
“Kevin, liat saldo tabunganmu. Cepat.”pinta Alvin.
“Apaan sich, yah.” Kevin berjalan mendekati Alvin
sambil mengeluarkan ponselnya. Ia menekan beberapa nomor untuk membuka password
mobile bankingnya. “Ini, yah.”kata Kevin menyerahkan ponselnya pada Alvin.
Alvin memastikan nominal di ponsel itu, ia hampir
tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. “Kevin, kamu gak belanja lagi?”tanya
Alvin.
“Belanja kok, yah. Waktu kapan itu ke mall beliin
Delina baju sama perhiasan juga. Sama tas juga. Kenapa sich, yah?”
“Kok dikit? Tumben. Biasanya bikin ayah jantungan.”
Kevin tersenyum bangga, “Ya, iyalah. Ayah, Delina
tuch gak suka belanja kalo gak penting dan terpaksa. Itu banyakan belanjaannya
Agnes kayaknya. Dia dapet minjem kartuku.”
“Nana, ambilkan kartu kredit tambahan punya Kevin.
Langsung aktifkan ya.”pinta Alvin.
“Baik, tuan besar.”saut Nana. Tak lama, Nana masuk
kembali menyerahkan kartu kredit baru pada Alvin. Ia keluar setelah mengambil
kotak makan siang yang sudah kosong.
“Terima kasih, Nana.”ucap Delina.
“Delina, ini kartu kredit untukmu.”kata Alvin
menyerahkan kartu ditangannya. “Passwordnya 1**4*6.”
Delina menerima kartu itu, ia membolak-balik kartu
di tangannya dengan bingung. “Ini buat apa, yah?”
“Buat belanja.”jawab Alvin singkat.
“Belanja apa, yah?”tanya Delina lagi. “Bukannya ibu
yang belanja bulanan. Ini, bu.”kata Delina sambil menyerahkan kartu itu pada
Amira.
Amira dan Alvin saling menatap. “Buat kamu belanja
kebutuhan pribadimu, Delina. Beli baju, beli make up.”tutur Amira.
Delina menggeleng, “Ibu sudah memberi saya uang
yang cukup untuk kebutuhan pribadi saya. Kartu ini, ibu saja yang simpan ya.”
“Uang apa?”tanya Amira bingung. Ia merasa tidak
pernah memberi uang pada Delina selain uang gajinya sebagai penjahit dan uang
pembayaran atas desainnya. “Maksudmu gajimu tiap bulan? Oh, ini beda lagi. Kamu
sudah jadi menantu kami, kartu ini harus dipegang sama kamu, Delina.”
Delina menoleh pada Kevin yang mengangguk, Delina
menerima kartu itu dan mengucapkan terima kasih pada Amira dan Alvin. Ia
membuka dompetnya dengan hati-hati, menyelipkan kartu kredit itu berdampingan
dengan kartu debit miliknya. Tabungannya yang ia kumpulkan sedikit demi sedikit
selama bekerja pada Amira dan juga tempat ia menyimpan uang mas kawin yang
diberikan Kevin.
“Delina, berikan nomor rekeningmu yang itu.”tunjuk
Kevin ke kartu debit Delina.
“Buat apa, hubby?”tanya Delina tapi tangannya
__ADS_1
meraih ponsel, membuka aplikasi mobile banking-nya. Ia menyodorkan ponselnya
pada Kevin.
Kevin tidak menjawab, ia sibuk menekan beberapa
angka di ponselnya. Delina tidak memperhatikan apa yang dikerjakan Kevin lagi.
Amira sudah memanggilnya lagi untuk membicarakan beberapa kebaya lama Amira
yang ingin ia singkirkan dari lemari.
Amira menanyakan apa Delina bisa membuat sketsa
lain selain kebaya. Delina belum pernah mencobanya, ia hanya fokus pada kebaya.
Tapi tidak dipungkiri kalau ia membuat sendiri pakaiannya selama ini.
“Dengar, Delina. Membuat kebaya itu bagus, tapi
kalau kamu bisa mendesain jenis pakaian yang lain, ibu bisa membiayai semua
yang kau perlukan. Asal pakaian itu cocok untuk ibu.”
“Maksud ibu, seperti pakaian yang ibu pakai
sekarang?”tanya Delina sambil memperhatikan desain pakaian Amira.
“Ya, betul. Kalau kamu bisa, ibu akan siapkan satu
brand untuk pakaian rancanganmu. Kebaya, pakaian modern, gamis, semuanya desain
darimu, Delina.”kata Amira.
“Beneran, bu?”mata Delina berbinar mendengar
rencana Amira.
“Ya, ayo kita buat tokonya di depan kantor ibu.
Masih banyak tempat kosong disana. Kita pajang kebaya lama ibu disana. Buku
sketsamu kita buatkan katalog.”
Delina sangat bersemangat mendengar rencana Amira.
Sekarang mertuanya akan membantu mewujudkan impiannya itu.
Kevin tersenyum melihat saldo nominal tabungan
Delina sudah bertambah menjadi 9 digit angka. Ia menutup aplikasi mobile
banking di ponsel Delina dan meletakkan ponsel itu kembali ke meja tanpa
mengatakan apa-apa.
Delina masih asyik bicara dengan Amira, mengacuhkan
Kevin dan Alvin yang sama-sama bengong. Alvin memberi kode pada Kevin untuk
membawa Delina keluar dari ruangannya. Alvin ingin berduaan dengan Amira.
“Sayang, berhenti dulu ya. Ntar sambung lagi di
rumah sama ibu. Ikut aku sebentar.”pinta Kevin sambil menarik tangan Delina
bangun dari duduknya.
“Eh, Kevin, Delina mau dibawa kemana?”tanya Amira
protes.
Kevin tidak menjawab, ia menarik Delina keluar dari
ruang kerja Alvin lalu masuk ke ruangannya sendiri. “Hubby, kenapa?”tanya
Delina.
“Nggak. Aku cuma mau berduaan sama kamu.”
Delina melangkah mundur saat melihat Kevin semakin
mendekatinya, “Hubby, mau apa? Ini dikantor.” Delina terus mundur sampai mentok
ke sebuah pintu yang samar dengan dinding. Pintu itu terbuka membuat Delina
terkejut, “Eh, kok ada kamar disini?”tanya Delina sambil masuk kesana.
__ADS_1
Kevin ikutan masuk, menutup pintu lalu menguncinya.
Delina mendekati ranjang besar di tengah kamar itu, ia merasakan kerudungnya
ditarik hingga terlepas. Delina berbalik, mengibaskan rambut panjangnya yang
hitam lembut.
Delina melihat Kevin mencium kerudungnya sambil
menatap tajam dirinya. Mereka bertatapan sejenak, sebelum Kevin mendekati
Delina sambil menarik dasi di lehernya. Delina tidak sempat menghindar lagi
saat Kevin menarik pinggangnya lebih dekat.
“Delina, aku sangat mencintaimu.”
Deg! Deg! Deg! Debaran jantung Delina semakin
kencang. Ia ingin menunduk malu, tapi Kevin sudah menarik tengkuknya, mencium
bibirnya dalam. “Yank, jangan menolakku. Sebentar aja.”bisik Kevin merayu
Delina.
“Hubby, nanti ada yang masuk.”saut Delina cemas.
“Pintunya sudah kukunci, sayang.”
Delina tidak menahan Kevin lagi, ia memejamkan
matanya saat suaminya itu menempelkan bibir mereka berdua. Tangan Kevin mulai
menurunkan retsleting dress panjang Delina, Kevin menjauhkan wajahnya, ia ingin
melihat ekspresi wajah merah Delina yang malu-malu.
“Sayang, kamu manis banget sich. Buka kemejaku
dong.”
Delina melakukan apa yang diminta Kevin, keduanya
terbaring diatas ranjang besar itu. Delina merasakan ranjang itu sangat lembut
dan nyaman. Kevin tidak berlama-lama memanaskan suasana kamar itu, ia menggeram
saat penyatuan mereka kembali terjadi.
“Auh... hubby... hemm...”lenguh Delina mencakar
punggung Kevin. Meskipun bukan yang pertama lagi, tapi Delina masih merasakan
perih di tubuh bagian bawahnya.
Kevin semakin menggila merasakan kenikmatan duniawi
bersama Delina. Ia menciumi Delina dengan lembut penuh perasaan. Keduanya
menegang bersamaan, sebelum akhirnya Kevin menggulingkan tubuhnya ke samping
Delina. Raut wajah puas menghiasi wajah Kevin, ia masih ingin bermain tapi
Delina sudah beranjak ke kamar mandi.
Delina keluar lagi mengambil tasnya, ia masuk lagi
ke kamar mandi. Cukup lama dia baru keluar lagi. “Kenapa, sayang? Sakit ya?”tanya
Kevin khawatir.
“Nggak, kok. Tapi tamu bulananku datang, hubby.”saut
Delina.
“Mampus. Batal deh honeymoon-nya.”keluh Kevin.
Delina tersenyum penuh arti, ia memakai pakaiannya
lagi.
*****
Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel
saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.
__ADS_1