Penjahit Hati

Penjahit Hati
Episode 79


__ADS_3

Ia masih belum


bisa tidur, pikirannya sibuk melayang apalagi yang harus ia katakan pada Delina


tentang neneknya. Delina harus bersiap dengan segala kemungkinannya di rumah


nenek nantinya.


Sampai larut malam Kevin masih terjaga. Ia ingin


mengambil sedikit cemilan di kulkas karena perutnya lapar lagi. Kevin turun ke


lantai bawah langsung menuju dapur. Ia melihat lampu dapur masih dinyalakan.


Kevin melihat Amira sedang berdiri di depan kulkas,


menuangkan susu dingin ke dalam gelas.


“Bu.”panggil Kevin.


Amira terperanjat, hampir menjatuhkan gelas susu di


tangannya. “Hadeh, kamu bikin ibu kaget. Kamu belum tidur, Vin.”


Kevin menggeleng.“Lagi galau, bu.”


Amira menarik kursi meja bar, ia menunggu Kevin


mengambil es krim di kulkas dan duduk di sampingnya.


“Kenapa galau, nak? Kamu bertengkar sama Delina?”tanya


Amira.


“Bukan itu, bu. Kevin kepikiran nenek Indri. Apa


bisa nenek Indri menerima Delina?”


Amira terdiam sejenak. Memang sulit membujuk nenek


Indri. Dirinya dulu sebelum diterima jadi menantu juga harus berjuang sangat


keras. Untung saja dirinya cukup kaya dan mandiri sebelum menikah dengan Alvin.


Yah, meskipun gak bisa masak enak, akhirnya ibu


mertuanya itu bisa menerimanya juga sebagai menantu.


“Kamu harus bisa bertahan, Vin. Seperti ayahmu


dulu. Bisa mempertahankan ibu.”jelas Amira. “Nenek Indri memang sifatnya keras


seperti ayahmu. Tapi kamu harus ingat, Delina bisa menaklukkan ayahmu lewat


perut dan perhatiannya.”


Kevin berpikir sejenak tentang semua kelebihan


Delina. Dia cantik, kulitnya putih, tubuh ideal, pintar menjahit, bisa


mendesain, pintar masak, juga perhatian. Delina juga rajin dan sifatnya sangat


lembut. Hanya satu kekurangannya berasal dari keluarga miskin.


“Apa Delina juga bisa menaklukkan nenek Indri


seperti ibu?”tanya Kevin.


“Kenapa tidak, mereka memiliki sifat yang sama.


Sama persis, Kevin. Seperti apa ayah, seperti itulah nenek Indri. Kita hanya perlu


memperlihatkan sisi baik yang dimiliki Delina. Ibu sudah tahu hadiah apa yang


cocok untuk dibawa Delina nanti. Nenek Indri pasti suka.”


Kevin tersenyum, mereka lanjut mengobrol sampai es


krim dan susu habis. Amira mengeluh berat badannya akan naik lagi gara-gara


Kevin yang cuma bisa nyengir. Kevin balik ke kamarnya di lantai 2, ia melihat


Delina masih tidur dengan posisi yang sama.


“Sayang, aku akan berjuang untuk mempertahankanmu.


Aku mencintaimu, Delina.”Kevin mengecup kening Delina dan berbaring di samping


Delina sambil memeluk pinggang wanita itu.


*****


Keesokan paginya, Agnes menggeliat bangun. Ia

__ADS_1


menguap lebar sebelum membuka matanya. Matanya mengerjap sekali lagi ketika


melihat sekeliling kamar yang bukan kamarnya.


“Selamat pagi, sayang.”sapa Ali.


“Aarrggghhh!!!!”teriak Agnes kaget. Ia menimpuk


wajah Ali dengan bantal sebelum bangkit dari atas ranjang pria itu. “Kau!!


Dasar brengsek!!”maki Agnes.


“Apa salahku?”tanya Ali polos.


“...Pokoknya kau brengsek!”jerit Agnes. Ia mencoba


membuka kunci pintu kamar Ali yang agak sulit dibuka. Ali tersenyum menatap


Agnes yang sibuk menarik-narik pintu kamarnya. Dengan santai pria itu berjalan


mendekati Agnes.


“Kau begitu manis seperti kucing tadi malam. Tapi


pagi ini kau seperti macan betina. Apa kau lupa sedang ada di kamar siapa?”tanya


Ali merangsekkan tubuhnya pada Agnes.


Hasratnya terpancing melihat tubuh Agnes yang cuma


memakai celana super pendek dan kaos longgar.


“Ach, jangan mendekat.”pekik Agnes terkejut.


Tubuh Agnes menegang merasakan sesuatu dibawah sana


mulai bergerak. Ali menangkap tangan Agnes, memaksanya menyentuh miliknya yang


mengeras karena Agnes.


“Kau bisa merasakannya? Aku bolehkan menyentuh


milikmu juga?”bisik Ali.


Agnes tidak bisa bergerak seberapa kuat ia


memberontak, Ali lebih kuat darinya. Tangan Ali bergerak masuk ke dalam kaos


Agnes, melepas pengait bra-nya. Mata Agnes terbelalak merasakan tangan Ali


“Ja... jangan. Aku mohon.”lirih Agnes sambil


terisak. “Huu...hiks....huu...Jangan..”


“Kenapa kau bilang aku brengsek? Semalam kau


sendiri yang masuk ke kamarku. Apa kau sedang bermain sandiwara sekarang?”kata


Ali tegas.


“Ak... aku... maaf, aku kaget tadi. Maaf, Ali.”kata


Agnes masih menangis.


Ali belum mau melepaskan Agnes, ini kesempatan yang


bagus untuk menaklukkan hati wanita pujaannya ini. Sifat songong Agnes harus ia


jinakkan sekarang juga.


“Ach...”lenguh Agnes saat Ali mencium tengkuknya.


Tubuh Agnes masih menempel di pintu kamar Ali


dengan salah satu tangannya menyentuh milik Ali.


“Ali...”panggil Agnes dengan suara serak.


Pria di belakangnya sangat berani menyentuh


tubuhnya, menunjukkan dominasinya pada Agnes. Sesekali Agnes masih memberontak,


air mata masih mengalir di pipinya. Tubuh mungilnya benar-benar terperangkap


tubuh kekar Ali.


“Agnes, katakan kau mencintaiku. Baru aku akan


melepaskanmu.”kata Ali.


“Nggak.”balas Agnes cepat.


Nafas Agnes mulai ngos-ngosan, wajahnya memerah

__ADS_1


seperti warna kaos yang dipakainya.


“Ini kau yang minta, sayang.”bisik Ali.


Ali menarik kaos Agnes keatas, ia membalik tubuh


Agnes dengan cepat. Menahan kedua tangannya diatas kepala Agnes dengan satu


tangan. Ali menatap wajah Agnes yang mengalihkan pandangannya.


Mata Ali menatap kemurnian di depannya. Ia meraih


dagu Agnes, memaksa wanita itu menatapnya juga. Dengan ibu jarinya, Ali


mengusap air mata di pipi Agnes. “Boleh aku menciummu?”tanya Ali lembut.


Agnes menatap mata Ali yang menatapnya tajam. Tidak


ada kabut gairah disana atau nafsu membara. Agnes terpaku melihat bola mata


hitam milik Ali yang seakan menyedotnya masuk ke dalam seperti lubang hitam.


Tanpa sadar Agnes mengangguk, Ali mendekat menempelkan


bibirnya di sudut bibir Agnes. Ali sengaja melakukannya, ia ingin melihat bagaimana


Agnes merespon ciumannya kali ini. Agnes memejamkan matanya, menunggu ciuman


Ali yang sesungguhnya.


Kening Agnes mengkerut ketika ciuman itu tidak


kunjung datang, ia tidak sabar lagi. Agnes menggerakkan kepalanya mencari bibir


Ali. Saat ia mendapatkannya, wanita itu tidak mau berhenti menyesap bibir Ali.


Entah sejak kapan kedua tangan Agnes terlepas, ia


meraih tengkuk Ali. Memperdalam ciuman mereka. Ali tersenyum dalam ciuman


mereka.


“Aku mencintaimu, Agnes.”bisik Ali saat jeda ciuman


mereka.


“Aku juga mencintaimu, Ali.”kata Agnes terbawa


suasana.


Mata Agnes terbuka lebar, ia mendorong Ali,


menyilangkan tangannya ke depan dadanya. Ali mengulurkan tangannya menahan


tubuhnya di pintu kamar. Ia menempelkan kepalanya ke kepala Agnes. Senyuman


manis Ali membuat Agnes tersenyum malu.


“Rapikan pakaianmu.”kata Ali sambil menatap mata


Agnes.


“Kamu balik badan.”pinta Agnes malu.


“Aku sudah melihatnya. Cepat rapikan atau aku yang


akan merapikannya.”


“Dasar kau brengsek!”umpat Agnes.


“Kau akan tahu seberapa brengseknya aku nanti


setelah kita menikah, sayang.”


Mata Agnes terbelalak mendengar kata menikah. “Apa


kau sedang bermimpi pagi-pagi gini? Mamaku tidak akan mengijinkan kita menikah.”


“Dia tidak akan melarang kita kalau kau sudah


hamil, sayang.”smirk Ali.


“Ach! Mesum!”pekik Agnes. Ia sudah selesai mengaitkan


tali bra-nya dan menurunkan kaosnya. “Awas kau kalau berani macam-macam


denganku.”ancam Agnes.


Ali mendekatkan wajahnya lagi, menekan Agnes dengan


tatapannya yang melumpuhkan wanita itu. “Ja... jangan melihatku gitu.”


*****

__ADS_1


Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel


saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.


__ADS_2