
PH - Sikap Agnes
Delina mengulurkan tangannya meraih tangan Kevin
dan mencium tangan pria yang sudah menjadi suaminya itu. Kevin sangat terkejut
sekaligus senang menerima perlakuan Delina.
Setelah kepergian Kevin, Delina harus berhadapan
dengan Giselle dan Agnes. Giselle tersenyum sinis sambil menatap Delina,
“Lihat dia, berlagak jadi nyonya Kevin. Aku belum
selesai buat perhitungan denganmu. Sini kau!”teriak Giselle hampir menjambak
kerudung Delina.
Delina menghindar dengan cepat, ia sedang tidak
mood mengurusi Giselle sekarang. Ny.Amira memintanya menyelesaikan kebaya
terbarunya untuk dicoba hari ini juga. Delina berjalan cepat menghindari jarak
tangkap dengan Giselle.
“Ny. Giselle, saya harus menyelesaikan kebaya untuk
Ny.Amira sekarang juga. Maaf, saya tidak punya waktu melayani Ny.
sekarang.”ucap Delina hormat.
Ia segera masuk ke dalam kamarnya dan mengunci
pintu. Giselle hampir menghampiri kamar Delina dan membuat keributan lagi, tapi
Agnes menahan mamanya.
“Kenapa kamu tahan mama? Wanita ****** itu harus
diberi pelajaran. Dia menghilangkan kesempatanmu jadi nyonya rumah ini!”teriak
Giselle kesal.
“Apa mama gak denger kata-kata om Alvin? Mereka
punya perjanjian setahun. Lagian, aku masih punya kesempatan mendekati Kevin
selama aku masih tinggal disini.”
“Kamu punya rencana?”tanya Giselle sambil berbisik.
“Aku akan mendekati wanita itu dan membuat hubungan
mereka semakin renggang. Mama tahu, berpura-pura berteman.”kata Agnes pada
mamanya.
Giselle tampak berpikir sejenak,
“Mama tenang saja. Aku bisa melakukannya. Tapi mama
harus pulang dulu. Mama lihat sendiri gimana waspadanya dia waktu ada mama.
Kita gak bisa pakai kekerasan untuk mencapai tujuan kita, mah.”bujuk Agnes
lagi.
Mamanya harus pergi dari rumah itu atau Agnes bisa
gila. Setiap hari hanya membahas rencana untuk menjebak Kevin. Agnes sampai
bolos kuliah hanya untuk meladeni mamanya itu. Giselle tampak berpikir sejenak.
Satu-satunya alasan kenapa ia tidak langsung setuju
dengan usul Agnes adalah dimsum udang. Ia belum sekalipun mencicipi cemilan
yang dibuat Delina. Tapi kalau sudah menyangkut dimsum udang, Giselle akan lupa
diri.
“Kenapa mama masih berpikir lagi? Sudah sana
cepetan kemas-kemas. Aku mau coba masuk ke kamarnya sekarang.”kata Agnes.
“Mama mau makan dimsum udangnya. Mau buatan
siapapun, kalau itu dimsum udang, mama mau.”kata Giselle terus terang.
“Ach, itu gampang, mah. Sekarang mama pergi dulu
dech. Kemana gitu. Nanti Agnes pura-pura bantuin Delina bikin dimsum itu.”bujuk
__ADS_1
Agnes lagi.
“Beneran ya. Sisain buat mama. Tapi jangan sampai
dia tau.”
“Iya, mah. Nanti Agnes yang umpetin. Mama tenang
aja. Sekarang mama pergi dech.”kata Agnes.
Agnes memastikan mamanya pergi dari rumah Alvin
sebelum menggedor pintu kamar Delina. Delina yang hampir menyelesaikan mejahit
kebaya milik Amira, terpaksa membuka pintu. Agnes menerobos masuk sambil
sesekali melongok keluar. Ia menutup pintu dan duduk di tempat tidur Delina.
“Nona, ada yang bisa saya bantu?”tanya Delina sopan.
“Lanjutkan saja pekerjaanmu. Kunci pintunya lagi.
Kalau mamaku kesini, bangunkan aku.”kata Agnes sambil berbaring diatas kasur
Delina yang wangi.
Delina bingung dengan sikap Agnes, kalau gak ada
mamanya, kalem gini. Meskipun songongnya masih ada tapi gak asal nerkam kayak
Giselle. Delina mengunci pintu kamarnya lagi. Ia melanjutkan menjahit kebaya
Amira sampai selesai.
Setelah menggantung kebaya itu, Delina mengambil
buku sketsanya. Ia memperhatikan pakaian yang dipakai Agnes. Delina memejamkan
matanya, membayangkan model kebaya modern berikutnya.
Perlahan tangan Delina bergerak menumpahkan apa
yang ada di pikirannya ke dalam buku sketsa itu. Kali ini ia mencoba
menggunakan warna berani seperti merah membara. Setelah satu gambar selesai
dibuatnya, Delina membalik buku itu, kali ini menggambar sketsa kedua yang
Delina tersenyum puas melihat hasil goresan
pensilnya. Ia meletakkan buku sketsanya dan melirik jam di dinding.
“Oh, sudah jam 3 sore. Aku harus membuat dimsumnya
sekarang. Tapi gimana nona ini?”kata Delina sambil melirik Agnes.
“Sudahlah, bangunkan saja. Nona. Nona Agnes,
bangun.”panggil Delina.
“Hmm? Apa? Mamaku dateng?”kata Agnes sambil
merenggangkan tubuhnya.
Semalam ia baru diijinkan tidur jam 12 malam,
mamanya mengajaknya bicara terus tentang mengganggu malam pertama Delina dan
Kevin. Tapi Agnes tidak bisa langsung tidur, ia harus menyelesaikan tugas
kuliahnya. Alhasil ia baru bisa tidur jam 3 pagi.
“Tidak, nona. Tapi saya mau buat dimsum. Nona
sebaiknya pindah ke kamar nona sendiri.”kata Delina.
Agnes bangun dengan linglung, ia menarik tangan
Delina yang hampir beranjak keluar dari kamarnya.
“Delina, buatkan dimsum lebih untuk mamaku. Tapi
jangan sampai dia tahu kau tahu dia ingin makan dimsum udang.”kata Agnes.
“Maksud, nona?”tanya Delina bingung.
Agnes bicara seperti orang yang belum sadar dari
tidurnya. Agnes menghela nafasnya, dan menjelaskan dengan lebih panjang sampai
Delina mengerti apa maksud ucapannya.
“Kenapa harus begitu, nona?”tanya Delina.
__ADS_1
“Hei, mamaku gengsinya tinggi. Ikuti saja
kata-kataku. Aku mau tidur lagi. Ach, biar aku pindah ke meja bar saja.
Bangunkan aku kalau dimsumnya sudah jadi.”kata Agnes.
Delina hanya mengangguk. Mereka berdua berjalan
keluar dari kamar Delina dan masuk ke dapur. Agnes melihat-lihat cara Delina
memasak dimsum sampai ia kembali mengantuk dan tertidur di meja dapur.
“Kenapa nona Agnes malah tidur disini?”tanya Sri
yang baru selesai merapikan kamar Alvin dan Amira.
“Gak tau, mbak. Biarin aja.”kata Delina sambil
mengeluarkan dimsum dari dalam kukusan.
Bau wangi dimsum udang dan ayam menyeruak memenuhi
dapur sampai ke ruang tengah. Delina mengambil beberapa dimsum udang dan
memasukkannya ke dalam kotak makan. Ia meletakkan kotak itu di dekat Agnes yang
masih pulas tertidur.
“Wah, sudah jadi ya.”kata Alvin yang tiba-tiba
muncul.
“Tuan besar, sudah pulang. Dimsumnya baru saja
matang. Mau saya sajikan sekarang?”tanya Delina.
“Ya. Dan kopi juga. Sri, tolong bawa tas dan jasku
ke kamar. Siapkan air mandi juga sekalian. Tambahkan aromatherapy mawar
ya.”perintah Alvin.
“Baik, tuan besar.”kata Sri.
“Kenapa Agnes tidur disana?”tanya Alvin yang baru
ngeh.
“Sepertinya nona Agnes begadang semalam, tuan
besar. Akan saya bangunkan.”kata Delina.
Delina mencoba membangunkan Agnes yang langsung
terbangun. Ia menawarkan kopi pada Agnes yang mengangguk. Sembunyi-sembunyi
Delina memberikan kotak bekal berisi dimsum pada Agnes bersama dengan kopi
untuknya. Agnes hanya mengangguk karena Alvin masih ada disana.
“Agnes, tidur di kamarmu sana. Kenapa kamu tidur di
dapur?”kata Alvin.
“Cuma ketiduran, om. Agnes mau mandi dulu ya.”kata
Agnes sambil beranjak ke kamarnya.
Kevin yang baru datang, ikut bergabung dengan
ayahnya di meja bar.
“Delina, aku juga mau dimsum sama kopinya. Itu tadi
Agnes bawa apaan?”tanya Kevin.
Delina mendekat pada Kevin, meraih tangannya dan
menempelkannya ke kening Delina sebelum menjawab pertanyaan Kevin.
“Nona Agnes cuma membawa cemilan untuk dimakan di
kamarnya.”
“Kenapa pake kotak makan? Biasanya juga pake
piring.”kata Kevin mulai curiga.
*****
Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel
saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.
__ADS_1