampai Delina terluka terutama di
bagian tangannya. Aku akan mencoba kebaya-kebaya ini. Kamu bisa keluar.”
“Baik, Ny.besar.”kata Sri patuh.
Amira teringat kejadian tadi pagi saat ia menerima
sebuah amplop coklat yang berisi foto-foto Kevin dan Delina. Ada juga sepucuk
surat yang mengatakan kalau keduanya sudah melangsungkan pernikahan di KUA
tanpa ada orang yang tahu. Ia langsung menggeledah kamar Kevin bersama Sri tapi
tidak menemukan buku nikah mereka.
Sepertinya Kevin menyimpan bukti-bukti itu di
apartmentnya atau ditempat lain. Giselle yang kepo, mencari tahu apa yang
terjadi dan mulai mengompori Amira. Tapi Amira yakin dengan penilaiannya dan
sepanjang penglihatannya, Kevin yang mulai tertarik pada Delina.
Kalau sampai pernikahan ini dilakukan atas dasar
suka sama suka, kenapa sampai sekarang Kevin tidak mengatakan apa-apa? Seharusnya
Kevin membawa Delina padanya dan menunjukkan surat nikah mereka.
Apalagi ekspresi Delina tadi yang jelas-jelas
sangat kebingungan. Ia bahkan tidak bisa mengatakan apa-apa dengan benar. Hanya
Kevin kunci masalah ini sekarang dan ia harus bersabar sampai Kevin datang
besok.
*****
Delina mengangkat kepalanya saat pintu gudang perlahan
terbuka, Agnes masuk kesana dengan cepat dan menghampiri Delina. Sudah 12 jam
dia terkurung disana tanpa makanan dan air, tubuhnya memasang signal waspada
__ADS_1
pada sosok Agnes yang berjalan mendekatinya seperti maling.
“Minum...” katanya sambil menyodorkan sebotol air,
Delina membuang muka.
“Cepat! Minum saja masih berpikir...” cerca Agnes
ketika Delina masih tidak mau minum.
Agnes memaksa Delina minum air dalam botol itu
hingga tersisa setengahnya. Delina sampai terengah-engah karena memaksakan air
masuk ke tenggorokannya yang sudah mulai mengering. Agnes menepuk-nepuk
punggung Delina saat wanita itu mulai terbatuk-batuk.
“Bersabar sebentar lagi kau akan bebas. Kevin
sedang dalam perjalanan pulang. Mungkin besok dia akan sampai.” Jelas Agnes
sambil mengusap-usap punggung Delina, meredakan batuknya.
Delina bingung dengan apa yang sedang terjadi,
wanita disampingnya ini jelas-jelas sama jahatnya dengan ibunya, tapi sekarang
ia datang memberinya air. Apa didalam air itu ada racunnya? Delina mulai
menyesali telah meminum air itu.
“Apa kau beneran gak tahu tentang pernikahan kalian?”tanya
Agnes
Delina hanya bisa menggeleng lemah. Dia saja masih
bingung kapan berfoto seperti itu. Satu-satunya orang yang bisa menjelaskannya
hanya Kevin dan dia belum kembali.
setumpuk kain usang di sudut ruangan. Wanita itu berjalan kesana dan melihat
ada beberapa pakaian bekas. Ia mengambil salah satu bungkusan disana dan
melihat ada pakaian yang mungkin cukup untuk Delina pakai sebagai selimut.
“Dengar, kalau ada yang tiba-tiba datang, aku harus
melakukan sesuatu sama kamu. Kamu bisa pakai kain-kain ini jadi selimut nanti.
Gudang ini sangat dingin saat malam. Ambil disini ya.”tunjuk Agnes.
Agnes mendekat lagi, ia berjongkok di samping
Delina yang masih saja menatapnya tanpa bicara apa-apa. Diusapnya wajah Delina
yang memar karena tamparan Giselle dan dirinya, Agnes menempelkan botol air
minum dingin itu ke bagian yang memar membuat Delina meringis.
“Sakit? Maaf, aku gak bisa bawakan obat. Mamaku
akan tahu. Ada lagi yang sakit?” tanya Agnes sambil memegang tangan Delina yang
langsung menarik tangannya.
Agnes menarik nafas panjang, tentu saja Delina
masih ketakutan padanya. Agnes menarik botol minum dari wajah Delina, ia
berdiri mendekati pintu gudang. Wajah cantik Agnes berubah tegang, mereka
mendengar langkah kaki seseorang di depan gudang memanggil-manggil nama Agnes
dengan suara cemprengnya,
“Berakting kedinginan dan kesakitan. Jangan katakan
__ADS_1
apapun. Cepat!”perintah Agnes
Delina tidak sempat berpikir saat Agnes menyiram
wajah dan tubuhnya dengan sisa air dalam botol. Byur! Delina gelagapan saat air
masuk ke hidungnya, tetesan air membasahi lantai gudang.
Uhuk! Uhuk! Delina jelas terbatuk lagi dengan air
di hidungnya. Agnes melempar botol air ke dekat Delina, hampir mengenai kepala
Delina. Saat itu Giselle masuk ke dalam gudang yang terbuka.
“Agnes, sedang apa kau disini?” tanya Giselle.
“Aku hanya mengerjainya lagi, ma. Lihat, ma.
Bajunya basah dia akan kedinginan. Hahahaha...” tawa Agnes dengan wajah
jahatnya.
Delina mengatur nafasnya, apa maksud Agnes setelah
memberinya minum air yang sangat ia butuhkan, sekarang malah menyiramnya. Apa
yang tadi itu cuma akting? Tapi buat apa? Ditengah kebingungannya, Delina hanya
meringkuk, menggigil kedinginan. Sungguh ia hanya ingin keluar dari gudang itu
secepatnya.
“Bagus sekali, kau rasakan itu.”tunjuk Giselle
tanpa belas kasihan.
Delina memejamkan matanya merasakan hawa dingin di
bajunya mulai berpindah ke kulit tubuhnya. Gudang itu sangat dingin dan juga
lembab. Sedikit genangan air saja bisa menambah hawa dingin di dalam gudang.
“Ayo, mah. Aku ada janji dengan salon. Mamah mau
ikut?”ajak Agnes setelah sebelumnya menarik-narik kerudung yang masih menutup
kepala Delina hingga terlepas. Kerudung basah itu teronggok di samping Delina.
Agnes sengaja melakukannya agar rambut Delina tidak semakin basah.
“Ikut dong. Mama mau creambath. Kunci pintunya
lagi.”ucap Giselle sambil berjalan keluar gudang, puas melihat putrinya
menyiksa Delina.
Agnes menutup pintu gudang sebelum melirik Delina
dengan senyum mengejek. Brak! Pintu gudang tertutup kembali dan terkunci dari
luar. Delina bangkit menuju tumpukan kain usang yang ditunjukkan Agnes tadi.
Ia memilih salah satu kain yang cukup tebal dan ada
handuk juga untuk mengeringkan baju dan wajahnya yang basah. Delina
melakukannya sambil mengingat kepingan kejadian saat Agnes masuk ke dalam
gudang.
“Apa yang terjadi barusan? Apa nona Agnes punya kepribadian
ganda? Sebentar baik, sebentar jahat.”tanya Delina pada dirinya sendiri.
Gruk! Delina memegangi perutnya yang berbunyi
karena lapar. Ia duduk kembali ke tempat semula sedikit bersandar. Sebaiknya ia
tidur saja untuk mengumpulkan energinya.
*****
__ADS_1
Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel
saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.