Penjahit Hati

Penjahit Hati
PH - Kincir ria


__ADS_3

PH - Kincir ria


“Ali, saya tidak mau membeli baju. Kenapa Ali


mengajak saya kesini?”


“Kak, tolong jangan menolak hari ini saja. Aku baru


pulang dan kita baru ketemu. Ini hanya hadiah untuk kakak ipar. Carikan pakaian


yang mirip seperti yang dipakai nyonya ini. Tapi yang paling baru modelnya.”


“Baik, tuan.”


Manager butik menunjukkan beberapa pakaian yang


mirip dengan pakaian yang biasa dipakai Delina. Ia juga memberikan beberapa


kerudung yang cocok. Delina mencoba beberapa pakaian itu dan menyukai semuanya.


“Kalau gitu bungkus semuanya. Sisakan satu yang


hijau itu. Kakak ipar pakai itu sekarang ya. Sama kerudungnya juga.”


“Kenapa harus dipakai sekarang? Apa baju saya tidak


bagus?”


“Kakak ipar, sekali ini saja. Ikuti kemauanku ya.


Ya?”bujuk Ali.


”Lagi-lagi menujukkan wajah imut seperti itu. Ya,


sudahlah aku ikuti saja kemauannya. Atau dia akan mulai merengek seperti anak


kecil.”


Delina mengganti pakaiannya dan manager butik


menghitung belanjaan mereka. Total ada 5 pakaian dan 5 kerudung dengan nominal


hampir 3 juta rupiah.


“Mahal sekali.”protes Delina.


Ali tersenyum, ia mengeluarkan black card dari


sakunya dan hampir memberikannya pada manager butik. Delina juga membuka tasnya


dan mengeluarkan kartu yang diberikan Kevin.


“Pakai ini saja, Ali. Biar hubby yang bayar dulu.”


Ali membiarkan Delina memberikan kartu itu pada


manager butik. Ketika ditanya PIN, Delina kebingungan karena Kevin tidak


mengatakan apa-apa. Ali mengambil alih dan memasukkan tanggal lahir Kevin.


“PIN-nya tanggal lahir kak Kevin, kakak ipar. Apa


kakak tidak tahu?”


Delina menggeleng, ia bahkan belum tahu apa-apa


tentang Kevin kecuali sifatnya yang suka marah dan galak. Manager butik


memberikan kembali kartu itu pada Delina dan menyerahkan tas belanjaan padanya.


Ali mengambil tas itu dan mempersilakan Delina


jalan lebih dulu. Pelayan berbaris mengucapkan terima kasih dengan sopan pada


Ali dan Delina.


“Beginilah seharusnya tamu diperlakukan.


Kapan-kapan kita kesini lagi ya, kak.”kata Ali sambil berjalan keluar.


“Mahal sekali, Ali. Dengan uang segitu, saya bisa


membuat sepuluh baju lagi.”


“Apa kakak ipar menjahit baju kakak sendiri?”tanya


Ali sambil membukakan pintu mobil untuk Delina.


“Iya.”


Mereka segera melanjutkan perjalanan, kali ini ke


sebuah mall. Delina yang baru kali itu masuk ke mall merasa agak risih. Ia

__ADS_1


terlihat tidak nyaman dan takut.


“Kakak ipar, pegang lenganku. Sini.”ajak Ali sambil


menarik tangan Delina dan meletakkannya di lengannya.


“Ali, ini...”


“Tenang, kakak ipar. Aku lihat kakak tidak nyaman


masuk kesini. Pegang saja lenganku ya.”pinta Ali


Delina mau tidak mau tetap merangkul lengan Ali


yang membawanya naik eskalator. Untung saja ia berpegangan pada Ali kalau


tidak, mungkin Delina akan jatuh.


“Lihat, kak. Kita masuk kesini ya. Tas itu


bagus.”tunjuk Ali


“Ali, barang disini pasti mahal. Kita ke tempat


lain saja.”pinta Delina mulai ciut.


“Gak mahal, kak. Barangnya awet loh. Kakak bisa


pakai lama. Bertahun-tahun. Ayo, kita beli satu.”


Ali memilihkan tas kecil berwarna netral untuk


Delina. Ia meminta kartu milik Kevin dan membayar tas itu dengan cepat sebelum


Delina protes lagi.


“Tuch, kan mahal.”protes Delina melihat struk tas


itu.


“Ssstt... Kak, itu sudah diskon loh.”kata Ali


mencoba menenangkan Delina, padahal aslinya nggak.


“Kau ini boros sekali, Ali.”


Ali hanya tersenyum. Baru kali ini ia bertemu


seperti Delina juga yang diciptakan untuknya, Ali akan sangat senang sekali.


“Ali? Ali, kamu ngelamun?”tanya Delina ketika


mereka berhenti di depan toko sneaker.


“Ayo, masuk kak. Coba pakai sepatu ini.”


Delina ingin menolak tapi Ali membuatnya tidak


berkutik. Coba kalau itu Kevin, sampai nangis bombay juga Delina tidak akan mau


menurutinya.


Sneaker putih itu sudah melekat di kaki Delina


menggantikan knip yang tadi dipakainya. Ali mengeluarkan tas yang tadi mereka


beli dan memindahkan isi tas Delina ke tas baru itu.


“Nah, sudah sempurna kan. Kakak tambah cantik


dech.”puji Ali.


“Kamu ya. Bisa banget gombal.”kata Delina. Ia


tersenyum melihat penampilan barunya di cermin.


“Udah siang, nich kak. Ayo kita makan. Kakak pernah


makan sushi?”tanya Ali.


“Mentah gitu. Emangnya enak?”kata Delina yang hanya


tahu sushi dari TV.


“Mau coba? Aku lagi pengen makan sushi nich.”


Delina pasrah saja ditarik Ali menuju restauran


sushi di mall itu juga. Ali memesan sushi untuknya dan juga makanan lain yang


bisa di makan Delina. Makanan mereka segera diantar.


“Kakak tau gak, sushi ini makanan kesukaan kak

__ADS_1


Kevin juga loh.”


“Oh ya? Hubby bisa makan makanan mentah gini?”


Ali mengangguk. Delina memperhatikan detail sushi


di depannya. Ia melihat cara Ali makan dan ingin mencicipinya. Ali memberikan


satu sushi ke piring Delina yang langsung memakannya.


“Oh, rasanya lumayan. Agak asam ya.”


Melihat Delina mulai menikmati makanannya, Ali tersenyum


senang. Mereka menghabiskan semua makanan diatas meja dan kembali melanjutkan


jalan-jalan.


Delina terpana menatap tempat yang akan mereka


datangi berikutnya. Taman bermain dengan fasilitas terlengkap dan wahana super


menantang di kota ini.


“Kakak ipar, mau coba yang mana dulu?”


Delina bingung harus memilih yang mana dan Ali


memutuskan memulai tur di taman bermain itu. Ali mengajak Delina menaiki roller


coaster. Delina berteriak sangat kencang saat wahana itu meluncur turun dengan


cepat dan naik ke tempat tinggi.


Ia tertawa bersama Ali setelahnya. Delina sampai


ingin naik lagi dan Ali mengajaknya naik lagi. Delina melihat sekeliling


orang-orang yang berada di taman bermain itu. Padahal weekend tapi hanya


segelintir orang yang bermain bersama mereka.


Delina tidak tahu kalau Alvin salah satu pemegang


saham di taman bermain itu. Dan Kevin sudah memerintahkan hanya 150 orang umum saja


yang diijinkan masuk hari ini. Sisanya pegawai dan body guard yang sibuk


menyingkirkan antrian kalau Delina dan Ali ingin naik ke suatu wahana.


Tak terasa hari hampir berakhir. Saatnya naik


kincir ria. Delina yang baru kembali dari toilet, mendapati sepucuk surat dan


buket bunga mawar di tempat duduk yang tadi diduduki Ali. Ia celingukan


sebentar sebelum mengambil surat itu dan membacanya. ‘Kakak ipar, aku tunggu di


kincir ria ya. Ali. NB: Tolong bawa bunganya juga.’


“Ini anak kenapa ninggalin aku sich. Eh, kemana


jalan ke kincir ria ya?”tanya Delina pada dirinya sendiri.


Sepasang muda mudi yang lewat di depan Delina


mengatakan kalau yang perempuan ingin naik kincir ria dan yang laki-laki dengan


senang hati menggandeng tangannya menuju arah kincir ria. Delina mengikuti muda


mudi itu dan sampai juga di kincir ria.


Ia mengantri di belakang mereka berdua dan petugas


yang berjaga memintanya masuk setelah boks yang berikutnya tiba. Delina mengatakan


kalau ia sedang menunggu seseorang, tapi petugas itu meminta Delina segera


masuk karena antrian di belakangnya mulai memanjang.


Delina menoleh kebelakang dan terkejut melihat


deretan orang yang sudah antri di belakangnya. Ia terpaksa masuk ke boks itu


dan melihat seseorang sudah duduk di dalamnya. Delina duduk di depan pria itu.


Ia melihat ke samping ketika kincir ria mulai berputar perlahan.


*****


Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel


saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.

__ADS_1


__ADS_2