
PH - Ketahuan nikah
“Ny. Amira, apa yang terjadi?”tanya Delina sambil
membetulkan kerudungnya.
“Kau masi mengelak? Buktinya sudah jelas.”kata
Giselle sambil melemparkan beberapa foto ke wajah Delina.
Delina mengambil foto-foto itu dan melihat dirinya
dan Kevin berdiri berdampingan sambil menunjukkan sebuah buku yang terlihat
seperti buku nikah. Bahkan ada foto saat Kevin menjabat tangan seseorang dan
Delina duduk di sampingnya.
Amira memperhatikan ekspresi wajah Delina yang
kebingungan. Jelas sekali itu bukan ekspresi tertangkap basah. Berulang-ulang
Delina melihat foto-foto itu, dirinya tidak ingat kapan foto itu diambil.
Plak! Sebuah tamparan mengenai pipi Delina lagi.
Kali ini dari Agnes. Kedua ibu dan anak itu sangat suka menampar Delina. Delina
terduduk dengan tangan masih menggenggam foto-foto itu. Pikirannya masih
mencari memori kapan foto itu diambil.
Keanu yang melihat Delina diperlakukan kasar, ingin
berteriak membongkar kebenarannya, tapi ia harus menahan diri sampai Kevin
pulang. Kebungkamannya akan membuat Delina menderita sekarang tapi setidaknya
ia bisa membantu Delina nanti.
“Kau tidak layak jadi istri Kevin! Hanya mimpi!”teriak
Agnes.
”Istri? Sejak kapan saya menikah dengan tuan muda?”tanya
Delina lebih pada dirinya sendiri.
“Lihat kemampuan aktingnya. Kebanyakan *******
memang terbiasa melakukannya kan? Apa Kevin sudah menidurimu?”tanya Giselle
sambil menjambak dan mencubit lengan Delina.
Ia melakukannya seolah sedang membelai Delina dengan
kasih sayang yang menyakiti wanita itu. Delina meringis merasakan sakit di
kepala dan lengannya. Ia ingin menepis tangan Giselle, tapi pikirannya masih
terpecah.
“Apa ini benar, Delina? Tujuanmu kesini hanya untuk
menggoda Kevin.”cerca Amira, ada nada kecewa disetiap kata-katanya.
Delina menggeleng, sejak awal hanya ingin bekerja
dengan baik. Tapi Kevin yang memaksanya untuk jadi pelayan. Ini hanyalah sebuah
__ADS_1
kesalahpahaman.
“Salah paham tidak akan membuat namamu dan Kevin
muncul dengan status suami istri. ******!”teriak Giselle di telinga Delina.
Plak! Sebuah tamparan lagi mengenai pipi Delina.
“Cukup! Aku tidak mau mendengar teriakan lagi. Kita
tunggu Kevin pulang dan menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya. Masuk ke
kamarmu dan jangan keluar sampai Kevin pulang.”perintah Amira.
“Kamar terlalu bagus untuk ****** seperti dia.
Siapa yang tahu apa yang direncanakannya nanti? Seseorang bisa saja
menolongnya.”kata Giselle sambil menatap Sri yang berdiri diam tanpa ekspresi.
“Sama-sama ****** akan saling membantu kan?”kata
Giselle lagi.
”Jalang, ******, kenapa selalu menyebutku begitu.
Apa-apaan foto-foto ini, aku tidak pernah merasa menikah dengan Kevin. Siapa
juga yang mau menikah dengannya pria kejam yang sangat galak itu. Setiap hari
selalu merepotkan dengan banyak tingkahnya. Meskipun dia baik mau menolongku.
Apa-apaan ini!!”
Delina mengelus pipinya yang bengkak karena tiga
tamparan yang didapatnya. Agnes bahkan menjambak rambutnya lagi seperti ibunya
tapi kali ini lebih lembut.
botak kalau begini. Kenapa harus dijambak sich?”
“Lebih baik kita kurung dia di gudang sampai Kevin
pulang.”kata Agnes sambil menyeret Delina ke arah gudang di belakang.
“Sa...sakit, nona. Tolong lepaskan...”pinta Delina
pada Agnes.
“Jangan melawan atau kau akan rasakan yang lebih
menyakitkan dari ini.”bisik Agnes masih menjambak Delina.
Brak! Bruk! Agnes menendang pintu gudag terbuka dan
mendorong Delina hingga tersungkur di lantai gudang yang dingin. Agnes langsung
menutup pintu gudang dan menguncinya. Delina bangun dengan cepat, ia
memanggil-manggil Agnes.
“Nona, tolong buka pintunya. Nona Agnes!”jerit
Delina sambil menggedor pintu gudang.
Agnes kembali ke ruang tengah dan mendengarkan
Giselle berdebat dengan Amira. Giselle menyalahkan Amira yang membawa Delina ke
rumah mereka tanpa mencari tahu dulu tentang latar belakang Delina hanya karena
__ADS_1
ia pintar menjahit.
“Giselle, aku rasa aku belum kehilangan instingku
untuk mempercayai seseorang. Dari awal Delina hanya fokus untuk menjahit
kebayaku saja. Semua yang terjadi karena Kevin yang memintanya. Sekarang
satu-satunya orang yang mengetahui semua yang terjadi ini hanya Kevin. Dia yang
harus jelaskan semuanya!”bantah Amira sengit.
“Seharusnya mbak usir dia waktu aku bilang curiga
padanya! Mbak Amira hanya peduli pada kebaya saja.”balas Giselle.
“Cukup! Hentikan ini. Sri! Buatkan kopi dan
hidangkan sarapannya. Pagi-pagi sudah seperti ini, kapan rumah ini bisa tenang!”teriak
Alvin sambil duduk di meja makan.
“Kalau mbak Amira mau denger kata-kataku, gak akan
gini jadinya.”kata Giselle lagi.
Alvin melirik sengit pada Giselle, wanita paruh
baya itu langsung diam karena takut dengan Alvin. Satu-satunya orang yang
ditakuti Alvin sepenuhnya adalah Alvin. Kakak angkatnya itu tidak segan
menghukum kalau Giselle berbuat kesalahan fatal apalagi sampai tidak
mendengarkan kata-katanya.
Sri membawakan secangkir kopi untuk Alvin yang
mengkerutkan keningnya. Rasa kopi itu tidak seenak kopi buatan Delina. Ia jadi
tambah sakit kepala ketika meminum kopi buatan Sri. Sri memperhatikan Alvin
yang tidak menghabiskan kopi buatannya.
Alvin sarapan dengan cepat dan mengelap sudut
bibirnya. Ia beranjak dari meja makan dan masuk ke kamarnya lagi. Keanu yang
masih menunggu di meja makan, merasa tidak tenang memikirkan keadaan Delina. Ia
ingin memberitahu Kevin tapi masih menahan diri karena Giselle terus
menatapnya.
“Kau pasti tahu sesuatu kan? Kau kan asistennya
Kevin.”tuduh Giselle pada Keanu.
“Saya asisten tuan muda Kevin, bukan pengasuhnya,
Ny. Saya tidak selalu bersamanya 24 jam.”jawab Keanu sambil menatap Giselle.
Untung saja Alvin keluar dari kamar dan
menyelamatkan Keanu dari Giselle. Mereka berangkat kerja bersama-sama. Toh
Kevin baru kembali besok, Alvin tidak ingin menelponnya agar tidak mengganggu
konsentrasinya menyelesaikan proyek.
*****
__ADS_1
Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel
saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.