
“Pak, ayo jalan. Kita pulang ya.”kata Delina sambil
menunduk.
Delina memijat kepalanya yang sakit, ia mencoba
mengatur nafasnya agar tetap tenang. Sepertinya ia juga mengalami hal yang
sedang dialami Agnes saat ini. Jadi seperti ini rasanya sakit hati. Kecewa
melihat pasangan yang baru dicintai bersama dengan wanita lain, meskipun hanya
sebatas makan bersama.
Sopir menyadarkan Delina, mereka sudah sampai di
rumah besar. Delina keluar dari mobil, ia melihat ke pintu gerbang yang
terbuka. Ia berharap Kevin mengejarnya, tapi tidak ada siapapun disana. Delina
mengucapkan terima kasih pada sopir itu sebelum masuk ke dalam rumah.
Ia meletakkan termos berisi opor yang tersisa di
dapur. Sri yang melihat kedatangan Delina, menyapanya.
“Delina, baru sampai. Sudah makan?”tanya Sri heran
melihat masih ada opor di dalam termos itu.
Delina hanya mengangguk, ia mengatakan kalau
kepalanya sedikit sakit dan ingin tidur sebentar. Sri semakin bingung melihat
tingkat Delina yang tidak seperti biasanya. Delina masuk ke kamar jahitnya, ia
berbaring di atas tempat tidurnya. Semilir angin dari kipas angin, membuatnya
mengantuk.
Brak! Pintu kamarnya terbuka lebar, mata Delina
terbelalak melihat Kevin masuk dengan terburu-buru. Langsung berlutut di depan tempat
tidur Delina.
“Delina, aku bisa jelaskan. Yang kamu lihat tadi
gak seperti yang kamu pikirin.”jelas Kevin memelas.
“Emangnya aku mikirin apa, tuan muda?”tanya Delina
tenang.
“Apa kamu gak marah?”tanya Kevin hati-hati.
“Apa aku boleh marah?”tanya Delina balik.
“Tentu saja, kalau kau cemburu, kamu boleh marah
sama aku.”kata Kevin.
“Kalo gitu aku marah. Keluar sana.”kata Delina
sambil berbaring membelakangi Kevin.
Kevin jadi panik melihat sikap Delina seperti itu. Ia
menarik lengan Delina agar berbalik padanya. “Jangan marah, yank.”melas Kevin.
“Kamu gimana sich? Katanya boleh marah. Sekarang
jangan marah. Tuan muda, maunya apa?”tanya Delina sedikit kesal. Kevin ikut
berbaring di tempat tidur Delina, “Tuan muda, mau ngapain?”
“Setiap kamu panggil aku tuan muda, aku akan minta
jatah sebanyak itu. Tadi berapa kali? 3 kali kan?”
“Aku lagi marah, jelasin dulu dong. Main aja
dipikirin. Lepasin. Jangan pegang-pegang, tu...”Delina menghentikan ucapannya.
“Bilang lagi, ayo panggil aku tuan muda.”kata Kevin
gemes.
Delina terdiam, ia merengut kesal. Bibirnya manyun
cemberut, tapi dimata Kevin jadi sangat menggemaskan. Saat tangan Kevin mulai
tidak bisa dikondisikan menarik-narik dress panjang Delina, ia mendorong Kevin
__ADS_1
hingga jatuh dari atas tempat tidurnya.
Delina bangkit dengan cepat, ia berdiri berkacak
pinggang di depan Kevin yang meringis kesakitan. “Cepetan jelasin! Jangan berani
pegang-pegang aku, tuan muda genit!”
Kevin bangkit dengan cepat, ia hampir menangkap
Delina yang menghindar dengan cepat. Delina berlari keluar dari kamar jahitnya.
Ia berlari ke meja makan, menghindari jarak tangkap Kevin. Sri yang melihat
Delina dan Kevin kejar-kejaran malah menonton keduanya.
“Sini, sayang.”panggil Kevin genit.
“Nggak mau. Cepetan bilang siapa wanita itu?”tanya
Delina masih menjaga jarak.
“Gimana aku mau jelasin kalo kamu lari terus? Sini
dong.”
Delina menggeleng, masih menjaga jarak dari Kevin.
Kevin akhirnya duduk di sofa ruang tengah. Ia meminta Delina duduk juga. Delina
yang melihat Kevin sudah duduk manis, ikut duduk juga. Tapi baru saja ia duduk,
Kevin dengan cepat memanggulnya di pundak.
“Hubby!!!”jerit Delina kaget.
Jeritan tertahan juga terdengar dari dapur. Sri dan
pelayan lainnya mengagumi Kevin yang kuat menggendong Delina.
“Bandel.”kata Kevin sambil memukul pantat Delina.
“Aduch, sakit. Turunin aku!”teriak Delina
meronta-ronta.
Kevin tidak mau mendengar Delina, ia membawa
tertutup dan terkunci dengan cepat. Kevin menurunkan Delina di atas ranjang
mereka. Delina beringsut dengan cepat ingin ke seberang ranjang, tapi Kevin
sudah menahan kakinya.
Kevin menahan tubuh Delina, mengukungnya dengan kedua
tangan kekarnya. Delina masih meronta, ia ingin mendengar penjelasan Kevin
dulu. Tapi suaminya itu sepertinya tidak mau mengatakan apa-apa.
“Kamu jahat! Kalau kamu dah bosen, bilang
baik-baik. Aku bisa pergi dari sini.”
“Delina sayang, sampai kapanpun aku gak akan
lepasin kamu.”
“Tapi wanita itu...”
“Namanya Riana. Dia teman baikku dan Ali. Bisa dibilang
teman masa kecil kami.”
“Temen masa kecil? Gak percaya. Pasti bohong.”saut
Delina.
“Kalo aku gak bohong, aku dapet jatah 4 ronde ya?”tanya
Kevin.
Delina menelan salivanya, begituan sampe 4 kali,
bakalan gak bisa jalan. Delina nyengir, dia takut duluan dengan tantangan
Kevin. Tapi batinnya mengatakan kalau Kevin sedang berbohong.
“...Iya. Pasti bohong kan?”kata Delina ragu.
Kevin tersenyum smirk, ia mengeluarkan ponselnya. Ia
melakukan v-call dengan Riana dan Ali sekaligus. Untung saja keduanya
__ADS_1
mengangkat telpon mereka.
“Halo, kak?”tanya Ali sambil melepas maskernya. “Aku
barusan selesai operasi. Ntar mau cuci tangan dulu.”
“Halo, babe. Tunggu aku berhenti dulu.”saut Riana
yang tampak sedang mengendarai mobil.
“Eh, setan berhenti manggil babe. Istriku udah
cukup salah paham sama kamu ya. Cepetan jelasin hubungan kita.”
“Dih, hubungan kita itu lebih dari sekedar teman
kecil kan, babe.”kata Riana asal.
Kevin melotot mendengar kata-kata Riana, Delina
bahkan hampir menangis sekarang.
“Tuch, kan kamu bohong.”cicit Delina. “Sana
minggir! Aku mau pergi.”
“Riana! Serius nich atau aku kirim kamu ke Afrika.
Awas kamu kalau sampai Delina kabur dari rumah.”ancam Kevin galak.
“Duh, galaknya. Kirain istri kecilmu itu bisa
merubahmu jadi lebih manis, taunya sama aja.”cibir Riana.
“Kakak ipar, kami memang temen dari kecil. Tadi
juga Riana yang kakak liat di RS sama Agnes. Kakak ipar, bantuin jelasin ke
Agnes ya. Bentar lagi aku pulang. Baru kelar operasi nich.”cerocos Ali malah
curhat.
“Tuch, Ali aja bilang cuma temen biasa. Yank,
jangan ngambek lagi dong.”rengek Kevin.
“Itukan bisa-bisanya Ali. Kalian kan sama aja.
Sama-sama playboy.”desis Delina masih kesal. “Lagian kamu juga, wanita macam
apa yang bisa mesra-mesraan dengan dua pria sekaligus. Suami orang lagi.”
Riana dan Ali bengong melihat Delina mengomel. “Waduh,
aku juga kena omelan. Aku ke rumah dech. Gak kelar nich urusan kalo udah
menyangkut tuduhan macam begini. Siapin cemilan ya. I’m coming.”kata Riana
sambil menutup telponnya.
Kevin masih tersambung dengan Ali yang masih
memasang wajah memelas. “Kamu pulang juga. Ngapain kamu sebut-sebut Agnes tadi?
Apa hubungan kalian?”tanya Kevin pada Ali.
“Iy.. Iya, kak. Aku ganti baju dulu.”saut Ali
mematikan telponnya.
Kevin melempar ponselnya ke atas bantal, ia kembali
menatap Delina. “Aku gak bohong kan?”kata Kevin.
“Belum tentu. Cepetan minggir.”kata Delina kembali
memberontak.
Kevin membiarkan Delina bangkit tapi tidak
mengijinkannya turun dari ranjang. “Tuan muda, aku mau siapin cemilan ayah.
Lepasin.”
“Udah 6 kali loh. 4 kali lagi aku dapet 10 ronde.”kata
Kevin senang.
*****
Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel
saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.
__ADS_1