
“Ayah, Delina itu istriku. Harusnya dia bawakan
makan siang untukku.”protes Kevin.
“Tapi dia juga menantuku. Delina harus bawakan
makan siang untuk ayah, besok. Titik.”cetus Alvin kekeh.
Suara ponsel Delina berbunyi membuatnya menoleh
menatap ponselnya, Amira melakukan sambungan v-call. Delina menekan icon hijau
dan wajah Amira muncul di layar ponsel.
“Delina, kamu dimana? Kenapa gak ada di rumah? Loh,
kamu di kantor ayah?”tanya Amira. Tampak di belakang Delina, Kevin dan Alvin
masih sibuk berdebat tentang makan siang besok. “Mereka bertengkar kenapa?”tanya
Amira kepo.
“Soal makan siang besok, Ny. Tuan besar minta
dibawakan makan siang. Ny. sudah makan?”
Amira mengatakan kalau dia belum sempat makan,
kebetulan ia sedang dalam perjalanan kembali ke kantornya. Ia akan mampir ke
kantor Alvin kalau Delina masih disana. Delina mengatakan mungkin dia akan
pulang bersama Kevin nanti sore. Amira minta dipesankan makan siang, ia akan segera
sampai di kantor Alvin.
Saat Delina menutup telponnya, Tasya masuk ke ruang
kerja Alvin membawa kotak makan siang. Kevin menoleh melihat Tasya
menghidangkan makanan itu diatas meja. “Sayang, makan dulu.”
“Hubby, nyo... ibu mau datang sebentar lagi. Ibu
bilang tadi minta dipesankan makan siang juga.”ujar Delina melirik Tasya.
“Sekretaris Tasya, pesankan kotak makan siang lagi
satu.”perintah Kevin.
“Baik, tuan muda.”
Tasya menunduk hormat, tapi dalam hatinya mencebik
kesal pada Delina yang menurutnya sok sekali. Tasya keluar dari ruang kerja
Alvin, duduk di kursinya dengan kesal lalu memesan kotak makan siang lagi. Nana
yang melihat kelakuan Tasya cuma bisa diam.
Tak lama, Ny. Amira beneran datang. Ia menyapa
sekretaris di depan ruang kerja Alvin dan masuk ke ruangan suaminya itu. Delina
menoleh saat Amira masuk diikuti Tasya. “Ibu. Ibu sudah datang.”sapa Delina.
“Iya, Delina. Aku lapar sekali. Mana makanannya?”
Amira menoleh pada Alvin yang duduk di sofa tunggal. “Sayang, kamu sudah makan?”
“Ya, makan masakan Delina tadi. Enak loh.”puji Alvin.
“Yah, tau gitu aku minta dilebihin tadi. Sekarang
ada makanan apa?” Amira menatap kotak makan siang yang disodorkan Delina. Kotak
makan siang satunya belum datang dan entah kenapa Tasya ikut masuk ke ruang
kerja Alvin.
“Tasya, mana kotak makan siangnya satu lagi?”tanya
Alvin.
“Eh, oh... saya kira... sebentar, tuan besar. Saya
cek dulu.”jawab Tasya gugup. Ia mengikuti Ny.Amira masuk untuk menawarinya kopi
tadi. Tapi sepertinya Amira hanya peduli dengan Delina saja. Tasya mendengus
__ADS_1
kesal, ia meminta Nana mengecek kotak makan siang yang datang terlambat.
Delina meminta Amira makan duluan kalau memang
sudah lapar. Amira mengambil kotak makan siang itu lalu mulai memakannya.
Terlihat sekali ia sudah sangat lapar.
“Pelan-pelan makannya, bu. Nanti tersedak.”belum
juga Delina selesai bicara, Amira sudah terbatuk-batuk.
Delina mengambilkan air putih untuk Amira, “Makasi,
Delina. Kamu udah makan?”tanya Amira.
“Nanti saja, bu. Ibu makan saja duluan.”kata Delina
sambil tersenyum.
Kevin tersenyum melihat Delina mendahulukan orang
tuanya dan dirinya soal makanan. Padahal ia belum makan siang. Kevin hampir
beranjak menelpon keluar untuk menanyakan makanan pesanannya, tapi Nana sudah
masuk sambil membawa kotak makan siang kedua.
“Silakan dimakan, Ny. Maaf tadi kurirnya terjebak
macet.”ucap Nana sambil membungkuk hormat.
“Terima kasih, Nana.”saut Delina ramah.
Delina membuka kotak makan siang itu dan mulai
makan. Kevin bergeser mendekati Delina tapi Amira sudah pindah duduk ke samping
Delina. Amira meminta buku sketsa Delina, “Bukunya di ruangan hubby, bu. Biar
saya ambil dulu.”
Amira meminta Delina tetap makan, ia menyuruh Kevin
mengambil buku sketsa Delina. “Suruh Tasya aja ambil ke sebelah, bu.” Kevin
ruang kerja Kevin.
Tasya yang mendapat perintah berkaitan dengan
Delina, mendengus kesal lagi. Ia melangkah ke ruang sebelah, tempat kerja
Kevin. Dilihatnya tas milik Delina ada diatas meja sofa dekat dengan air putih.
Tasya tersenyum licik, ia mengulurkan tangannya dengan lihai menyenggol air
putih itu hingga tumpah membasahi tas Delina.
“Oh, ya ampun. Maaf, Ny. Hehe...”ucap Tasya licik.
Ia buru-buru membawa tas Delina keluar dari ruang
kerja Kevin dan masuk ke ruang kerja Alvin.
“Maaf, Ny. muda. Saya tidak sengaja menumpahkan air
ke tas ini. Tasnya jadi basah. Saya ambilkan tisu dulu.”kata Tasya pura-pura
panik.
Delina langsung panik karena di dalam tas itu ada
buku sketsanya. Ia mengeluarkan buku itu dan melihat bukunya sudah basah. “Oh,
bukuku...”ucap Delina sedih.
Ia mencoba mengeringkan buku itu dengan tisu yang
ada didekatnya. Dibukanya lembar demi lembar buku sketsa itu. Ada beberapa
gambar sketsa yang memudar kena air. Air mata Delina menetes melihat buku
kesayangannya dalam keadaan menyedihkan.
Meskipun Delina bisa menggambarnya lagi, tapi ia
sangat menyayangi buku impiannya itu. Kevin yang melihat Delina menangis,
mengusir Tasya keluar dari ruangan Alvin. “Keluar kamu. Kerja gak becus!”bentak
__ADS_1
Kevin marah.
“Sudah, Delina. Jangan nangis lagi. Bukunya masih
bisa dikeringin. Lihat, desainmu masih kelihatan kok.”bujuk Amira sambil
mengusap air mata di pipi Delina.
“Kita beli buku yang baru ya. Ayo, Delina.”ajak
Kevin.
“Sebentar, hubby. Aku belum selesai makan.”ucap
Delina yang mulai tenang.
Kevin nyengir kuda, dia sudah tidak sabaran ingin
selalu berduaan dengan Delina. Amira membuka desain terbaru Delina. Ia sangat
bersemangat ingin segera mencoba kebaya terbarunya. Kevin yang mendengar Delina
akan sibuk lagi menjahit, mulai protes pada ibunya.
“Bu, bisa gak Delinanya fokus sama Kevin dulu.”pinta
Kevin.
“Maksudmu?”tanya Amira bingung.
Kevin mengatakan kalau mereka masih pengantin baru,
perlu waktu berduaan. Delina langsung menggeleng, ia sangat malu mendengar
kata-kata Kevin yang tidak bisa menahan dirinya. Amira makin bingung karena
Kevin dan Delina yang tidak kompak.
“Delina kan mengerjakan tugas dari ibu, waktu kamu
di kantor. Ibu rasa gak ganggu waktu kalian berduaan dech.”
“Uhuk! Uhuk!”Delina tersedak tiba-tiba, wajahnya
merona merah. “Bu...”panggil Delina malu.
“Ibu benar kan?”tanya Amira.
“Pokoknya Kevin mau honeymoon!”kekeh Kevin.
“Ntar, habis ulang tahun nenek. Terserah kalian mau
pergi kemana. Kevin, kamu ingatkan tugasmu?”kata Alvin
Kevin mengangguk, ia harus memberitahu Delina
tentang nenek Indri. Delina harus siap menghadapi nenek Indri yang cukup sulit
didekati terutama oleh orang yang baru dikenalnya. Tapi Kevin yakin, Delina
bisa menaklukkan nenek Indri dalam sekejap.
Nana masuk ke ruang kerja Alvin. Ia membawa tagihan
kartu kredit semua keluarganya. Alvin membaca tagihan miliknya, ia hanya
menggunakan kartu kreditnya untuk membayar jamuan bisnis. Jadi perusahaan yang
akan membayar tagihan itu. Ia lanjut membuka tagihan kartu kredit milik Amira. Seperti
biasa, istrinya itu hanya belanja untuk kebutuhan bulanan rumah, membayar
tagihan, dan juga membeli kebutuhan pribadinya. Alvin meletakkan tagihan kartu
kredit Amira.
Ia beralih mengambil tagihan kartu kredit Kevin,
Alvin bersiap melihat jumlah tagihannya. Kali ini ia melotot melihat nominal
tagihan kartu kredit Kevin.
“Kevin, liat saldo tabunganmu. Cepat.”pinta Alvin.
*****
Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel
saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.
__ADS_1