
Prrff!! Kevin menyemburkan kopi yang barusan diminumnya. Ia terbatuk-batuk keselek mendengar kata-kata Keanu. Alvin mengangguk-angguk. Memang sudah seharusnya Keanu menikah. Di usia mereka sekarang saja, Kevin sudah memiliki dua anak. Keanu juga harusnya segera menikah dan punya anak juga.
Tring! Ponsel ketiganya berbunyi bersamaan, mata-mata yang dikirim Keanu tadi mengirimkan foto Wina yang sedang makan roti dan minum susu di depan mini market yang pagi itu masih sepi. Kening Alvin mengkerut, melihat wajah Wina yang imut-imut seperti anak SMA.
“Keanu, kamu mau nikahin anak sekolahan?”tanya Alvin bingung.
“Dia sudah dua puluh tiga tahun, tuan besar. Ini foto KTP-nya.”kata Keanu cepat sambil memperlihatkan KTP Wina.
“Lo punya KTP-nya berarti udah siap daftar ke KUA nich.”goda Kevin. Ia ingat dulu administrasi pernikahannya dengan Delina juga diatur Keanu.
Keanu mengangguk sambil tersenyum malu. Kevin mendekati Keanu, memeluk pria itu sambil mengucapkan selamat akhirnya nggak jomblo lagi.
“Ini berkat lo juga, Vin. Kalo lo nggak ngejek gue malam itu di hotel, mungkin gue nggak bakalan ketemu jodoh gue.”kata Keanu sambil tersenyum.
“Kapan? Jangan bilang nich cewek yang ketemu lo pertama kali malam itu.”tebak Kevin.
Keanu mengangguk, senyumnya semakin lebar menambah ketampanannya. Alvin berjanji akan menyiapkan apapun yang dibutuhkan Keanu untuk pernikahannya. Keanu mengucapkan terima kasih tapi ia hanya ingin sebuah pernikahan sederhana yang dihadiri teman dekat dan keluarga saja.
“Lo ngomongin pernikahan gini, gadis itu udah lo lamar belum?”tanya Kevin membuat Keanu memikirkan sebuah lamaran yang dramatis.
Sore itu, Wina kembali memakai pakaiannya dan keluar dari mini market. Ia berjalan kembali ke kost-nya. Padahal berjalan kaki selama setengah jam sangat melelahkan tapi Wina tampak santai saja.
Belum sampai di gang menuju kost-nya, tiba-tiba Wina dihadang dua orang pria berpakaian serba hitam. Wajah mereka ditutupi masker dan kaca mata hitam. Saat Wina mencoba lari, ia ditangkap dan dibekap
dengan saputangan dengan aroma yang aneh. Tubuh Wina terkulai lemas, ia dibawa masuk ke dalam mobil van hitam lalu dibawa pergi entah kemana.
*****
Diwaktu yang sama, di rumah sakit, Emilia sudah sadar dan sudah dipindahkan ke ruang rawat inap biasa. Amira dan Rita sedang menemani gadis kecil itu bermain. Delina yang ingin menengok Emi, datang bersama Armando. Mereka membuka pintu ruang rawat inap dan melihat Emi tersenyum menyambut mereka.
“Tante cantik!”seru Emi memanggil Delina.
“Halo, Emilia.”sapa Delina ramah.
Ia meletakkan rantang berisi dimsum ayam dan buah potong diatas meja di samping tempat tidur Emi. Ketika ia ingin memeluk gadis kecil itu, Amira berdehem sambil melirik Delina tajam. Delina mengurungkan
niatnya, ia hanya menanyakan kabar Emi dan berharap ia bisa segera pulang.
__ADS_1
“Emi akan segera pulang kalau seseorang bisa sadar diri.”cetus Amira.
Rita tersenyum tipis, ia mengira Amira sedang menyindir Delina. Yang sebenarnya Amira justru menyindir Rita. Delina berusaha menjaga raut wajahnya terlihat sedih. Ia sungguh kesulitan diminta berpura-pura
tertindas.
Merasa tidak kuat menahan ekspresi wajahnya tetap sedih, apalagi Armando yang mulai ikut sedih, Delina memutuskan pergi dari sana. Ia menggandeng tangan Armando yang terus menatap wajahnya.
“Kenapa, sayang?”tanya Delina setelah mereka duduk di dalam mobil.
“Bu, nenek kenapa? Marah ya sama ibu?”tanya Armando.
Delina tersenyum, ia mengatakan kalau nenek hanya khawatir dengan sakitnya Emilia dan bukannya marah padanya. Armando hanya mengangguk, sedikit tidak puas dengan jawaban Delina. Tapi ia mengerti kalau ibunya tidak harus selalu bisa menjawab pertanyaannya.
Ketika mobil hampir berjalan, Delina melihat Rita keluar dari rumah sakit. Ia meminta sopir mengikuti Rita yang masuk ke salah satu mobil yang berhenti di pinggir jalan. Mobil terus bergerak menembus
kemacetan jalanan sore itu. Sampai berhenti di salah satu parkiran mall yang cukup ramai.
Rita tampak keluar dari dalam mobil dan langsung berjalan masuk ke dalam mall.
“Arman, kita mampir ke sini dulu ya. Bukannya Arman mau lihat mainan action figure-nya udah keluar atau belum kan? Kita lihat ke toko mainan ya.”ajak Delina menuntun Armando turun dari mobil.
“Bu, kenapa kita berhenti disini? Toko mainannya masih diatas.”kata Armando.
Delina mengintip keduanya sekali lagi sebelum mengajak Armando pergi dari sana. Saat mereka menaiki eskalator, ponsel Delina berdering. Kevin menelponnya, orang yang mengikuti Rita memberitahu Kevin dan
Alvin kalau Delina mengikuti Rita dari rumah sakit.
“Sayang, jangan ngikutin Rita. Kamu dimana sekarang?”tanya Kevin khawatir.
“Kita di toko mainan, hubby. Armando mau lihat mainan action figure-nya udah keluar belum.”alasan Delina.
Kevin meminta Delina menunggunya disana karena Kevin akan menyusul. Sudah lama ia ingin memberikan Armando banyak mainan, tapi Delina selalu melarangnya.
Delina meminta Armando melihat mainan yang ia inginkan dan memilih tiga saja. Ia sudah tahu kalau Kevin akan membelikan isi toko mainan itu untuk Armando. Armando bertanya apa ia boleh membeli beberapa
lagi untuk rumah singgah, Delina berpikir sejenak, ia harus minta pendapat Kevin tentang itu.
__ADS_1
Ketika Delina sedang melihat-lihat mainan yang cocok untuk rumah singgah, ia tidak sengaja melihat Clara berdiri tak jauh dari toko mainan. Ia memakai slayer menutupi rambutnya dan juga kaca mata. Delina juga melihat Kevin masuk ke toko mainan, ia langsung menggendong Armando yang sedang menatap action figure di depannya.
“Ayah, aku boleh beli mainan yang ini?”tanya Armando menunjuk action figure Ironman.
“Ambil semuanya, Armando. Kau mengoleksi banyak action figure kan? Ambil yang belum ada di koleksimu.”kata Kevin sambil memanggil pelayan toko.
Armando menunjuk action figure Ironman, The Hulk, dan juga Spiderman. Kevin meminta pelayan toko membawa mainan yang ditunjuk Armando ke kasir. Lalu ia celingukan mencari keberadaan Delina yang menghilang entah kemana.
“Ar, ibu mana?”tanya Kevin.
“Tadi di belakang sana, yah. Itu, lagi sembunyi.”kata Armando.
Keduanya saling menatap bingung untuk apa Delina bersembunyi. Kevin menurunkan Armando, ia mengendap-endap mendekati Delina lalu mengagetkannya. Delina hampir jatuh karena kaget, untung saja Kevin sigap menahan tubuh Delina.
“Hubby, ngagetin dech. Itu ada Clara lagi ngintip kita.”kata Delina keceplosan.
Kevin menatap Delina dalam, ia menangkup kedua pipi Delina dengan kedua tangannya. Delina tidak sempat menghindar saat Kevin mencium Delina dengan lembut. Armando sampai menutup matanya dengan boneka
beruang di salah satu rak itu.
Clara mengepalkan tangannya, ia kesal melihat Delina diperlakukan selembut itu oleh Kevin. Bahkan terang-terangan mencium wanita itu di depan umum. Mereka berdua tampak saling berpegangan tangan mendekati kasir. Clara menggigit syalnya melihat Kevin mengeluarkan kartu berwarna hitam dari sakunya. Delina juga mengeluarkan kartu yang sama, tapi Kevin menahan kartu milik Delina.
“Nikmati saja kebahagiaanmu, Ny. Kevin Raditya. Sebentar lagi aku yang akan dipanggil seperti itu.”desis Clara penuh amarah.
*****
Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.
Visual Delina
Visual Kevin
Visual Clara
__ADS_1