Penjahit Hati

Penjahit Hati
Episode 113


__ADS_3

Giselle terdiam, ia tampak memikirkan sesuatu.


Semua orang kembali tegang ingin tahu apa yang akan dikatakan Giselle lagi. Giselle


meminta agar acaranya tidak terlalu mewah agar biaya pernikahan mereka tidak


terlalu besar.


“Kalian bisa menabung untuk membeli rumah kalau


pestanya tidak terlalu mewah. Undangan dari  kalian berapa banyak? Teman-teman juga. Kalau


undangannya tidak sampai lima ratus orang, kita adakan disini saja. Bagaimana?”tanya


Giselle meminta pendapat semua orang.


Giliran Giselle yang bingung kenapa semua orang


melongo menatapnya. Ratu pesta seperti Giselle meminta pesta sederhana untuk


pernikahan putri satu-satunya. Apakah ini keajaiban dunia yang ke delapan?


“Kenapa? Apa aku salah? Rumah ini juga kurang besar


ya. Kita bisa pesta di halaman atau....” Giselle menghentikan kata-katanya


ketika melihat Alvin mengangkat tangannya. Alvin mengatakan kalau ia yang akan


mengurus pernikahan Ali dan Agnes. Jadi Giselle tidak perlu terlalu khawatir.


“Tapi jangan terlalu mewah ya, kak. Apa kakak akan


mengundang teman-teman kakak juga?”tanya Giselle.


“Aku hanya punya sedikit teman baik, Sel. Kamu


gimana?”tanya Alvin. Giselle menggeleng, sejak berhenti datang ke pesta


orang-orang kaya, tidak ada yang mau berteman dengannya lagi.


“Aku baru sadar kalau teman-temanku tidak setulus


itu. Mereka hanya menertawai dan mengejekku ketika tahu kakak bangkrut. Aku


sudah salah bergaul selama ini, kak.”sesal Giselle.


Semua orang menatap Giselle sambil tersenyum.


“Apa sudah waktunya?”tanya Alvin pada Amira.


Istrinya itu hanya mengerdikkan bahunya. “Kita lakukan setelah Delina


melahirkan. Lagipula kita belum mengadakan resepsi untuk Kevin dan Delina, kan?”tanya


Amira lagi.


Giselle baru ingat kalau pernikahan Kevin dan


Delina memang sangat sederhana bahkan tanpa tamu sedikitpun. “Ach, itu tidak


adil. Bagaimana bisa Ali dan Agnes membuat pesta pernikahan sedangkan Kevin dan


Delina belum melakukannya?”


Alvin tertawa keras, ia sampai memegangi perutnya


saking kerasnya tertawa. “Apa yang membuatmu berubah begini, Giselle. Kau tidak


seperti Giselle yang biasanya.”kata Alvin masih tertawa.


“Kak! Jangan menggodaku.”kata Giselle mendelik pada


Alvin.


Mereka melanjutkan pembicaraan tentang resepsi


pernikahan Kevin dan Delina yang akan diadakan bersamaan dengan pesta


pernikahan Ali dan Agnes. Ali harus menunggu setidaknya dua bulan lagi sebelum


memiliki Agnes secepatnya.


Sempat protes, pria itu akhirnya mengangguk pasrah


saat Giselle mengancam akan membatalkan pernikahan mereka berdua.


*****

__ADS_1


Sebulan kemudian, Delina sedang memasak cemilan


untuk Alvin. Ia terlihat lebih bahagia dan bersemangat setelah lepas dari


jabatan direktur di perusahaan Alvin. Apalagi setelah kembali, Alvin dan Amira


memilih tinggal di mansion bersama keluarga kecilnya.


Setiap hari Delina akan memasak cemilan sore untuk


mereka semua sambil menunggu Alvin pulang. Emilia dan Armando berjalan menuruni


tangga setelah menyelesaikan PR mereka berdua.


“Bu, ada makanan nggak?”tanya Armando yang selalu


kelaparan.


“Dasar rakus, kamu barusan makan sosis sendirian,


apa masih kurang?”tanya Emilia heran.


Armando mengangguk cuek. Delina mendekatkan piring


berisi potongan buah untuk keduanya. Saat berbalik, Delina merasakan sakit di


pinggangnya. Ia memegangi meja makan sambil meringis kesakitan.


“Ibu kenapa?”tanya Emilia dan Armando berbarengan.


Delina tidak menjawab, ia merasakan perutnya juga


sakit. Sakit yang sama saat ia akan melahirkan Armando dulu. Kedua bocah itu


menatap Delina khawatir. Emilia melihat ke bawah saat air berwarna merah


mengalir diantara paha Delina.


“Ibu ngompol! Ar, ambil lap.”kata Emilia agak


jijik.


“Ar, telpon ayah, cepat. Suruh kirim... ach, sakit.


Cepat....”lirih Delina meminta Armando menelpon Kevin.


Emilia memanggil pelayan untuk membersihkan


kesakitan sambil memegangi perutnya. Ia segera menelpon Ali minta dikirimkan


ambulance.


Armando yang sudah tersambung dengan Kevin, dadah-dadah


pada ayahnya itu. Armando menghubungi Kevin via v-call. Mata Kevin melotot


kaget melihat Delina kesakitan sambil memegangi perutnya. Dibelakang Armando,


Emilia tampak mengelap kening Delina yang berkeringat.


“Dodo, ibu kenapa? Ach, bentar ayah telpon


ambulance dulu.”kata Kevin mulai panik.


Saat Kevin menelpon Ali, pria itu sudah ada di


ambulance yang baru sampai di depan mansion Delina. “Aku bawa kakak ipar ke rumah


sakit dulu ya. Nanti telpon lagi.”saut Ali pada Kevin.


Kevin segera menyusul ke rumah sakit. Ia sempat


menelpon Amira untuk menjaga Emilia dan Armando di mansion. Delina sudah hampir


melahirkan ketika Kevin tiba di rumah sakit. Ia tidak akan menyia-nyiakan


kesempatan untuk melihat kelahiran anak keduanya dengan Delina.


Tak lama kemudian, tangisan bayi memenuhi ruang


bersaling. Kevin menatap haru putra keduanya. Anak ketiga Kevin berjenis


kelamin laki-laki. Delina menatap putranya dalam gendongan Kevin, “Beri dia


nama, ayah.”pinta Delina sambil tersenyum.


“Aku beri nama dia Melvin Raditya. Gimana? Bagus

__ADS_1


kan?”kata Kevin tersenyum senang.


Delina hanya mengangguk.


Kelahiran Melvin membawa kebahagiaan tersendiri untuk


Alvin. Setelah mengalami masa sulit harus melepaskan kekayaan dan juga


kekuasaannya, kini Alvin siap kembali ke masa kejayaannya dulu. Keluarga


Raditya akan kembali berjaya dengan Kevin sebagai direktur utama perusahaannya.


Alvin juga bisa kembali tinggal di rumah besar mereka.


Alvin mengatakan semua itu pada Delina ketika ia


menjenguk menantunya itu di rumah sakit. Delina cemberut mendengar rencana


Alvin.


“Kamu nggak suka kita umumkan kembalinya keluarga


kita, Ina?”tanya Alvin bingung. Ia melirik Amira dan Kevin.


Delina menggeleng, “Ayah jahat! Ayah bohongin aku.


Kata ayah aset dan saham sudah balik lagi atas nama ayah, tapi Keanu tetep aja


minta tanda tanganku.”kata Delina merengek.


Alvin menepuk jidatnya, kebohongannya ketahuan Delina


begitu cepat. “Trus kamu maunya apa?”tanya Alvin. “Jangan minta pindah nama


lagi. Kamu juga nggak boleh mindahin aset itu atas nama Kevin. Ayah nggak sudi.”kata


Alvin lagi.


Kevin menggaruk kepalanya, sejak awal ayahnya sudah


bilang hanya akan mewariskan kekayaannya pada Delina dan Armando. Meskipun


Kevin akan punya anak lagi, tetap saja keputusan Alvin sudah bulat.


“Lagian kamu kan nggak capek. Semua urusan perusahaan


sudah ditangani Kevin. Kamu tinggal urus anak-anak, urus ayah sama ibu. Ya,


Kevin juga. Ayah cuma bisa bergantung sama kamu sekarang, Ina.”kata Alvin


setelah Kevin berdehem.


Delina akhirnya bisa menerima keputusan Alvin.


Mereka kembali fokus pada baby boy yang mulai gelisah ingin minum susu.


Beberapa minggu kemudian, pesta meriah diadakan di


rumah besar Alvin. Pesta pernikahan Ali dan Agnes, sekaligus resepsi pernikahan


Delina dan Kevin. Dan juga yang paling ditunggu oleh wartawan adalah


kebangkitan keluarga Raditya lagi.


Alvin mengumumkan kalau Delina adalah pemilik


seluruh harta kekayaannya sekarang. Armando juga disebutkan Alvin sebagai


pewaris keluarga Raditya berikutnya. Berita kebangkitan keluarga Alvin bahkan


sampai di telinga Clara.


Ibu kandung Emilia itu mengepalkan tangannya


melihat Delina dan Kevin tersenyum bahagia satu sama lain lewat layar televisi.


Emilia ada diantara mereka saat berfoto bersama.


“Emilia sayang, mama akan selalu menjagamu. Kamu


putri mama selamanya.”bisik Clara dengan seringai licik penuh dendam.


The End.


*****


Hai guys, novel ini sampai disini dulu ya. Terima kasih buat dukungan kalian selama ini. Mohon maaf kalau saya sering telat up.

__ADS_1


Mohon bantuannya untuk novel saya yang lainnya 'CINTA KEMBARKU' semoga yang bantu vote, like, komen, rate bintang 5 selalu dilimpahi kebahagiaan dan kesejahteraan.


Terima kasih.


__ADS_2