
Giselle terdiam, ia tampak memikirkan sesuatu.
Semua orang kembali tegang ingin tahu apa yang akan dikatakan Giselle lagi. Giselle
meminta agar acaranya tidak terlalu mewah agar biaya pernikahan mereka tidak
terlalu besar.
“Kalian bisa menabung untuk membeli rumah kalau
pestanya tidak terlalu mewah. Undangan dari kalian berapa banyak? Teman-teman juga. Kalau
undangannya tidak sampai lima ratus orang, kita adakan disini saja. Bagaimana?”tanya
Giselle meminta pendapat semua orang.
Giliran Giselle yang bingung kenapa semua orang
melongo menatapnya. Ratu pesta seperti Giselle meminta pesta sederhana untuk
pernikahan putri satu-satunya. Apakah ini keajaiban dunia yang ke delapan?
“Kenapa? Apa aku salah? Rumah ini juga kurang besar
ya. Kita bisa pesta di halaman atau....” Giselle menghentikan kata-katanya
ketika melihat Alvin mengangkat tangannya. Alvin mengatakan kalau ia yang akan
mengurus pernikahan Ali dan Agnes. Jadi Giselle tidak perlu terlalu khawatir.
“Tapi jangan terlalu mewah ya, kak. Apa kakak akan
mengundang teman-teman kakak juga?”tanya Giselle.
“Aku hanya punya sedikit teman baik, Sel. Kamu
gimana?”tanya Alvin. Giselle menggeleng, sejak berhenti datang ke pesta
orang-orang kaya, tidak ada yang mau berteman dengannya lagi.
“Aku baru sadar kalau teman-temanku tidak setulus
itu. Mereka hanya menertawai dan mengejekku ketika tahu kakak bangkrut. Aku
sudah salah bergaul selama ini, kak.”sesal Giselle.
Semua orang menatap Giselle sambil tersenyum.
“Apa sudah waktunya?”tanya Alvin pada Amira.
Istrinya itu hanya mengerdikkan bahunya. “Kita lakukan setelah Delina
melahirkan. Lagipula kita belum mengadakan resepsi untuk Kevin dan Delina, kan?”tanya
Amira lagi.
Giselle baru ingat kalau pernikahan Kevin dan
Delina memang sangat sederhana bahkan tanpa tamu sedikitpun. “Ach, itu tidak
adil. Bagaimana bisa Ali dan Agnes membuat pesta pernikahan sedangkan Kevin dan
Delina belum melakukannya?”
Alvin tertawa keras, ia sampai memegangi perutnya
saking kerasnya tertawa. “Apa yang membuatmu berubah begini, Giselle. Kau tidak
seperti Giselle yang biasanya.”kata Alvin masih tertawa.
“Kak! Jangan menggodaku.”kata Giselle mendelik pada
Alvin.
Mereka melanjutkan pembicaraan tentang resepsi
pernikahan Kevin dan Delina yang akan diadakan bersamaan dengan pesta
pernikahan Ali dan Agnes. Ali harus menunggu setidaknya dua bulan lagi sebelum
memiliki Agnes secepatnya.
Sempat protes, pria itu akhirnya mengangguk pasrah
saat Giselle mengancam akan membatalkan pernikahan mereka berdua.
*****
__ADS_1
Sebulan kemudian, Delina sedang memasak cemilan
untuk Alvin. Ia terlihat lebih bahagia dan bersemangat setelah lepas dari
jabatan direktur di perusahaan Alvin. Apalagi setelah kembali, Alvin dan Amira
memilih tinggal di mansion bersama keluarga kecilnya.
Setiap hari Delina akan memasak cemilan sore untuk
mereka semua sambil menunggu Alvin pulang. Emilia dan Armando berjalan menuruni
tangga setelah menyelesaikan PR mereka berdua.
“Bu, ada makanan nggak?”tanya Armando yang selalu
kelaparan.
“Dasar rakus, kamu barusan makan sosis sendirian,
apa masih kurang?”tanya Emilia heran.
Armando mengangguk cuek. Delina mendekatkan piring
berisi potongan buah untuk keduanya. Saat berbalik, Delina merasakan sakit di
pinggangnya. Ia memegangi meja makan sambil meringis kesakitan.
“Ibu kenapa?”tanya Emilia dan Armando berbarengan.
Delina tidak menjawab, ia merasakan perutnya juga
sakit. Sakit yang sama saat ia akan melahirkan Armando dulu. Kedua bocah itu
menatap Delina khawatir. Emilia melihat ke bawah saat air berwarna merah
mengalir diantara paha Delina.
“Ibu ngompol! Ar, ambil lap.”kata Emilia agak
jijik.
“Ar, telpon ayah, cepat. Suruh kirim... ach, sakit.
Cepat....”lirih Delina meminta Armando menelpon Kevin.
Emilia memanggil pelayan untuk membersihkan
kesakitan sambil memegangi perutnya. Ia segera menelpon Ali minta dikirimkan
ambulance.
Armando yang sudah tersambung dengan Kevin, dadah-dadah
pada ayahnya itu. Armando menghubungi Kevin via v-call. Mata Kevin melotot
kaget melihat Delina kesakitan sambil memegangi perutnya. Dibelakang Armando,
Emilia tampak mengelap kening Delina yang berkeringat.
“Dodo, ibu kenapa? Ach, bentar ayah telpon
ambulance dulu.”kata Kevin mulai panik.
Saat Kevin menelpon Ali, pria itu sudah ada di
ambulance yang baru sampai di depan mansion Delina. “Aku bawa kakak ipar ke rumah
sakit dulu ya. Nanti telpon lagi.”saut Ali pada Kevin.
Kevin segera menyusul ke rumah sakit. Ia sempat
menelpon Amira untuk menjaga Emilia dan Armando di mansion. Delina sudah hampir
melahirkan ketika Kevin tiba di rumah sakit. Ia tidak akan menyia-nyiakan
kesempatan untuk melihat kelahiran anak keduanya dengan Delina.
Tak lama kemudian, tangisan bayi memenuhi ruang
bersaling. Kevin menatap haru putra keduanya. Anak ketiga Kevin berjenis
kelamin laki-laki. Delina menatap putranya dalam gendongan Kevin, “Beri dia
nama, ayah.”pinta Delina sambil tersenyum.
“Aku beri nama dia Melvin Raditya. Gimana? Bagus
__ADS_1
kan?”kata Kevin tersenyum senang.
Delina hanya mengangguk.
Kelahiran Melvin membawa kebahagiaan tersendiri untuk
Alvin. Setelah mengalami masa sulit harus melepaskan kekayaan dan juga
kekuasaannya, kini Alvin siap kembali ke masa kejayaannya dulu. Keluarga
Raditya akan kembali berjaya dengan Kevin sebagai direktur utama perusahaannya.
Alvin juga bisa kembali tinggal di rumah besar mereka.
Alvin mengatakan semua itu pada Delina ketika ia
menjenguk menantunya itu di rumah sakit. Delina cemberut mendengar rencana
Alvin.
“Kamu nggak suka kita umumkan kembalinya keluarga
kita, Ina?”tanya Alvin bingung. Ia melirik Amira dan Kevin.
Delina menggeleng, “Ayah jahat! Ayah bohongin aku.
Kata ayah aset dan saham sudah balik lagi atas nama ayah, tapi Keanu tetep aja
minta tanda tanganku.”kata Delina merengek.
Alvin menepuk jidatnya, kebohongannya ketahuan Delina
begitu cepat. “Trus kamu maunya apa?”tanya Alvin. “Jangan minta pindah nama
lagi. Kamu juga nggak boleh mindahin aset itu atas nama Kevin. Ayah nggak sudi.”kata
Alvin lagi.
Kevin menggaruk kepalanya, sejak awal ayahnya sudah
bilang hanya akan mewariskan kekayaannya pada Delina dan Armando. Meskipun
Kevin akan punya anak lagi, tetap saja keputusan Alvin sudah bulat.
“Lagian kamu kan nggak capek. Semua urusan perusahaan
sudah ditangani Kevin. Kamu tinggal urus anak-anak, urus ayah sama ibu. Ya,
Kevin juga. Ayah cuma bisa bergantung sama kamu sekarang, Ina.”kata Alvin
setelah Kevin berdehem.
Delina akhirnya bisa menerima keputusan Alvin.
Mereka kembali fokus pada baby boy yang mulai gelisah ingin minum susu.
Beberapa minggu kemudian, pesta meriah diadakan di
rumah besar Alvin. Pesta pernikahan Ali dan Agnes, sekaligus resepsi pernikahan
Delina dan Kevin. Dan juga yang paling ditunggu oleh wartawan adalah
kebangkitan keluarga Raditya lagi.
Alvin mengumumkan kalau Delina adalah pemilik
seluruh harta kekayaannya sekarang. Armando juga disebutkan Alvin sebagai
pewaris keluarga Raditya berikutnya. Berita kebangkitan keluarga Alvin bahkan
sampai di telinga Clara.
Ibu kandung Emilia itu mengepalkan tangannya
melihat Delina dan Kevin tersenyum bahagia satu sama lain lewat layar televisi.
Emilia ada diantara mereka saat berfoto bersama.
“Emilia sayang, mama akan selalu menjagamu. Kamu
putri mama selamanya.”bisik Clara dengan seringai licik penuh dendam.
The End.
*****
Hai guys, novel ini sampai disini dulu ya. Terima kasih buat dukungan kalian selama ini. Mohon maaf kalau saya sering telat up.
__ADS_1
Mohon bantuannya untuk novel saya yang lainnya 'CINTA KEMBARKU' semoga yang bantu vote, like, komen, rate bintang 5 selalu dilimpahi kebahagiaan dan kesejahteraan.
Terima kasih.