
Armando menepuk-nepuk punggung Kevin, tingkahnya
seperti seorang pria dewasa. Delina tersenyum melihat Armando ganti memeluk
Kevin.
“Sudah, yah. Lain kali kalo tugas kerja jangan
lama-lama ya. Masa pergi keluar kota sampai empat tahun. Ayah nggak pernah
datang di ulang tahunku, cuma kirim kue aja. Ulang tahunku tahun ini nggak
perlu kirim kue ya. Aku mau ayah aja.”
Kevin menatap Delina yang masih tersenyum. Delina
mengangguk pada Kevin. Setiap tahun ia menyiapkan kue untuk ulang tahun Armando
dan mengatakan kalau Kevin yang mengirim kue itu. Delina juga mengatakan kalau
Kevin bekerja di luar kota untuk bisa memberi Armando rumah dan mobil yang
bagus.
“Ulang tahunmu tahun ini kita rayakan besar-besaran
ya. Kita undang artis, harus ada pertunjukan bagus. Semuanya yang kamu mau,
ayah akan siapkan. Armando mau apa?”tanya Kevin antusias.
Armando menatap Delina sebelum menjawab Kevin.
“Ayah, aku mau merayakan ulang tahunku bersama
teman-teman anak jalanan.”kata Armando.
Kening Kevin mengkerut mendengar permintaan
Armando. Ia beralih menatap Delina, meminta penjelasan. Delina meminta Armando
kembali ke dekat Alvin. Delina menggandeng tangan Kevin duduk di salah satu
sofa di ruang tengah.
“Waktu aku hamil Armando, aku suka mengunjungi
rumahku. Waktu itu hujan deras dan mobil yang biasa mengantarku mogok di jalanan
yang banjir. Perutku sakit mau melahirkan, hubby. Saat sopirku panik, beberapa
anak jalanan membantuku keluar dari mobil. Mereka bersama-sama menggendongku
melewati banjir sampai menemukan kendaraan yang bisa mengantarku ke rumah sakit
dengan selamat.”jelas Delina.
Kevin mendesis bagaimana bisa ayahnya tidak
menyiapkan body guard untuk Delina. Alvin yang merasa sedang dibicarakan
mendadak bersin-bersin.
“Jangan salahkan ayah, hubby. Aku memang tidak suka
di kawal. Lagipula waktu lahirnya masih jauh, jadi aku pikir tidak masalah.
Setelah aku keluar dari rumah sakit, aku menemui anak-anak jalanan itu lalu
mengubah rumahku menjadi rumah singgah untuk mereka. Kebanyakan dari mereka
masih punya orang tua tapi tidak mampu membayar uang sekolah. Untung saja ayah
punya yayasan yang bisa membantu memberikan pelajaran setara sekolah dasar dan
sekolah menengah. Hubby harus lihat anak-anak itu. Mereka sangat pintar dan
cerdas.”kata Delina antusias.
Grep! Kevin tiba-tiba memeluk Delina dengan erat. “Hubby?”
“Makasih, sayang. Kamu mendidik Armando dengan baik.
Aku bahkan belum melakukan apa-apa untuknya. Tapi kamu sudah mewakili aku
memberi kebahagiaan pada putra kita.”kata Kevin kembali menangis.
“Hubby, kamu cengeng ya sekarang.”bisik Delina
__ADS_1
menepuk-nepuk punggung Kevin.
“Berani ngatain suamimu cengeng, heh! Siap-siap
nanti malam, aku tidak akan melepaskanmu.”balas Kevin meraba punggung Delina.
Delina mendorong Kevin dengan kuat. Ia bangkit
beranjak menuju dapur. Hari sudah beranjak sore dan ini waktunya bagi Delina
membuat cemilan untuk semua orang.
*****
Malam itu juga, Kevin memboyong Delina dan Armando
kembali ke mansion. Rencananya mereka akan ke rumah besar Alvin besok, sekalian
mengajak Emilia piknik. Delina dan Kevin masih memikirkan cara untuk membujuk
Emilia seandainya putri Kevin itu menolak mereka.
Armando menatap prakaryanya yang sudah selesai
dikerjakan Alvin dan pelayan nenek Indri. Ia belum puas dengan hasilnya tapi
tidak tega meminta yang baru pada Alvin.
“Ar, kenapa cemberut gitu? Prakaryanya bagus kok.”kata
Delina.
Armando menggeleng, bibirnya balapan dengan pipinya
ikut bergetar ketika ia menggeleng. Kevin yang melihat Armando cemberut,
mencoba membuat prakarya yang sama. Ia membuka youtube, mencari tutorial
membuat prakarya itu dan akhirnya berhasil membuat satu yang bagus.
“Terima kasih, ayah. Sekarang aku bisa tidur
nyenyak.”kata Armando sambil memeluk Kevin. “Selamat malam, ayah. Selamat malam,
ibu.” Armando bergantian mencium pipi Kevin dan Delina. Ia punya kebiasaan
Kevin menatap kepergian Armando ke kamarnya dengan
seringai mesum. Ia berbalik menatap Delina yang tiba-tiba merasa merinding
disko.
“Sayang.”panggil Kevin.
“Hmm?”jawab Delina sambil berbalik dengan pisau di
tangannya. “Ya, hubby.”
“Sayang, buat apa pisau itu?”tanya Kevin bergidik
ngeri.
“Buat motong sosis, hubby.”jawab Delina santai.
Kevin refleks menutup tubuh bagian bawahnya dengan
tangan. Pelayan yang ada disana, tersenyum malu melihat kelakuan Kevin. Delina
sedang menyiapkan beberapa cemilan untuk ia bawa bertemu Emilia besok. Karena
mereka akan pergi pagi-pagi sekali, ia menyiapkan semuanya dari malam ini.
“Yank.”panggil Kevin lagi. Ia memeluk Delina dari
belakang.
Prak! Bruk! Delina memotong daging dengan pisau daging
yang cukup besar. Kevin sampai terlonjak kaget. “Hubby, kalau ganggu lagi,
sekalian aku potong sini.”ancam Delina dengan pisau daging di tangannya.
Kevin langsung melepaskan pelukannya, ia bersandar
di meja bar sambil memeluk tiang penyangga meja itu. Pelayan menahan tawanya
melihat Kevin yang merana di pojokan.
__ADS_1
“Nyonya, biar kami yang selesaikan. Nyonya
istirahat saja dengan tuan muda.”kata pelayan membujuk Delina.
Kevin yang mendengar kata-kata pelayan itu mengacungkan
jempolnya dengan semangat. Ia langsung memeluk tiang lagi ketika Delina menoleh
padanya.
“Iya, iya. Cepat selesaikan dan kalian juga
istirahat ya.”kata Delina sambil mencuci tangannya.
Delina berjalan keluar dari dapur, ia tidak
mengajak Kevin yang otomatis mengikutinya seperti anak anjing. Delina masuk ke
kamarnya, hampir menutup pintu kamarnya.
“Yank, aku nggak boleh masuk?”tanya Kevin menahan
pintu kamar Delina.
“Hubby tidur sama Armando ya. Itu kamarnya di
seberang.”kata Delina menunjuk kamar di seberang.
Kevin berpaling dengan sedih, padahal ia ingin tidur
sambil memeluk Delina. Pria itu berbalik kembali ke arah dapur.
“Hubby, kamu mau kemana?”tanya Delina bingung.
“Mau ambil air. Aku harus minum obat baru bisa
tidur.”saut Kevin gontai.
Delina menarik tangan Kevin, menyeretnya masuk ke
dalam kamarnya. Ia meminta obat di tangan Kevin. “Ini obat apa, hubby? Sejak
kapan kamu minum obat?”
“Itu obat tidur. Ali yang ngasi. Aku nggak bisa
tidur nyenyak sejak kamu pergi, yank. Aku biasanya tidur sambil meluk kamu.”ujar
Kevin memelas.
Delina meletakkan obat itu diatas nakas. Diraihnya
tangan Kevin untuk diciuminya. Ia menangkup pipi Kevin, menatap wajah lelah
Kevin. Delina mendekat ingin mengecup kening Kevin tapi ia tidak sampai. Bahkan
sudah sampai berjinjit, Delina hanya sampai di dagu Kevin.
Kevin menahan tawanya melihat Delina berusaha keras
mencapai keningnya. Hup! Sekali angkat, tubuh Delina lebih tinggi dari tubuh
Kevin. Cup! Delina mengecup kening Kevin dengan mudah.
“Disini juga, yank.”pinta Kevin memonyongkan
bibirnya.
Delina mengecup bibir Kevin, ia minta diturunkan.
Kevin menuruti Delina, ia tidak ingin ambil resiko diusir dari mansion itu. “Hubby
mau mandi? Ada baju ganti kok disini.”kata Delina sambil membuka lemarinya.
Kevin melihat pakaiannya dan pakaian Delina tergantung
rapi di lemari itu. Lagi-lagi Kevin terharu dibuatnya. Semua isi lemari itu
adalah pakaian kesukaan Kevin. Lengkap dengan aksesoris khas pria.
“Sayang, kamu nyiapin ini buat aku?”tanya Kevin
hampir menangis lagi.
*****
Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel
__ADS_1
saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.