
PH - Kincir ria
“Ali, saya tidak mau membeli baju. Kenapa Ali
mengajak saya kesini?”
“Kak, tolong jangan menolak hari ini saja. Aku baru
pulang dan kita baru ketemu. Ini hanya hadiah untuk kakak ipar. Carikan pakaian
yang mirip seperti yang dipakai nyonya ini. Tapi yang paling baru modelnya.”
“Baik, tuan.”
Manager butik menunjukkan beberapa pakaian yang
mirip dengan pakaian yang biasa dipakai Delina. Ia juga memberikan beberapa
kerudung yang cocok. Delina mencoba beberapa pakaian itu dan menyukai semuanya.
“Kalau gitu bungkus semuanya. Sisakan satu yang
hijau itu. Kakak ipar pakai itu sekarang ya. Sama kerudungnya juga.”
“Kenapa harus dipakai sekarang? Apa baju saya tidak
bagus?”
“Kakak ipar, sekali ini saja. Ikuti kemauanku ya.
Ya?”bujuk Ali.
”Lagi-lagi menujukkan wajah imut seperti itu. Ya,
sudahlah aku ikuti saja kemauannya. Atau dia akan mulai merengek seperti anak
kecil.”
Delina mengganti pakaiannya dan manager butik
menghitung belanjaan mereka. Total ada 5 pakaian dan 5 kerudung dengan nominal
hampir 3 juta rupiah.
“Mahal sekali.”protes Delina.
Ali tersenyum, ia mengeluarkan black card dari
sakunya dan hampir memberikannya pada manager butik. Delina juga membuka tasnya
dan mengeluarkan kartu yang diberikan Kevin.
“Pakai ini saja, Ali. Biar hubby yang bayar dulu.”
Ali membiarkan Delina memberikan kartu itu pada
manager butik. Ketika ditanya PIN, Delina kebingungan karena Kevin tidak
mengatakan apa-apa. Ali mengambil alih dan memasukkan tanggal lahir Kevin.
“PIN-nya tanggal lahir kak Kevin, kakak ipar. Apa
kakak tidak tahu?”
Delina menggeleng, ia bahkan belum tahu apa-apa
tentang Kevin kecuali sifatnya yang suka marah dan galak. Manager butik
memberikan kembali kartu itu pada Delina dan menyerahkan tas belanjaan padanya.
Ali mengambil tas itu dan mempersilakan Delina
jalan lebih dulu. Pelayan berbaris mengucapkan terima kasih dengan sopan pada
Ali dan Delina.
“Beginilah seharusnya tamu diperlakukan.
Kapan-kapan kita kesini lagi ya, kak.”kata Ali sambil berjalan keluar.
“Mahal sekali, Ali. Dengan uang segitu, saya bisa
membuat sepuluh baju lagi.”
“Apa kakak ipar menjahit baju kakak sendiri?”tanya
Ali sambil membukakan pintu mobil untuk Delina.
“Iya.”
Mereka segera melanjutkan perjalanan, kali ini ke
sebuah mall. Delina yang baru kali itu masuk ke mall merasa agak risih. Ia
__ADS_1
terlihat tidak nyaman dan takut.
“Kakak ipar, pegang lenganku. Sini.”ajak Ali sambil
menarik tangan Delina dan meletakkannya di lengannya.
“Ali, ini...”
“Tenang, kakak ipar. Aku lihat kakak tidak nyaman
masuk kesini. Pegang saja lenganku ya.”pinta Ali
Delina mau tidak mau tetap merangkul lengan Ali
yang membawanya naik eskalator. Untung saja ia berpegangan pada Ali kalau
tidak, mungkin Delina akan jatuh.
“Lihat, kak. Kita masuk kesini ya. Tas itu
bagus.”tunjuk Ali
“Ali, barang disini pasti mahal. Kita ke tempat
lain saja.”pinta Delina mulai ciut.
“Gak mahal, kak. Barangnya awet loh. Kakak bisa
pakai lama. Bertahun-tahun. Ayo, kita beli satu.”
Ali memilihkan tas kecil berwarna netral untuk
Delina. Ia meminta kartu milik Kevin dan membayar tas itu dengan cepat sebelum
Delina protes lagi.
“Tuch, kan mahal.”protes Delina melihat struk tas
itu.
“Ssstt... Kak, itu sudah diskon loh.”kata Ali
mencoba menenangkan Delina, padahal aslinya nggak.
“Kau ini boros sekali, Ali.”
Ali hanya tersenyum. Baru kali ini ia bertemu
seperti Delina juga yang diciptakan untuknya, Ali akan sangat senang sekali.
“Ali? Ali, kamu ngelamun?”tanya Delina ketika
mereka berhenti di depan toko sneaker.
“Ayo, masuk kak. Coba pakai sepatu ini.”
Delina ingin menolak tapi Ali membuatnya tidak
berkutik. Coba kalau itu Kevin, sampai nangis bombay juga Delina tidak akan mau
menurutinya.
Sneaker putih itu sudah melekat di kaki Delina
menggantikan knip yang tadi dipakainya. Ali mengeluarkan tas yang tadi mereka
beli dan memindahkan isi tas Delina ke tas baru itu.
“Nah, sudah sempurna kan. Kakak tambah cantik
dech.”puji Ali.
“Kamu ya. Bisa banget gombal.”kata Delina. Ia
tersenyum melihat penampilan barunya di cermin.
“Udah siang, nich kak. Ayo kita makan. Kakak pernah
makan sushi?”tanya Ali.
“Mentah gitu. Emangnya enak?”kata Delina yang hanya
tahu sushi dari TV.
“Mau coba? Aku lagi pengen makan sushi nich.”
Delina pasrah saja ditarik Ali menuju restauran
sushi di mall itu juga. Ali memesan sushi untuknya dan juga makanan lain yang
bisa di makan Delina. Makanan mereka segera diantar.
“Kakak tau gak, sushi ini makanan kesukaan kak
__ADS_1
Kevin juga loh.”
“Oh ya? Hubby bisa makan makanan mentah gini?”
Ali mengangguk. Delina memperhatikan detail sushi
di depannya. Ia melihat cara Ali makan dan ingin mencicipinya. Ali memberikan
satu sushi ke piring Delina yang langsung memakannya.
“Oh, rasanya lumayan. Agak asam ya.”
Melihat Delina mulai menikmati makanannya, Ali tersenyum
senang. Mereka menghabiskan semua makanan diatas meja dan kembali melanjutkan
jalan-jalan.
Delina terpana menatap tempat yang akan mereka
datangi berikutnya. Taman bermain dengan fasilitas terlengkap dan wahana super
menantang di kota ini.
“Kakak ipar, mau coba yang mana dulu?”
Delina bingung harus memilih yang mana dan Ali
memutuskan memulai tur di taman bermain itu. Ali mengajak Delina menaiki roller
coaster. Delina berteriak sangat kencang saat wahana itu meluncur turun dengan
cepat dan naik ke tempat tinggi.
Ia tertawa bersama Ali setelahnya. Delina sampai
ingin naik lagi dan Ali mengajaknya naik lagi. Delina melihat sekeliling
orang-orang yang berada di taman bermain itu. Padahal weekend tapi hanya
segelintir orang yang bermain bersama mereka.
Delina tidak tahu kalau Alvin salah satu pemegang
saham di taman bermain itu. Dan Kevin sudah memerintahkan hanya 150 orang umum saja
yang diijinkan masuk hari ini. Sisanya pegawai dan body guard yang sibuk
menyingkirkan antrian kalau Delina dan Ali ingin naik ke suatu wahana.
Tak terasa hari hampir berakhir. Saatnya naik
kincir ria. Delina yang baru kembali dari toilet, mendapati sepucuk surat dan
buket bunga mawar di tempat duduk yang tadi diduduki Ali. Ia celingukan
sebentar sebelum mengambil surat itu dan membacanya. ‘Kakak ipar, aku tunggu di
kincir ria ya. Ali. NB: Tolong bawa bunganya juga.’
“Ini anak kenapa ninggalin aku sich. Eh, kemana
jalan ke kincir ria ya?”tanya Delina pada dirinya sendiri.
Sepasang muda mudi yang lewat di depan Delina
mengatakan kalau yang perempuan ingin naik kincir ria dan yang laki-laki dengan
senang hati menggandeng tangannya menuju arah kincir ria. Delina mengikuti muda
mudi itu dan sampai juga di kincir ria.
Ia mengantri di belakang mereka berdua dan petugas
yang berjaga memintanya masuk setelah boks yang berikutnya tiba. Delina mengatakan
kalau ia sedang menunggu seseorang, tapi petugas itu meminta Delina segera
masuk karena antrian di belakangnya mulai memanjang.
Delina menoleh kebelakang dan terkejut melihat
deretan orang yang sudah antri di belakangnya. Ia terpaksa masuk ke boks itu
dan melihat seseorang sudah duduk di dalamnya. Delina duduk di depan pria itu.
Ia melihat ke samping ketika kincir ria mulai berputar perlahan.
*****
Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel
saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.
__ADS_1