Penjahit Hati

Penjahit Hati
PH - Sikap Agnes


__ADS_3

PH - Sikap Agnes


Delina mengulurkan tangannya meraih tangan Kevin


dan mencium tangan pria yang sudah menjadi suaminya itu. Kevin sangat terkejut


sekaligus senang menerima perlakuan Delina.


Setelah kepergian Kevin, Delina harus berhadapan


dengan Giselle dan Agnes. Giselle tersenyum sinis sambil menatap Delina,


“Lihat dia, berlagak jadi nyonya Kevin. Aku belum


selesai buat perhitungan denganmu. Sini kau!”teriak Giselle hampir menjambak


kerudung Delina.


Delina menghindar dengan cepat, ia sedang tidak


mood mengurusi Giselle sekarang. Ny.Amira memintanya menyelesaikan kebaya


terbarunya untuk dicoba hari ini juga. Delina berjalan cepat menghindari jarak


tangkap dengan Giselle.


“Ny. Giselle, saya harus menyelesaikan kebaya untuk


Ny.Amira sekarang juga. Maaf, saya tidak punya waktu melayani Ny.


sekarang.”ucap Delina hormat.


Ia segera masuk ke dalam kamarnya dan mengunci


pintu. Giselle hampir menghampiri kamar Delina dan membuat keributan lagi, tapi


Agnes menahan mamanya.


“Kenapa kamu tahan mama? Wanita ****** itu harus


diberi pelajaran. Dia menghilangkan kesempatanmu jadi nyonya rumah ini!”teriak


Giselle kesal.


“Apa mama gak denger kata-kata om Alvin? Mereka


punya perjanjian setahun. Lagian, aku masih punya kesempatan mendekati Kevin


selama aku masih tinggal disini.”


“Kamu punya rencana?”tanya Giselle sambil berbisik.


“Aku akan mendekati wanita itu dan membuat hubungan


mereka semakin renggang. Mama tahu, berpura-pura berteman.”kata Agnes pada


mamanya.


Giselle tampak berpikir sejenak,


“Mama tenang saja. Aku bisa melakukannya. Tapi mama


harus pulang dulu. Mama lihat sendiri gimana waspadanya dia waktu ada mama.


Kita gak bisa pakai kekerasan untuk mencapai tujuan kita, mah.”bujuk Agnes


lagi.


Mamanya harus pergi dari rumah itu atau Agnes bisa


gila. Setiap hari hanya membahas rencana untuk menjebak Kevin. Agnes sampai


bolos kuliah hanya untuk meladeni mamanya itu. Giselle tampak berpikir sejenak.


Satu-satunya alasan kenapa ia tidak langsung setuju


dengan usul Agnes adalah dimsum udang. Ia belum sekalipun mencicipi cemilan


yang dibuat Delina. Tapi kalau sudah menyangkut dimsum udang, Giselle akan lupa


diri.


“Kenapa mama masih berpikir lagi? Sudah sana


cepetan kemas-kemas. Aku mau coba masuk ke kamarnya sekarang.”kata Agnes.


“Mama mau makan dimsum udangnya. Mau buatan


siapapun, kalau itu dimsum udang, mama mau.”kata Giselle terus terang.


“Ach, itu gampang, mah. Sekarang mama pergi dulu


dech. Kemana gitu. Nanti Agnes pura-pura bantuin Delina bikin dimsum itu.”bujuk

__ADS_1


Agnes lagi.


“Beneran ya. Sisain buat mama. Tapi jangan sampai


dia tau.”


“Iya, mah. Nanti Agnes yang umpetin. Mama tenang


aja. Sekarang mama pergi dech.”kata Agnes.


Agnes memastikan mamanya pergi dari rumah Alvin


sebelum menggedor pintu kamar Delina. Delina yang hampir menyelesaikan mejahit


kebaya milik Amira, terpaksa membuka pintu. Agnes menerobos masuk sambil


sesekali melongok keluar. Ia menutup pintu dan duduk di tempat tidur Delina.


“Nona, ada yang bisa saya bantu?”tanya Delina sopan.


“Lanjutkan saja pekerjaanmu. Kunci pintunya lagi.


Kalau mamaku kesini, bangunkan aku.”kata Agnes sambil berbaring diatas kasur


Delina yang wangi.


Delina bingung dengan sikap Agnes, kalau gak ada


mamanya, kalem gini. Meskipun songongnya masih ada tapi gak asal nerkam kayak


Giselle. Delina mengunci pintu kamarnya lagi. Ia melanjutkan menjahit kebaya


Amira sampai selesai.


Setelah menggantung kebaya itu, Delina mengambil


buku sketsanya. Ia memperhatikan pakaian yang dipakai Agnes. Delina memejamkan


matanya, membayangkan model kebaya modern berikutnya.


Perlahan tangan Delina bergerak menumpahkan apa


yang ada di pikirannya ke dalam buku sketsa itu. Kali ini ia mencoba


menggunakan warna berani seperti merah membara. Setelah satu gambar selesai


dibuatnya, Delina membalik buku itu, kali ini menggambar sketsa kedua yang


Delina tersenyum puas melihat hasil goresan


pensilnya. Ia meletakkan buku sketsanya dan melirik jam di dinding.


“Oh, sudah jam 3 sore. Aku harus membuat dimsumnya


sekarang. Tapi gimana nona ini?”kata Delina sambil melirik Agnes.


“Sudahlah, bangunkan saja. Nona. Nona Agnes,


bangun.”panggil Delina.


“Hmm? Apa? Mamaku dateng?”kata Agnes sambil


merenggangkan tubuhnya.


Semalam ia baru diijinkan tidur jam 12 malam,


mamanya mengajaknya bicara terus tentang mengganggu malam pertama Delina dan


Kevin. Tapi Agnes tidak bisa langsung tidur, ia harus menyelesaikan tugas


kuliahnya. Alhasil ia baru bisa tidur jam 3 pagi.


“Tidak, nona. Tapi saya mau buat dimsum. Nona


sebaiknya pindah ke kamar nona sendiri.”kata Delina.


Agnes bangun dengan linglung, ia menarik tangan


Delina yang hampir beranjak keluar dari kamarnya.


“Delina, buatkan dimsum lebih untuk mamaku. Tapi


jangan sampai dia tahu kau tahu dia ingin makan dimsum udang.”kata Agnes.


“Maksud, nona?”tanya Delina bingung.


Agnes bicara seperti orang yang belum sadar dari


tidurnya. Agnes menghela nafasnya, dan menjelaskan dengan lebih panjang sampai


Delina mengerti apa maksud ucapannya.


“Kenapa harus begitu, nona?”tanya Delina.

__ADS_1


“Hei, mamaku gengsinya tinggi. Ikuti saja


kata-kataku. Aku mau tidur lagi. Ach, biar aku pindah ke meja bar saja.


Bangunkan aku kalau dimsumnya sudah jadi.”kata Agnes.


Delina hanya mengangguk. Mereka berdua berjalan


keluar dari kamar Delina dan masuk ke dapur. Agnes melihat-lihat cara Delina


memasak dimsum sampai ia kembali mengantuk dan tertidur di meja dapur.


“Kenapa nona Agnes malah tidur disini?”tanya Sri


yang baru selesai merapikan kamar Alvin dan Amira.


“Gak tau, mbak. Biarin aja.”kata Delina sambil


mengeluarkan dimsum dari dalam kukusan.


Bau wangi dimsum udang dan ayam menyeruak memenuhi


dapur sampai ke ruang tengah. Delina mengambil beberapa dimsum udang dan


memasukkannya ke dalam kotak makan. Ia meletakkan kotak itu di dekat Agnes yang


masih pulas tertidur.


“Wah, sudah jadi ya.”kata Alvin yang tiba-tiba


muncul.


“Tuan besar, sudah pulang. Dimsumnya baru saja


matang. Mau saya sajikan sekarang?”tanya Delina.


“Ya. Dan kopi juga. Sri, tolong bawa tas dan jasku


ke kamar. Siapkan air mandi juga sekalian. Tambahkan aromatherapy mawar


ya.”perintah Alvin.


“Baik, tuan besar.”kata Sri.


“Kenapa Agnes tidur disana?”tanya Alvin yang baru


ngeh.


“Sepertinya nona Agnes begadang semalam, tuan


besar. Akan saya bangunkan.”kata Delina.


Delina mencoba membangunkan Agnes yang langsung


terbangun. Ia menawarkan kopi pada Agnes yang mengangguk. Sembunyi-sembunyi


Delina memberikan kotak bekal berisi dimsum pada Agnes bersama dengan kopi


untuknya. Agnes hanya mengangguk karena Alvin masih ada disana.


“Agnes, tidur di kamarmu sana. Kenapa kamu tidur di


dapur?”kata Alvin.


“Cuma ketiduran, om. Agnes mau mandi dulu ya.”kata


Agnes sambil beranjak ke kamarnya.


Kevin yang baru datang, ikut bergabung dengan


ayahnya di meja bar.


“Delina, aku juga mau dimsum sama kopinya. Itu tadi


Agnes bawa apaan?”tanya Kevin.


Delina mendekat pada Kevin, meraih tangannya dan


menempelkannya ke kening Delina sebelum menjawab pertanyaan Kevin.


“Nona Agnes cuma membawa cemilan untuk dimakan di


kamarnya.”


“Kenapa pake kotak makan? Biasanya juga pake


piring.”kata Kevin mulai curiga.


*****


Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel


saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.

__ADS_1


__ADS_2