Penjahit Hati

Penjahit Hati
PH - Kepuasan pelanggan


__ADS_3

PH - Kepuasan pelanggan


Mereka sampai di lantai ruang kerja Ny. Amira dan


Meri harus kembali berlari mengejar bos-nya itu. Ny. Amira membuka pintu dan


melihat Delina menoleh padanya. Delina berdiri, hampir menyapa Ny. Amira tapi


wanita paruh baya itu dengan cepat menyambar buku sketsanya.


“Lupakan basa-basi. Duduk. Mana kebayaku?” tanya


Ny. Amira sambil membolak-balik buku sketsa Delina.


Delina mengeluarkan kebaya yang sudah selesai ia


jahit. Ny. Amira terus berjalan masuk ke ruang pribadinya.


“Ayo, cepat, Delina.” Ajak Meri yang menarik tangan


Delina mengikuti Ny. Amira.


Sampai di dalam ruangan itu, Ny. Amira sudah


melepas pakaian kerjanya. Ia sangat tidak sabaran dan meminta Meri membantunya


memakai korset. Delina menunggu dengan sabar sambil membuka kancing-kancing


kebaya di tangannya.


Mereka berdua membantu Ny. Amira memakai kebaya itu.


Ny. Amira tersenyum puas melihat kebaya itu membungkus tubuhnya dengan sangat


pas dan nyaman.


“Sempurna. Sesuai dengan apa yang kubayangkan.


Sekarang tinggal menentukan hair do dan make up-nya. Good job, Delina.” Puji


Ny. Amira.


“Terima kasih, Ny.”


Delina tersenyum menatap Meri yang mengacungkan


jempol padanya. Ny. Amira mencoba duduk dan bergerak dengan menggunakan kebaya


itu. Ia membuka lemarinya, memilih bawahan untuk kebayanya.


“Delina, apa kau bisa menjahit rok untuk bawahan


kebaya?” tanya Ny. Amira sambil menarik satu rok batik dan melemparnya ke atas


tempat tidur.


“Bisa, Ny. mau model seperti apa?”


“Coba kau lihat beberapa koleksiku ini. Mana yang


cocok dengan kebaya ini.” Tunjuk Ny. Amira sambil berjalan ke depan cermin


lagi.


Ny. Amira masih mengagumi kebaya yang hampir ia


buang itu. Untung saja Meri masih menyimpannya dan memanggilkan Delina untuk


memperbaiki kebayanya. Delina melihat-lihat model rok yang menggantung di


lemari bawah. Ia mengambil dua model rok kebaya dan membawanya mendekati Ny.


Amira.


Delina menempelkan salah satu rok itu dan


menggeleng. Ia menempelkan rok satunya dan meminta Ny. Amira mencobanya dengan


yang itu. Meri membantu Ny. Amira sementara Delina mengambil buku sketsa-nya.


Ia keluar dari ruang pribadi Ny. Amira dan mengambil perlengkapan


menggambarnya.


Delina masuk lagi ke ruang pribadi Ny. Amira dan


duduk di sofa. Ia melihat rok batik yang sudah selesai dikenakan Ny. Amira.


Pilihannya memang tepat. Rok itu tampak menunjang kebaya diatasnya dengan


sangat bagus dan terlihat elegan.


Ny. Amira berjalan berlenggak-lenggok seperti

__ADS_1


peragawati yang sedang berjalan di cat walk. Meri mengambilkan higheels yang


ditunjuk Ny. Amira. Masih tidak puas dengan penampilannya, Ny. Amira meminta


Meri memanggil MUA sekarang juga.


“Sekarang, Ny.?” tanya Meri tidak yakin.


“Ya, sekarang. Kesini, minta cepat. Aku harus yakin


tidak ada kesalahan dengan penampilanku kali ini. Semuanya harus sempurna.”


Kata Ny. Amira sambil merentangkan tangannya.


Delina tersenyum melihat semangat Ny. Amira. Ia


menggambar model rok yang dipakai Ny. Amira di bawah sketsa kebayanya. Sesekali


ia memberikan catatan penting dan terakhir memberikan note kalau kebaya itu


milik Ny. Amira dan tanggal ia mengelesaikannya.


“Delina, apa yang kau gambar lagi?”


Delina menunjukkan hasil gambarnya dan Ny. Amyra


ingin di foto dengan hasil gambar itu. Meri mengambil foto Ny. Amira bersama sketsa


Delina.


“Ny., bisa saya minta kain yang kemarin untuk


kebaya Ny. yang baru?” tanya Delina.


“Meri, ambilkan kain itu. Delina, apa ada sketsa


baru lagi?” tanya Ny. Amira sambil duduk di kursi besar.


“Ny. sudah melihatnya tadi. Yang terbaru di halaman


terakhir. Apa modelnya kebayanya mau diganti?” tanya Delina sambil


memperlihatkan model kebaya yang terakhir ia buat semalam pada Ny. Amira.


“Tidak, aku tetap suka model yang kita sepakati


kemarin. Cocok untuk yang biru. Bagaimana kalau dua model yang baru itu, untuk


“Boleh, Ny. Tapi saya selesaikan dulu kebaya yang


biru ya. Siapa tahu saya punya inspirasi lagi dan Ny. mau model yang terbaru.”


“Ach, usul yang bagus. Ok.” Kata Ny. Amira senang.


“Kalau begitu saya permisi pulang dulu, Ny.” pamit


Delina.


“Jangan pulang dulu. Tunggu disini, nanti kamu


pulang sama Meri. Coba kamu lihat di lemari itu, aku punya beberapa kebaya yang


sangat kusayangi tapi gak muat lagi. Mungkin kau bisa merombaknya sedikit? Aku


benar-benar berharap ada penjahit yang bisa melakukan itu.”


“Saya coba lihat dulu sisa kainnya, Ny. Kalau tidak


bisa, Ny. kan bisa jahit yang baru dengan model yang sama.”


“Kainnya yang gak bisa kudapatkan lagi. Soalnya


langka.”


Delina manggut-manggut. Ia berjalan mendekati


lemari yang ditunjuk Ny. Amira dan menarik salah satu kebaya itu keluar dari


lemari. Delina mengambil meteran, dan buku catatannya. Ia mengukur dengan


detail kebaya yang sudah ia letakkan diatas tempat tidur. Setelah memastikan


kalau ukuran kebaya itu, Delina mulai membalik kebaya itu dan melihat masih ada


sisa kain yang terdapat di dalamnya. Ia putar otak sambil mengamati model


kebaya itu.


MUA yang dipanggil Meri datang dengan terburu-buru.


Bisa kacau kalau sampai ia mengecewakan Ny. Amira. Satu review tidak puas dari


Ny. Amira akan menghancurkan karirnya.

__ADS_1


“Maaf, saya terlambat, Ny. Wow, kebaya yang bagus


sekali.” Puji MUA mengambil hati Ny. Amira.


“Ya, cepat rias saya. Carikan yang cocok.”


MUA mulai bekerja sambil sesekali melirik Delina


yang juga sibuk di belakang mereka. MUA itu heran melihat pakaian Delina yang


seperti seprai membungkus tubuhnya. Belum lagi kerudungnya yang terlihat


kampungan. Lebih terkejut lagi saat melihat Delina mengambil gunting dan mulai


mencabik-cabik kebaya di depannya.


MUA sampai melotot melihat Delina melakukan itu dan


Ny. Amira bahkan tidak bereaksi apa-apa. Padahal MUA itu tahu kalau itu salah


satu kebaya kesayangan Ny. Amira. Sekarang Delina beraksi dengan jarum pentul. Ia


menyatukan kembali potongan kebaya itu dan memasang jarum pentul untuk


menahannya. Setelah Delina selesai, ia mengukur kebaya itu sekali lagi dan


menggantungnya.


“Sudah selesai, Delina?” tanya Ny. Amira.


“Sudah, Ny. Ny. mau mencobanya dulu?” tanya Delina


sebelum mengambil kebaya selanjutnya.


Ny. Amira berdiri dari duduknya, membuat MUA hampir


mengoleskan eyeliner ke pipi Ny. Amira. Delina dan Meri membantu melepaskan


kebaya baru yang masih dipakai Ny. Amira dan menggantinya dengan kebaya yang


baru dirombak Delina.


Mereka melakukannya dengan hati-hati agar Ny. Amira


tidak tertusuk jarum pentul. Saat semua kancing di kebaya itu sudah terpasang


semua, Ny. Amira mematut diri di depan cermin.


“Kebaya kesayanganku bisa masuk lagi!” pekik Ny.


Amira girang.


“Hati-hati, Ny. jarum pentulnya.” kata Delina


dengan khawatir.


Meskipun terlihat bersih, jarum pentul belum tentu


steril. Bisa berbahaya kalau tertusuk apalagi di bagian yang sensitif. Ny.


Amira memutar tubuhnya dan sedikit berpose. Ia meminta Meri mengambil fotonya.


Delina memperhatikan kebaya itu tidak cocok dengan rok yang sedang dipakai Ny.


Amira.


Delina berjalan mendekati lemari dan mengambil rok


yang lain. Ia memilih satu dan menempelkannya di depan tubuh Ny. Amira.


“Sepertinya lebih cocok dengan rok yang ini, Ny.”


kata Delina.


”Huh, penjilat.” sungut MUA mencibir kearah


Delina.


“Aku tidak yakin akan muat. Aku tidak mau


mencobanya. Coba kau ukur aku dulu, Delina.” Pinta Ny. Amira dengan mimik


sedih.


“Baik, Ny.” kata Delina.


*****


Kira-kira muat gak tuch rok ya? Ditunggu up-nya kk.


Jangan lupa tinggalkan jejakmu. Like, vote, komen. Beri semangat pada saya


untuk bisa up tiap hari ya.

__ADS_1


__ADS_2