Penjahit Hati

Penjahit Hati
Episode 83


__ADS_3

“Pak, ayo jalan. Kita pulang ya.”kata Delina sambil


menunduk.


Delina memijat kepalanya yang sakit, ia mencoba


mengatur nafasnya agar tetap tenang. Sepertinya ia juga mengalami hal yang


sedang dialami Agnes saat ini. Jadi seperti ini rasanya sakit hati. Kecewa


melihat pasangan yang baru dicintai bersama dengan wanita lain, meskipun hanya


sebatas makan bersama.


Sopir menyadarkan Delina, mereka sudah sampai di


rumah besar. Delina keluar dari mobil, ia melihat ke pintu gerbang yang


terbuka. Ia berharap Kevin mengejarnya, tapi tidak ada siapapun disana. Delina


mengucapkan terima kasih pada sopir itu sebelum masuk ke dalam rumah.


Ia meletakkan termos berisi opor yang tersisa di


dapur. Sri yang melihat kedatangan Delina, menyapanya.


“Delina, baru sampai. Sudah makan?”tanya Sri heran


melihat masih ada opor di dalam termos itu.


Delina hanya mengangguk, ia mengatakan kalau


kepalanya sedikit sakit dan ingin tidur sebentar. Sri semakin bingung melihat


tingkat Delina yang tidak seperti biasanya. Delina masuk ke kamar jahitnya, ia


berbaring di atas tempat tidurnya. Semilir angin dari kipas angin, membuatnya


mengantuk.


Brak! Pintu kamarnya terbuka lebar, mata Delina


terbelalak melihat Kevin masuk dengan terburu-buru. Langsung berlutut di depan tempat


tidur Delina.


“Delina, aku bisa jelaskan. Yang kamu lihat tadi


gak seperti yang kamu pikirin.”jelas Kevin memelas.


“Emangnya aku mikirin apa, tuan muda?”tanya Delina


tenang.


“Apa kamu gak marah?”tanya Kevin hati-hati.


“Apa aku boleh marah?”tanya Delina balik.


“Tentu saja, kalau kau cemburu, kamu boleh marah


sama aku.”kata Kevin.


“Kalo gitu aku marah. Keluar sana.”kata Delina


sambil berbaring membelakangi Kevin.


Kevin jadi panik melihat sikap Delina seperti itu. Ia


menarik lengan Delina agar berbalik padanya. “Jangan marah, yank.”melas Kevin.


“Kamu gimana sich? Katanya boleh marah. Sekarang


jangan marah. Tuan muda, maunya apa?”tanya Delina sedikit kesal. Kevin ikut


berbaring di tempat tidur Delina, “Tuan muda, mau ngapain?”


“Setiap kamu panggil aku tuan muda, aku akan minta


jatah sebanyak itu. Tadi berapa kali? 3 kali kan?”


“Aku lagi marah, jelasin dulu dong. Main aja


dipikirin. Lepasin. Jangan pegang-pegang, tu...”Delina menghentikan ucapannya.


“Bilang lagi, ayo panggil aku tuan muda.”kata Kevin


gemes.


Delina terdiam, ia merengut kesal. Bibirnya manyun


cemberut, tapi dimata Kevin jadi sangat menggemaskan. Saat tangan Kevin mulai


tidak bisa dikondisikan menarik-narik dress panjang Delina, ia mendorong Kevin

__ADS_1


hingga jatuh dari atas tempat tidurnya.


Delina bangkit dengan cepat, ia berdiri berkacak


pinggang di depan Kevin yang meringis kesakitan. “Cepetan jelasin! Jangan berani


pegang-pegang aku, tuan muda genit!”


Kevin bangkit dengan cepat, ia hampir menangkap


Delina yang menghindar dengan cepat. Delina berlari keluar dari kamar jahitnya.


Ia berlari ke meja makan, menghindari jarak tangkap Kevin. Sri yang melihat


Delina dan Kevin kejar-kejaran malah menonton keduanya.


“Sini, sayang.”panggil Kevin genit.


“Nggak mau. Cepetan bilang siapa wanita itu?”tanya


Delina masih menjaga jarak.


“Gimana aku mau jelasin kalo kamu lari terus? Sini


dong.”


Delina menggeleng, masih menjaga jarak dari Kevin.


Kevin akhirnya duduk di sofa ruang tengah. Ia meminta Delina duduk juga. Delina


yang melihat Kevin sudah duduk manis, ikut duduk juga. Tapi baru saja ia duduk,


Kevin dengan cepat memanggulnya di pundak.


“Hubby!!!”jerit Delina kaget.


Jeritan tertahan juga terdengar dari dapur. Sri dan


pelayan lainnya mengagumi Kevin yang kuat menggendong Delina.


“Bandel.”kata Kevin sambil memukul pantat Delina.


“Aduch, sakit. Turunin aku!”teriak Delina


meronta-ronta.


Kevin tidak mau mendengar Delina, ia membawa


tertutup dan terkunci dengan cepat. Kevin menurunkan Delina di atas ranjang


mereka. Delina beringsut dengan cepat ingin ke seberang ranjang, tapi Kevin


sudah menahan kakinya.


Kevin menahan tubuh Delina, mengukungnya dengan kedua


tangan kekarnya. Delina masih meronta, ia ingin mendengar penjelasan Kevin


dulu. Tapi suaminya itu sepertinya tidak mau mengatakan apa-apa.


“Kamu jahat! Kalau kamu dah bosen, bilang


baik-baik. Aku bisa pergi dari sini.”


“Delina sayang, sampai kapanpun aku gak akan


lepasin kamu.”


“Tapi wanita itu...”


“Namanya Riana. Dia teman baikku dan Ali. Bisa dibilang


teman masa kecil kami.”


“Temen masa kecil? Gak percaya. Pasti bohong.”saut


Delina.


“Kalo aku gak bohong, aku dapet jatah 4 ronde ya?”tanya


Kevin.


Delina menelan salivanya, begituan sampe 4 kali,


bakalan gak bisa jalan. Delina nyengir, dia takut duluan dengan tantangan


Kevin. Tapi batinnya mengatakan kalau Kevin sedang berbohong.


“...Iya. Pasti bohong kan?”kata Delina ragu.


Kevin tersenyum smirk, ia mengeluarkan ponselnya. Ia


melakukan v-call dengan Riana dan Ali sekaligus. Untung saja keduanya

__ADS_1


mengangkat telpon mereka.


“Halo, kak?”tanya Ali sambil melepas maskernya. “Aku


barusan selesai operasi. Ntar mau cuci tangan dulu.”


“Halo, babe. Tunggu aku berhenti dulu.”saut Riana


yang tampak sedang mengendarai mobil.


“Eh, setan berhenti manggil babe. Istriku udah


cukup salah paham sama kamu ya. Cepetan jelasin hubungan kita.”


“Dih, hubungan kita itu lebih dari sekedar teman


kecil kan, babe.”kata Riana asal.


Kevin melotot mendengar kata-kata Riana, Delina


bahkan hampir menangis sekarang.


“Tuch, kan kamu bohong.”cicit Delina. “Sana


minggir! Aku mau pergi.”


“Riana! Serius nich atau aku kirim kamu ke Afrika.


Awas kamu kalau sampai Delina kabur dari rumah.”ancam Kevin galak.


“Duh, galaknya. Kirain istri kecilmu itu bisa


merubahmu jadi lebih manis, taunya sama aja.”cibir Riana.


“Kakak ipar, kami memang temen dari kecil. Tadi


juga Riana yang kakak liat di RS sama Agnes. Kakak ipar, bantuin jelasin ke


Agnes ya. Bentar lagi aku pulang. Baru kelar operasi nich.”cerocos Ali malah


curhat.


“Tuch, Ali aja bilang cuma temen biasa. Yank,


jangan ngambek lagi dong.”rengek Kevin.


“Itukan bisa-bisanya Ali. Kalian kan sama aja.


Sama-sama playboy.”desis Delina masih kesal. “Lagian kamu juga, wanita macam


apa yang bisa mesra-mesraan dengan dua pria sekaligus. Suami orang lagi.”


Riana dan Ali bengong melihat Delina mengomel. “Waduh,


aku juga kena omelan. Aku ke rumah dech. Gak kelar nich urusan kalo udah


menyangkut tuduhan macam begini. Siapin cemilan ya. I’m coming.”kata Riana


sambil menutup telponnya.


Kevin masih tersambung dengan Ali yang masih


memasang wajah memelas. “Kamu pulang juga. Ngapain kamu sebut-sebut Agnes tadi?


Apa hubungan kalian?”tanya Kevin pada Ali.


“Iy.. Iya, kak. Aku ganti baju dulu.”saut Ali


mematikan telponnya.


Kevin melempar ponselnya ke atas bantal, ia kembali


menatap Delina. “Aku gak bohong kan?”kata Kevin.


“Belum tentu. Cepetan minggir.”kata Delina kembali


memberontak.


Kevin membiarkan Delina bangkit tapi tidak


mengijinkannya turun dari ranjang. “Tuan muda, aku mau siapin cemilan ayah.


Lepasin.”


“Udah 6 kali loh. 4 kali lagi aku dapet 10 ronde.”kata


Kevin senang.


*****


Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel


saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.

__ADS_1


__ADS_2