
Ia masih belum
bisa tidur, pikirannya sibuk melayang apalagi yang harus ia katakan pada Delina
tentang neneknya. Delina harus bersiap dengan segala kemungkinannya di rumah
nenek nantinya.
Sampai larut malam Kevin masih terjaga. Ia ingin
mengambil sedikit cemilan di kulkas karena perutnya lapar lagi. Kevin turun ke
lantai bawah langsung menuju dapur. Ia melihat lampu dapur masih dinyalakan.
Kevin melihat Amira sedang berdiri di depan kulkas,
menuangkan susu dingin ke dalam gelas.
“Bu.”panggil Kevin.
Amira terperanjat, hampir menjatuhkan gelas susu di
tangannya. “Hadeh, kamu bikin ibu kaget. Kamu belum tidur, Vin.”
Kevin menggeleng.“Lagi galau, bu.”
Amira menarik kursi meja bar, ia menunggu Kevin
mengambil es krim di kulkas dan duduk di sampingnya.
“Kenapa galau, nak? Kamu bertengkar sama Delina?”tanya
Amira.
“Bukan itu, bu. Kevin kepikiran nenek Indri. Apa
bisa nenek Indri menerima Delina?”
Amira terdiam sejenak. Memang sulit membujuk nenek
Indri. Dirinya dulu sebelum diterima jadi menantu juga harus berjuang sangat
keras. Untung saja dirinya cukup kaya dan mandiri sebelum menikah dengan Alvin.
Yah, meskipun gak bisa masak enak, akhirnya ibu
mertuanya itu bisa menerimanya juga sebagai menantu.
“Kamu harus bisa bertahan, Vin. Seperti ayahmu
dulu. Bisa mempertahankan ibu.”jelas Amira. “Nenek Indri memang sifatnya keras
seperti ayahmu. Tapi kamu harus ingat, Delina bisa menaklukkan ayahmu lewat
perut dan perhatiannya.”
Kevin berpikir sejenak tentang semua kelebihan
Delina. Dia cantik, kulitnya putih, tubuh ideal, pintar menjahit, bisa
mendesain, pintar masak, juga perhatian. Delina juga rajin dan sifatnya sangat
lembut. Hanya satu kekurangannya berasal dari keluarga miskin.
“Apa Delina juga bisa menaklukkan nenek Indri
seperti ibu?”tanya Kevin.
“Kenapa tidak, mereka memiliki sifat yang sama.
Sama persis, Kevin. Seperti apa ayah, seperti itulah nenek Indri. Kita hanya perlu
memperlihatkan sisi baik yang dimiliki Delina. Ibu sudah tahu hadiah apa yang
cocok untuk dibawa Delina nanti. Nenek Indri pasti suka.”
Kevin tersenyum, mereka lanjut mengobrol sampai es
krim dan susu habis. Amira mengeluh berat badannya akan naik lagi gara-gara
Kevin yang cuma bisa nyengir. Kevin balik ke kamarnya di lantai 2, ia melihat
Delina masih tidur dengan posisi yang sama.
“Sayang, aku akan berjuang untuk mempertahankanmu.
Aku mencintaimu, Delina.”Kevin mengecup kening Delina dan berbaring di samping
Delina sambil memeluk pinggang wanita itu.
*****
Keesokan paginya, Agnes menggeliat bangun. Ia
__ADS_1
menguap lebar sebelum membuka matanya. Matanya mengerjap sekali lagi ketika
melihat sekeliling kamar yang bukan kamarnya.
“Selamat pagi, sayang.”sapa Ali.
“Aarrggghhh!!!!”teriak Agnes kaget. Ia menimpuk
wajah Ali dengan bantal sebelum bangkit dari atas ranjang pria itu. “Kau!!
Dasar brengsek!!”maki Agnes.
“Apa salahku?”tanya Ali polos.
“...Pokoknya kau brengsek!”jerit Agnes. Ia mencoba
membuka kunci pintu kamar Ali yang agak sulit dibuka. Ali tersenyum menatap
Agnes yang sibuk menarik-narik pintu kamarnya. Dengan santai pria itu berjalan
mendekati Agnes.
“Kau begitu manis seperti kucing tadi malam. Tapi
pagi ini kau seperti macan betina. Apa kau lupa sedang ada di kamar siapa?”tanya
Ali merangsekkan tubuhnya pada Agnes.
Hasratnya terpancing melihat tubuh Agnes yang cuma
memakai celana super pendek dan kaos longgar.
“Ach, jangan mendekat.”pekik Agnes terkejut.
Tubuh Agnes menegang merasakan sesuatu dibawah sana
mulai bergerak. Ali menangkap tangan Agnes, memaksanya menyentuh miliknya yang
mengeras karena Agnes.
“Kau bisa merasakannya? Aku bolehkan menyentuh
milikmu juga?”bisik Ali.
Agnes tidak bisa bergerak seberapa kuat ia
memberontak, Ali lebih kuat darinya. Tangan Ali bergerak masuk ke dalam kaos
Agnes, melepas pengait bra-nya. Mata Agnes terbelalak merasakan tangan Ali
“Ja... jangan. Aku mohon.”lirih Agnes sambil
terisak. “Huu...hiks....huu...Jangan..”
“Kenapa kau bilang aku brengsek? Semalam kau
sendiri yang masuk ke kamarku. Apa kau sedang bermain sandiwara sekarang?”kata
Ali tegas.
“Ak... aku... maaf, aku kaget tadi. Maaf, Ali.”kata
Agnes masih menangis.
Ali belum mau melepaskan Agnes, ini kesempatan yang
bagus untuk menaklukkan hati wanita pujaannya ini. Sifat songong Agnes harus ia
jinakkan sekarang juga.
“Ach...”lenguh Agnes saat Ali mencium tengkuknya.
Tubuh Agnes masih menempel di pintu kamar Ali
dengan salah satu tangannya menyentuh milik Ali.
“Ali...”panggil Agnes dengan suara serak.
Pria di belakangnya sangat berani menyentuh
tubuhnya, menunjukkan dominasinya pada Agnes. Sesekali Agnes masih memberontak,
air mata masih mengalir di pipinya. Tubuh mungilnya benar-benar terperangkap
tubuh kekar Ali.
“Agnes, katakan kau mencintaiku. Baru aku akan
melepaskanmu.”kata Ali.
“Nggak.”balas Agnes cepat.
Nafas Agnes mulai ngos-ngosan, wajahnya memerah
__ADS_1
seperti warna kaos yang dipakainya.
“Ini kau yang minta, sayang.”bisik Ali.
Ali menarik kaos Agnes keatas, ia membalik tubuh
Agnes dengan cepat. Menahan kedua tangannya diatas kepala Agnes dengan satu
tangan. Ali menatap wajah Agnes yang mengalihkan pandangannya.
Mata Ali menatap kemurnian di depannya. Ia meraih
dagu Agnes, memaksa wanita itu menatapnya juga. Dengan ibu jarinya, Ali
mengusap air mata di pipi Agnes. “Boleh aku menciummu?”tanya Ali lembut.
Agnes menatap mata Ali yang menatapnya tajam. Tidak
ada kabut gairah disana atau nafsu membara. Agnes terpaku melihat bola mata
hitam milik Ali yang seakan menyedotnya masuk ke dalam seperti lubang hitam.
Tanpa sadar Agnes mengangguk, Ali mendekat menempelkan
bibirnya di sudut bibir Agnes. Ali sengaja melakukannya, ia ingin melihat bagaimana
Agnes merespon ciumannya kali ini. Agnes memejamkan matanya, menunggu ciuman
Ali yang sesungguhnya.
Kening Agnes mengkerut ketika ciuman itu tidak
kunjung datang, ia tidak sabar lagi. Agnes menggerakkan kepalanya mencari bibir
Ali. Saat ia mendapatkannya, wanita itu tidak mau berhenti menyesap bibir Ali.
Entah sejak kapan kedua tangan Agnes terlepas, ia
meraih tengkuk Ali. Memperdalam ciuman mereka. Ali tersenyum dalam ciuman
mereka.
“Aku mencintaimu, Agnes.”bisik Ali saat jeda ciuman
mereka.
“Aku juga mencintaimu, Ali.”kata Agnes terbawa
suasana.
Mata Agnes terbuka lebar, ia mendorong Ali,
menyilangkan tangannya ke depan dadanya. Ali mengulurkan tangannya menahan
tubuhnya di pintu kamar. Ia menempelkan kepalanya ke kepala Agnes. Senyuman
manis Ali membuat Agnes tersenyum malu.
“Rapikan pakaianmu.”kata Ali sambil menatap mata
Agnes.
“Kamu balik badan.”pinta Agnes malu.
“Aku sudah melihatnya. Cepat rapikan atau aku yang
akan merapikannya.”
“Dasar kau brengsek!”umpat Agnes.
“Kau akan tahu seberapa brengseknya aku nanti
setelah kita menikah, sayang.”
Mata Agnes terbelalak mendengar kata menikah. “Apa
kau sedang bermimpi pagi-pagi gini? Mamaku tidak akan mengijinkan kita menikah.”
“Dia tidak akan melarang kita kalau kau sudah
hamil, sayang.”smirk Ali.
“Ach! Mesum!”pekik Agnes. Ia sudah selesai mengaitkan
tali bra-nya dan menurunkan kaosnya. “Awas kau kalau berani macam-macam
denganku.”ancam Agnes.
Ali mendekatkan wajahnya lagi, menekan Agnes dengan
tatapannya yang melumpuhkan wanita itu. “Ja... jangan melihatku gitu.”
*****
__ADS_1
Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel
saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.