Penjahit Hati

Penjahit Hati
PH - Mabuk lagi


__ADS_3

PH - Mabuk lagi


“Mau kemana kamu?!”tanya Alvin galak.


“Cari angin segar, pah. Sebentar aja.”kata Kevin sambil melangkah dari meja makan.


Alvin hanya menatap kepergian putranya dan lanjut


bertatapan dengan istrinya. Ny.Amira merasakan sesuatu sudah terjadi pada Kevin


dan Delina. Baru beberapa hari Amira melihat Kevin lebih banyak tersenyum dari


biasanya, sekarang kembali seperti dulu bahkan lebih dingin.


Delina kembali dari dapur membawa kopi untuk Alvin.


“Silakan diminum, tuan besar.”kata Delina.


“Delina, Kevin pergi keluar, apa dia bilang mau


kemana?”tanya Amira.


“Saya tidak tahu tepatnya kemana, Ny. Tapi tuan


muda merasa sedikit bosan di rumah dan bilang mau jalan-jalan tadi.”jawab


Delina asal tapi Amira percaya.


“Kamu tunggu dia pulang nanti ya. Sekarang bereskan


kamarnya dulu. Kebayaku ada yang selesai?”tanya Ny.Amira.


“Kebaya terbaru Ny. sudah selesai. Mau Ny. coba


sekarang?”tanya Delina.


Amira hampir bangkit dari meja makan, tapi Alvin


menahannya.


“Sayang, aku masih disini. Ina, bawa kebaya itu ke


kamar kami.”perintah Alvin sambil menyeruput kopinya.


“Baik, tuan besar.”kata Delina sopan.


Delina beranjak ke kamarnya dan keluar membawa


kebaya yang membuat Ny.Amira menjerit kegirangan. Ia menarik Alvin masuk ke


kamar mereka dengan Delina mengikuti di belakang mereka. Agnes mendecih karena


tidak diacuhkan. Ia masih duduk di meja makan saat Delina keluar dari kamar


Amira.


Delina mengambil cangkir kopi diatas meja makan dan


berbalik membawanya ke kamar Amira. Agnes sudah duduk di dalam kamar Kevin saat


Delina masuk ke kamar itu.


“Nona.”sapa Delina.


Delina mulai memungut satu persatu pakaian Kevin


yang berserakan di lantai. Ia meletakkannya di dalam keranjang baju kotor.


Agnes menatap Delina yang cuek saja dengan keberadaannya. Delina merapikan


tempat tidur Kevin yang sudah tidak jelas bentuknya.


Ia merapikannya dengan cepat tanpa mengeluh. Delina


beranjak ke korden kamar dan menariknya menutup sampai tersisa bagian jendela


saja. Angin sejuk mengalir masuk ke dalam kamar Kevin. Agnes melihat Delina


masuk ke kamar mandi, ia merapikan handuk bekas pakai Kevin dan juga mengelap


wastafel dan bathup yang basah.


Perlahan Agnes merasa rileks menghirup aroma wangi


yang ditinggalkan Delina di kamar itu. Ia masih menatap Delina tapi dengan mata


mulai sayu. Agnes jadi ngantuk dibuatnya, seolah wangi Delina seperti obat


tidur untuknya.


Delina melirik Agnes yang hampir tertidur di sofa.

__ADS_1


Ia berjalan ke walk in closet dan melihat kekacauan disana. Delina memunguti


satu persatu pakaian yang berserakan di lantai. Ia menepuk-nepuk pakaian itu


sebelum menggantungnya kembali ke dalam lemari. Ia juga merapikan tumpukan


sepatu yang berantakan.


Cukup lama Delina merapikan itu semua, sampai tak


terasa waktu sudah menunjukkan jam 11 malam. Agnes masih betah tidur di sofa


kamar Kevin. Delina segera turun ke lantai bawah, ia harus menunggu kedatangan


Kevin.


Tak lama menunggu, suara mobil Kevin masuk ke


garasi. Delina membuka pintu kamar dan lagi-lagi Kevin kembali dalam keadaan


mabuk. Kevin berjalan sempoyongan ke kanan dan ke kiri. Delina menahan tangan


Kevin agar ia tidak jatuh.


“Selamat datang, tuan muda. Saya bantu ke


kamar.”kata Delina.


Kevin menepis tangan Delina, ia berpegangan pada


sofa ruang tengah untuk menyeimbangkan tubuhnya. Delina kembali mendekati Kevin


dan membantu tuan mudanya itu berjalan menuju tangga.


Kevin hanya menatap Delina yang keras kepala dan


menerima bantuannya. Sampai di depan kamar Kevin, Delina membuka pintu. Agnes


sudah tidak ada di kamar itu. Delina memapah Kevin dan mendudukkannya di atas


tempat tidurnya.


Ia melucuti kemeja Kevin yang berbau alkohol dan


sedikit basah. Delina membaringkan tubuh Kevin diatas tempat tidur, ia membuka


gesper sabuk Kevin, menarik lepas celana panjang dan sepatunya. Delina menarik


Delina menghela nafas, ia masuk ke kamar mandi untuk


mengambil baskom dan handuk kecil. Ia duduk samping tempat tidur dan mulai


mengelap tubuh Kevin yang bau alkohol. Setelah selesai dan Delina hampir


beranjak dari duduknya, Kevin menarik tangan Delina.


“Tetap disini. Jangan kemana-mana.”kata Kevin


dengan mata terpejam.


“Tuan muda, mau minum?”


Kevin mengangguk, Delina membantu Kevin duduk dan


mendekatkan gelas minum ke bibir Kevin. Kevin menatap dalam wajah cantik Delina


yang tersenyum menatapnya.


“Jangan tersenyum seperti itu. Aku semakin


mencintaimu.”ujar Kevin.


“Tuan muda lagi mabuk. Tidur saja sekarang ya.”kata


Delina tanpa peduli dengan pernyataan cinta Kevin.


“Jangan pergi.”cegah Kevin.


Delina mencoba menarik tangannya tapi Kevin tidak


mau melepaskannya. Akhirnya Delina kembali duduk di pinggir tempat tidur Kevin


dan menunggu pegangan tangan Kevin mengendur. Delina tidak menyadari kalau


Agnes masih ada di dalam kamar itu. Ia bersembunyi di walk in closet Kevin


dengan tangan mengepal menahan rasa yang berkecamuk di dadanya.


*****


Keesokan paginya, Delina terbangun jam 5 pagi

__ADS_1


seperti biasanya. Ia merasa aneh karena tangannya terasa berat untuk diangkat. Betapa


terkejutnya Delina saat membuka matanya dan melihat mata Kevin sedang


menatapnya sambil tersenyum.


Delina segera menegakkan tubuhnya yang tertidur di


pinggir tempat tidur Kevin. Ia hampir berdiri tapi tangan Kevin menahannya.


“Selamat pagi, Delina.”ucap Kevin sambil tersenyum


manis.


“Pagi, tuan muda. Sebentar saya ambilkan


bathrobe.”kata Delina sambil berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman Kevin.


“Tunggu, biarkan aku memelukmu.”kata Kevin sambil


duduk di atas tempat tidurnya.


Delina dipaksa duduk di pinggir tempat tidur lagi.


Kevin memelintir tangan Delina kebelakang punggungnya, hingga Delina merintih


kesakitan.


“Tuan muda, lepaskan! Sakit! Tangan saya...”jerit


Delina.


Gadis itu berusaha membalik tubuhnya, tapi Kevin


sudah keburu memeluknya. Kevin sengaja meletakkan tangan Delina di atas


kegagahannya. Membiarkan tangan Delina menyentuh kegagahannya yang sudah siap


tempur. Wajah Delina memerah dan seketika tubuhnya gemetar ketakutan.


“Hiii...!!”jerit Delina sambil menarik-narik


tangannya yang dicekal Kevin. Gerakan Delina membuat kegagahan Kevin semakin


berdenyut. Tubuh Kevin mulai menegang, ia mengerang, menikmati sentuhan Delina


yang ia paksakan.


Hiks, Hiks, Hiks, Kevin berhenti bergerak. Ia


melepaskan tangan Delina yang langsung bangkit menjauh darinya. Kevin mendengar


isak tangis Delina dari balik kerudungnya. Ia terus memegangi tangannya yang


baru saja membuat Kevin melayang.


“Delina, apa ini pertama kalinya kau memegangnya?


Benda ini?”


Kevin terhenyak saat melihat Delina mengangguk. Ia


merasa bersalah sudah membuat Delina melakukan hal cabul seperti tadi.


“Saya mau berhenti. Saya pamit, tuan muda.”kata


Delina sambil berusaha membuka pintu.


Brak! Kevin menahan pintu yang hampir dibuka


Delina. Ia mengukung gadis itu diantara kedua tangannya.


“Kalau kau tetap mau pergi, puaskan aku. Jadilah


wanitaku, Delina.”kata Kevin merayu.


“Tuan muda, tolong jangan seperti ini. Saya tidak


mau tuan muda memaksa saya. Perbuatan seperti tadi hanya akan saya lakukan


dengan suami saya.”kata Delina dengan tubuh gemetar.


“Aku berjanji tidak akan melakukannya lagi. Tapi


tolong jangan pergi. Aku mohon.”pinta Kevin memelas.


*****


Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel


saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.

__ADS_1


__ADS_2