Penjahit Hati

Penjahit Hati
PH - Seprai berjalan


__ADS_3

PH - Seprai berjalan


“Baik, Ny.” kata Delina.


Delina mengambil buku catatannya dan meteran. Ia


mulai mengukur bagian bawah tubuh Ny. Amira dan mencatat dengan teliti. Setelah


selesai mengambil ukuran itu, Delina mulai mengukur rok yang tadi ia sodorkan


pada Ny. Amira. Memang benar rok itu tidak muat pada Ny. Amira. Ada sedikit


perbedaan ukurannya.


“Gimana? Gak muat kan? Kau bisa merombaknya juga?”


tanya Ny. Amira.


Ny. Amira memanggil Meri untuk membantunya melepas


kebaya yang baru saja dipakainya lagi itu. Ia kembali duduk di depan meja


riasnya dan MUA bisa melanjutkan pekerjaannya. Delina belum menjawab pertanyaan


Ny. Amira.


Ia membalik rok dan melihat jahitan di pinggir rok


masih tersisa beberapa centi lagi. Delina kembali melepas jahitan rok itu dan


memasang jarum pentul di kedua sisi yang benangnya sudah lepas.


“Untung saja ada sisa kain di pinggirnya, Ny. Ny.


bisa memakainya setelah saya jahit.” Jelas Delina sambil menunjukkan deretan


jarum pentul di rok itu.


“Apa aku bisa mencobanya dulu?”


“Sebaiknya saya jahit dulu, Ny. Atau...” kata


Delina tapi dipotong Ny. Amira.


“Ya, ya. Atau aku akan ketusuk jarum. Jahit itu dan


tulis semua pekerjaanmu. Aku akan membayarnya sekalian.”


“Baik, Ny.”


Delina menambahkan catatan dibawah catatan


pekerjaan dari Ny. Amira sebelumnya tapi tidak menambahkan harga pada ujung


tulisannya. Menjahit rok itu tidak seberapa pekerjaannya. Delina memperhatikan


catatan itu lagi. Rombak kebaya krem 300rb, jahit kebaya biru 400rb, total


700rb. DP 500rb, sisa 200rb. Dibawahnya rombak kebaya biru 150rb, jahit rok


batik -. Total 350rb.


MUA akhirnya selesai dengan pekerjaannya merias dan


menata rambut Ny. Amira. Ny. Amira kembali memakai kebaya krem itu dan melihat


penampilannya di depan cermin.


“Fantastis. Simpel dan elegan. I love it.” Puji Ny.


Amira entah untuk siapa.


MUA mengambil kesempatan dengan memuji-muji Ny.


Amira, sementara Delina mengambil pensilnya dan melengkapi gambar sketsa kebaya


itu dengan menambahkan kepala, tangan, dan kaki. Sketsa itu benar-benar mirip


dengan Ny. Amira saat itu.


Delina melirik jam di dinding ruangan itu, sudah


jam 7 malam. Entah sampai kapan ia harus menunggu Ny. Amira mengijinkannya


pulang. Bahkan MUA sudah pulang selesai memuji-muji Ny. Amira dan Meri


membayarnya.


“Seharusnya kita melakukan foto shoot sekarang.


Cepat kita ke studio foto, telpon mereka untuk bersiap.” Perintah Ny. Amira.


Delina yang tidak ingin menunggu lagi, memberanikan

__ADS_1


diri untuk meminja ijin pulang.


“Maaf, Ny. Boleh saya pulang sekarang? Saya bawa


kebaya dan rok ini.” Kata Delina sambil menunjukkan kebaya dan rok yang perlu


dijahit.


“Ach, sudah malam ya. Dimana rumahmu?” tanya Ny.


Amira.


“Dekat dengan rumah mbak Meri, Ny.” jawab Delina.


“Kita mau ke studio foto, kan? Bisa kita lewat


dekat rumah Delina, Meri?” tanya Ny. Amira lagi.


“Bisa, Ny. Tapi hanya sampai depan jalan.” jawab


Meri.


“Ny. saya bisa pulang sendiri. Terima kasih.” kata


Delina merasa tidak enak.


“Tidak apa. Kita kebetulan lewat. Ayo cepat.” ajak


Ny. Amira.


Delina terpaksa mengikuti Ny. Amira bersama Meri


setelah mereka selesai berkemas. Meri menelpon studio foto dan minta disiapkan


fotografer untuk melakukan pemotretan malam itu juga.


Delina diturunkan di depan jalan dekat dengan


rumahnya. Ia hanya perlu berjalan sebentar dan sampai di rumahnya. Tak lupa


Delina mengucapkan terima kasih atas tumpangan Ny. Amira.


*****


Kevin baru pulang dari kantor papanya, ia


melonggarkan dasi yang mencekik lehernya sejak pagi. Menjadi wakil direktur


benar-benar berat. Meskipun perusahaan itu milik papanya, Kevin tetap harus


mempertahankan mobil mewah dan black card tetap di tangannya.


Padahal Kevin lebih suka kelayapan bersama


wanita-wanita yang memujanya dimana-mana. Meski belum memiliki pacar, Kevin


tidak kekurangan stok wanita sekalipun. Ia hanya perlu memilih wanita yang ia


inginkan dan wanita itu akan muncul dihadapannya siap melakukan apa saja.


Lampu merah menghentikan laju mobil Kevin. Ia


mengedarkan pandangan ke sekitar jalanan yang ramai. Matanya tertuju pada


sekelebat bayangan putih yang sekilas tampak seperti seprai berjalan. Kevin


sedang menatap Delina yang berjalan di pinggir jalan setelah turun dari mobil


Ny. Amira.


Kevin mengernyitkan keningnya, siapa juga manusia


yang masih memakai pakaian seperti itu jaman sekarang.


”Kampungan sekali. Itu pakaian atau seprai? Apa dia


tidak tahu mode?” batin Kevin heran.


Tin! Klakson mobil dibelakangnya membuat Kevin


sadar kalau lampu lalu lintas sudah berubah menjadi hijau kembali. Ia melajukan


mobilnya menuju rumahnya.


Mobil mewah milik Kevin berhenti di depan gerbang


sebuah rumah mewah yang sangat besar. Security langsung membukakan pintu dan


Kevin mengendarai mobilnya masuk ke garasi. Ia keluar dari dalam mobil, melihat


ke kanan dan ke kiri. Garasi di sebelahnya kosong. Artinya papa dan mamanya


belum pulang.

__ADS_1


Kevin mengingat kalau papanya sudah pulang duluan


tadi sekalian meeting di luar. Sedangkan mamanya, sepertinya masih sibuk di


kantornya. Kevin berjalan masuk ke dalam rumah. Suasana hening, ia memanggil


Sri, salah satu pelayan setia di rumah itu.


“Mbak Sri! Mbak?” panggil Kevin dengan ketus.


“Ya, tuan muda.” Sahut Sri sambil berlari menemui


Kevin.


“Mbak, buatin sirup ya. Bawa ke kamarku.” Perintah


Kevin.


“Baik, tuan. Tapi agak terlambat ya, tuan muda.


Saya masih membuat cemilan untuk tuan besar.” jelas Sri jujur. Ia tahu kalau


Kevin akan marah kalau perintahnya terlambat dijalankan.


“Papa sudah pulang? Kenapa mobilnya gak ada?” tanya


Kevin sambil melirik ke pintu ruang kerja Alvin, papa Kevin.


“Sudah, tuan muda. Saya tidak tahu mengenai mobil.”


“Ya sudah sana. Huh! Kapan ibu akan mencarikan


pelayan untukku!” omel Kevin sambil berjalan ke lantai 2.


Kevin membuka pintu kamarnya dengan kesal. Ia


menghempaskan tubuhnya ke sofa dan melemparkan dasi dan jasnya sembarangan.


Kevin juga melepas sepatunya dan kaos kakinya dengan berantakan.  Menaikkan kakinya ke atas sofa, Kevin


mengambil ponsel dan menelpon ibunya.


Ny. Amira masih melakukan foto shot saat ponselnya


berdering. Meri mengangkat telpon itu dan mengucapkan salam pada Kevin.


“Selamat malam, tuan muda. Ny. Amira sedang sibuk


saat ini. Ada yang bisa saya bantu?” sapa Meri ramah.


“Kasi telponnya, cepat! Sekarang!” bentak Kevin.


Meri memberi tanda pada Ny. Amira yang langsung


mengerti siapa yang menelpon. Hanya Kevin yang tidak sabaran kalau sudah


menelponnya.


“Ada apa, nak?” tanya Ny. Amira dengan sabar.


“Bu, mana pelayan untukku? Mbak Sri sibuk, aku


perlu pelayan pribadi, bu.” adu Kevin dengan wajah cemberut pastinya.


“Ibu masih cari yang cocok, nak. Katamu harus yang


profesional. Susah loh nyarinya.” bujuk Ny. Amira lembut.


“Aku mau secepatnya, bu!” rengek Kevin.


“Seminggu ya, nak. Ibu besok harus keluar kota


seminggu. Minggu depan pasti ada. Sabar ya.” pinta Ny. Amira.


“Ya, bu. Kapan ibu pulang?” tanya Kevin lagi.


“Sebentar lagi ya. Ibu masih di studio foto. Kamu


makan saja duluan.”


“Ya, bu. Dah.”


Ny. Amira memberikan ponselnya pada Meri dan minta


dicarikan pelayan secepatnya untuk Kevin. Meri mencatat di bukunya yang berisi


semua tugas yang harus ia kerjakan. Ny. Amira kembali melakukan foto shot


sampai ia benar-benar puas dengan hasilnya.


*****


Ditunggu up-nya kk. Jangan lupa tinggalkan

__ADS_1


jejakmu. Like, vote, komen. Beri semangat pada saya untuk bisa up tiap hari ya.


__ADS_2