Penjahit Hati

Penjahit Hati
Episode 76


__ADS_3

“Kevin, liat saldo tabunganmu. Cepat.”pinta Alvin.


“Apaan sich, yah.” Kevin berjalan mendekati Alvin


sambil mengeluarkan ponselnya. Ia menekan beberapa nomor untuk membuka password


mobile bankingnya. “Ini, yah.”kata Kevin menyerahkan ponselnya pada Alvin.


Alvin memastikan nominal di ponsel itu, ia hampir


tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. “Kevin, kamu gak belanja lagi?”tanya


Alvin.


“Belanja kok, yah. Waktu kapan itu ke mall beliin


Delina baju sama perhiasan juga. Sama tas juga. Kenapa sich, yah?”


“Kok dikit? Tumben. Biasanya bikin ayah jantungan.”


Kevin tersenyum bangga, “Ya, iyalah. Ayah, Delina


tuch gak suka belanja kalo gak penting dan terpaksa. Itu banyakan belanjaannya


Agnes kayaknya. Dia dapet minjem kartuku.”


“Nana, ambilkan kartu kredit tambahan punya Kevin.


Langsung aktifkan ya.”pinta Alvin.


“Baik, tuan besar.”saut Nana. Tak lama, Nana masuk


kembali menyerahkan kartu kredit baru pada Alvin. Ia keluar setelah mengambil


kotak makan siang yang sudah kosong.


“Terima kasih, Nana.”ucap Delina.


“Delina, ini kartu kredit untukmu.”kata Alvin


menyerahkan kartu ditangannya. “Passwordnya 1**4*6.”


Delina menerima kartu itu, ia membolak-balik kartu


di tangannya dengan bingung. “Ini buat apa, yah?”


“Buat belanja.”jawab Alvin singkat.


“Belanja apa, yah?”tanya Delina lagi. “Bukannya ibu


yang belanja bulanan. Ini, bu.”kata Delina sambil menyerahkan kartu itu pada


Amira.


Amira dan Alvin saling menatap. “Buat kamu belanja


kebutuhan pribadimu, Delina. Beli baju, beli make up.”tutur Amira.


Delina menggeleng, “Ibu sudah memberi saya uang


yang cukup untuk kebutuhan pribadi saya. Kartu ini, ibu saja yang simpan ya.”


“Uang apa?”tanya Amira bingung. Ia merasa tidak


pernah memberi uang pada Delina selain uang gajinya sebagai penjahit dan uang


pembayaran atas desainnya. “Maksudmu gajimu tiap bulan? Oh, ini beda lagi. Kamu


sudah jadi menantu kami, kartu ini harus dipegang sama kamu, Delina.”


Delina menoleh pada Kevin yang mengangguk, Delina


menerima kartu itu dan mengucapkan terima kasih pada Amira dan Alvin. Ia


membuka dompetnya dengan hati-hati, menyelipkan kartu kredit itu berdampingan


dengan kartu debit miliknya. Tabungannya yang ia kumpulkan sedikit demi sedikit


selama bekerja pada Amira dan juga tempat ia menyimpan uang mas kawin yang


diberikan Kevin.


“Delina, berikan nomor rekeningmu yang itu.”tunjuk


Kevin ke kartu debit Delina.


“Buat apa, hubby?”tanya Delina tapi tangannya

__ADS_1


meraih ponsel, membuka aplikasi mobile banking-nya. Ia menyodorkan ponselnya


pada Kevin.


Kevin tidak menjawab, ia sibuk menekan beberapa


angka di ponselnya. Delina tidak memperhatikan apa yang dikerjakan Kevin lagi.


Amira sudah memanggilnya lagi untuk membicarakan beberapa kebaya lama Amira


yang ingin ia singkirkan dari lemari.


Amira menanyakan apa Delina bisa membuat sketsa


lain selain kebaya. Delina belum pernah mencobanya, ia hanya fokus pada kebaya.


Tapi tidak dipungkiri kalau ia membuat sendiri pakaiannya selama ini.


“Dengar, Delina. Membuat kebaya itu bagus, tapi


kalau kamu bisa mendesain jenis pakaian yang lain, ibu bisa membiayai semua


yang kau perlukan. Asal pakaian itu cocok untuk ibu.”


“Maksud ibu, seperti pakaian yang ibu pakai


sekarang?”tanya Delina sambil memperhatikan desain pakaian Amira.


“Ya, betul. Kalau kamu bisa, ibu akan siapkan satu


brand untuk pakaian rancanganmu. Kebaya, pakaian modern, gamis, semuanya desain


darimu, Delina.”kata Amira.


“Beneran, bu?”mata Delina berbinar mendengar


rencana Amira.


“Ya, ayo kita buat tokonya di depan kantor ibu.


Masih banyak tempat kosong disana. Kita pajang kebaya lama ibu disana. Buku


sketsamu kita buatkan katalog.”


Delina sangat bersemangat mendengar rencana Amira.


Sekarang mertuanya akan membantu mewujudkan impiannya itu.


Kevin tersenyum melihat saldo nominal tabungan


Delina sudah bertambah menjadi 9 digit angka. Ia menutup aplikasi mobile


banking di ponsel Delina dan meletakkan ponsel itu kembali ke meja tanpa


mengatakan apa-apa.


Delina masih asyik bicara dengan Amira, mengacuhkan


Kevin dan Alvin yang sama-sama bengong. Alvin memberi kode pada Kevin untuk


membawa Delina keluar dari ruangannya. Alvin ingin berduaan dengan Amira.


“Sayang, berhenti dulu ya. Ntar sambung lagi di


rumah sama ibu. Ikut aku sebentar.”pinta Kevin sambil menarik tangan Delina


bangun dari duduknya.


“Eh, Kevin, Delina mau dibawa kemana?”tanya Amira


protes.


Kevin tidak menjawab, ia menarik Delina keluar dari


ruang kerja Alvin lalu masuk ke ruangannya sendiri. “Hubby, kenapa?”tanya


Delina.


“Nggak. Aku cuma mau berduaan sama kamu.”


Delina melangkah mundur saat melihat Kevin semakin


mendekatinya, “Hubby, mau apa? Ini dikantor.” Delina terus mundur sampai mentok


ke sebuah pintu yang samar dengan dinding. Pintu itu terbuka membuat Delina


terkejut, “Eh, kok ada kamar disini?”tanya Delina sambil masuk kesana.

__ADS_1


Kevin ikutan masuk, menutup pintu lalu menguncinya.


Delina mendekati ranjang besar di tengah kamar itu, ia merasakan kerudungnya


ditarik hingga terlepas. Delina berbalik, mengibaskan rambut panjangnya yang


hitam lembut.


Delina melihat Kevin mencium kerudungnya sambil


menatap tajam dirinya. Mereka bertatapan sejenak, sebelum Kevin mendekati


Delina sambil menarik dasi di lehernya. Delina tidak sempat menghindar lagi


saat Kevin menarik pinggangnya lebih dekat.


“Delina, aku sangat mencintaimu.”


Deg! Deg! Deg! Debaran jantung Delina semakin


kencang. Ia ingin menunduk malu, tapi Kevin sudah menarik tengkuknya, mencium


bibirnya dalam. “Yank, jangan menolakku. Sebentar aja.”bisik Kevin merayu


Delina.


“Hubby, nanti ada yang masuk.”saut Delina cemas.


“Pintunya sudah kukunci, sayang.”


Delina tidak menahan Kevin lagi, ia memejamkan


matanya saat suaminya itu menempelkan bibir mereka berdua. Tangan Kevin mulai


menurunkan retsleting dress panjang Delina, Kevin menjauhkan wajahnya, ia ingin


melihat ekspresi wajah merah Delina yang malu-malu.


“Sayang, kamu manis banget sich. Buka kemejaku


dong.”


Delina melakukan apa yang diminta Kevin, keduanya


terbaring diatas ranjang besar itu. Delina merasakan ranjang itu sangat lembut


dan nyaman. Kevin tidak berlama-lama memanaskan suasana kamar itu, ia menggeram


saat penyatuan mereka kembali terjadi.


“Auh... hubby... hemm...”lenguh Delina mencakar


punggung Kevin. Meskipun bukan yang pertama lagi, tapi Delina masih merasakan


perih di tubuh bagian bawahnya.


Kevin semakin menggila merasakan kenikmatan duniawi


bersama Delina. Ia menciumi Delina dengan lembut penuh perasaan. Keduanya


menegang bersamaan, sebelum akhirnya Kevin menggulingkan tubuhnya ke samping


Delina. Raut wajah puas menghiasi wajah Kevin, ia masih ingin bermain tapi


Delina sudah beranjak ke kamar mandi.


Delina keluar lagi mengambil tasnya, ia masuk lagi


ke kamar mandi. Cukup lama dia baru keluar lagi. “Kenapa, sayang? Sakit ya?”tanya


Kevin khawatir.


“Nggak, kok. Tapi tamu bulananku datang, hubby.”saut


Delina.


“Mampus. Batal deh honeymoon-nya.”keluh Kevin.


Delina tersenyum penuh arti, ia memakai pakaiannya


lagi.


*****


Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel


saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.

__ADS_1


__ADS_2