Penjahit Hati

Penjahit Hati
Episode 75


__ADS_3

“Ayah, Delina itu istriku. Harusnya dia bawakan


makan siang untukku.”protes Kevin.


“Tapi dia juga menantuku. Delina harus bawakan


makan siang untuk ayah, besok. Titik.”cetus Alvin kekeh.


Suara ponsel Delina berbunyi membuatnya menoleh


menatap ponselnya, Amira melakukan sambungan v-call. Delina menekan icon hijau


dan wajah Amira muncul di layar ponsel.


“Delina, kamu dimana? Kenapa gak ada di rumah? Loh,


kamu di kantor ayah?”tanya Amira. Tampak di belakang Delina, Kevin dan Alvin


masih sibuk berdebat tentang makan siang besok. “Mereka bertengkar kenapa?”tanya


Amira kepo.


“Soal makan siang besok, Ny. Tuan besar minta


dibawakan makan siang. Ny. sudah makan?”


Amira mengatakan kalau dia belum sempat makan,


kebetulan ia sedang dalam perjalanan kembali ke kantornya. Ia akan mampir ke


kantor Alvin kalau Delina masih disana. Delina mengatakan mungkin dia akan


pulang bersama Kevin nanti sore. Amira minta dipesankan makan siang, ia akan segera


sampai di kantor Alvin.


Saat Delina menutup telponnya, Tasya masuk ke ruang


kerja Alvin membawa kotak makan siang. Kevin menoleh melihat Tasya


menghidangkan makanan itu diatas meja. “Sayang, makan dulu.”


“Hubby, nyo... ibu mau datang sebentar lagi. Ibu


bilang tadi minta dipesankan makan siang juga.”ujar Delina melirik Tasya.


“Sekretaris Tasya, pesankan kotak makan siang lagi


satu.”perintah Kevin.


“Baik, tuan muda.”


Tasya menunduk hormat, tapi dalam hatinya mencebik


kesal pada Delina yang menurutnya sok sekali. Tasya keluar dari ruang kerja


Alvin, duduk di kursinya dengan kesal lalu memesan kotak makan siang lagi. Nana


yang melihat kelakuan Tasya cuma bisa diam.


Tak lama, Ny. Amira beneran datang. Ia menyapa


sekretaris di depan ruang kerja Alvin dan masuk ke ruangan suaminya itu. Delina


menoleh saat Amira masuk diikuti Tasya. “Ibu. Ibu sudah datang.”sapa Delina.


“Iya, Delina. Aku lapar sekali. Mana makanannya?”


Amira menoleh pada Alvin yang duduk di sofa tunggal. “Sayang, kamu sudah makan?”


“Ya, makan masakan Delina tadi. Enak loh.”puji Alvin.


“Yah, tau gitu aku minta dilebihin tadi. Sekarang


ada makanan apa?” Amira menatap kotak makan siang yang disodorkan Delina. Kotak


makan siang satunya belum datang dan entah kenapa Tasya ikut masuk ke ruang


kerja Alvin.


“Tasya, mana kotak makan siangnya satu lagi?”tanya


Alvin.


“Eh, oh... saya kira... sebentar, tuan besar. Saya


cek dulu.”jawab Tasya gugup. Ia mengikuti Ny.Amira masuk untuk menawarinya kopi


tadi. Tapi sepertinya Amira hanya peduli dengan Delina saja. Tasya mendengus

__ADS_1


kesal, ia meminta Nana mengecek kotak makan siang yang datang terlambat.


Delina meminta Amira makan duluan kalau memang


sudah lapar. Amira mengambil kotak makan siang itu lalu mulai memakannya.


Terlihat sekali ia sudah sangat lapar.


“Pelan-pelan makannya, bu. Nanti tersedak.”belum


juga Delina selesai bicara, Amira sudah terbatuk-batuk.


Delina mengambilkan air putih untuk Amira, “Makasi,


Delina. Kamu udah makan?”tanya Amira.


“Nanti saja, bu. Ibu makan saja duluan.”kata Delina


sambil tersenyum.


Kevin tersenyum melihat Delina mendahulukan orang


tuanya dan dirinya soal makanan. Padahal ia belum makan siang. Kevin hampir


beranjak menelpon keluar untuk menanyakan makanan pesanannya, tapi Nana sudah


masuk sambil membawa kotak makan siang kedua.


“Silakan dimakan, Ny. Maaf tadi kurirnya terjebak


macet.”ucap Nana sambil membungkuk hormat.


“Terima kasih, Nana.”saut Delina ramah.


Delina membuka kotak makan siang itu dan mulai


makan. Kevin bergeser mendekati Delina tapi Amira sudah pindah duduk ke samping


Delina. Amira meminta buku sketsa Delina, “Bukunya di ruangan hubby, bu. Biar


saya ambil dulu.”


Amira meminta Delina tetap makan, ia menyuruh Kevin


mengambil buku sketsa Delina. “Suruh Tasya aja ambil ke sebelah, bu.” Kevin


ruang kerja Kevin.


Tasya yang mendapat perintah berkaitan dengan


Delina, mendengus kesal lagi. Ia melangkah ke ruang sebelah, tempat kerja


Kevin. Dilihatnya tas milik Delina ada diatas meja sofa dekat dengan air putih.


Tasya tersenyum licik, ia mengulurkan tangannya dengan lihai menyenggol air


putih itu hingga tumpah membasahi tas Delina.


“Oh, ya ampun. Maaf, Ny. Hehe...”ucap Tasya licik.


Ia buru-buru membawa tas Delina keluar dari ruang


kerja Kevin dan masuk ke ruang kerja Alvin.


“Maaf, Ny. muda. Saya tidak sengaja menumpahkan air


ke tas ini. Tasnya jadi basah. Saya ambilkan tisu dulu.”kata Tasya pura-pura


panik.


Delina langsung panik karena di dalam tas itu ada


buku sketsanya. Ia mengeluarkan buku itu dan melihat bukunya sudah basah. “Oh,


bukuku...”ucap Delina sedih.


Ia mencoba mengeringkan buku itu dengan tisu yang


ada didekatnya. Dibukanya lembar demi lembar buku sketsa itu. Ada beberapa


gambar sketsa yang memudar kena air. Air mata Delina menetes melihat buku


kesayangannya dalam keadaan menyedihkan.


Meskipun Delina bisa menggambarnya lagi, tapi ia


sangat menyayangi buku impiannya itu. Kevin yang melihat Delina menangis,


mengusir Tasya keluar dari ruangan Alvin. “Keluar kamu. Kerja gak becus!”bentak

__ADS_1


Kevin marah.


“Sudah, Delina. Jangan nangis lagi. Bukunya masih


bisa dikeringin. Lihat, desainmu masih kelihatan kok.”bujuk Amira sambil


mengusap air mata di pipi Delina.


“Kita beli buku yang baru ya. Ayo, Delina.”ajak


Kevin.


“Sebentar, hubby. Aku belum selesai makan.”ucap


Delina yang mulai tenang.


Kevin nyengir kuda, dia sudah tidak sabaran ingin


selalu berduaan dengan Delina. Amira membuka desain terbaru Delina. Ia sangat


bersemangat ingin segera mencoba kebaya terbarunya. Kevin yang mendengar Delina


akan sibuk lagi menjahit, mulai protes pada ibunya.


“Bu, bisa gak Delinanya fokus sama Kevin dulu.”pinta


Kevin.


“Maksudmu?”tanya Amira bingung.


Kevin mengatakan kalau mereka masih pengantin baru,


perlu waktu berduaan. Delina langsung menggeleng, ia sangat malu mendengar


kata-kata Kevin yang tidak bisa menahan dirinya. Amira makin bingung karena


Kevin dan Delina yang tidak kompak.


“Delina kan mengerjakan tugas dari ibu, waktu kamu


di kantor. Ibu rasa gak ganggu waktu kalian berduaan dech.”


“Uhuk! Uhuk!”Delina tersedak tiba-tiba, wajahnya


merona merah. “Bu...”panggil Delina malu.


“Ibu benar kan?”tanya Amira.


“Pokoknya Kevin mau honeymoon!”kekeh Kevin.


“Ntar, habis ulang tahun nenek. Terserah kalian mau


pergi kemana. Kevin, kamu ingatkan tugasmu?”kata Alvin


Kevin mengangguk, ia harus memberitahu Delina


tentang nenek Indri. Delina harus siap menghadapi nenek Indri yang cukup sulit


didekati terutama oleh orang yang baru dikenalnya. Tapi Kevin yakin, Delina


bisa menaklukkan nenek Indri dalam sekejap.


Nana masuk ke ruang kerja Alvin. Ia membawa tagihan


kartu kredit semua keluarganya. Alvin membaca tagihan miliknya, ia hanya


menggunakan kartu kreditnya untuk membayar jamuan bisnis. Jadi perusahaan yang


akan membayar tagihan itu. Ia lanjut membuka tagihan kartu kredit milik Amira. Seperti


biasa, istrinya itu hanya belanja untuk kebutuhan bulanan rumah, membayar


tagihan, dan juga membeli kebutuhan pribadinya. Alvin meletakkan tagihan kartu


kredit Amira.


Ia beralih mengambil tagihan kartu kredit Kevin,


Alvin bersiap melihat jumlah tagihannya. Kali ini ia melotot melihat nominal


tagihan kartu kredit Kevin.


“Kevin, liat saldo tabunganmu. Cepat.”pinta Alvin.


*****


Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel


saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.

__ADS_1


__ADS_2