Penjahit Hati

Penjahit Hati
Episode 98


__ADS_3

Armando menepuk-nepuk punggung Kevin, tingkahnya


seperti seorang pria dewasa. Delina tersenyum melihat Armando ganti memeluk


Kevin.


“Sudah, yah. Lain kali kalo tugas kerja jangan


lama-lama ya. Masa pergi keluar kota sampai empat tahun. Ayah nggak pernah


datang di ulang tahunku, cuma kirim kue aja. Ulang tahunku tahun ini nggak


perlu kirim kue ya. Aku mau ayah aja.”


Kevin menatap Delina yang masih tersenyum. Delina


mengangguk pada Kevin. Setiap tahun ia menyiapkan kue untuk ulang tahun Armando


dan mengatakan kalau Kevin yang mengirim kue itu. Delina juga mengatakan kalau


Kevin bekerja di luar kota untuk bisa memberi Armando rumah dan mobil yang


bagus.


“Ulang tahunmu tahun ini kita rayakan besar-besaran


ya. Kita undang artis, harus ada pertunjukan bagus. Semuanya yang kamu mau,


ayah akan siapkan. Armando mau apa?”tanya Kevin antusias.


Armando menatap Delina sebelum menjawab Kevin.


“Ayah, aku mau merayakan ulang tahunku bersama


teman-teman anak jalanan.”kata Armando.


Kening Kevin mengkerut mendengar permintaan


Armando. Ia beralih menatap Delina, meminta penjelasan. Delina meminta Armando


kembali ke dekat Alvin. Delina menggandeng tangan Kevin duduk di salah satu


sofa di ruang tengah.


“Waktu aku hamil Armando, aku suka mengunjungi


rumahku. Waktu itu hujan deras dan mobil yang biasa mengantarku mogok di jalanan


yang banjir. Perutku sakit mau melahirkan, hubby. Saat sopirku panik, beberapa


anak jalanan membantuku keluar dari mobil. Mereka bersama-sama menggendongku


melewati banjir sampai menemukan kendaraan yang bisa mengantarku ke rumah sakit


dengan selamat.”jelas Delina.


Kevin mendesis bagaimana bisa ayahnya tidak


menyiapkan body guard untuk Delina. Alvin yang merasa sedang dibicarakan


mendadak bersin-bersin.


“Jangan salahkan ayah, hubby. Aku memang tidak suka


di kawal. Lagipula waktu lahirnya masih jauh, jadi aku pikir tidak masalah.


Setelah aku keluar dari rumah sakit, aku menemui anak-anak jalanan itu lalu


mengubah rumahku menjadi rumah singgah untuk mereka. Kebanyakan dari mereka


masih punya orang tua tapi tidak mampu membayar uang sekolah. Untung saja ayah


punya yayasan yang bisa membantu memberikan pelajaran setara sekolah dasar dan


sekolah menengah. Hubby harus lihat anak-anak itu. Mereka sangat pintar dan


cerdas.”kata Delina antusias.


Grep! Kevin tiba-tiba memeluk Delina dengan erat. “Hubby?”


“Makasih, sayang. Kamu mendidik Armando dengan baik.


Aku bahkan belum melakukan apa-apa untuknya. Tapi kamu sudah mewakili aku


memberi kebahagiaan pada putra kita.”kata Kevin kembali menangis.


“Hubby, kamu cengeng ya sekarang.”bisik Delina

__ADS_1


menepuk-nepuk punggung Kevin.


“Berani ngatain suamimu cengeng, heh! Siap-siap


nanti malam, aku tidak akan melepaskanmu.”balas Kevin meraba punggung Delina.


Delina mendorong Kevin dengan kuat. Ia bangkit


beranjak menuju dapur. Hari sudah beranjak sore dan ini waktunya bagi Delina


membuat cemilan untuk semua orang.


*****


Malam itu juga, Kevin memboyong Delina dan Armando


kembali ke mansion. Rencananya mereka akan ke rumah besar Alvin besok, sekalian


mengajak Emilia piknik. Delina dan Kevin masih memikirkan cara untuk membujuk


Emilia seandainya putri Kevin itu menolak mereka.


Armando menatap prakaryanya yang sudah selesai


dikerjakan Alvin dan pelayan nenek Indri. Ia belum puas dengan hasilnya tapi


tidak tega meminta yang baru pada Alvin.


“Ar, kenapa cemberut gitu? Prakaryanya bagus kok.”kata


Delina.


Armando menggeleng, bibirnya balapan dengan pipinya


ikut bergetar ketika ia menggeleng. Kevin yang melihat Armando cemberut,


mencoba membuat prakarya yang sama. Ia membuka youtube, mencari tutorial


membuat prakarya itu dan akhirnya berhasil membuat satu yang bagus.


“Terima kasih, ayah. Sekarang aku bisa tidur


nyenyak.”kata Armando sambil memeluk Kevin. “Selamat malam, ayah. Selamat malam,


ibu.” Armando bergantian mencium pipi Kevin dan Delina. Ia punya kebiasaan


Kevin menatap kepergian Armando ke kamarnya dengan


seringai mesum. Ia berbalik menatap Delina yang tiba-tiba merasa merinding


disko.


“Sayang.”panggil Kevin.


“Hmm?”jawab Delina sambil berbalik dengan pisau di


tangannya. “Ya, hubby.”


“Sayang, buat apa pisau itu?”tanya Kevin bergidik


ngeri.


“Buat motong sosis, hubby.”jawab Delina santai.


Kevin refleks menutup tubuh bagian bawahnya dengan


tangan. Pelayan yang ada disana, tersenyum malu melihat kelakuan Kevin. Delina


sedang menyiapkan beberapa cemilan untuk ia bawa bertemu Emilia besok. Karena


mereka akan pergi pagi-pagi sekali, ia menyiapkan semuanya dari malam ini.


“Yank.”panggil Kevin lagi. Ia memeluk Delina dari


belakang.


Prak! Bruk! Delina memotong daging dengan pisau daging


yang cukup besar. Kevin sampai terlonjak kaget. “Hubby, kalau ganggu lagi,


sekalian aku potong sini.”ancam Delina dengan pisau daging di tangannya.


Kevin langsung melepaskan pelukannya, ia bersandar


di meja bar sambil memeluk tiang penyangga meja itu. Pelayan menahan tawanya


melihat Kevin yang merana di pojokan.

__ADS_1


“Nyonya, biar kami yang selesaikan. Nyonya


istirahat saja dengan tuan muda.”kata pelayan membujuk Delina.


Kevin yang mendengar kata-kata pelayan itu mengacungkan


jempolnya dengan semangat. Ia langsung memeluk tiang lagi ketika Delina menoleh


padanya.


“Iya, iya. Cepat selesaikan dan kalian juga


istirahat ya.”kata Delina sambil mencuci tangannya.


Delina berjalan keluar dari dapur, ia tidak


mengajak Kevin yang otomatis mengikutinya seperti anak anjing. Delina masuk ke


kamarnya, hampir menutup pintu kamarnya.


“Yank, aku nggak boleh masuk?”tanya Kevin menahan


pintu kamar Delina.


“Hubby tidur sama Armando ya. Itu kamarnya di


seberang.”kata Delina menunjuk kamar di seberang.


Kevin berpaling dengan sedih, padahal ia ingin tidur


sambil memeluk Delina. Pria itu berbalik kembali ke arah dapur.


“Hubby, kamu mau kemana?”tanya Delina bingung.


“Mau ambil air. Aku harus minum obat baru bisa


tidur.”saut Kevin gontai.


Delina menarik tangan Kevin, menyeretnya masuk ke


dalam kamarnya. Ia meminta obat di tangan Kevin. “Ini obat apa, hubby? Sejak


kapan kamu minum obat?”


“Itu obat tidur. Ali yang ngasi. Aku nggak bisa


tidur nyenyak sejak kamu pergi, yank. Aku biasanya tidur sambil meluk kamu.”ujar


Kevin memelas.


Delina meletakkan obat itu diatas nakas. Diraihnya


tangan Kevin untuk diciuminya. Ia menangkup pipi Kevin, menatap wajah lelah


Kevin. Delina mendekat ingin mengecup kening Kevin tapi ia tidak sampai. Bahkan


sudah sampai berjinjit, Delina hanya sampai di dagu Kevin.


Kevin menahan tawanya melihat Delina berusaha keras


mencapai keningnya. Hup! Sekali angkat, tubuh Delina lebih tinggi dari tubuh


Kevin. Cup! Delina mengecup kening Kevin dengan mudah.


“Disini juga, yank.”pinta Kevin memonyongkan


bibirnya.


Delina mengecup bibir Kevin, ia minta diturunkan.


Kevin menuruti Delina, ia tidak ingin ambil resiko diusir dari mansion itu. “Hubby


mau mandi? Ada baju ganti kok disini.”kata Delina sambil membuka lemarinya.


Kevin melihat pakaiannya dan pakaian Delina tergantung


rapi di lemari itu. Lagi-lagi Kevin terharu dibuatnya. Semua isi lemari itu


adalah pakaian kesukaan Kevin. Lengkap dengan aksesoris khas pria.


“Sayang, kamu nyiapin ini buat aku?”tanya Kevin


hampir menangis lagi.


*****


Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel

__ADS_1


saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.


__ADS_2